Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Sembilan Bulan Mengandung


__ADS_3

Di perjalanan Jacobie menuju rumah sakit ia sesekali membuka berkas yang di minta Tuan mudanya yah beberapa rinciang tentang proses kehamilan sampai melahirkan. Membayangkan apa reaksi Tuan mudanya jika mengetahui sulitnya wanita hamil dan selama sembilan bulan menderita mungkin ia akan memberhentikan masa kehamilan istrinya jika bisa itu di lakukan. Setelah beberapa lama kemudian Jacobie kini telah sampai di rumah sakit dengan segera ia melangkah menuju ruangan. Sementara di dalam ruangan Alfy sedang di suapi makan oleh Jee sambil berbicara tentang kuliah istrinya yang sudah beberapa lama tertinggal.


"Permisi Tuan," ucap Jac dengan perlahan membuka pintu.


"Istriku apa aku bisa meminta waktu berdua dengannya sebentar?" tanya Alfy dengan lembutnya.


"Tentu saja suamiku," jawab Jee melangkah keluar dengan tatapan bingung tumben sekali Alfy merelakan istrinya jauh darinya padahal biasanya satu sentimeter pun ia tidak rela dan mungkin kali ini urusan kerja jika memang benar Jee sangat paham Alfy tidak pernah kelaurganya mengetahui tentang pekerjaannya.


Di dalam Jac berdua dengan Alfy tengah sibuk memilah-milah lembaran demi lembaran yang terlihat gambar wanita hami dengan keterangan yang begitu lengkap.


"Apa ini Jac sembilan bulan?" tanya Alfy terkejut saat membaca penjelasan poin pertama.


"Iya Tuan masa kehamilan wanita memang segitu," ucap Jac dengan pelan.


"Tapi aku pernah dengar jika wanita bisa operasi saat tujuh bulan kan?" tanya Alfy lagi dengan mengingat entah dari mana ia mendengar ucapan itu dengan setengah-setengah.


"Maaf Tuan tujuh bulan itu biasanya jika kondisi kandungannya tidak sehat dan dokter terpaksa mengambil langkah tersebut," ucap Jac dengan telatennya memberi penjelasan pada Tuan mudanya sepertinya Jac kali ini mendapat profesi baru yaitu dokter ahli kandungan yah seperti itulah tepatnya dan juga profesi sebagai guru Tuan mudanya.


Melihat semua keterangan itu Alfy tampak pucat ia tidak bisa membayangkan menyaksikan penderitaan istrinya selama itu dan bagaimana ia selama ini membuat istrinya begitu tega hamil di usia mudanya tanpa memikirkan keadaan istrinya lebih dulu.


"Apa menurutmu aku terlalu jahat pada istriku Jac?" tanya Alfy menatap redup ke arah pria di hadapannya itu.


"Tentu saja tidak Tuan," jawab Jac dengan nada gugup jika ia menjawab yang tidak sesuai dengan keinginan Alfy mungkin saat ini bisa saja kepalanya terlepas dari lehernya seketika.


"Baiklah mulai saat ini aku akan lebih memberikan waktu yang banyak pada Jee," ucap Alfy sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya itu jauh lebih baik Tuan," ucap Jacobie sambil mengangguk setuju.


Berbeda dengan keadaan para orangtua yang masih begitu antusiasnya di mall dengan beberapa perlengkapan bayi yang mereka beli semua pelayan di toko itu membantu mereka membawa belanjaan menuju parkiran mobil yang sudah di sediakan oleh Tuan Reindra tepatnya ada dua mobil yang terparkir khusus barang belanjaan. Melihat tingkah dua pria itu Nyonya Syein dan Nyonya Flora hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pasrah. Bagaimana tidak heran jika para suami mereka berbelanja barang yang sama sekali tidak begitu penting untuk anak bayi yang baru lahir rasanya ingin teriak namun mau bagaimana lagi kali ini para pria tua itu berubah wujud seperti ibu-ibu yang tidak bisa terkalahkan dengan larangan suaminya saat memborong sayuran yah begitulah tepatnya gambaran kedua pria itu.


"Aku tidak bisa berkata lagi melihat Reindra membeli kuda-kudaan dan semua mainan masak-masakan," ucap Nyonya Indriana Syein.


