
Waktu begitu cepat berlalu kini sudah tiba waktunya Delon dan Zeyra menikah semua keluarga tampak sangat ikut bahagia. Saat akad selesai kini waktunya sesi mencium tangan para keluarga dari kedua mempelai. Delon yang hanya memiliki keluarg Syein kini bersama Zeyra bergantian menunduk mencium sambil mencium tangan.
Nyonya Syein yang merasa terharu bisa mewakili keluarga Delon menangis dan segera memeluk erat tubuh pria itu. Begitu pun dengan Delon yang merasa sangat beruntung bisa mendapatkan keluarga yang sangat baik padanya ikut menangis.
Momen yang sangat langka ketika Delon menangis selama hidupnya baru kedua kalinya ia menangis setelah yang pertama ia di lahirkan di bumi ini. Zeyra yang kemudian menyusul memberi salam pada Nyonya Syein ikut menangis haru.
Hari itu semua keluarga tampak terharu bisa menikahkan anak mereka yang kedua kalinya setelah pernikahan Alfy dan Jee. Jac yang berusaha tetap terlihat tegar tanpa tertahankan kini meneteskan air matanya namun dengan segera ia mengusapnya.
“Apa kau tidak ingin kita menikah lagi?” tanya Alfy yang mengejutkan wajah bahagia istrinya.
“Sayang, pernikahan itu hanya sekali, jika dua kali namanya mereka pernah bercerai apa kau mau?” tanya Jee.
“Apa maksudmu mengatakan itu? Kau tidak mencintaiku begitu?” Alfy yang marah mendengar pertanyaan Jee kembali bertanya tanpa menjawab.
Jee yang lelah selalu ribut dengan suaminya hanya menghela nafas dengan kasar kemudian kembali fokus melihat pernikahan Delon dan Zeyra. Hari itu hanya ada acara akad pernikahan saja, karena Delon dan Zeyra akan melanjutkan acaranya setelah malam tiba.
Semua bukan tanpa alasan ia lakukan, mengingat kehamilan Zeyra yang sudah semakin besar tentu wanita itu sangat mudah untuk merasa lelah. Awalnya Zeyra menolak untuk melakukan acara yang meriah, namun karena dorongan suster Syanin yang meyakinkan Zeyra untuk bisa membahagiakan Delon akhirnya ia mengalah.
Delon mungkin sangat menginginkan pernikahan yang meriah sebab itu ia menawarkan pada istrinya dan untuk kehamilan Zeyra semua tidak perlu di khawatirkan. Sebelum mereka menikah Delon sudah dengan pandainya mengatakan jika ia sebelumnya sudah menikah secara agama dan kini waktunya ia melangsungkan pernikahannya secara terbuka.
Suster Syanin sangat terlihat anggun memakai gaun berwarna hijau lumut senada dengan hiasan yang menempel sempurna di samping kiri sanggulannya. Baju kebaya yang ia kenakan sangat memperlihatkan lekukan tubuhnya yang begitu mungil meskipun tak sepadat tubuh Jee tentunya.
“Apa yang kau lihat?” tegur Alfy yang membuat Jac tersedakan saat meminum dan melamun memandang ke arah suster Syanin yang tengah tertawa bersama Nyonya Flora.
“Ah tidak ada apa-apa Tuan.” Ucap Jac berbohong.
“Cepat jika menyukai makanan segera lahap dia sebelum kucing belang membalapmu.” Ucap Alfy sambil menertawakan Jac kemudian melangkah pergi.
“Cih apa katanya makanan? Memangnya anda yang suka makan Nyonya dengan rakus.” Gerutu Jac yang tanpa sengaja kembali memutar memori di mana ia mendengar suara desahan Jee.
__ADS_1
Semua kembali menghantui fikirannya kata-kata yang selalu ia ingat dan tidak akan terlupakan besar dan kuat. Terus terdengar berulang kali di kepalanya, semua di luar kendali, andai saja Jac bisa melupakan tentu ia ingin sekali melupakannya.
Acara siang itu selesai dan kini sudah berganti malam, tiba saatnya kedua mempelai pengantin hadir di hotel mewah salah satu milik Tuan Reindra. Semua sudah terlihat begitu bersorak menyambut kedatangan Delon dan Zeyra.
