
Zeyra yang masih terkejut mendapat night kiss dari Delon hanya terdiam melongo tanpa bergerak dan mengeluarkan satu kata pun. Delon yang melihat ekspresi Zeyra tertawa geli wajahnya sungguh lucu diam mematung membuat Delon semakin ingin lagi dan lagi mengecupnya. Namun Delon yang menyadari status mereka belum ada apa-apa berusaha menahan diri. Berharap akan ada waktu yang tepat untuknya menyatakan perasaan seriusnya pada Zeyra. Setelah memastikan makanan Zeyra habis Delon mengantarkannya untuk ke kamar karena Delon harus pulang ke rumah.
“Good night, Zey.” ucap Delon lembut sambil memberikan selimut pada Zeyra lalu mengelus perut Zeyra yang mulai besar.
“Tunggu.” Zeyra meraih tangan Delon saat pria itu sudah hampir meninggalkannya.
“Ada apa?” tanya Delon.
“Apa kau tidak ingin tahu jenis kelamin anakku?” tanya Zeyra yang tampak ragu namun tidak bisa menahan diri.
Delon yang mendengar pertanyaan Zeyra hanya mengangguk tersenyum.
“Tentu saja aku ingin tahu.” jawab Delon.
Akhirnya Zeyra memberitahukan pada Delon anak yang ada di dalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki. Delon yang mendengarnya sangat bahagia, sebenarnya bagi Delon laki-laki atau perempuan sama saja namun
alangkah baiknya jika anak pertama itu laki-laki. Bukan tanpa tujuan, hal itu untuk bisa melindungi adik-adiknya dan Ibunya saat Ayahnya jauh dari mereka. Zeyra yang melihat ekspresi senang Delon ikut tersenyum legah.
“Baiklah aku sangat senang mendengarnya, apakah aku boleh mendengarkan boy sebelum aku pulang?” tanya Delon meminta ijin pada Zeyra untuk menempelkan telinganya di perut Zeyra.
Zeyra yang tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk pertanda setuju. Tanpa menunggu lama Delon menempelkan telinga tepat di perut depan Zeyra.
“Boy, aku pulang dulu yah kau harus jaga Bunda yah.” Ucap Delon sambil mengelus lembut perut Zeyra.
“Oiya, kalau paman ingin kau memanggilku dengan sebutan Ayah boleh tidak?” tanya Delon lagi.
“Iya Ayah boleh, dengan senang hati.” jawab Delon yang menjawab pertanyaannya sendiri.
Zeyra yang mendengarnya hanya tertawa lucu, setelah itu Delon kembali menyuruh Zeyra tidur. Belum sempat Zeyra menutup matanya Delon yang belum pergi tiba-tiba mengecup kening Zeyra dan membuat wanita itu tampak kaget. Jantungnya berdetak tidak beraturan ada rasa senang yang tidak bisa di ungkapkan saat itu. Delon yang tersenyum dengan segera beranjak keluar kamar lalu pulang.
Sedangkan di kediaman Syein Biglous tampak Jee yang sedang menangis di pinggir kasur sambil membenamkan kepalanya di kedua lutut yang ia peluk. Alfy yang baru saja tiba terdiam melihat istrinya. Langkahnya pelan namun pasti mendekat pada Jee.
“Ada apa?” tanya Alfy dengan sabar.
“Mengapa kau tidak memberiku kabar sama sekali?” Jee yang tidak menjawab dan bertanya balik.
“Aku sangat sibuk, ada masalah dengan klienku.” Jelas Alfy yang sambil memeluk tubuh istirnya.
Sepertinya tingkah manjah Jee mulai kembali lagi karena penyakitnya sudah semakin membaik. Alfy yang sangat mengerti sifat Jee hanya perlu memberikan kelembutan dan tentu hal itu sangat manjur untuk membujuk Jee.
“Sebentar yah aku membersihkan tubuh dulu.” Ucap Alfy yang akan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
__ADS_1
Namun segera di peluk oleh Jee yang masih menangis, kini Alfy menyerah dan memilih kembali ke tempat tidur dan membawa Jee untuk beristirahat.
“Lain kali jangan bergadang lagi yah, tidak baik untuk kesehatanmu.” Ucap Alfy.
“Tapi bagaimana jika aku sehat dan kau tidak sehat karena tidur larut malam?” tanya Jee.
“Aku pasti baik-baik saja, tenanglah! Ayo kita tidur.” Ajak Alfy yang memeluk Jee sambil mengusap air mata di pipinya.
Jee yang memeluk tubuh Alfy menghirup parfum Alfy yang begitu tercium cukup wangi membuat matanya kembali terbuka.
“Ada apa mengapa belum juga tidur?” tanya Alfy yang menyadari bola mata istrinya membuka lebar.
“Mengapa kau memakai parfum begitu banyak?” Jee mulai berfikir yang tidak-tidak.