"Yah kali ini kita memang tidak bisa melawan antusiasnya mereka berdua rasanya pusing ketika melihat Indra membelikan cucunya mobilan yang sebesar itu dan sepatu roda," balas Nyonya Flora yang memijat sesekali kepalanya.


"Entah apa yang ada di fikiran mereka saat ini bagaimana bisa membeli perlengkapan bayi yang justru sama sekali tidak di butuhkan astaga jika tidak memikirkan kesehatannya yang masih kurang pasti akan ku tarik telinganya sampai rumah," Ocehan Nyonya Syein yang tidak berhenti dan bergantian dengan Nyonya Flora.


Sampai akhirnya mobil mereka datang tepat di hadapannya kini mereka memasuki mobil dan melaju ke arah kediaman masing-masing. Sesampai di rumah Tuan Reindra merasa kelelahan dengan segera Nyonya Syein membawa suaminya menuju kamar utama.


"Istirahatlah dulu aku akan menyuruh bibi untuk membawakan makan untuk kau minum obat," ucap Nyonya Syein pada suaminya yang sudah terbaring lemas.


Nyonya Syein yang menuju lantai bawah melihat para pelayan tengah asyik menyusun barang yang baru saja di belanja oleh Tuan dan Nyonya Syein. Melihat barang itu semua mereka tampak bingung karena itu bukanlah perlengkapan yang di butuhkan bayi tetapi semua perlengkapan alat main untuk anak yang usianya sudah beberapa bulan.


"Baik Nyonya," ucap Bi Ria dengan cepat.


"Oiya Bi makannya Tuan tolong bawakan ke kamar saja yah," Perintah Nyonya Syein tersenyum lembut sambil kembali melangkah menuju kamarnya.


"Iya Nyonya," jawab Bi Ria menuju dapur untuk mempersiapkannya.


Sementara Jee yang masih menunggu Alfy dan Jac di luar ruangan duduk sambil beberapa kali menoleh ke arah ruangan suaminya ia merasa lama sekali sudah berada di luar ruangan tapi tidak juga Jac menunjukkan dirinya. Setelah duduk dengan kegelisahannya tiba-tiba suster lewat di depan Jee tanpa ragu ia memanggilnya.


"Suster," ucap Jee sedikit berteriak.

__ADS_1


"Iya Nona ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster itu dengan ramahnya.


"Anda suster Syanin benar," ucap Jee dengan melirik papan nama yang menempel rapi di baju seragam putih miliknya.


"Iya Nonan Jee benar sekali," jawab suster Syanin dengan tersenyum lagi.


"Apakah anda sudah memiliki keluarga?" tanya Jee yang langsung tutup poin tanpa basa basi.


"Maksud Nona Jee suami begitu," Dengan berusaha memperjelas pertanyaan wanita di hadapannya itu.


"Iya benar suster," jawab Jee penuh antusias.


"Em kebetulan saya masih sendiri Nona karena memang usia saya masih mudah sekali," ucap Syanin tersenyum malu.


"Wah kebetulan sekali kalau begitu," ucap Jee tersenyum bahagia seperti menemukan harta karun.


"Kebetulan apanya Nona?" Wajah Syanin yang penasaran tampak bingung dengan ucapan Jee yang meninggalkan pertanyaan di hati Syanin.


"Eh tidak apa-apa baiklah kalau begitu kau bisa pergi suster terimakasih yah," ucap Jee sambil melambaikan tangan menjauh dari Syanin.


Sementara suster cantik itu masih menatap bingung pada Jee yang meninggalkannya rasanya sungguh aneh tidak kenal lalu bertanya hal sedalam itu dan langsung pergi ada apa sebenarnya hanya Jee lah yang tahu saat ini dan sampai nanti waktunya akan terjawab semuanya.


Wah sepertinya selain cerita tentang Alfy dan Jee dan selain cerita tentang para kedua pria yang akan menjadi kakek akan ada cerita baru tentang sepasang yang tidak kalah seru nih. Nantikan terus kelanjutan ceritanya di episode berikutnya yah jangan lupa untuk like dan komen terimakasih. Assalamualaikum Wr. Wb.


 

__ADS_1


 


__ADS_2