
Beberapa hari berlalu sangat cepat tidak terasa kini Fiky dan Jee sudah mendapatkan ijin Dokter keluar dari rumah sakit.
Semua keluarga tampak antusias memasak makanan begitu banyak di rumah utama, sedangkan Nyonya Syein dan Tuan Reindra kini sudah pergi ke rumah sakit.
Di rumah Tuan Indrawan dan Nyonya Flora yang menunggu mereka, sesampainya di rumah sakit Nyonya Syein masuk ke ruang rawat Jee.
Di dalam tampak Alfy sedang menyuapi istrinya buah mereka tersenyum melihat kedatangan Nyonya Syein dan Tuan Reindra.
"Mamah." ucap Alfy.
"Kalian sudah siap?" tanya Nyonya Syein.
"Iya Mah, sudah kok." jawab Jee.
Sementara Delon mmebantu Fiky untuk bersiap di ruang sebelah setelah semuanya selesai kini Delon mengajak Fiky dengan kursi rodanya ke ruang rawat Jee.
"Tuan Fiky sudah siap Nyonya." ucap Delon.
Alfy dan Fiky yang mendengar sama-sama terkejut tapi tidak dengan Jee, wanita itu sepertinya mengerti apa yang akan terjadi.
"Mah, ada apa?" tanya Alfy meminta penjelasan.
Nyonya Syein yang mengerti dengan sabar memberi pengertian pada Alfy karena Fiky keadaannya belum terlalu baik Tuan Reindra meminta Fiky untuk tinggal sementara bersama mereka semua.
"Apa?" suara Alfy yang terkejut.
"Sementara Fy." tambah Nyonya Syein lagi.
Kini wajah Alfy cemberut ia merasa sangat kesal lagi-lagi nyawa kecemburuannya terancam. Apa ia harus membawa Jee kemana pun ia pergi.
Akhirnya cukup lama Alfy berdiam diri sampai Tuan Reindra membuyarkan lamunannya untuk segera membawa Jee pulang.
Alfy meminta beda mobil dengan Fiky rasanya sangat tidak rela istrinya satu mobil dengan pria lain.
Tuan Reindra dan Nyonya Syein hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya yang sudah over dosis posesifnya.
"Jee, bagaimana bisa kamu memiliki suami seperti ini." Nyonya Syein yang mengejek menantunya.
"Tau tuh Mah, ko bisa sih Alfy beda banget sama Papah?" tanya Jee dengan meledek suaminya.
Alfy yang mendengar hanya terus cemberut sambil berjalan mendorong kursi roda istrinya.
Kini dua mobil itu beriringan Alfy dan Jee bersama Pak Deni, sedangkan Tuan dan Nyonya Syein yang membawa Fiky di antar oleh Pak Riri supir Tuan Reindra bersama Delon.
__ADS_1
Setibanya mereka di rumah utama dengan meriah di sambut para pelayan beserta sahabat Jee dan kedua orang tua Jee.
"Selamat kembali ke rumah yah sayang." ucap Nyonya Flora memeluk putrinya.
"Terimakasih Mi." jawab Jee.
Kini para sahabat wanita Jee sudah memeluknya bersamaan sedangkan Alfy tetap dengan ekspresi wajah cemberutnya yang sejak dari rumah sakit tidak berubah.
Sisil yang melihat kedatangan Fiky tersenyum perlahan ia melangkah ke arah Fiky lalu mengambil alih dorongan kursi itu.
Mereka semua masuk menuju ruang makan dari kejauhan sudah tampak begitu banyak hidangan yang di siapkan.
Kini mereka semua menikmati makanan dengan sangat bahagia, cukup lama mereka berada di meja makan sampai akhirnya sudah selesai sesi makannya.
Alfy dan Jee dengan segera berpamitan untuk ke kamar istirahat sedangkan para sahabatnya sudah berpamitan pulang karena akan ada kuliah setelah itu.
Sisil yang berat hati meninggalkan Fiky mau tidak mau harus pergi bersama sahabatnya jika tidak mereka akan curiga.
Sedangkan Jacobie yang baru saja mendapat kabar bahwa salah satu orang suruhannya sudah menemukan keberadaan Nakula.
Mereka mengirimkan lokasi mereka saat ini pada Jacobie tanpa menunggu lama dengan cepat Jacobie melajukan mobilnya. Setelah beberapa jam ia kini sampai di sebuah dermaga kecil tampaknya Nakula sedang berliburan di sebuah pulau kecil.
Dengan cepat Jacobie mengambil spead yang tersandar di dermaga itu ia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk menyewanya.
Begitu lajunya ia mengemudikan spead itu terlihat ombak sangat besar yang mengikuti pergerakan spead yang ia bawa.
Kini mereka menunjukkan keberadaan Nakula di sebuah villa kecil yang tepat berada di pinggir pantai itu.
