Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kepanikan Keluarga Kembali Terjadi


__ADS_3

Jee yang kini terlihat tak mampu lagi menahan hasratnya mendapat respon dari suaminya, Alfy tidak tega melihat sang istri seperti itu. Jiwa prianya meronta-ronta melihat tubuh Jee yang terus menggodanya. Akhirnya keduanya pun melangsungkan permainan dengan gairah yang tinggi.


Alfy tersenyum penuh kemenangan saat tengah berada di atas tubuh sang istri, kini ia tak perlu lagi bersusah payah meminta karena Jee sendirilah yang memintanya. Permainan berlangsung cukup lama sampai akhirnya mereka terlelap setelah melakukannya.


***


Sesampainya di Indonesia Adelio segera mengantar Tuan Rusli ke rumahnya, Nyonya Dayah yang menyambut hangat kedatangan mereka menatap dengan tanya pada Adelio.


"Ayo masuk." Tuan Rusli yang mengajak Adelio ke dalam rumahnya di ikuti dengan istrinya yang tersenyum ramah.


Adelio yang duduk bersama suami istri itu dengan cepat di suguhkan minuman dan beberapa macam kue oleh pelayan di rumah itu.


"Pak sebaiknya anda beristirahat saja." Adelio yang mengingat kondisi Tuan Rusli baru saja pulih dan khawatir akan kelelahan nantinya.


"Memangnya Papah sakit?" Nyonya Dayah yang menatapnya penasaran.


Tuan Rusli yang panik mendengar pertanyaan istrinya dengan cepat mengelak dan mengedipkan matanya pada Adelio seakan memintanya untuk bekerjasama menutupi penyakitnya. Adelio yang merasa berat hati hanya menghela nafasnya dengan kasar.


Lagi-lagi ia harus berbohong meskipun sebenarnya berat hati mengikuti permintaan Tuan Rusli namun apa daya pria yang begitu baik padanya tidak akan mungkin ia tolak.


"Ayo kita ke kamar, Pah."


Tuan Rusli yang melihat anggukan dari Adelio akhirnya mengikuti istrinya untuk masuk ke kamar sementara Adelio berencana akan pergi ke kantornya setelah ini.


"Ibu, Wenda pulang."


Adelio yang terkejut mendengar suara wanita dari luar rumah melotot seketika dan tanpa sadar ia berdiri dari duduknya. Wenda yang tak kalah terkeju saat melihat kehadiran pria itu di dalam rumahny menghentikan langkah kakinya. Keduanya cukup lama saling melemparkan pandangan canggung tidak ada suara apa pun dari mulut keduanya.


"Wenda." Nyonya Dayah yang membuyarkan lamunan mereka dengan cepatnya.

__ADS_1


"Adelio mengapa kau bodoh sekali bisa lupa dengan rumah ini astaga, pantas saja sejak tadi rasanya rumah dan jalan itu tidak asing bagiku. Apa ini karena aku sudah melupakan wanita ini yah?" begitu gumam Adelio yang berusaha memalingkan wajahnya dari Wenda.


Wenda yang merasa kesal dengan hadirnya pria itu segera masuk ke kamarnya, Nyonya Dayah yang bingung dengan sikap putrinya hanya tersenyum kaku pada Adelio.


"Maaf Bu, sepertinya saya harus pergi ke kantor sekarang juga." Adelio yang bergegas keluar dari rumah dengan wajah penuh kebodohannya.


Sepanjang perjalan ia terus memukul kepalanya kesal, bagaimana bisa ia tidak menyadari jika itu adalah rumah Wenda dan juga Tuan Rusli tentu adalah Ayah dari Wenda. "Apa yang kau fikirkan bisa-bisanya kau tidak mengenali Ayahnya yang setiap kali menatapmu dari kejauhan saat menjemput putrinya? dasar bodoh...bodoh...bodoh."


Adelio terus memaki dirinya seraya mengutuk kebodohannya sendiri, sementara supir di depan menatapnya dengan menahan tawanya.


"Ada apa?" Suara Adelio yang menggetarkan pandangan supir itu seketika terhentak dan kembali menatap fokus jalanan.


Kedengarannya memang bertanya tetapi jika di lihat tatapannya Adelio sangat mematikan bagi siapa pun yang melihatnya.


***


"Ayah, mengapa bisa membawa pria itu kemari?" Wenda yang tak terima dengan kedatangan Adelio di rumahnya terus menyerang Tuan Rusli dengan banyaknya pertanyaan.


