Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Perjodohan


__ADS_3

Seminggu setelah hari kesepakatan antara keluarga Wenda dan keluarga Adelio, kini suda saatnya hari pernikahan. Adelio yang tengah duduk di hadapan penghulu terus menatap pintu kedatangan mempelai wanita, sedetik, dua detik dan di detik ketiga matanya menatap tanpa mengedipkan lagi.


"Cantiknya." begitu ucapan yang tergambar dari tatapan Adelio pada Wenda yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan pinggang yang terlihat sangat melekuk mengikuti bentuk baju itu.


Wenda melangkah pelan di iringi dengan Ibu tirinya, hari itu adalah hari pernikahan yang seharusnya Tuan Rusli berada di sampingnya dan menikahkannya saat ini. Sayangnya takdir berkata lain, kepergian Tuan Rusli lebih dulu dari hari bahagia yang di nanti-nantikan.


***


"Sayang, kau sudah siap?"


Alfy yang merapikan jas di badannya melingkarkan tangannya di pinggan rata Jee lalu menyandarkan dagunya di pundak sang istri. Keduanya berdiri menatap kaca yang menampilakan utuh keduanya, Jee yang merintih seketika saat mendapat kec*pan suaminya.


"Hem, cantik sekali sih istriku ini."


"Huh baru sadar yah? kemarin-kemarin kemana aja sih?"


"Berani yah bicara seperti itu padaku?" Alfy yang sudah menggelitik pinggang istrinya, Jee sudah tertawa terkekeh tanpa bisa menahannya kini ia berlari.


Alfy yang tanpa sengaja menginjak ujung gaun istrinya di lantai membuat tubuh Jee ambruk di atas kasur, melihat pemandangan menggoda Alfy segera menerkam Jee menindihnya dan mulai mengunci tubuh sang istri dengan kedua tangannya.


"Kita di kamar saja, yah?" Suara Alfy yang terdengar berat di telinga Jee.


"Sayang, ayo kita kan mau ke acara itu." Jee yang segera mendorong tubuh suaminya lalu berdiri merapikan rambut panjangnya.


Wajah Alfy terlihat lemas tak bersemangat rencananya tadi mau minta jatah tapi Jee menolaknya dan memilih untuk segera bergegas ke acara pernikahan Adelio.


 


Di depan halaman Jac sudah tampak siap menunggu Tuan dan Nyonya mudanya begitu juga dengan Delon bersama Zeyra yang baru saja tiba berbulan madu kini telah bersiap untuk menghadiri pernikahan itu.


Delon dan Jac tentu juga di undang oleh Adelio sementara Zeyra yang sebenarnya malas untuk pergi di paksa oleh Delon. Tentu ia mengerti alasan istrinya menolak ikut, namun tidak bagi Delon itu adalah masa lalu yang sudah jauh dan tidak perlu sama sekali untuk di ingat. Akhirnya Zeyra ikut pada suaminya, Zidan yang memilih tinggal di rumah bersama keluarga melambaikan tangannya menatap kepergian pria-pria dan wanita-wanita cantik itu.


Di perjalanan wajah Jac tampak dingin menahan kekesalannya. Ia sangat iri melihat Alfy yang terus memeluk lengan suaminya begitu juga dengan Zeyra yang saling menggenggam tangan bersama Delon sementara Jac hanya bisa duduk menyetir di depan.

__ADS_1


"Apa perlu ku panggilkan Bi Ria, Jac?" Suara Alfy terdengar mengejeknya, matanya seketika menatap spion mobil dan menundukkan kepala.


"Tidak perlu, Tuan." Jawabnya dengan cepat. Tanpa sadar kakinya menginjak gas mobil begitu kuat.


"Kau mau matiyah?" Delon yang terkejut segera berteriak melotot.


Jac enggan menjawab dan memilih lebih fokus lagi untuk mengemudi. Zeyra dan Jee hanya mengelus dada mereka karena terkejut.


 


Pernikahan berlangsung dengan baik, Wenda yang sejak tadi menunduk tidak percaya diri terus mendapat tatapan dari suaminya. Wajah gugup terlihat di raut cantik Wenda saat ini.


"Ada apa?" tanya Adelio berbisik.


Wenda memilih untuk membungkam mulutnya dan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin mengatakan apa pun yang ada di dalam fikirannya saat ini. Alfy beserta yang lainnya kini tiba di acara itu Alfy bergandengan dengan istrinya begitu juga dengan Delon yang bergandengan dengan Zeyra.


