
Jee yang kini berlari sambil menangis tanpa memperdulikan langkahnya menelusuri perjalanan yang padat akan kendaraan itu.
"Kau jahat kenapa tega padaku," Sambil terus menangis ia berlari tanpa memperhatikan di sekitarnya.
Perlahan pandangannya terlihat kabur kini ia sudah tidak kuat untuk berlari lagi seketika tubuhnya tersungkur ke dasar jalanan yang siang itu sangat terik terasa menembus lapisan kepala.
"Berhenti!" Seorang pria menyuruh supirnya untuk menyetop kendaraan itu dengan cara tiba-tiba dan akhirnya ia dengan cepat menuruni mobil mewahnya.
Wajanya sangatlah tampan tubuh tinggi sempurnanya membuat penampilannya tampak lengkap tanpa kekurangan satu pun.
Dengan cepat pria itu menggendong seorang wanita yang baru saja ia lihat terjatuh pingsan tepat di samping mobilnya saat kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan yang pelan karena keadaan saat itu sangat macet.
Namanya adalah Narendra Rinjaya seorang pengacara muda yang sampai saat ini masih terus berusaha untuk bersaing dengan pengacara muda yang ternama di Kota itu.
Yah siapa lagi pengacara muda yang ternama di Kota itu bahkan di beberapa tempat nama pria muda itu pun sangat terkenal Alfy Syein Biglous yang sampai saat ini masih belum bisa ia kalahkan.
Saat melihat wajah wanita itu matanya mendadak kagum sangatlah cantik melihat kedua mata wanita itu yang tertutup menampakkan aura ketenangan tersendiri bagi Narendra.
"Cepat lajukan mobilnya!" perintah Narendra pada supirnya itu.
"Baik Tuan," jawab pria itu dengan gugupnya.
Sepanjang perjalanan Narendra terus menatap wajah wanita itu dengan dalamnya ia melihat ada air mata yang baru saja terhenti menetes dari mata indah itu.
Dengan cepat ia mengusap air mata Jee dengan punggung tangannya, wajahnya tersenyum sambil memegang erat wanita yang kini berada di pangkuannya tanpa meletakkan di kursi mobil.
Mereka melaju ke arah kediaman Narendra setelah beberapa menit mereka akhirnya tiba tepat di kediaman mewah yang tampak sunyi.
Setelah mobil itu terparkir dengan sempurna dengan cepat Narendra membawa wanita itu ke kamarnya ia berlari kecil menaiki anak tangga.
"Cepat panggil Dokter Risya!" teriak Narendra pada supirnya.
"Baik Tuan." jawab pria itu dengan cepatnya.
Mendengar suara ribut-ribut wanita yang terlihat sudah berumur itu perlahan keluar dari kamarnya dan mencari sumber keributan.
Ia melangkah ke depan rumah tidak ada siapa-siapa selain supir pribadi Narendra menatap ke berbagai arah tidak ada ia temukan cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
Yah wanita itu adalah satu-satunya keluarga yang Narendra miliki saat ini karena kedua orangtuanya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Namanya adalah Rosa Rinjaya yang merupakan Ibu dari Ayah Narendra biasanya di panggil dengan sebutan Oma Rosa.
"Pak Budi," panggil Nyonya Rosa.
"Iya Nyonya, ada apa?" tanya Pak Budi.
"Ada apa? barusan saya dengan Narendra teriak." Wajah Nyonya Rosa yang tampak cemas pada cucu kesayangannya.
Bingung harus menjelaskan apa akhirnya Pak Budi hanya menjawab dengan gelagapan.
"Em...itu Nyonya, ada...emm." Seketika ucapan itu terhenti ketika melihat kehadiran sosok Dokter Risya di hadapannya.
Oma Rosan yang merasa penasaran dengan segera mengikuti langkah Pak Budi yang mengarahkan Dokter Risya ke dalam kamar Narendra.
Merasa begitu cemas saat berfikir cucunya sakit dengan cepat Oma Rosa mendahului langkah Dokter itu dan segera membuka pintu kamar Narendra.
Wajahnya terkejut bukan main ketika melihat ada seorang wanita asing di kamar itu matanya melotot tidak percaya pada cucunya.
Melihat kehadiran Dokter Risya dan Oma Rosa dengan cepat Narendra menarik tangan wanita tua itu untuk mengikutinya ke luar kamar.
"Bagaimana bisa Ndra, kau menyembunyikan wanita di kamarmu?" Oma Rosa yang tampak kehilangan fikiran saat itu.
"Oma, bukan begitu," jelas Narendra yang tampak lebih sabar dari biasanya.