Tuan  Rusli mendengar ancaman Wenda hanya terdiam kepalanya sangat pening mendengarkan ocehan Wenda yang sudah seperti mengomeli sang anak. Sementara sang Ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum melihat reaksi Wenda.


 


"Wenda, kau ini membencinya atau..." Nyonya Dayah yang terlihat ragu ingin mengatakannya.


"Ibu mau bilang Wenda menyukainya? tidak Bu, Wenda sama sekali tidak menyukai pria itu."


Nyonya Dayah yang mendengar bantahan Wenda terkejut. "Ibu tidak mengatakan begitu, Sayang.


Merasa kesal dengan kedua orangtuanya Wenda segera berlalu pergi ke kamarnya meninggalkan tatapan wajah Tuan Rusli dan Nyonya Dayah. Keduanya kini tinggal saling menatap satu sama lain seolah mengatakan apa yang salah begitu terlihatnya.

__ADS_1


Wenda yang berada di dalam kamarnya merasa gelisah, entah perasaan apa lagi ini mengapa hatinya tidak bisa tenang. Beberapa kali ia terus melangkah bolak balik di dalam kamarnya sampai tanpa sengaja kaki satunya menyenggol langkah kaki yang satunya.


"Aw." Kepala gadis itu terbentur ke tembok cukup keras, tangannya sesekali mengusap kasar berusaha menghilangkan sakit di keningnya.


Wenda akhirnya memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di kasur empuk itu, beberapa menit ia sudah terlelap tanpa sadar tengah melewatkan waktu begitu lama.


***


Waktu yang berjalan begitu sangat cepat tanpa sadar tengah banyak melewatkan momen yang mereka rasakan. Kini hari terakhir di mana masa hukuman Jee dan Alfy telah selesai, terlihat wajah panik Alfy yang harus merelakan sang istri bekerja setelah hari itu mereka lewati dengan baik.


Pagi hari Jee yang berada di dalam kamar mandi membuat Alfy gelisah karena sejak tadi sudah hampir satu jam ia menunggu belum juga melihat Jee keluar.


"Sayang...sayang." Alfy terus memanggil di seraya terus mengetuk pintu kamar mandi itu, Jee yang masih belum juga menjawab panggilan suaminya membuat fikiran Alfy semakin tak karuan.


Kesabaran Alfy pun habis ia kini berusaha mendobrak pintu kamar mandi, tiga kali hentakan ia berhasil menerobos pintu yang tertutup rapat itu. Matanya terbelalak tidak percaya mendapati Jee yang tengah terbaring di lantai tak sadarkan diri.


"Sayang." Panggil Alfy berulang kali sambil menepuk-nepuk wajah Jee panik.


Alfy sudah tidak bisa lagi menahan kecemasannya ia terus berusaha membangunkan Jee sembari berlari menggendong tubuh istrinya ke atas kasur. Setelah memastikan Jee terbaring dengan benar ia berlari keluar kamar meminta bantuan.


Semua keluarga dan pelayan di rumah itu berlari ke sumber suara, mereka begitu antusias mendengar teriakan Alfy. Tuan Reindra yang segera menghubungi Dokter Adeline memintanya untuk datang ke rumah saat itu juga.


Sementara Alfy dan yang lainnya telah berlari menaiki anak tangga memastikan keadaan Jee baik-baik saja, wajah cemas tergambar jelas di wajah masing-masing. Mereka sangat takut jika Jee akan menderita penyakit yang sebelumnya pernah tinggal di tubuhnya.


"Fy, apa yang terjadi mengapa sampai seperti ini?" Tuan Indrawan yang begitu ketakutan melihat putrinya tak sadarkan diri. Alfy yang merasa tidak melakukan apa semalam berusaha mengingat-ingat apa yang ia lewatkan bersama sang istri sampai bisa membuat Jee drop seperti saat ini.


"Tidak ada, Pi. Semalam kami hanya tiduran saja." jawab Alfy dengan yakinnya.


Semua mata menatapnya dengan tajam seolah tak percaya dengan ucapan Alfy. "Kau bisa di percaya?"

__ADS_1


Tuan Reindra yang mencurigai anaknya melakukan hal yang berlebihan lagi seperti sebelum-sebelumnya sampai membuat Jee drop karena kelelahan. Begitu juga dengan yang laiinya seakan tak percaya lagi apa yang keluar dari mulut Alfy


__ADS_2