Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kabar Membahagiakan


__ADS_3

Dokter Adeline yang baru saja tiba di kediaman Syein Biglous kini terlihat begitu cepat melangkah ke lantai atas di sana sudah berkumpul keluarga yang tampak panik. Sejak Tuan Reindra mengabari, dengan  cepat Dokter Adeline segera beranjak pergi dari rumah sakit bersama Dokter Richard.


"Permisi Tuan." Sapa Dokter Adeline dengan sopannya membelah kerumunan keluarga yang menutup jalannya menuju Jee.


Di sana terlihat wajah pucat wanita cantik yang tidak sadarkan diri, Alfy yang terus menggenggam tangan istrinya beberapa kali meminta Jee untuk bangun. Nyonya Syein yang melihat kehadiran Dokter Adeline kini mendekat pada Alfy.


"Biarkan Dokter memeriksa Jee." Nyonya Syein yang memegang pundak putranya, Alfy pun mendengarkan permintaan sang Ibu.


Wajah penasaran semakin terlihat jelas di wajah Dokter itu, ia menatap beberapa bagian yang ia periksa sama sekali tidak ada penyakit yang ia temui. Setelah ia memeriksa detak jantung dan kemudian di ikuti bagian perut rata wanita itu. Matanya menatap terkejut terlihat wajah cemas yang berubah tenang, kini Dokter Adeline tersenyum pada seisi ruangan itu.


"Bagaimana, Dok? istri saya sakit apa? apa perlu kita membawanya ke pulau lagi untuk melakukan penyembuhan itu?" Alfy yang terus berbicara tidak memberikan kesempatan pada Dokter Adeline menjelaskan hasil pemeriksaannya.


"Selamat yah atas kehamilan Jee." Semua mata membulat tak percaya mendengar kabar bahagia itu.


"Fy, apa kau membayarnya atau kau mengancamnya?" Tuan Reindra yang seketika berwajah marah mendengar Dokter Adeline menyebut Jee hamil.


Alfy terkejut menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak melakukan apa yang Tuan Reindra tuduhkan begitu juga dengan yang lainnya seakan tidak percaya penjelasan Dokter Adeline.


"Tidak, Pah." bantah Alfy yang berdiri tegang.


"Tuan, ini benar Jee sedang hamil. Saya sama sekali tidak ada di ancam." Dokter Adelin kembali meyakinkan semuanya.


Melihat wajah tidak percaya mereka akhirnya Dokter Richar memasang alat USG di ruangan itu dan segera memberikan pada Dokter Adeline beruntung di mobil pribadi Dokter Richard sudah lengkap segala alatnya. Dokter Adeline segera memeriksa perut Jee kembali tentu ketiga pria itu tidak ada yang mengerti kecuali Dokter Richard.


Nyonya Syein dan Nyonya Flora sebagai wanita yang lebih paham mereka tersenyum kemudian saling berpelukan. "Anak kita benar hamil." ucap keduanya yang di ikuti tawa bahagia Tuan Reindra dan Tuan Indrawan.


Sementara Jee yang baru sadarkan diri kini di sambut pelukan hangat mereka semua, matanya menatap bingung dengan tingkah seisi ruangan itu.


"Ada apa ini?"


"Sayang, kau hamil." Alfy yang kembali memeluk Jee dengan wajah bahagianya. Lagi-lagi Jee yang menatap curiga pada suaminya kesal.


"Ahhh kalau kau ingin berbohong, sana berbohong saja sendiri aku tidak ingin mendapat hukuman juga." ketus Jee yang menjauhkan tubuh Alfy darinya.


Semua menatap kaget dengan tingkah dingin Jee pada Alfy, "Sayang, suamimu tidak berbohong. Itu benar Dokter Adeline yang memeriksanya." Nyonya Flora yang mendekat pada Jee memberikan penjelasan.


Jee yang menatap Dokter Adeline dengan intens seraya menebak ada permainan lagi di belakangnya, sama halnya saat Jee berbohong dengan Alfy bersama Dokter Adeline.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menyuruhnya berbohong seperti yang pernah kau lakukan, Sayang." sahut Alfy yang mengejutkan pandangan Jee.


Kini Jee tersenyum malu mendengar ucapan suaminya karena sudah mengajak Dokter Adeline untuk berbohong. "Mulai sekarang kau tidak boleh keluar rumah tanpa Alfy dan jangan pernah melakukan hal-hal yang membuatmu lelah, ingat itu Jee."


Tuan Indrawan yang terdengar sangat tegas membuat Jee tidak percaya, selama ini yang ia tahu Papinya adalah pria yang sangat lembut padanya.


 


"Iya, Pi." jawabnya lirih sembari tersenyum lembut.


Kali ini saatnya untuk Tuan Reindra dan Tuan Indrawan berpelukan bahagia melanjutkan kehabagiaan yang sempat tertunda begitu lama. Semua yang melihat tingkah mereka hanya menggelengkan kepala, tentu bagi mereka sudah tak heran lagi melihat tingkah menggelikkan itu.


Apa pun yang menyangkut cucu semua akan terjadi di luar kendalinya. Jee dan Alfy yang tertawa bahagia berpelukan begitu terlihat jelas di mata semuanya.


"Akhirnya aku terselamatkan dengan bayiku." begitu ucapan Alfy dalam hati.


Ia merasa legah karena Jee tidak jadi bekerja dan tidak akan pernah ada lagi kesempatan untuk wanita cantik itu bekerja. Dengan hadirnya buah hati mereka tentu Alfy memiliki alasan untuk menahan istrinya tetap berada di rumah.


"Baiklah masa hukuman kalian sekarang telah usai."