"Lalu?" tanya Nyonya Rosan yang penasaran.
Dengan cepat Narendra menjelaskan semuanya mendengar cerita cucunya Nyonya Rosa sedikit kasihan pada wanita itu bagaimana bisa ia menangis sampai membuatnya pingsan.
Tentu jika di fikirkan ia pasti sedang mengalami masalah yang cukup berat sampai bisa pingsan dan terus meneteskan air mata seperti itu.
Lama mereka berdiam diri di depan kamar Narendra memang tipe pria yang tidak suka banyak berbicara sekalipun dengan Omanya sendiri.
Wajar saja jika wanita paruh baya itu benar-benar merasa kesepian karena cucunya memang tidak begitu dekat dengannya dalam hal komunikasi.
Setelah selesai memeriksa akhirnya Dokter Risya keluar dari kamar itu dan menghampiri dua orang yang berdiri di depan kamar itu.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Narendra dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Keadaannya baik-baik saja Tuan, hanya mungkin Nona tidak meminum obatnya dengan tepat waktu." jawab Dokter Risya.
Mendengar ucapan Dokter Risya menyebut obat Narendra dan Nyonya Rosa terkejut dengan ekspresi penuh tanya di wajahnya.
"Iya Tuan, Nona tampak begitu teratur meminum obat sehingga jika telat sekali saja keadaannya akan drop." jelas Dokter Risya yang tidak mampu mewakili pertanyaan di fikiran Narendra.
"Sebenarnya wanita itu sakit apa Dok?" tanya Narendra lagi.
Mendengar pertanyaan itu Dokter Risya terkejut ia berfikir jika Tuan muda di hadapannya ini sudah mengetahui penyakit wanita cantik yang terbaring tidak sadarkan diri di kamarnya.
"Em...Nona itu menderita Leukimia Tuan." ucap Dokter Risya.
"Leukimia?" tanya Narendra terkejut.
"Iya Tuan." jawab Dokter Risya dengan yakinnya.
Merasa khawatir dengan wanita itu Narendra meminta Dokter Risya untuk merawatnya dengan baik namun mendapat kepercayaan dari Tuan muda itu wajah Doter Risya tampak berat.
Akhirnya ia menjelaskan alasannya yang membuat dirinya tidak bersedia merawat wanita itu karena penyakit yang di derita itu tidak terlihat sepele mengingat keadaannya juga sedang hamil.
Dokter Risya tidak berani mengambil resiko mungkin semua bisa mereka putuskan saat wanita itu sudah sadar dan dengan mudah Dokter Risya bertanya padanya tentang penyakit dan pengobatannya.
Mendengar ucapan Dokter Risya akhirnya Narendra setuju untuk menunggu kesadaran dari wanita cantik itu yang kini masih terbaring tidak sadarkan diri di dalam ruangan yang begitu luas dan sangat mewah.
Kini mereka bertiga sudah masuk ke dalam kamar untuk menunggu wanita itu terbangun dari pingsannya wajahnya sangat tenang saat matanya tertutup.
Nyonya Rosa yang melihat tatapan cucunya pada wanita itu merasa ada yang aneh dengan Narendra kali ini tidak biasanya ia begitu senang menatap orang terlebih itu adalah lawan jenis.
"Ada apa denganmu?" tanya Nyonya Rosan yang merasa penasaran dengan cucunya.
Narendra yang merasa kaget dengan tingkah Omanya kini hanya menghela nafas kasarnya dan kembali menatap wanita itu.
Di dalam fikirannya sebenarnya seperti pernah melihat wajah itu namun ia tidak tahu di mana setelah lama mengingat-ingat wajah itu hampir mirip dengan mempelai wanita yang menikah dengan Alfy Syein.
Yah benar ia merasa itu adalah wanita yang sama namun memang tidak begitu membuatnya yakin karena saat malam acara pernikahan yang di siarkan langsung di televisi, istri pengacara itu tampak memakai make up yang membuat penglihatan Narendra begitu sulit untuk membedakan.
Perlahan matanya terpejam mengingat nama istri pengacara saingannya itu kalau tidak salah namanya ada Jeerewat gitu, hanya itu saja yang ia ingat saat ini mungkin semuanya bisa ia tanyakan saat wanita itu sadarkan diri.
__ADS_1
Halo... buat kalian semua terimakasih yah sudah mampir di karya author yang satu ini semoga bisa membuat cerita yang jauh menghibur kalian kedepannya karena author juga masih tahap belajar jadi masih sangat banyak kurangnya. Mohon para readers untuk bisa memahaminya yah jika ada yang salah mohon di kritik terimakasih. Asalamualaikum Wr. Wb