
Sudah beberapa hari berlalu Zeyra masih berada di rumah sakit di temani oleh Delon yang setiap malam datang. Selama beberapa hari juga pertanyaan Delon masih sama.
"Kemana Nakula?" tanya Delon yang membuat Zeyra merasa tidak nyaman.
Lagi-lagi Zeyra membohongi Delon jika Nakula sedang tidak di kota itu karena ada pekerjaan yang membuatnya berada di luar Kota.
"Aku merasa Zeyra sedang tidak jujur saat ini." gumam Delon yang menatap Zeyra begitu dalam.
"Aku akan pergi ke kantor, kau istirahatlah agar bisa pulang cepat." ucap Delon lalu bergegas keluar kamar rawat Zeyra.
Dengan cepat Delon melajukan mobilnya namun bukan menuju kantor melainkan ke arah apartemen yang terakhir kali ia datangi bersama Jacobie.
Yah Delon kini menuju apartemen Nakula untuk memastikan semua yang ia fikirkan adalah salah terhadap Zeyra dan Nakula.
Sementara di ruang apartemen tampak Nakula yang sedang asyik menikmati tubuh Wenda yang terus menggeliat di atas ranjang.
Sepanjang hari mereka terus melakukannya meskipun sebenarnya Nakula merasa bosan namun apa lagi yang bisa ia perbuat selain memenuhi kebutuhan hasrat Wenda.
Setelah cukup lama akhirnya Wenda dan Nakula menyudahi permainannya saat itu, kini mereka berbaring dengan saling berpelukan satu sama lain.
Tubuhnya terlihat penuh dengan keringat. Tampaknya mereka berdua habis bekerja keras dalam waktu yang cukup panjang.
Saat baru saja mata Wenda ingin terpejam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di luar kamar mereka.
"Siapa yah?' gumam Wenda sambil menatap Nakula yang sudah tertidur lelap.
Perlahan Wenda bangung mengambil piyama lalu membuka pintu kamarnya, matanya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Anda mencari siapa?" tanya Wenda pada Delon.
"Nakula." jawab Delon singkat.
Sebelum Wenda beranjak masuk matanya sudah menatap Delon dengan penuh rasa keinginan untuk di sentuh oleh pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.
"Anda ada hubungan apa dengan Nakula?" tanya Delon.
"Em aku kekasihnya." jawab Wenda tersenyum genit.
Delon yang mendengarnya benar-benar merasa muak jika ia tidak mengontrol emosi mungkin saja saat itu Wenda sudah ia tampar.
"Ayo masuk." ajak Wenda melangkah di depan Delon dengan melenggangkan pinggulnya.
"Brengsek!" ucap Delon yang dengan emosi memukul wajah Nakula tanpa henti.
"Aw..." Suara Nakula yang terkejut mendapat serangan tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan hah?" Delon yang menghajar Nakula tanpa ampun.
"Hentikan!" teriak Wenda yang terdengar begitu panik.
Setelah Delon beberapa kali melayangkan pukulan pada Nakula akhirnya ia berdiri dengan wajah emosi dan membiarkan Nakula masih terbaring di kasur dengan wajah sudah biru.
__ADS_1
"Jangan dekati Zeyra lagi, atau kau akan ku bunuh." ancam Delon lalu beranjak pergi dari tempat Nakula dan Wenda.
Mendengar ancaman Delon pada Nakula yang menyebut nama wanita, Wenda merasa penasaran ada apa sebenarnya.
"Siapa dia?" tanya Wenda pada Nakula.
"Bukan siapa-siapa." jawab Nakula singkat.
"Katakan siapa dia?" suara Wenda mulai meninggi.
Nakula yang kesal dengan desakan Wenda akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa menjawab pertanyaan Wenda.
Di perjalanan Delon merasa tidak habis pikir dengan perlakuan Nakula saat ini. Pantas saja beberapa hari ini Delon merasa ada yang aneh pada Zeyra dan Nakula.
"Mengapa dia tidak jujur padaku?" gumam Delon sambil memukul setir mobilnya.
Wajahnya begitu tampak memerah membayangkan hal yang baru saja ia lihat tadi, Nakula yang terbaring tanpa menggunakan pakaian dan wanita yang begitu tampak menjijikkan jika di lihat oleh Delon.
Akhirnya dengan emosi yang masih belum padam Delon melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tidak butuh waktu lama Delon sudah tiba di rumah sakit tempat Zeyra di rawat.
Sesampainya di dalam Delon tidak mengetuk pintu dulu, ia langsung masuk ke ruang rawat Zeyra dengan tatapan penuh kemarahan.
"Mengapa kau kembali lagi?" tanya Zeyra yang terkejut.
"Mengapa kau tidak jujur padaku." ucap Delon tanpa menjawab Zeyra.
Zeyra yang mendengar pertanyaan Delon merasa bingung tida mengerti apa maksud dari pertanyaan Delon padanya.
Zeyra yang mendengar ucapan Delon mendadak kaget ketika Delon menyebut kata selingkuh.