Jacobie yang sudah tidak bisa sabaran lagi begitu cepat melangkahkan kakinya lalu melayangkan tangannya ke wajah Nakula.
Nakula yang mendapat perlakuan itu seketika terkejut melihat kehadiran Jacobie yang tidak terduga sama sekali.
"Ada apa ini?" tanya Nakula bingung.
Jacobie yang tidak menjawab langsung mendaratkan pukulan berulang kali tanpa ada yang berani mencegahnya dan sama sekali tidak bisa di lawan oleh Nakula.
Posisi Nakula saat ini yang tidak ada persiapan baru saja ia akan melawan Jacobie sudah lebih dulu melayangkan pukulan demi pukulan.
Tampa terlihat beberapa bagian wajah Nakula sudah mengeluarkan bercak darah ia mengatur nafasnya lalu perlahan mulai berdiri.
Namun belum sempat berdiri Jacobie lagi-lagi menghajarnya beberapa kali memukul daerah wajah dan beberapa kali ia memukul bagian perut Nakula.
Kini Nakula hanya terbaring lemah di dasar pasir tanpa bisa melakukan perlawanan atau hanya perlindungan diri.
__ADS_1
"Bawa dia." perintah Jacobie menyuruh orang suruhannya membawa Nakula ke Kota.
Dengan cepat para suruhan itu menyeret Nakula ke dalam sebuah spead yang agak besar dari yang di bawa Jacobie tadi.
Setelah cukup lama perjalanan kini mereka tiba di sebuah dermaga dengan cepat memasukkan Nakula ke mobil yang sudah terparkir.
Belum sempat mereka masuk ternyata para wartawan sudah banyak yang berkerumun di sana mereka dengan antusias mengambil beberapa gambar Nakula lalu mengejar-ngejar untuk mendapatkan informasi.
Kini berita tentang Nakula sudah tersebar luas ia sudah menjadi bulan-bulanan publik mulai saat dulu di pecat di hadapan semua media.
Tuan Reindra yang saat itu sedang menonton televisi bersama Nyonya Syein begitu terkejut melihat wajah keponakannya sudah babak belum penuh darah.
"Pah, apa ini Jac?" tanya Nyonya Syein yang menduga itu adalah serangan dari Jacobie.
"Sepertinya Mah." jawab tuan Reindra santai.
Nyonya Syein yang melihat respon suaminya sangat khawatir jika Jacobie melakukan hal yang di luar kendali pada Nakula.
"Mamah jangan khawatir Jac adalah pria yang cerdas, ia tidak akan melakukan hal bodoh." jelas Tuan Reindra yang melihat wajah khawatir istrinya.
Setelah mendengar ucapan Tuan Reindra tampaknya Nyonya Syein mulai mengerti memang benar Jacobie adalah pria yang cerdas tidak mungkin ia melakukan hal di luar akal sehatnya.
Setelah kepergian mobil itu semua wartawan tampak masih berdiri di dermaga sepertinya mereka tahu akan ada yang datang lagi setelah ini.
Tidak lama kemudian tampaklah sepit yang melaju dengan kecepatan yang tinggi lalu menyenderkannya di sebuah dermaga.
Pria dengan pakaian dari bawah sampai atas memakai warna hitam begitu juga dengan jas mewahnya berwarna hitam di lengkapi kaca mata yang bersandar sempurna di hidung mancung pria itu.
Jacobie yang begitu memikat hati wanita sudah tidak asing lagi di telinga media dan masyarakat, dirinya yang terkenal cerdas dan kepercayaan Syein Biglous membuat namanya sangat terkenal.
"Itu Tuan Jac." teriak salah satu wartawan.
Jacobie yang melihat mereka berlarian hanya bisa menghela nafas kasarnya mau bagaimana lagi kali ini ia tentu akan berhadapan dengan media lagi.
"Tuan, apa anda yang melakukan ini pada Tuan Nakula?" tanya salah satu wartawan.
"Ya." jawab Jacobie singkat.
Semua wartawan tampak ribut saling berdiskusi mereka tidak percaya seorang Jacobie bermain kasar.
"Mengapa anda bisa melakukan hal itu Tuan?" tanya salah satu dari mereka lagi.
"Aku memiliki hal yang privasi ku harap kalian mengerti itu." jawab singkat Jacobie sambil melangkah pergi meninggalkan kerumunan wartawan.
__ADS_1
Dan meninggalkan sejuta pertanyaan di hati mereka semua bagaimana bisa seorang Jacobie bermain tangan dengan mantan pengacara itu.
Halo semuanya ceritanya sampai di sini dulu yah sayang. Author akan siapkan moment baper deh setelah ini hehe. Selamat membacayah semoga kalian tetap setia menunggu episode selanjutnya.