
Setelah beberapa lama Adelio berdiri dengan wajah cemasnya kini seorang Dokter keluar dari ruangan dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Anda?" Dokter yang bertanya seolah mengatakan ada hubungan apa dengan pasien begitu Adelio mengartikannya.
"Saya hanya kebetulan melihatnya, Dok." jawab Adelio dengan cemasnya.
Dokter menjelaskan keadaan pasien sangat lemah, sewaktu-waktu ia bisa saja tidak tertolongkan beruntung saat kejadian pasien tepat waktu tiba di rumah sakit. Adelio yang mendengar penjelasan Dokter merasa sedikit legah nafasnya terhembus dengan kasarnya.
Kini pria itu melangkah masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat keadaan pria yang tadi ia tolong. Matanya menatap seorang pria paruh baya yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Adelio yang kebetulan tengah memiliki waktu longgar memilih untuk menunggunya sampai sadar.
Ia duduk di kursi samping ranjang pasien lama kelamaan ia terlelap tanpa bisa menahan rasa kantuknya lagi. Pasien yang tengah ia jaga sejak tadi kini mulai terlihat membuka matanya pelan tangannya bergemetar ingin meraih kepala Adelio yang tersandar di kasurnya.
"Anda sudah bangun, Pak?" tanya Adelio yang terbangun ketika merasakan ada gerakan yang mengganggu tidurnya.
Pria itu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Adelio yang memberikan makanan pada pria itu terlihat begitu tulus. Tidak ada wajah meragukan dari paras tampannya, merasakan ketulusan dari seorang pria yang tidak ia kenali rasanya sangat berterimkasih bisa di pertemukan dengannya.
Setelah kejadian hari itu mereka berdua tampak semakin dekat, Adelio merasa sosok Ayah yang sangat menenangkan hatinya tiap kali bersama pria itu. Sampai tiba waktunya mereka keluar dari rumah sakit dan bergegas untuk pulang. Adelio berniat mengantarkannya sampai di rumah, namun saat ia melihat arah yang di tunjuk pria paruh baya itu Adelio sadar jika mereka ternyata tinggal di hotel yang sama.
"Pak, anda tinggal di sini juga?"
Pria itu yang mengangguk kemudian tertawa lucu mereka tak menyangka jika berada di hotel yang sama semua seperti sudah di atur. Akhirnya Adelio mengantarnya menuju kamar untuk segera mengisitirahatkan tubuhnya. Kedua kalinya ia terkejut ketika berjalan keluar dari lift melihat tombol yang di tekan pria itu tepat berada di lantai kamarnya.
"Pak, kita berada di lantai yang sama rupanya." Wajah tampan itu terkejut begitu juga dengan pria itu sampai akhirnya ia mengajak Adelio untuk masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Semuanya terasa kebetulan bagaimana bisa kita berada di tempat yang sama, terlebih lagi kamarnya Bapak ini juga bersampingan dengan kamarku." begitu ucapan Adelio dalam hatinya.
Sesampainya di kamar, pria itu menyediakan minuman untuk Adelio meskipun beberapa kali ia menolak untuk di buatkan namun sayangnya tolakan itu tak di gubris. Kini keduanya tengah duduk menyeduh segelas kopi sambil berbicara dengan santainya.
"Astaga, sudah berapa hari kita bersama mengapa masih belum mengetahui nama yah?" pria itu yang tertawa ketika mengatakannya begitu pun dengan Adelio yang menepuk dahinya terkekeh.
"Adelio, Pak."
"Panggil saja Pak Rusli." sahut pria itu membalas uluran tangan Adelio dengan ramahnya.
Cukup lama keduanya bercerita ketika Adelio menjawab pertanyaannya tentang keluarganya, Adelio menarik nafasnya dengan dalam. Ia jujur tentang kedua orangtuanya yang sudah tiada dan besar bersama seorang nenek yang begitu menyayanginya.
