Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Keluarga Besar Berkumpul


__ADS_3

Setelah Alfy mendengar penjelasan Nyonya Syein ia kembali melangkah dengan lemasnya menaiki anak tangga tatapannya yang begitu terlihat tidak bersemangat lagi setelah mengetahui keinginan istrinya. Sesampainya di kamar ia membuka pelan pintu itu namun tidak ada mengatakan apapun pada istrinya yang masih duduk dengan kedua tangan bersimpuh menopang kepalanya sambil terus menangis.


"Mengapa kau begitu keras kepala?" tanya Alfy pelan.


Jee yang mendengar pertanyaan itu seketika terhenti menangis dan menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh permohonan matanya tampak berkaca-kaca. Sebenarnya Jee tidak ingin mengecewakan suaminya tetap rasanya memang sangat besar semangatnya untuk kuliah. Sama sekali Jee tidak ada berfikiran untuk bersenang-senang di luar sana namun karena Alfy yang sudah terlanjur cemburuan pada Jee sangat sulit untuk di ajak berkomunikasi baik-baik.


"Aku hanya ingin cepat lulus kuliah dan memiliki usaha sendiri." jawab Jee dengan wajah tertunduk.


Wanita itu memang ingin sekali bisa hidup mandiri tanpa harus menjadi wanita rumahan yang hanya menunggu uang bulanan dari suaminya. Kecerdasan yang Jee miliki sangat sangat jika harus ia sia-siakan di usia mudanya saat ini tentu.


Alfy yang melihat wajah istrinya begitu sedih lagi-lagi tidak bisa memaksakan dirinya lagi dengan menghela nafas kasarnya ia segera mendekat pada istrinya.


"Baiklah jika kau memang benar-benar keras kepala yasudah." ucap Alfy dengan wajah yang belum bisa sepenuhnya mengiklaskan.


"Kau mengijinkanku suamiku?" tanya Jee dengan tidak yakin.


"Eehem." jawab Alfy dengan wajah datarnya.


Mendengar hal itu Jee merasa tidka bisa menahan rasa bahagianya dengan penuh semangat ia pun memeluk suaminya dengan erat berkali-kali ia mendaratkan satu kecupan demi kecupan lagi di pipi suami tampannya itu. Alfy yang tadinya merasa kesal mendadak tersenyum kecil mendapatkan perlakuan seperti itu. Jarang-jarang Jee seberani itu padanya biasanya selalu Alfy yang melakukan itupun terkadang mendapat penolakan dari Jee kini ia semakin penasaran apakah jika hati istrinya senang Alfy akan selalu medapatkan hadiah dari Jee.


Kini Alfy menatap wajah istrinya dalam tanpa berbicara sedikitpun, Jee yang mendapatkan tatapan itu merasa sepertinya ia tahu akan ada yang terjadi tentunya setelah ini.


Perlahan wajah suaminya mendekat dan entah sejak kapan bibir kedua orang itu sudah saling beradu dengan penuh semangatnya. Jee yang merasa kewalahan menghadapi Alfy perlahan memalingkan wajahnya untuk mengambil nafas. Alfy yang tidak bisa menahan langsung mendaratkan bibirnya lagi turun ke bagian leher putih milik istrinya.


KIni mereka saling beradu tanpa ada yang berdiam diri semua sudah mendapatkan gairah masing-masing dengan lancarnya tangan Alfy memainkan dua benda yang ada di bawah sementara bibirnya terus menelusuri setiap area sensitif istrinya.


Merasa sudah puas kini Alfy berpindah sampai ke bagian bawah istrinya, mendapatkan perlakuan seperti itu Jee sudah tidak bisa menahan suaranya lagi. Ruangan kamar itu tampak berubah menjadi panas karena adegan mereka berdua di siang hari.


