Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Keluarga Besar Mengetahui


__ADS_3

Di rumah utama Tuan Reindra yang melihat istrinya sedang duduk di sofa dengan pikiran entah kemana. Nyonya Syein yang tampak memikirkan sesuatu di kejutkan oleh sentuhan tangan suaminya di bahunya.


"Mah, ada apa? kok Papah liat kayak ada yang di fikirin sih." Tuan Reindra yang penasaran.


"Eh Pah, ini Mamah kepikiran sama Zeyra." jawab Nyonya Syein.


Tuan Reindra juga baru sadar bahwa mereka sudah lama kehilangan wanita itu karena terlalu sibuknya dengan Jee sampai lupa.


"Oh Zeyra, memangnya dia kenapa Mah?" tanya Tuan Reindra.


"Di rumah sakit Pah." jawab Nyonya Syein.


Mendengar istrinya menyebut rumah sakit Tuan Reindra terkejut.


"Sakit apa Mah?" tanya Tuan Reindra lagi.


"Mamah bingung mau ngomong dari mana." Nyonya Syein tampak ragu mengatakannya.


"Ngomong aja Mah." ucap Tuan Reindra yang mulai penasaran.


Akhirnya Nyonya Syein menceritakan kejadian di rumah sakit saat ia berkunjung ke ruang rawat Zeyra dan berbicara pada Dokter.


Ia tidak percaya saat Dokter memberi tahu kehamilan Zeyra, selama ini Nyonya Syein tahu Zeyra adalah wanita baik-baik.


Tuan Reindra yang mendengarnya begitu terkejut ia memijit alisnya dengan kuat memikirkan yang terjadi pada adik Jacobie itu.


"Belakangan ini Papah liat Jac sangat jarang bertemu kita." Tuan Reindra mulai mengira-ngira.


"Apa karena ia menghindari tentang Zeyra yah Pah?" Nyonya Syein menambahkan lagi.


"Mamah benar, mungkin ia malu Mah." ucap Tuan Reindra tepat sasaran.


Setelah cukup lama mereka mengira-ngira tampak Tuan Indrawan dan Nyonya Flora yang baru saja keluar dari kamar mereka.


Mereka melangkah ke arah Tuan dan Nyonya Syein yang duduk di sofa, melihat wajahnya yang tampak ada fikiran membuat Tuan Indrawan dan Nyonya Flora ikut penasaran.


"Ada apa dengan kalian sih?" tanya Tuan Indrawan.


Kini mereka duduk bersama sambil mencari kalimat pembuka yang pas menceritakan keadaan Zeyra karena bagaimana pun mereka hidup bersama tidak baik jika memendam sendiri.


Setelah akhirnya Tuan Reindra ahirnya menceritakan perlahan kepada kedua sahabatnya. Tuan Indrawan dan Nyonya Flora tampak terkejut mendengar keadaan Zeyra.


"Begitu ceritanya," ucap Tuan Reindra mengakhiri penjelasan.


"Lalu siapa pria itu?" tanya Tuan Indrawan.


Lalu Nyonya Flora menceritakan ketika ia bertanya pada Zeyra namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa pun.


Kini mereka hanya duduk dengan wajah penuh rasa prihatin, saat ini hanya Jacobie yang bisa menjelaskan pada mereka.


Biar bagaimana pun Jacobie sudah mejadi anggota keluarga mereka Tuan dan Nyonya Syein sudah menganggapnya seperti putranya begitu juga dengan Delon.


Akhirnya setelah cukup lama Tuan Reindra terdiam ia bergerak meraih ponselnya.


"Ada apa Tuan?" suara pria di seberang sana.


"Kau sibuk?" Tuan Reindra bertanya balik.

__ADS_1


"Tidak Tuan." ucap Jacobie.


"Bisa ke rumah sekarang kan." Tuan Reindra dengan nada datarnya berbicara.


Jacobie dengan cepat menyanggupi permintaan Tuan Reindra dan segera bergegas keluar dari gedung mewah itu.


Beberapa lama kemudian ia tiba di rumah utama dan segera masuk dengan tatapan datarnya itu. Sesampainya di hadapan Tuan dan Nyonya ia hanya berdiri menundukkan kepalanya sebentar.


"Kemari Jac." Tuan Reindra menepuk sofa di sebelahnya.


Jacobie yang merasa tidak biasa mendadak gugup ia takut jika ada melakukan kesalahan.


Setelah memastikan Jacobie duduk dengan sempurna Tuan Reindra menarik nafas untuk memulai percakapan mereka.


"Siapa pria itu Jac?" tanya Tuan Reindra padanya.


Jacobie yang merasa tidak mengerti dengan pertanyaan Tuan Reindra menatapnya dengan bingung.


"Pria yang tidak bertanggung jawab itu." lanjut Tuan Reindra lagi.


Mendengar pertanyaan Tuan Reindra Jacobie benar-benar terkejut tidak menduga berita ini sudah sampai di telinganya.


Kini Jacobie hanya tertunduk tanpa menjawab pertanyaan itu ia merasa serba salah. Jika menjawab yang sebenarnya tentu Tuan Reindra sangat marah namun jika tidak menjawab siapa yang harus ia sebut.


Setelah melihat Jacobie begitu lama Nyonya Syein bergeser mendekat padanya kini posisi Jacobie berada di tengah-tengah mereka.


"Kami ini orangtuamu, katakanlah Jac." Nyonya Syein yang begitu lembut mengusap kepalanya.


Jacobie yang merasakan begitu hangatnya orangtua itu menyayanginya mendadak matanya berkaca-kaca. Dengan kuat ia menahan air mata untuk tidak jatuh namun usahanya lagi-lagi tidak berhasil.