Meskipun mereka berdua pemilik acara, namun untuk pemilik perhatian tentu masih tertuju pada Tuan Alfy Syein yang menggandeng tangan Jee tampak serasi mengenakan pakaian serba putih. Jee yang mengurai rambut panjangnya begitu sangan cantik dan tentu kali ini Alfy tidak tinggal diam ketika istirnya lagi-lagi mengenakan dress yang sangat membentuk tubuhnya dan bagian dada yang terbuka.
Sebelum mereka pergi ke acara Jee sempat-sempatnya membuat Alfy marah, dan akhirnya Alfy memutuskan untuk memakaikan Jee jasnya setiba di acara nanti.
Acara malam sudah di mulai, semua tamu undangan begitu tampak orang-orang pengusaha kelas atas. Delon yang sangat di kenal di kalangan mereka kini menggandeng tangan Zeyra mendekat pada beberapa tamunya untuk memperkenalkan sang istri.
“Wah, istri anda sangat manis Tuan. Wajar saja jika anda menyembunyikan Nyonya Delon selama ini.” goda seorang tamu.
Delon yang mendengar hanya tersenyum dan tanpa sedikit pun ia membiarkan Zeyra melepas genggamannya.
“Jee, kau cantik sekali.” ucap Sisil yang datang menghampiri Jee bersama Mira.
“Kau jangan jauh-jauh aku akan kesana sebentar.” Pintah Alfy yang meninggalkan Jee bersama sahabatnya.
“Anda kemari ternyata.” jawab Alfy.
“Tentu saja Tuan, saya mendapat undangan di perusahaan,” ucap Adelio.
Pria itu adalah Tuan Adelio Sailis pemilik Sailis Group yang pernah mendapat pertolongan dari Alfy Syein ketika perusahaannya di ambil alih oleh asisten pribadinya.
Kini Alfy cukup lama berbicara dengan Adelio tentang perusahaannya yang saat ini sudah semakin maju semenjak ia membantu menyalurkan dana pada perusahaan Alfy. Selama mereka bercerita sesekali Alfy melemparkan pandangan pada istrinya.
Jee tampak bahagia bisa bercerita dengan kedua sahabatnya malam itu dengan leluarsa tanpa ada suaminya yang terus mengawasinya.
“Kita lama banget yah tidak kumpul-kumpul rasanya sangat rindu.” Ucap Sisil.
__ADS_1
“Iya nih selama Jee nikah kita semua semakin jauh, apa lagi Dara.” Tambah Mira yang tidak tahu tentang permasalahan sahabatnya.
“Oh iya Dara kemana yah?” tanya Jee mencari sosok sahabatnya.
Sementara Sisil yang mendengar merasa kesal dan tidak ikut menyebut nama wanita itu, ketika Sisil menoleh tanpa sengaja matanya membulat tidak percaya. Ia melihat kedatangan Dara yang sudah bergandengan tangan dengan Fiky.
Mereka mengenakan pakaian yang senada berwarna hitam dan sangat tampil elegan.
“Itu Dara,” ucap Mira yang menyadari kehadiran sahabatnya dari jauh.
Jee yang menoleh ke arah Dara dan Fiky begitu kaget melihat kedekatan mereka. Sisil yang merasa sakit saat melihat kehadiran mereka berdua memilih untuk menjauh dan menarik tangan Mira.
“Eh kita mau kemana?” tanya Mira sambil melangkah cepat mengikuti langkah Sisil.
Sisil masih tidak ingin menjawab dan terus menarik tangan sahabatnya tanpa berhenti, ketika merasa sudah cukup jauh ia menghentikan langkahnya.
“Ada apa, Sil?” tanya Mira.
“Temani aku di sini saja yah.” Jawab Sisil tanpa mau bercerita.
Matanya sudah merah berkaca-kaca menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh, begitu keras usahanya ternyata gugur juga air mata yang bening itu dan kini sudah sukses membasahi pipinya.
“Sil, kamu kenapa?” tanya Mira yang mulai khawatir.
Sisil yang tidak menjawab hanya terus menangis dan jatuh ke dalam pelukan Mira, sementara Mira yang sedang menebak-nebak kini mulai mengerti tentang pandangan Sisil setelah melihat kehadiran Dara dan Fiky.
Sedangkan Jee yang terus menatap ke arah Sisil dan Dara kini mendapat sapaan peluk dari Dara.
“Hai Jee,” ucap Dara.
__ADS_1
“Em... kangen banget sih.” Jawab Jee yang membalas pelukan sahabatnya.