Cukup lama Alfy dan Jee saling menyalurkan hasratnya sampai akhirnya beberapa kali Jee merasa ada yang membuatnya sangat geli dan yah sepertinya wanita itu telah mencapai puncaknya. Setelah memastikan Jee puas tanpa menunggu lama Alfy segera mengarahkan sesuatu yang saat ini sedang berusaha keras di bawah sana.


Suara Jee yang tampak terdengar lebih keras saat ini mengikuti permainan suaminya yang baru saja berhasil meraih tujuannya dengan sekali hentakan semua tercapai. Alfy selalu bermain dengan brutal meskipun Jee merasa sangat sulit mengimbangi suaminya namun hal itu sangat membuatnya senang ternyata.


Beberapa jam mereka beradu di dalam kamar kini semua terbaring lemas di kasur dengan berpelukan tubuh mereka semua penuh dengan keringan. Perlahan Alfy dan Jee akhirnya tertidur pulas sampai jam menunjukkan pukul empat sore.

__ADS_1


"Ayo bangun." ajak Jee pada Alfy.


"Nanti dulu." jawab Alfy dengan suara lemasnya.


Jee yang melihat wajah suaminya tersenyum ia sangat senang menatap wajah Alfy tiap kali sedang tidur tampannya sangat terlihat tenang. Matanya yang begitu indah di bantu dengan alisnya yang tebal membuat wajahnya benar-benar sempurna bibirnya yang merah karena memang pria itu sangat putih sangat cocok jika di lihat dengan kulit Jee.


Alfy yang menyadari sedang di pandangi oleh istrinya dengan segera memasukkan Jee kembali di pelukannya dan menarik tangan istrinya untuk melingkar pada tubuhnya.


Jee yang tersenyum hanya menurut saja dan diam tanpa berbicara, sedangkan Alfy yang mulai membuka matanya seketika timbul kejahilannya ia menggelitik pinggang istrinya.


"Suamiku geli! tolong hentikan." Teriak Jee yang tidak bisa melawan.


"Kau mengganggu tidurku kan, rasakan ini." Dengan tertawa Alfy terus menggelitik istrinya.


Kini mereka terdengar sangat ribut namun tidak ada yang mendengar suara itu wajah keduanya memerah pengaruh terlalu tertawa.


Sementara di gedung Syein Biglous Delon dan Jacobie yang masih sibuk bekerja tanpa mencari keberadaan Tuan Alfy lagi. Entah sejak kapan Alfy sering bekerja dari rumah yang jelas itu semua karena rasa rindunya yang membuatnya lupa dengan kantornya. Tetapi meskipun ia tidak ke kantor tiap malam tentu ia bekerja lembur tanpa sepengetahuan keluarganya termasuk Jee istrinya.


Tiba-tiba Jac yang tadi tengah sibuk bekerja di kagetkan dengan dering ponselnya yang ada pada saku jasnya itu. Saat melihat nama Adeline wajahnya tampak heran mengapa wanita itu menghubunginya apakah ada yang terjadi pada Nona Jee itulah yang ada di dalam fikiran Jac saat ini.


"Em aku hanya ingin tahu kabarmu saja." jawab Dokter Adeline tersenyum di seberang sana.


"Maaf Adeline ini jam kerjaku," Suara datar Jac sukses membuyarkan senyuman wanita itu.


Wajah Adeline berubah seketika menjadi kecewa mendengar ucapan Jac tentu wanita itu tidak bodoh untuk mengerti jika pria itu tidak begitu menginginkan waktu terbuang hanya untuk berkomunikasi dengannya.


"Kau kapan pulang?" tanya Dokter Adeline lagi yang tampak tidak mau menyerah begitu saja.


"Tidak tahu mungkin malam." Jac tetap menatap layar komputer sambil memegang ponselnya. Mata dan tangannya tetap tidak berhenti bergerak pada laptopnya.


"Kapan kau ada libur?" tanya Dokter Adeline lagi.


Jac yang mulai merasa kesal karena wanita itu tidak segera mengakhiri telfon itu akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Dokter Adeline.

