Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Melindungimu Ketenangan Bagiku


__ADS_3

Di pinggir pantai kini tampak kedua pria yang tengah berbaring dengan santai sambil menikmati desiran ombak laut yang begitu terdengar merdu.


"Bagaimana bisa kau menikah tanpa mengabariku?" tanya Dokter Richard memecah keheningan.


"Panjang ceritanya," jawab Afly tanpa memandang wajah sahabatnya.


Alfy menceritakan jika mereka menikah karena perjodohan dan tentu bukan mereka yang merencanakan semuanya dan untuk mengundang semua orang terdekat Alfy saat itu sudah tidak terfikirkan.


Alfy yang saat itu ingin menikahi Jee merasa tidak percaya diri jika pernikahan mereka berhasil di laksanakan, karena yang Alfy tahu Jee sangat tidak ingin menikah di usianya yang masih sangat muda.


Namun semua di luar dugaan Alfy jika istrinya ternyata wanita yang sangat patuh terhadap orangtuanya dan orangtua Alfy.


Meskipun awalnya Jee bersikeras untuk tidak menerima hubungan mereka di belakang keluarganya seiring berjalannya waktu ternyata semua berjalan dengan baik. Sampai akhirnya Alfy menceritakan semua kejadian-kejadian di keluarga kecilnya itu.


Alfy saat ini menghabiskan waktunya untuk saling bertukar cerita dengan sahabatnya karena ia merasa hubungannya dengan Jee kali ini sudah membaik begitu juga dengan keadaan Jee yang terlihat mulai membaik.


Sementara di rumah sakit kini Delon yang sudah membantu Zeyra untuk keluar dari rumah sakit baru saja selesai mengurus administrasi.


"Terimakasih yah." ucap Zeyra dengan ragu.


Delon yang mendengarnya merasa heran dan menatap Zeyra dengan tatapan tanya.


"Terimakasih telah membantu dan merawatku." jelas Zeyra yang mengerti tatapan Delon.


"Sudahlah jangan ucapkan itu lagi." jawab Delon.


"Tapi-" (ucap Zeyra terpotong dengan jari telunjuk Delon yang menutup bibir mungilnya.


"Jika kau berterimakasih sekarang ikut aku dan turuti perkataanku!" perintah Delon.


Zeyra yang merasa bingung akhirnya mengikuti langkah Delon keluar dari rumah sakit menuju mobil yang sudah terparkir dengan sempurna di depan pintu.


Kini Zeyra masuk dengan bantuan Delon yang menggenggam erat tangan wanita itu lalu kembali ke tempat kemudinya.


Delon melajukan mobilnya tanpa berkata apa-apa pada Zeyra, hanya kesunyian yang ada di dalam mobil sampai mereka tiba di sebuah rumah yang terlihat masih baru.


"Selamat datang, Tuan dan Nona." ucap seorang wanita tua yang berumur sekitar lima puluh tahunan.


Namanya adalah Bi Umi ia wanita yang di pekerjakan oleh Delon baru-baru saja untuk merawat rumah yang Delon beli untuk Zeyra.


Delon yang tersenyum kini membawa Zeyra masuk ke dalam rumah itu dengan menggandeng tangannya. Zeyra yang merasa bingung di bawa kemana tampak bertanya-tanya dalam hati sampai akhirnya mereka duduk di dalam rumah itu.


"Kau membawaku kemana?" tanya Zeyra.


"Mulai sekarang tinggallah di sini!" perintah Delon.


"Tidak, aku tidak mau." bantah Zeyra.

__ADS_1


"Kau mau bayimu kenapa-napa karena keras kepalamu yah?" ucap Delon yang mulai kesal.


Zeyra yang mendengarnya masih tidak mengerti maksud Delon menyuruhnya untuk tinggal di tempat yang tidak ia ketahui rumah siapa sebenarnya.


Kini Zeyra hanya bisa menunduk bingung karena jika ia menolak tawaran Delon tentu Zeyra juga tidak tahu harus pulang ke mana.


Apartemennya yang pernah ia tinggali tentu sudah tidak bisa di gunakan lagi karena itu adalah milik Jacobie yang ia berikan dengan cuma-cuma.


"Tinggallah di sini, ini rumah untukmu dan kau akan di temani oleh Bi Umi." jelas Delon.


"Apa? rumah untukku?" suara Zeyra yang terkejut mendengarnya.


"Mungkin aku tidak perlu mengulangi ucapanku lagi." ucap Delon lalu bergegas pergi dari rumah itu.


Zeyra yang masih duduk merasa bingung karena Delon tidak menjelaskan maksud dari ucapannya barusan, setelah Zeyra melihat Bi Umi yang tersenyum padanya ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Bi Umi." panggil Zeyra dengan tersenyum.


