
Selama Jee mengandung Zidan sering kali menangis tengah malam meminta untuk ke rumah utama bertemu dengan aunty cantiknya. Zeyra dan Delon merasa tidak enak sampai pada waktu pagi semua keluarga kaget melihat wajah sembab bocah itu.
"Zidan sayang, kamu kenapa Nak?" tanya Jee yang berlutut di hadapannya saat menatap Zidan yang mendekat ke arah mereka.
Pagi itu semua mulai beraktifitas seperti biasanya, Alfy, Jac, dan Delon yang sudah bersiap pergi ke kantor di antar dengan seisi rumah itu. Begitu dengan Delon yang di antar oleh Zeyra bersama putra kecil mereka.
"Idan semalam mau ketemu aunty tantik, tapi Papah sama Mamah lalang Idan aunty." keluh bocah itu dengan polosnya.
Jee yang mendengar terkejut. "Ada apa, Zey?"
"Maaf Nyonya, semalam dia meminta kesini di waktu tengah malam kami takut menganggu semuanya jadi Zidan nangis sampai ia tertidur." jelas Zeyra yang terlihat tidak enak hati mengatakannya.
Jee yang memeluk tubuh kecil itu terlihat senang mendengar keinginan Zidan yang ingin bersamanya. "Em apa Zidan mau tidur sama aunty nanti malam?"
"Tidak!" Alfy yang begitu cepatnya menolak tawaran istrinya seketikan di tatap tajam oleh Jee. Kini Alfy terdiam menundukkan kepalanya menahan kekesalannya.
Bukan kekesalannya pada Zidan tetapi pad Delon karena dia yang seharusnya bisa menghentikan hal gila itu, bagaimana jika di malam hari Alfy ingin bermanja-manja dengan Jee kalau ada Zidan bersama mereka. Delon yang menatap penuh rasa bersalah pada Tuan mudanya seakan mengatakan permintaan maaf yang begitu dalam karena telah lancang mengganggu waktunya bersama sang istri.
"Zidan, tidak boleh yah. Kan Zidan ada Mamah sama Papah jadi tidurnya tidak boleh dengan aunty cantik." Zeyra berusaha membujuk putranya meskipun hasilnya sangat sia-sia. Zidan yang sudah merasakan kesenangan tidur dengan Jee tidak mau menurut pada Zeyra.
"Sudahlah Zey, tidak apa-apa jadi aku bisa sekalian belajar mengurus anak nantinya."
Zeyra yang tidak bisa menolak lagi ucapan Jee akhirnya hanya tersenyum pasrah, sementara Alfy terus menatap tajam pada Delon dan beranjak masuk ke dalam mobilnya tanpa suara. Di perjalanan Alfy terus diam tanpa mengatakan apa pun.
"Haaaah mengapa jadi aku yang sengsara begini sih, kan Nyonya muda sendiri yang menerimanya." umpat kesal Delon.
Sampai beberapa lama kejadian itu terus berulang setiap malam Zidan selalu tidur bersama Alfy dan Jee, setiap malam juga Alfy terus tidur dengan wajah cemberutnya karena tidak bisa memeluk istrinya sesuka hati. Di tambah lagi Zidan yang tidak pernah mau tidur di pinggir selalu minta tidur di tengah mereka.
Alfy yang menunggu bocah itu tidur kemudian pindah ke sebelah istrinya baru bisa memeluk tubuh Jee, dan ketika pagi Delon lah yang selalu mendapat sasaran amukan dari Alfy. Tak jarang Alfy meminta Delon untuk menaiki tangga tanpa lift yang mereka biasa naiki ketika menuju ruangan kerja di lantai paling atas.
Sementara Jac yang hanya tertawa dalam hati menyaksikan kesengsaraan iparnya berusaha menatap datar demi menghindari hukuman yang kapan saja bisa menyerangnya karena emosi Alfy saat ini benar-benar tidak stabil.
__ADS_1
Tuan Reindra yang mendapat laporan dari beberapa pengacara di kantor putranya merasa kasihan dengan Delon yang menjadi pelampiasan kemarahan Alfy. Sepulang mereka kerja Tuan Reindra mengumpulkan seisi rumah di ruang keluarga.
"Ada apa, Pah?" tanya Jee yang penasaran dengan perkumpulan yang tiba-tiba itu.
"Papah mau Delon dan Zeyra segera melangsungkan bulan madu yang tertunda."
Semua menatap kaget sejak kapan Tuan Reindra mengurusi bulan madu orang lain di waktu yang mendadak lagi. "Bulan madu, Tuan?" Delon tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya, dan untuk Zidan biar kami yang merawatnya." jelas Tuan Reindra lagi.
"Pah, aku juga butuh waktu membentuk tubuh anakku." sahut Alfy yang tak bisa sabar lagi.
"Hus...memangnya anak kita kue bisa di bentuk sembarangan." bantah Jee seketika melayangkan tangannya pada paha suaminya.
Tuan Reindra tertawa geli mendengar obrolan Alfy dan Jee di depannya. "Iya, terserah kau saja. Zidan biar Papah sama Mamah yang rawat kita mau latihan juga memang cuman Jee yang latihan."
Zidan sama sekali tidak keberatan dengan kepergian kedua orangtuanya ke Belanda. Semua sesuai dengan keinginan Zeyra yang sejak lama begitu mengimpikan negara itu. Dan akhirnya hari ini semua impiannya terpenuhi datang bersama suami yang begitu sayang padanya.