__ADS_1


"Maaf Adeline aku tidak ada libur. Apa aku bisa mematikan ponselku sekarang?" tanya Jac dengan santainya.


"Oh baiklah." ucap Dokter Adeline yang belum sempat terdengar oleh Jacobie karena sudah lebih dulu mematikannya.


Kekesalan tampak terlihat di wajah Adeline namun ia tidak ingin menyerah sampai di situ saja malam ini wanita itu memutuskan untuk menunggu kepulangan Jac dari kantor.


Hari sudah mulai gelap semua para pelayan telah sibuk menyiapkan makan malam Jee dan Alfy sudah terlihat tampak segar habis mandi. Wajah wanita itu sudah tidak sedih lagi setelah mendapat ijin dari sang suami dan tentunya mendapat hadiah juga. Semua kelaurga besar sudah berkumpul di meja makan dengan wajah masih penasaran pada Jee yang sudah tersenyum.


Menduga-duga apakah Jee sudah mendapatkan ijin dari sang suami untuk melanjutkan kuliahnya lagi meungkin itu benar. Sedangkan Dokter Adeline dan suster Syanin juga ikut bergabung dengan keluarga besar itu makan malam semua tampak bahagia bisa makan dengan ramai seperti itu terkecuali Dokter Adeline yang merasa tidak bahagia karena Jacobie selalu tidak bisa bergabung.


"Dokter kenapa?" tanya Jee penasaran melihat wanita itu tampak memiliki beban fikiran.


"Ah tidak apa-apa Nona." jawabnya dengan sedikit terkejut.


"Seperti ada yang Dokter fikirkan sejak tadi." lanjut Jee lagi.


"Benarkah Nona? tapi sungguh tidak ada apa-apa." Berusaha mengelak Dokter Adeline dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman terpaksa.


Setelah makan malam selesai akhirnya Alfy bergegas menuju ruang kerjanya Jee yang sudah di beritahu sejak tadi hanya tersenyum saat mengecup kening istrinya. Tingkah Alfy sukses membuat semua yang ada di meja makan menggelengkan kepala perlakuan suami istri itu seperti akan pergi ke mana saja padahal hanya berpisah ruangan.


Malam sudah semakin larut Dokter Adeline yang terus berdiri di ruangan depan menunggu kepulangan Jacobie akhirnya tersenyum ketika melihat sorotan lampu mobil di depan rumah besar itu. Dengan segera ia mendekat, namun saat melihat kehadiran Jacobie yang bersama Delon ia mengurungkan niatnya untuk mendekat.


Saat ini Dokter Adeline hanya bersembunyi di balk sudut ruangan itu memperhatikan langkah kedua pria itu yang menuju ruang kerja mereka. Alfy yang masih berada di ruang kerja kini melihat kehadiran dua pria kepercayaannya itu. Jac dan Delon dengan segera melaporkan semua pekerjaannya hari ini dengan baik.


Jac yang sudah selesai lebih dulu sudah di persilahkan oleh Alfy untuk pergi beristirahat dengan cepat pria itu menunduk dan melangkah ke luar ruangan.


Betapa terkejutnya Jac saat melangkah ada kedua tangan yang melingkat sempurna di pinggangnya matanya melotot seketika.


"Aku merindukanmu." ucap Dokter Adeline yang masih berada di belakang tubuh pria itu.


"Apa yang kau lakukan Adeline?" tanya Jac dengan paniknya.


Berusaha melepaskan pelukan Dokter Adeline dengan kasarnya Jac tidak berfikir baik lagi untuk melakukan dengan pelan. Dokter Adeline lagi-lagi merasa kecewa mendapat perlakuan kasar dari Jac padahal ia berharap dengan perlakuannya itu Jac bisa senang padanya.

__ADS_1


Hai lovers selamat membacayah jangan lupa untuk like, komen, dan votenya. Terimakasih sudah setia menunggu updatenya episode ini author sangat senang jika kalian juga senang membacanya. Assalamualaikum Wr. Wb.


__ADS_2