Alfy mendengarnya tertawa dan menghela nafas perlahan.
“Sejak kita pulang dari pulau aku belum sempat mandi jadi harus memakai banyak parfum kan.” Jelas Alfy.
“Ayolah tidur aku sangat lelah, jangan berfikiran buruk padaku kau tau aku bagaimana tergila-gilanya padamu.” Tambah Alfy yang membuat Jee kini tersadar.
Akhirnya malam itu mereka tidur dengan lelapnya sambil terus berpelukan erat.
Sedangkan Delon yang baru saja tiba bertemu dengan Jacobie yang sedang berdiri menunggunya pulang di depan kamar.
“Iya.” Jawab Delon singkat.
Jacobie merasa ada yang aneh karena tadi sebelum Jacobie pulang ia mampir ke kantor namun tidak menemukan Delon dan saat ia di rumah Delon juga belum tiba.
“Dari mana?” tanya Jacobie penasaran.
“Ada apa denganmu mengapa seperti seorang Ibu bawelnya?” tanya balik Delon.
“Bagaimana kabar Zeyra?” tanya Jacobie lagi.
“Dia baru saja mau makan, sejak siang tidak ingin makan.” Delon yang menjawab keceplosan segera membungkam mulutnya.
Jacobie yang sudah bisa menebak jika Delon dari menemui Zeyra ternyata benar dugaannya kali ini penyebab Delon pulang telat.
“Apa kau benar-benar sudah memikirkan semuanya?” tanya Jacobie pada Delon.
“Iya, aku sudah memikirkan semuanya dan aku sangat serius dengannya. Tentang masalalunya aku tidak perduli itu.” Jelas Delon meyakinkan Jacobie.
__ADS_1
“Baiklah.” jawab Jacobie dan langsung beranjak pergi tidur.
Sementara Delon yang teringat dengan permohonan Zeyra untuk membantu Jacobie dan suster Syanin bersatu masih bingung harus memulai dari mana.
Kini kesunyian malam sudah semakin terasa, Jacobie yang terbaring dengan menatap langit-langit kamar itu merasakan sesak dalam dadanya.
Malam ini terlalu sepi, andai aku bisa meminjamkan fikiran dan ingatanku padamu tentu hal itu bisa membantuku untuk menceritakan jatuh cinta dalam diam membuatku sangat sakit lebih dari patah hati.
Di kepalanya saat ini selalu terbayang wajah suster Syanin yang begitu ia rindukan sampai akhirnya Jacobie terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Wenda yang sudah berada di rumah Ayahnya kini tampak duduk menatap malam yang begitu gelap dari balik jendela kamarnya. Kegelapan itu seakan menemani hati yang sunyi dan tangisannya membangunkan setiap rasa yang hampir mati.
Ia meratapi dirinya yang sudah hancur karena pemikiran buruknya pada Ayahnya selama ini tanpa mencari tahu kebenarannya.
“Wen, kau belum tidur?” tanya Dayah yang hendak memeriksa Wenda yang sudah tertidur.
Ternyata seperti dugaannya wanita itu belum tidur dan masih terlihat melamun di depan jendela kamarnya.
“Eh...Ibu, belum Bu.” Jawab Wenda yang terkejut.
“Ada apa?” tanya Dayah dengan lembut.
Belum sempat Wenda berbicara air matanya sudah lebih dulu jatuh bergantian, perasaannya sama sekali sedang goyah saat ini. Ia ingin sekali memperbaiki dirinya namun semuanya tentu sudah terlambat. Penyakitnya sudah sangat parah, untuk meminta Ayahnya membantu pengobatan Wenda tentu tidak sepercaya diri itu setelah apa yang ia lakukan.
Wenda kini jatuh dalam pelukan Ibu tirinya, Dayah yang terus mengusap punggung Wenda berusaha memberikan ketenangan.
“Tenanglah kau tidak sendiri, kami ada di sampingmu sayang.” ucap Dayah.
“Aku mungkin tidak akan lama lagi, Bu.” Sahut Wenda sambil menangis.
“Tidak lama apanya? Besok lusa kita akan ke luar negeri mengobati penyakitmu.” lanjut Dayah yang sukses membuat wajah Wenda terkejut tidak percaya.
“Maksudnya...?” tanya Wenda masih bingung.
“Ayahmu sudah mencari pengobatan terbaik di luar negeri dan kita akan segera berangkat.” jawab Dayah.
Wenda yang mendengar semakin terharu dan kembali menangis dalam pelukan Ibu tirinya, Rusli yang tidak sengaja lewat di depan kamar Wenda yang terbuka, kini berdiri menikmati pemandangan hangat itu.
Selamat membaca!
__ADS_1
Author mau kasih bocoran nih untuk kalian yang menunggu visual dari novel ini di tunggu yah. Author lagi cari yang sesuai banget dari cerita ini. Semoga bisa cepat di temukan heheh