"Apa maksudmu selingkuh?" tanya Zeyra.
Akhirnya Delon menceritakan kejadian di mulai ia merasa penasaran lalu datang ke apartemen bertemu seorang wanita yang menjijikkan bagi Delon.
Dan kemudian Delon masuk menemui Nakula yang sedang tertidur pulas tampak tengah menikmati permainan yang panas sebelum tidur.
"Apa?" tanya Zeyra yang terkejut mendengarnya.
Kepalanya menggeleng tidak percaya jika Nakula bermain dengan wanita lain di belakangnya sementara ia sedang sakit demi mencari pekerjaan.
Tanpa sadar air matanya menetes hatinya begitu hancur berserakan, kini Zeyra tidak tahu harus melangkah ke arah mana ia sama sekali tidak punya tujuan lagi.
Tidak mungkin jika Zeyra harus kembali memohon ampun pada Jacobie agar menerimanya. Sejak Zeyra memilih untuk tinggal bersama Nakula ia harus bisa mempertanggung jawabkan semua pilihan yang ia ambil.
Karena biar bagaimana pun Zeyra sudah berani menentang Jacobie demi memilih Nakula yang saat itu ia percayai.
"Ini tidak mungkin." ucap Zeyra yang sambil menangis.
Delon yang melihat wanita di hadapannya menangis kini mendekat perlahan memeluk erat tubuh Zeyra sambil mengelus rambut Zeyra.
"Tenanglah, aku bersamamu Zey." ucap Delon.
__ADS_1
Zeyra yang kini tidak tahan lagi dengan cepat ia melepaskan selang infusan yang menempel di tangannya lalu bergegas turun dari kasurnya.
Delon yang berusaha menahan Zeyra untuk tidak bangung tersungkur ke suduk ruangan. Kini Zeyra berlari keluar ruang rawatnya sambil terus menangis.
Delon yang berusaha mengejar Zeyra kini sudah dapat meraih tubuh Zeyra lalu menggenggam erat tangannya.
"Ayo aku antar." ucap Delon.
Zeyra yang merasa tubuhnya masih sangat lemas akhirnya menerima tawaran Delon. Kini mereka bergegas menuju mobil dan Delon melajukan kendaraannya ke apartemen Nakula.
Sepanjang jalan mereka hanya berdiam tanpa suara sedangkan Nakula yang sedang tertidur lelap mulai merasa ada yang mengganggu tidurnya.
Merasa di bawah sana sudah ada yang mulai menelusuri tubuhnya lagi akhirnya Nakula bangung dan melihat ke arah bawah.
Wenda yang sudah tampak merasakan setiap sudut bagian tubuh Nakula dengan penuh penghayatan kini sadar telah mendapat tatapan dari sang pemilik tubuh.
Belum sempat Nakula berbicara bibirnya sudah di tutup dengan bibir Wenda yang dengan pandainya mempermainkan tubuh Nakula.
Permainan pun selesai, kini mereka akan melakukan yang lebih jauh lagi. Tetapi belum sempat Nakula dan Wenda melakukannya kini sudah terdengar suara ketukan pintu yang begitu keras berulang kali.
"Siapa itu?" tanya Wenda yang tampak kesal.
Dengan cepat mereka memakai pakaian lalu beranjak turun dari kasur. Wenda yang merasa kesal tanpa sabar membuka pintu.
"Siapa kau?" tanya Zeyra yang terkejut melihat ada wanita keluar dari kamar itu.
"Zey." ucap Nakula yang terkejut.
Karena perkiraan Nakula Zeyra belum bisa pulang hari ini dan Wenda juga besok sudah akan kembali ke Jerman semua benar-benar di luar dugaan Nakula.
Zeyra yang melihat Nakula bersama wanita lain tanpa sadar berteriak keras sambil menampar wajah Nakula.
"Kau keterlaluan." ucap Zeyra sembari menangis.
Sedangkan Wenda merasa begitu marah pada Nakula dengan cepat ia mendorong Nakula keluar dari apartemen itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nakula.
"Jangan pakai apartemenku lagi brengs*k." teriak Wenda sambil menutupi pintu Nakula.
Sedangkan Zeyra yang entah sejak kapan sudah tidak sadarkan diri dan berada di gendongan Delon yang kini melangkah pergi dari apartemen.
Nakula yang bingung harus berbuat apa dan kemana akhirnya terus duduk di depan pintu apartemen Wenda sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.
"Baby, ini hanya salah paham tolong jangan seperti ini." ucap Nakula berulang kali tanpa lelah.
Setelah seharian Nakula terus memohon akhirnya Wenda yang merasa kasihan pada Nakula membukakan pintu juga.
Dan menuyuruh Nakula masuk kembali sedangkan Delon yang sudah membawa Zeyra kembali ke rumah sakit kini berfikir apa yang harus ia lakukan kedepannya.
Selamat membaca yah semoga kalian suka dengan alurnya. Terimakasih
__ADS_1