
Di sebuah kafe kini terlihat seroang pasangan yang tampak canggung saling melempar pandangan sesekali tanpa ada bicara.
"Aduh aku harus mengatakan apa yah?" gumam suster Syanin yang gugup melihat pandangan pria di hadapannya.
"Wah lihatlah wajahnya begitu menggemaskan, apa hari ini adalah hari kemenanganku? yah mungkin saja ia akan menyatakan perasaannya yang selama ini tertahan hahaha." ucap Jacobie dalam hati.
"Mengapa tatapannya seperti itu sih?" ucap suster Syanin yang tidak mengeluarkan suaranya.
"Katakan!" suara Jacobie yang terdengar cuek.
"Em...aku ingin bicara." ucap suster Syanin yang bingung harus memulai dari mana dulu.
"Astaga ayolah katakan kau suka padaku mengapa sulit sekali sih." Jacobie yang semakin tidak sabaran menunggu ucapan suster Syanin.
Wajah pria itu terus menahan senyum di bibirnya demi menjaga kualitas wajahnya yang terbilang sangat tegas.
"Baiklah aku akan mengatakan tentang..." ucap suster Syanin yang terhenti lagi.
"Cepat! aku tidak suka menunggu." suara Jacobie kembali membuat suster Syanin kesal.
"Aku beberapa hari yang lalu bertemu dengan Zeyra." Dengan suara ragu suster Syanin mengatakannya.
Jacobie yang mendengar ucapan suster Syanin kini tampak mengerutkan dahinya dan wajahnya yang menahan senyuman sejak tadi berubah menekuk.
Apa hanya karena ini ia mengajakku untuk bertemu astaga mengapa rasanya menyebalkan sekali sih? ah tidak-tidak mungkin saja ini hanya basa basinya saja nanti baru intinya. Iya mungkin benar begitu, baiklah aku akan menunggunya dengan senang hati.
Jacobie yang terus berbicara dalam hati tanpa mengatakan apa-apa pada suster Syanin.
Akhirnya dengan berani suster Syanin bercerita tentang kesedihan Zeyra padanya saat di rumah itu dan bagaimana kondisi fisik Zeyra yang terus menerus mendapat tekanan saat masa kehamilannya.
Jacobie yang mendengarkan dengan tanpa ekspresi memberikan suster Syanin kebebasan untuk semakin banyak menceritakan Zeyra.
Dan tentu ia juga memberi tahu pada Jacobie jika hal itu bisa saja membuat kandungan Zeyra tidak baik dan ia sama sekali tidak membela Zeyra, hal yang bisa di maklumi jika Zeyra menginginkan kehadiran ayah dari bayinya karena bisa saja itu adalah keinginan bayinya.
Semua wanita saat hamil tentu sangat menginginkan perhatian dari Ayah anaknya dan mungkin itu yang terjadi pada Zeyra saat memilih Nakula.
Jacobie yang mendengar ucapan suster Syanin hanya terdiam tanpa kata, ia perlahan mulai terlihat melunak dengan suster Syanin.
"Maafkan Zeyra, kasihan dia sangat membutuhkan dukungan anda." ucap suster Syanin pelan.
Jacobie yang sudah sejak tadi mempertimbangkan ucapannya hanya terdiam dan mengangguk tanda setuju dengan perkataan suster Syanin.
"Kau memaafkannya?" tanya suster Syanin.
"Hem." jawab Jacobie singkat.
Suster Syanin yang melihat Jacobie mendengarkannya begitu merasa senang wajahnya tampak berseri-seri sedangkan Jacobie yang menatapnya tajam tanpa kata.
"Ayolah katakan," gumam Jacobie yang tampak menunggu sesuatu lagi.
"Baiklah kalau begitu mari kita memesan makanan." ucap suster Syanin menyodorkan menu makanan.
__ADS_1
Jacobie dengan cepat memilih beberapa hidangan lalu kembali berdiam lagi sambil menatap suster Syanin. Merasa tidak bisa sabaran lagi akhirnya Jacobie memecah keheningan.
"Apa tujuanmu mengajakku kemari?" tanyanya.
Suster Syanin yang mendengarnya tersenyum. "Yah mengatakan hal tadi." jawabnya.
"Hah? cuman itu?" Jacobie tampak terkejut.
Suster Syanin begitu bingung dengan ucapan dari Jacobie sepertinya ia melakukan kesalahan namun apa yang ia lakukan sepertinya tidak ada yang salah.
"Memangnya apa lagi?" tanya suster Syanin bingung.
Jacobie dengan langsung memukul meja lalu berdiri meninggalkan suster Syanin sendirian.
"Hey, apakah anda tidak jadi makan?" tanya suster Syanin sedikit berteriak.
Jacobie yang mendengarnya tanpa perduli terus melangkah keluar kafe dengan tangan yang sudah mengepal erat wajahnya begitu kecewa.
"Apa yang dia fikir tentang diriku? mengapa mengajakku bertemu hanya untuk membahas masalah lain?" gerutu Jacobie.