"Iya Nona." jawab Bi Umi lalu perlahan mendekat.


"Ini rumah siapa yah?" tanya Zeyra.


"Kan rumah Nona." jawab Bi Umi.


Zeyra masih bingung siapa yang membelinya apa memang Delon di suruh oleh Jacobie untuk memberikannya rumah.


"Siapa yang membelinya Bi?" tanya Zeyra lagi.


Rumah itu memang selain baru di beli juga masih baru jadi karena memang Delon memesan khusus untuk Zeyra sebelum keluar dari rumah sakit.


Entah apa yang membuat Delon seniat itu untuk mempersiapkan tempat yang nyaman bagi Zeyra.


Zeyra yang masih penasaran akhirnya meraih ponselnya mencari nomor ponsel Jacobie dan langsung menelfonnya.


"Halo." ucap Jacobie.


"Abang, apakah Abang yang membelikan rumah ini untukku?" tanya Zeyra.


"Apa maksudmu?" tanya Jacobie balik.


"Em Abang benar tidak tahu yah?" ucap Zeyra.


Jacobie yang masih merasa kesal dengan Zeyra juga penasaran dengan keadaan adik angkatnya itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Jacobie dingin.


"A-ku baik, Bang." jawab Zeyra dengan ragu.

__ADS_1


"Oh yasudah." balas Jacobie yang terdengar legah lalu mematikan sambungan telefon itu.


Ketika sambungan ponsel terputus Jacobie merasa penasaran dengan ucapan Zeyra mengenai rumah yang di pertanyakan padanya tadi.


Namun kemarahannya membuat Jacobie enggan banyak bicara pada Zeyra karena ia memang tidak bisa setega itu pada adik angkatnya.


Begitu juga dengan Zeyra yang masih penasaran dengan rumah ini, fikirannya terus bekerja keras bertanya-tanya jika memang bukan Jacobie yang membelikan apakah memang Delon yang memberikannya dengan cuma-cuma.


Namun apa tujuan Delon memberikan rumah ini, apakah hanya bantuan atau karena ia sedang hamil dan harus mengganti dengan uang nantinya.


Zeyra terus bertanya-tanya sampai akhirnya Delon datang kembali yang mengejutkan Zeyra saat itu. Delon yang terlihat sedang memegang beberapa tas belanja tersenyum pada Zeyra.


"Kau belum ke kamar?" tanya Delon.


"Ke kamar?" tanya Zeyra balik.


Delon yang dengan segera menarik tangan Zeyra menuju kamar yang sudah ia sediakan untuk wanita itu terlihat sangat luas.


"Ini kamarmu." ucap Delon.


Zeyra yang melihat kamar begitu luas tampak terkejut semua begitu lengkap perlengkapan wanita dan beberapa bantal untuk ibu hamil.


Air mata Zeyra menetes menyaksikan semua perlengkapan di kamar itu rasanya begitu tidak percaya ketika mendapatkan perlakuan layaknya istri yang sedang mengandung.


"Apa maksud semua ini?" tanya Zeyra.


Delon mengajak Zeyra duduk di kasur lalu memegang tangannya dengan erat sambil menatap dalam mata indah wanita yang ada di hadapannya.


"Aku senang bisa membantumu saat seperti ini." ucap Delon sambil mengusap air mata Zeyra.


"Kau tidak seharusnya memberikan ini padaku." jawab Zeyra.


"Lalu rumah ini apa kau yang membelinya?" tanya Zeyra.


"Iya aku membelikan rumah untukmu agar kau bisa lebih aman tinggal di sini." jelas Delon.


Kepala Zeyra menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan saat ini begitu sangat berlebihan mengingat keputusan Zeyra saat memilih Nakula untuk bersamanya.


Kesadaran Zeyra saat ini benar-benar membuatnya semakin menganggap dirinya begitu bodoh karena kedua kalinya ia tertipu dengan pria yang sudah nyata-nyata menipunya sejak awal.


Delon yang melihat Zeyra menangsi tanpa ragu memeluk tubuh wanita itu dengan eratnya sambil mengelus rambut Zeyra.


"Sudahlah jangan menangis, kasihan bayimu." ucap Delon lembut.


"Mengapa kau terlalu baik padaku?" tanya Zeyra sambil terus menangis tanpa henti.


Delon yang mendengarnya juga tidak mengerti mengapa ia sangat perduli pada Zeyra yang bukan siapa-siapa baginya.

__ADS_1


Dan yang ingin Delon lakukan hanya membuat Zeyra aman dan tidak sakit itu sangat melegakan bagi Delon.


Hai semuanya ceritanya di sambung bab selanjutnya yah. Terimakasih untuk kalian yang sudah berbaik hati memberikan like, komen dan votenya yah. Selamat membaca!!


__ADS_2