"Maafkan aku membuatmu harus mengenang hal menyakitkan itu." Tuan Rusli yang berbicara lirih menyesali pertanyaannya yang dengan lancang bertanya pada Adelio.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya senang bisa berbagi cerita dengan anda. Sudah lama saya tidak pernah berbicara tenang seperti ini." Adelio yang tersenyum legah karena selama ini ia hanya bisa menyimpan kenangan itu rapat-rapat. Kali ini ia merasakan legah di dadanya setelah meluapkan seluruh uneg-unegnya.
Sangat jelas terlihat tatapan penuh penyesalan di mata Tuan Rusli saat ini, jika Adelio berada di posisinya tentu akan membuatnya menyesal seumur hidupnya. Hari itu mereka lewati dengan saling mencurahkan isi hati masing-masing.
Sampai akhirnya Adelio meminta Tuan Rusli untuk beristirahat karena besok mereka akan kembali ke Indonesia bersama. Sementara Adelio kini bergegas pergi meninggalkan Tuan Rusli seorang diri di kamar hotel itu menuju kamarnya yang tepat berada di samping.
***
"Sayang, ini semua karenamu aku jadi ikut harus terkurung." Jee yang kesal menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
"Mengapa jadi salahku? kau yang ingin bekerja agar semua mata pria di kantor itu melirikmu kan?" Alfy yang tidak mau kalah dengan tuduhan Jee.
__ADS_1
Mendengar ucapan Alfy ia sangat tak menyangka. "Jadi hanya karena cemburu butamu itu kita jadi seperti ini?"
Alfy hanya menekan bibirnya hingga manyun dan menaikkan kedua pundaknya seolah masa bodoh dengan perkataan Jee. Rasanya begitu menyebalkan ingin sekali Jee memukul wajah suaminya itu namun sayang ia tidak seberani itu berlaku kasar pada Alfy.
Hanya tangannya saja yang terlihat mengepal erat seakan ingin melayangkan ke kepala suaminya. "Ihhhh" begitu suara Jee yang menahan gemasnya. Alfy yang melihat tampak masa bodoh dan memilih memeluk istrinya dan mengec*pnya beberapa kali.
"Ihhhh jangan...sana menjauh dariku." Jee berusaha mendorong tubuh suaminya.
"Diam atau akan ku masukkan ini!"
Jee yang mendengar ancaman suaminya seketika diam mematung saat merasakan ada sesuatu di bawa sana yang tengah bergerak-gerak sejak Alfy mengancamnya barusan.
"Aku kan masih sakit, Sayang."
Alfy menatap wajah Jee yang baru saja mengatakan dirinya masih sakit, padahal tadi terlihat sangat segar dan baik-baik saja. Sepertinya ada aroma-aroma kebohongan tercium di hidung mancung Alfy, ia tertawa dalam hati.
Tangannya yang bergerak pelan-pelan menelusuri lekukan tubuh Jee tanpa sadar membuat wanita itu mendesah perlahan. Alfy masih tidak ingin menghentikan permainannya sampai Jee sendiri yang akan meminta padanya itu yang ada di dalam fikiran pria tampan saat ini.
"Hehe pasti nanti kau yang akan memintanya sendiri percayalah." gumam Alfy yang tak sabar terus melancarkan aksi tangan liarnya. Sesekali ia menekan dua benda padat istrinya dengan pintarnya kembali membuat Jee mengerang hebat.
"Sayang..." Suara Jee yang bergemetar terdengar begitu berat tatapan matanya yang mulai meredup seakan meminta sentuhan yang lebih jauh lagi.
Alfy masih terus bergerak kesana kemari tanpa menjawab sahutan sang istrinya. Kini tak lagi satu tangan namun keduanya tengah menguasai permainan tubuh istrinya sampai beberapa kali Jee menggeliat ta karuan di atas kasur.
"Sayang..." Suara Jee kembali memanggilnya, lagi-lagi Alfy berpura-pura tak mendnegarnya sampai akhirnya Jee sendiri yang mel*mat habis bibir suaminya dengan rakus. Alfy berusaha tetap diam tanpa merespon aksi bibir Jee ia ingin melihat bagaimana tingkah istrinya jika ia membiarkannya.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu, aku juga ingin sekali-sekali di paksa hehe." gumam Alfy yang terkekeh menlihat reaksi tubuh Jee yang terus menggeliat menahan hasratnya.