Jac hanya mengikuti langkah mereka seorang diri di belakang seraya menundukkan kepala menahan malu karena menjadi pusat perhatian di acara hari itu. Mereka melangkah ke arah kedua mempelai yang berdiri menyambut para tamu undangan.


Sesi salaman dan sapa mereka kini terjalin dengan baik, Adelio yang menatap Jac tanpa sadar melontarkan kata-kata yang mewakili semua tatapan orang lain.


"Astaga pertanyaan macam apa ini tolonglah jangan semakin membuat diriku malu." begitu tatapan Jac pada Adelio yang menahan amarah.


"Ups... maafkan saya tidak bermaksud." Adelio segera membungkam mulutnya.


Sementara yang lain hanya tertawa menikmati wajah kesal pria itu, belum sempat mereka menjauh kini Tuan Farhan dan suster Syanin tiba tepat di belakang Jac. Semua mata kembali teralih pada Tuan Farhan yang mendekat ke arah mereka bersama wanita cantik itu.


Jac yang penasaran dengan tatapan di hadapannya membalikkan tubuh. "Ini benar dia?" gumamnya tak percaya melihat kehadiran suster Syanin.


Wajah yang tadinya mulai memancarkan aura kecerahan seketika kembali gelap saat melihat sosok pria yang tentu ia kenal. Dokter Fahri, yah dia adalah pria yang beberapa kali membuat Jac cemburu di rumah sakit. Matanya begitu marah melihat suster Syanin yang beriringan dengan Dokter Fahri.


Meskipun tingkah mereka biasa saja, tapi Jac tidak bisa menutupi rasa cemburunya buru-buru ia pergi menjauh tanpa menunggu yang lainnya. Jac yang berdiri memandangi suster Syanin bersama pria itu kini meneguk wine dengan sekali tegukan. Beberapa hidangan ia makan dengan lahapnya sambil terus menatap mereka.


Suster Syanin yang kini duduk di salah satu meja bersama Tuan Farhan dan Dokter Fahri terlihat biasa saja tidak ada ekspresi bahagia atau apa pun itu.

__ADS_1


"Syanin, Papah ke toilet dulu yah kebelet." Tuan Farhan yang meninggalkan putrinya dengan pria itu membuat mata Jac melotot tangannya yang tampak mengepal erat tidak bisa lagi ia tahan.


"Apa Dokter tahu kalau kita di jodohkan?" tanya suster Syanin yang membuka pembicaraan.


Dokter Fahri yang sudah di beri tahu oleh Ayahnya tentang perjodohan itu hanya tersenyum mengangguk pada suster Syanin.


"Lalu Dokter mau?" tanyanya lagi.


Lagi-lagi Dokter Fahri hanya tersenyum tanpa mau menjawab. Jac yang tidak bisa mengendalikan diri segera menarik tangan suster Syanin.


"Ada apa?" tanya suster Syanin yang terkejut dengan sikap Jac.


"Apa kau sudah gila berduaan dengan Dokter itu di rumah sakit, di acara ini?"


Suster Syanin hanya melongo bingung mendengar ucapan pria di depannya memangnya apa yang salah seingat suster Syanin ia tidak melakukan hal yang melebihi batas. Semua hanya normal sebatas bicara anatar Dokter dengan suster.


"Aku tidak melakukan apa-apa, kan?" tanyanya lagi.


"Ada apa ini?" Tuan Farhan yang tiba-tiba datang menghampiri keduanya. Sementara Dokter Fahri hanya menata dari arah meja saja.


"Ti-dak ada apa-apa." Jac menjawab dengan dinginnya.


"Syanin sudah saya jodohkan, jadi tolong jangan mengganggunya lagi." jelas Tuan Farhan yang mengejutkan wajah pria itu.


Matanya menatap dalam pada suster Syanin ia menggeleng perlahan tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Tuan Farhan.


"Ayo Syanin." Tuan Farhan melangkah dengan menarik tangan putrinya menjauh dari Jac.


Belum sempat wanita itu melangkahkan kakinya tiba-tiba Jac jatuh tersungkur hingga berlutut tepat di hadapan suster Syanin. Matanya berkaca-kaca dadanya terasa begitu lemah untuk menarik nafas saja rasanya sangat tidak kuat.


"Kau ingin meninggalkan aku?" Suara lirih terdengar dari mulut Jac.


Suster Syanin terdiam mematung ia sama sekali tidak menyangka dengan sikap Jac yang begitu terbuka di tempat keramaian seperti ini.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Tuan Farhan kembali berdiri di samping suster Syanin menatap tajam ke arah Jac.


__ADS_2