
“Maafkan aku.” Ucap Zeyra terdengar lirih oleh Delon.
“Ssssstt. Kau tidak perlu minta maaf semua biarlah terlewatkan jangan di ingat lagi.” Jelas Delon yang mengusap kepala Zeyra dan menatap istrinya dengan senyuman yang begitu memperlihatkan ketulusannya.
Kini mereka berdua menikmati makanan dan saling bersuapan. “Kau mau rasakan ini?” tanya Delon yang menyodorkan sendok ke arah istrinya.
Zeyra hanya tersenyum mengangguk dan membuka mulutnya lebar, kemudian Delon sukses mendaratkan suapannya di iringi dengan bibirnya yang mendarat di pipi istrinya.
Seketika mata Zeyra melotot tidak percaya, bagaiaman bisa di keramaian seperti ini Delon memberikan cium*n itu masih untung tidak di bibirnya. Jika benar terjadi Zeyra akan sangat malu di lihat para pengunjung di restoran itu. Mereka berdua seperti sedang merasakan masa pacaran yang dulu tidak mereka rasakan.
“Iss apaan sih.” ucap Zeyra yang tersenyum malu dan menundukkan kepalanya.
Delon yang terus menatap dalam sang istri semakin membuat Zeyra salah tingkah ia beberapa kali memperbaiki rambutnya agar tidak terlihat kusut.
“Sudah, jangan di apa-apakan, kau sangat cantik tidak ada yang perlu di khawatirkan.” ucap Delon yang tersenyum ke arah istrinya.
Zeyra semakin tidak tahu harus melakukan apa kali ini selain menyembunyikan wajahnya menunduk ke bawah meja..
“Aku sangat mencintaimu, Zey.” Suara lembut Delon terdengar.
Zeyra masih belum menjawab, ia sangat malu kali ini. Apakah ini yang di namakan cinta untuk berbicara pun sudah tidak sanggup menggerakkan bibir. Perlahan tangan Delon meraih dagu lancip Zeyra dan mengarahkan ke hadapannya. Mata mereka saling menatap dalam seakan tidak perduli dengan orang di sekitar mereka. Semua hanyalah menumpang di bumi ini pemilik sesungguhnya adalah pasangan yang sedang di mabuk cinta.
“Zey, kau mencintaiku?” tanya Delon yang mendekatkan tatapannya.
Zeyra yang hanya terdiam membisu tidak tahu harus mengatakan apa rasanya sangat malu di saat mereka sudah memiliki anak apa iya masih harus mengatakan hal segila itu.
"Ih, apa sepenting itu ucapan cinta untukmu yah?" tanya Zeyra yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oke, jika kau tidak mau mengatakan aku akan menciummu lagi, di sini, di sini, di sini, dan di sini." ancam Delon yang di ikuti dengan tunjukan tangannya di kedua pipi, kemudian kening dan terakhir bibir.
Zeyra yang mendadak khawatir jika hal itu benar terjadi akhirnya mengatakan, “Em, iya aku men-cin-taimu.” ucap Zeyra yang merasa gugup melihat wajah suaminya yang sangat dekat.
Hari itu Delon seperti sedang berkencan dengan Zeyra di mall mereka memutari semua butik-butik mewah. Delon menyuruh Zeyra untuk membeli semua baju yang ia inginkan. Beberapa kali Delon memilihkan baju untuknya.
***
__ADS_1
“Zidan sayang, bobok yah.” ucap suster Syanin yang mengelus-elus lembut kepala bocah itu.
“Paman, cini.” panggil Zidan yang melihat Jac sendirian di depan kamarnya.
Akhirnya Jac mendekat ke arah Zidan yang sedang bersama suster Syanin di kamar. “Ada apa sayang?” tanya Jac dengan lembut.
Zidan yang tidak ingin berbicara karena merasa terlalu mengantuk akhirnya memilih menggenggam erat tangan pamannya dan memejamkan matanya. Sementara tangan sebelahnya memeluk tangan suster Syanin yang melingkar di pinggar bocah kecil itu.
Akhirnya suster Syanin yang melempar pandangan pada Jac merasa bingung haru bagaimana Zidan masih belum juga tertidur lelap. Jika mereka bergerak sedikit saja tentu akan membuat Zidan terbangun.
Menunggu Zidan tertidur kini justru suster Syanin dan Jac yang tertidur lebih lelap dari pada bocah kecil itu. Jac yang tertidur duduk di samping ranjang dengan menyandarkan kepalanya pada kasur sedangkan suster Syanin yang tertidur memeluk tubuh mungil Zidan.
“Paman sama suster kok tidul cih.” ucap Zidan yang terbangun merasa bosan tidur. Akhirnya Zidan perlahan melangkah turun dari kasur dan menuju ruang tengah kembali bermain. Setelah beberapa lama berlalu Zidan yang melihat mobil Ayahnya baru saja tiba di depan rumah kini berlari menyambut Zeyra dan Delon.