Tuan Reindra yang mengatakannya seraya tertawa puas, hari itu adalah hari yang paling ia nanti menghitung hari untuk menunggu kelahiran sang cucu.


"Tidak, Jee bosan di kamar terus, Pah." bantahnya dengan wajah kesal.


"Tentu saja Papah tidak mengijinkannya, Jee. Kau bisa-bisa sakit lagi jika harus mengurung diri dengan jantan yang ganas ini." lanjut Tuan Reindra yang membuat wajah Alfy terlihat kesal.


"Pah, jangan mengejekku." sahut Alfy seraya mengancam Tuan Reindra.


"Fy, sejak kapan kau berani mengancam Papah begitu?" Tuan Reindra yang menggoda putranya.


"Ingat kartu Papah ada di tangan Alfy!" ancamnya yang menimbulkan rasa penasaran pada Nyonya Syein sementara Tuan Reindra yang bingung kini mengerutkan dahinya dalam.


Ia tidak mengerti maksud Alfy dengan mengatakan kartu, memangnya ada rahasia apa di antara Ayah dan Anak itu. Alfy yang menatap sinis pada Tuan Reindra tersenyum menyaksikan wajah bingung Ayahnya.


"Ada apa sih, Pah?" Nyonya Syein yang penasaran.


"Papah tidak tahu, Mah." jawab Tuan Reindra yang bingung sementara Nyonya Syein yang kesal terus mendesaknya seakan suaminya memiliki rahasia besar yang tidak ia ketahui.

__ADS_1


"Enakkan Papah di kerjain, haha padahal sama sekali tidak ada rahasia." gumam Alfy yang kembali memeluk erat tubuh Jee di hadapan semuanya.


"Alfy, apa yang kau katakan? ini hanya bercanda, kan? Papah tidak mengerti maksudmu." Tuan Reindra yang panik melihat Nyonya Syein terus mendesaknya dengan wajah sedihnya.


"Sudah Mah, Alfy hanya bercanda kok habis Papah menyebalkan." ucapnya dengan santai.


Tuan Reindra yang kesal kini menghela nafasnya kasar, sangat geram melihat tingkah putranya berani sekali mengerjai orangtua sendiri. Semua hanya tertawa lagi melihat kehebohan keluarga itu.


 


***


Beberapa hari berlalu begitu cepat setelah berita kehamilan Jee terdengar, kini Delon dan Zeyra membawa Zidan bermain ke rumah utama. Semua menyambutnya dengan bahagia, Delon yang berpamitan untuk ke kantor bersama Jac terasa berat meninggalkan putranya yang selalu ia rindukan.


"Dada Papah ganteng." teriak Zidan yang melambaikan tangannya ke arah Delon yang sudah memasuki mobilnya. Delon hanya melambaikan tangannya pada Zidan dan melajukan mobilnya, setelah Zidan memastikan mobil Papahnya pergi ia kembali masuk ke dalam rumah menuju Zeyra dan yang lainnya duduk bersantai.


Alih-alih Zidan pergi ke Zeyra, justru kini ia berada di pangkuan Jee dengan menyandarkan tubuhnya seperti seorang anak pada Ibu kandungnya.


"Eihh manisnya." Jee yang terkejut melihat tingkah Zidan tiba-tiba manja padanya. Alfy yang melihatnya menatap kesal berani sekali anak itu menempelkan tubuhnya pada istri kesayangannya begitu yang terlihat dari tatapan pria itu.


"Astaga ada apa, Sayang?" tanya Jee yang melihat tangan Alfy segera ikut masuk ke dalam pelukan Zidan dan kini sudah berada di tengah-tengah antara Zidan dan Jee.


"Tidak, aku hanya ingin memelukmu saja." bantah Alfy yang berusaha menahan ucapannya agar tidak memalukan. Namun sepertinya percuma saja semua sudah terlihat jelas, tingkah Alfy yang begitu sigap memeluk istirnya ketika melihat Zidan menjelaskan jika dirinya kembali melakukan cemburu yang tidak masuk akal.


"Fy, itu anak-anak." Tuan Indrawan yang mengingatkan pada menantunya.


"Iya Pi, Alfy tahu kok Zidan anak-anak." jawabnya dengan ketus.


Semua yang mendengar jawaban Alfy hanya menghela nafas berusaha sabar dengan cemburunya yang terlalu berlebihan itu. Sementara tanpa mereka sadari tangan Zidan dan Alfy yang beradu di depan perut langsing Jee terasa terus bergerak.


Jee yang merasakan hal itu menatapnya namun setiap kali Jee menatap kedua tangan mereka segera diam. Zidan yang terus mendorong tangan Alfy berusaha keras ingin memeluk Jee, begitu juga dengan Alfy yang beberapa kali menyingkirkan perlahan tangan Zidan dan memeluk istrinya.


Tiba-tiba suara tangis Zidan terdengar, semua kaget termasuk Jee. "Ada apa, Nak?" tanya Jee yang menatap wajah bocah itu.


"Idan tanannya di pukul sama Uncle." Zidan yang mengadu membuat semuanya menatap Alfy, Alfy yang merasa tidak memukul tangan bocah itu kaget seraya menggelengkan kepalanya.


"Sayang, ada apa sih?" Jee yang kesal dengan suaminya.

__ADS_1


"Percaya padaku, aku tidak mungkin memukul bocah sekecil ini sayang."


"Iya, Zidan memang kadang suka bicara berlebihan seperti itu. Maafkan Zidan yah." Zeyra yang mengerti ucapan putranya berhasil menyelamatkan Alfy dari serangan semuanya.


__ADS_2