Zeyra merasa berat meninggalkan Zidan, tetapi Tuan Reindra yang memerintah mereka harus meninggalkan Zidan terlebih lagi bocah itu yang memang tidak merasakan sedih saat jauh dari mereka.
***
"Ayah kenapa, Bu?" Wenda yang begitu panik melihat Tuan Rusli berada di pangkuan Ibu tirinya dengan nafas yang sudah terengah-engah.
Nyonya Dayah yang sudah menangis meminta suaminya bertahan kini meraih ponsel untuk menghubungi ambulans. Setelah selesai menghubungi ambulans Tuan Rusli memintanya untuk menelfon Adelio.
Wenda terkejut mendengar permintaan Ayahnya. "Mengapa dengan pria itu, Ayah?" tanyanya yang penasaran.
"Wenda, cepat telfonkan ini ponsel Ayahmu. Cepat!" Nyonya Dayah yang panik tak lagi memikirkan hal apa pun selain keselamatan suaminya.
__ADS_1
Wenda segera menelfon pria itu dengan penuh keraguan, setelah telfonnya terhubung kini Wenda memberitahu keadaan Ayahnya yang sangat mengkhawatirkan dan akan membawanya ke rumah sakit. Adelio yang begitu terkejut ketika mendengar kabar itu segera menuju mobilnya dan melaju ke arah rumah sakit yang di sebut Wenda.
Beberapa menit kini semuanya tiba dengan waktu yang hampir bersamaan, Wenda yang sudah menangis sambil ikut mendorong ranjang pasien yang membawa Tuan Rusli ke ruang UGD di ikuti dengan Ibu tirinya bersama satu pria tampan.
Di mata Wenda terlihat jelas ketakutan akan kehilangan sosok Ayah yang begitu menyayanginya, kali ini hanya Tuan Rusli satu-satunya keluarga yang ia miliki. Tubuhnya tersungkur lemas ketika pintu ruang UGD tertutup memisahkan dirinya dari sang Ayah.
Pemandangan yang sangat menyakitkan bagi pria yang memiliki rasa pada wanita itu, perlahan Adelio mendekatkan langkahnya pada Wenda. Tangannya meraih bahu gadis itu, tatapannya tak ada lagi kebencian hanya rasa simpatik dan perduli yang begitu besar pada Wenda.
Ia mengingat kembali curhata Tuan Rusli tentang kehidupan Wenda yang hancur selama berada di bawah pengawasan Pamannya. Dan semua memang terjadi karena kesalahan Tuan Rusli yang tidak memberikan kasih sayang pada putrinya.
Adelio yang saat ini telah mengerti mengapa Wenda sampai menjadi wanita seliar itu mulai bisa menerima keadaannya. Meskipun tiap kali mengingat beberapa pria yang menyapa Wenda saat bersamanya begitu terasa menyakitkan. Tapi bagi Adelio itu semua adalah masa lalu dan tidak perlu untuk di permasalahkan lagi kedepannya.
"Wen, jangan bersedih. Ayahnya akan sembuh."
Wenda yang mendengar ucapan Adelio menatap pria itu dengan wajah penuh tanya. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu begitu hangat berbicara padanya. Adelio yang selalu cuek padanya benar-benar di luar dugaannya bisa selembut itu.
Wenda kembali meneteskan air mata sedihnya ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada pria di hadapannya ini. Melihat kesedihan Wenda yang semakin dalam Adelio tak kuasa menahan tubuhnya untuk segera menenggelamkan wanita itu ke dekapannya. Terdengar tangis Wenda yang pecah seketika, Adelio semakin mengeratkan pelukannya.
Ia tahu jika Wenda dan Ibunya sama sekali tidak mengetahui penyakit Tuan Rusli itulah sebabnya ketika Adelio bersama Tuan Rusli di Singapura tidak menghubungi mereka. Hal itu tentu membuat Wenda sangat terkejut melihat Ayahnya yang tiba-tiba sakit.
"Aku takut Ayah kenapa-kenapa."
Wenda terus menangis samil berbicara hal yang tidak-tidak sesekali tangannya memukul dada bidang Adelio menyesali perbuatan buruknya.
"Aku anak yang tidak berguna, aku tidak ingin Ayah pergi secepat ini aku belum bisa kasih Ayah apa-apa. Waktuku masih terlalu singkat bersama Ayah. Ini benar tidak adil untuk Ayah aku tidak ingin Ayah sakit."
Adelio yang hanya terus sabar mendengar tangisan Wenda di iringi dengan celotehan sedihnya. "Ayahmu pasti akan sembuh, Wenda. Dia sangat ingin melihatmu lebih lama percayalah dia akan sembuh."
"Tapi bagaimana jika Ayah tidak sembuh? aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku- aku sangat bodoh mengapa aku meninggalkan Ayah begitu lama Tuhan tidak adik memisahkan aku dengan Ayah selama ini."
Nyonya Dayah yang tak kuasa menahan kesedihannya mendengar ucapan Wenda kini mendekat dan mengusap punggung putrinya. Wenda yang merasa kehadiran Ibu tirinya di dekatnya segera memalingkan pelukannya dari Adelio dan kembali menangis dalam pelukan wanita itu.
__ADS_1
Tanpa sadar Adelio yang terlihat berkaca-kaca di kedua matanya berusaha mengusapnya cepat ia tidak ingin terlihat menangis. Hal itu tentu akan membuat mereka berdua semakin larut dalam kesedihan, ia harus memberikan kekuatan untuk kedua wanita itu.