“Ayaaah.” teriak Zidan yang berlari memeluk kedua kaki Delon.
“Anak Ayah mengapa belum tidur?” tanya Delon yang meraih tubuh kecil Zidan dan menggendongnya.
Kini Zeyra dan Delon menuju rumah dan mencari sosok suster Syanin dan Jac namun tak ada yang mereka jumpai.
“Di kamal, Mah. jawab Zidan dengan polosnya.
Zeyra dan Delon saling melempar pandangan bingung mendengar ucapan putranya. Akhirnya merasa penasaran Zeyra dan delon bersama Zidan melangkah ke kamar. Mereka melihat suster Syanin dan Jac yang tertidur dengan lelapnya.
“Huaaamm.” terdengar suara suster Syanin yang seketika menutup mulutnya dan ingin memeluk tubuh Zidan namun matanya terbuka cepat saat merasa Zidan tidak ada di depannya.
Saat ia terbangun betapa kagetnya melihat Zeyra dan Delon yang sudah melihat mereka tidur di dalam kamar.
Dengan cepat suster Syanin beranjak dari kasur wajahnya terlihat begitu panik dan segera membangunkan Jac yang masih tertidur.
Jac yang terbangun kaget melihat kehadiran Zeyra dan Delon, “Kalian sejak kapan datang?” tanyanya.
“Baru saja, Bang. Apa yang kalian lakukan” tanya Zeyra tedengar jutek.
"Zey, ini sama sekali bukan apa-apa kau bisa melihatnya kan?" tanya suster Syanin yang merasa panik.
__ADS_1
"Astaga sudahlah kalian jangan mengada-ada lagi. Ayo kita selesaikan di ruang tengah saja." sahut Delon yang berakting seolah-olah sedang memergoki sepasang yang sedang melakukan hal-hal tidak baik.
Belum sempat Jac dan suster Syanin menolak kini Zeyra dan Delon sudah lebih dulu meninggalkan mereka dan beranjak ke ruang tengah bersama Zidan.
Kini mereka duduk di ruang tengah dengan suasana canggung. Jac yang merasa bingung harus berkata apa kini memilih untuk diam dan menunduk. Meskipun ia menjelaskan semuanya tentu Zeyra dan Delon tidak akan percaya. Akhirnya Delon sebagai kepala rumah tangga di rumah itu mengambil keputusan sendiri.
“Setelah kejadian ini, saya minta kalian menikah karena walau bagaimana pun tidak akan baik jika di biarkan begitu saja.” ucap Delon dengan tegas.
“Menikah?” tanya suster Syanin yang mendadak terkejut. Begitu pun dengan Jac yang kaget mendengar ucapan adik iparnya.
“Iya, menikah. Kalian sama-sama suka kan?” tanya Delon yang membuat keduanya semakin salah tingkah.
“Apa harus menikah?” tanya Jac dengan datarnya.
“Iya.” jawab Delon singkat.
Jac yang merasa sedikit senang namun tidak berani menunjukkan sikap aslinya ia harus tetap berusaha syok demi harga dirinya sebagai seorang pria. “Bagaimana Sya?” tanya Zeyra.
“Iya aku ikut bagaimana baiknya saja.” jawab suster Syanin pasrah.
Delon dan Zeyra sudah bisa menebak jika hal ini mereka berdua tentu tidak akan menolaknya. “Astaga tolonglah untuk menikah saja kalian saling mempertahankan gengsi kalian. Ya Tuhan masih ada ternyata pasangan yang kau ciptakan seperti mereka.” gumam Zeyra sambil menatap keduanya.
“Baiklah kalian sudah setuju untuk menikah, sekarang tinggal meminta persetujuan keluarga masing-masing lagi.” ucap Delon.
“Apa kau bisa membantuku?” tanya Jac dengan sedikit ragu.
“Aku?” tanya Delon meyakinkan dirinya.
“Iya, kau. Membantuku bicara pada keluarga Syein dan juga orang tuanya dia.” ucap Jac dengan yakinnya.
Delon hanya menghela nafas kasarnya bagaimana mungkin seorang Jac yang selalu menyelesaikan masalah Tuan mudanya sekarang mendadak seperti bocah kecil yang meminta di temani ke sekolah karena takut.
“Baiklah, sekarang juga kita urus semuanya.” ucap Delon dengan beranjak dari duduknya menuju keluar rumah.
Jac bersama suster Syanin dan Zeyra di ikuti Zidan menuju mobil dan mereka bergegas ke kediaman Syein Biglous. Zeyra yang tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi seolah sedang membodohi anak kecil. Bagaimana bisa mereka berdua pasrah begitu saja ketika di tuntut untuk menikah tanpa melakukan apa pun.
__ADS_1
Dasar memang keduanya saling menyukai, di tuduh apa pun tentu sudah tidak bisa berfikir normal lagi, karena memang sebenarnya mereka sama-sama menyukai hanya saja ego masing-masing lebih menguasai dirinya.