"Maafkan saya Tuan, Nyonya." ucap Jacobie.


"Pria itu adalah Nakula Tuan." jawab Jacobie tanpa menatap mereka.


Tuan Reindra yang mendengar begitu sangat marah terlebih lagi Nakula adalah keluarga yang sudah mengkhianati mereka.


"Bagaimana bisa Jac?" tanya Tuan Reindra tampak kesal.


"Zeyra di tipu oleh Nakula Tuan." jawab Jacobie.


Nyonya Syein dengan cepat meminta Jacobie menceritakan kronologisnya, akhirnya Jacobie menceritakan dari awal mula Nakula bebas lalu bertemu Zeyra sampai mereka liburan bersama.


Kabar itu sangat membuat semuanya terkejut tidak percaya. Tuan Reindra yang sudah tidak sabar dengan cepat mengerahkan seluruh pasukannya menyuruh untuk menangkap keponakannya.


Sementara di rumah sakit Zeyra yang sudah pulih akhirnya di ijinkan pulang namun ia tidak ingin kembali ke rumah utama. Rasanya sangat memalukan jika ia menampakkan wajahnya di sana dengan keadaan memalukannya saat ini.


Suster Syanin yang khawatir Zeyra pergi akhirnya menghubungi Jacobie.


"Ada apa?" tanya Jacobie yang masih saja dingin.


"Zeyra sudah boleh keluar, namun ia tidak ingin aku antar ke rumah sakit." jelas suster Syanin.


"Yasudah terserah dia saja." Jacobie yang tampak kesal.


Dengan cepat ia mematikan ponselnya, suster Syanin yang bingung harus bagaimana akhirnya mendapat ide.


"Apa kau mau tinggal bersamaku dulu?" Suster Syanin menawarkan pada Zeyra.

__ADS_1


"Suster bercanda yah?" tanya Zeyra tertawa.


"Aku serius." jawab suster Syanin.


"Aku tidak ingin merepotkanmu, Sus." Zeyra yang merasa tidak enak.


Suster Syanin tersenyum malu dan berkata, "Tapi maafkan aku, rumahku sangat tidak enak." ucapnya.


"Baiklah aku akan bersama mu dulu sambil mencari pekerjaan." Zeyra yang akhirnya menyetujui.


Kini dua wanita itu beranjak keluar ruangan dan menuju rumah suster Syanin bersama Delon yang mengantar mereka.


 Setelah Delon memastikan dua wanita itu sampai di rumah ia segera kembali ke rumah sakit dan berdiri di depan ruangan Jee.


Baru saja mau melangkah masuk matanya melihat Jee dan Alfy baru dari luar.


"Ada apa?" tanya Alfy padanya.


"Tuan, untuk perawatan Tuan Fiky apa anda yang akan menanggungnya?" tanya Delon.


"Bodoh, tentu saja mengapa kau masih menanyakan hal itu?" Alfy yang kesal.


Jee yang melihat sikap Alfy berlebihan menarik tangannya.


"Han, apa yang kau katakan ? kau berlebihan, dan Fiky? apa yang terjadi dengannya?" Jee tampak bingung.


Ia menatap tajam pada suaminya berfikir hal yang paling buruh tentu sudah terjadi sampai Fiky masuk rumah sakit.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Alfy.


"Kau tidak melakukannya kan?" Jee yang sudah menuduh suaminya.


"Astaga apa yang kau fikirkan? wajahku terlihat begitu jahat yah." celoteh Alfy yang menenangkan Jee.


Setelah memikir lama akhirnya Alfy menceritakan kejadian sebelum Jee keguguran Fiky sudah lebih dulu mendapat pukulan dan tembakan.


Mendengar cerita suaminya benar-benar membuat Jee tampak syok air matanya menetes tanpa sengaja.


"Han, antar aku bertemu dengannya." ucap Jee.


"Tidak." jawab Alfy.


"Apa maksudmu? dia seperti itu karenaku." suara Jee tampak meninggi.


Akhirnya Alfy mengalah dan mengantar istrinya bertemu Fiky setelah mereka tiba tepat di depan ruangan Fiky, Delon mengetuk pintu dan perlahan mendorong pintu.


Fiky yang sedang tertidur tidak mendengarnya dan kini Alfy, Jee dan Delon sudah berada tepat di hadapannya.


Jee yang mendekatkan kursi rodanya ke hadapan Fiky menatapnya penuh prihatin dan rasa bersalah.


Alfy yang berusaha menarik kursi roda istrinya agar tidak terlalu dekat selalu di tepis oleh tangan Jee.


"Apa yang kau lakukan?" suara Jee mengomel.


"Kau tidak boleh dekat-dekat." ucap Alfy.


Jee yang menyadarinya akhirnya hanya menatap Fiky dari jarak yang tidak terlalu dekat itu pun di batasi dengan Alfi di hadapan Jee.

__ADS_1


Wah akhirnya Fiky bisa melihat Jee lagi yah kasihan Fiky perjuangannya sama sekali tetap tidak membantunya mendapatkan kebahagiaan. Semoga kelak kau menemukan yang baik seperti Jee yah Fiky kau orang yang baik dan tampan masih banyak wanita yang akan membahagiakanmu pastinya.


Ceritanya sampai di sini dulu yah sayang terimakasih sudah menjadi pembaca setiaku yah semoga kalian tidak bosan dengan cerita ini. Episode berikutnya masih banyak kejutan pastinya yang bahagia-bahagia tentunya. Author pamit dulu yah readersku sayang selamat membaca.


__ADS_2