Dasar ku fikir mengajakku bertemu karena merindukanku ternyata ingin membicarakan hal yang tidak penting, bodoh sekali diriku mengapa begitu berharap hal yang seperti itu padanya. Dia kan wanita terbodoh sampai tidak tahu jika aku merindukannya. Eh apa ini aku merindukannya? benarkah?
Jacobie terus berbicara mengomel tanpa sadar saar berjalan ke arah mobilnya semua orang yang berpapasan dengannya tampak memperhatikan sambil berbisik satu sama lain lalu tertawa.
"Apa ada yang lucu?" tanya Jacobie pada salah satu pengunjung kafe yang tertawa sambil melirik ke arahnya.
Dengan cepat mereka memalingkan wajahnya berpura-pura tidak tahu, sementara Jacobie yang kesal kini dengan cepat melajukan mobilnya.
Wajah suster Syanin tampak masa bodoh dengan kepergian Jacobie karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
Sedangkan di rumah Delon yang sedang bersama Zeyra duduk bersantai tampak bahagia menonton televisi yang menayangkan tingkah konyol Mr. Bean.
"Ahahaha." suara Zeyra yang tertawa terbahak-bahak tanpa bisa menahannya.
Delon yang melihatnya pun juga ikut tertawa sedangkan Bi Umi yang melihat mereka begitu menikmati pemandangan itu.
"Sunggu pasangan yang serasi, coba saja mereka benar-benar suami istri pasti anaknya sangat menggemaskan." gumam Bi Umi.
"Aduduh." ucap Zeyra yang memegang perutnya terlihat kesakitan.
"Ada apa, Zey?" tanya Delon dengan cepat mendekat ke arah Zeyra.
"Aku tidak tahu tiba-tiba saja perutku terasa keram." jelas Zeyra.
"Tidak apa-apa Nona, itu biasanya hanya bawaan bayi saja." ucap Bi Umi yang dengan sigap.
"Benarkah Bi?" tanya Delon serius.
"Iya Tuan." ucap Bi Umi.
Delon yang berfikir sambil menatap Zeyra tampak sedang berfikir untuk mencari perawat yang bisa menjaga Zeyra bergantian dengan Bi Umi.
__ADS_1
Fikirannya langsung tertuju pada suster Syanin, dengan cepat ia bergegas menjauh dari ruang tv untuk menghubungi suster Syanin.
"Halo," ucap suster Syanin.
"Sya, apakah kau bisa menjaga Zeyra selama hamil?" tanya Delon tanpa basa basi.
"Tentu saja." jawab suster Syanin cepat.
"Baiklah jika begitu mulai besok kau bekerja di sini yah?" ucap Delon.
Suster Syanin yang setuju hanya terdiam karena untuk soal kerjanya di rumah sakit pasti Delon sudah bisa mengatasinya tanpa ia perlu repot-repot lagi.
Setelah Delon kembali duduk bersama Zeyra wajahnya menunjukkan ekspresi biasa saja, Zeyra yang melihatnya hanya tersenyum lucu.
"Apa yang kau ketawakan?" tanya Delon menyadari wajah Zeyra.
"Wajahmu seperti Mr. Bean." jawab Zeyra mengejek.
"Benarkah? sepertinya kau menaksir padaku yah?" Delon yang berbicara dengan penuh percaya dirinya.
Zeyra yang mendengarnya pun terkejut bukan main bagaimana bisa Delon mengatakan hal itu padanya entah sebenarnya memang hanya mengejek atau Delon mengetahui perasaan Zeyra yang sebenarnya.
"Tidak." jawab Zeyra berbohong.
"Cih...mengapa wajahmu memucat seperti itu?" ledek Delon yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum licik.
Akhirnya mereka berdua kini kembali menikmati tontonan itu lagi dan Zeyra yang ingin bercerita terus mencuri pandangan sesekali pada Delon.
Delon yang menyadarinya hanya berpura-pura tidak tahu.
"Apa aku boleh bertanya?" ucap Zeyra terlihat meminta persahabatan pada Delon.
"Iya katakanlah." jawab Delon yang sambil tersenyum.
"Em apa kau tahu jika Abangku menyukai suster Syanin?" tanya Zeyra.
Delon yang mendengarnya seperti biasa saja tidak ada ekspresi kaget atau yang lainnya.
"Sepertinya begitu." ucap Delon datar.
Kini Delon mengerti arti senyuman Zeyra padanya seperti isyarat meminta bantuan untuk menjadi tim sukses pasangan yang gagal paham itu.
"Jangan bilang jika kau ingin aku membantu mereka?" ucap Delon sambil menatap Zeyra.
Zeyra yang mendengar tebakan Delon padanya hanya mengangguk sambil tersenyum penuh permohonan.
"Astaga, kau benar-benar banyak maunya." ucap Delon yang lemas.
"Yasudah tidak jadi aku bisa lakukan semuanya sendiri." jawab Zeyra yang memperlihatkan wajahnya sedang cemberut.
"Sudahlah aku akan membantunya." ucap Delon.
__ADS_1
Wah seperti apa yah rencana kedua orang ini nantinya saat menjalankan rencananya ? apakah mereka bisa menjadi tim sukses atau justru menjadi tim gatot (gagal total) hehehe.