
Jacobie yang sudah mengerti kesalahan Zeyra kini harus mengambil tindakan tanpa membuatnya rugi. Tentu pertimbangan yang sangat sulit bagi Jacobie jika ia membawa Nakula tentu dengan senang hati pria itu akan menikahi adiknya.
Dan tidak menutup kemungkinan Zeyra akan di campakkan seperti kebanyakan wanita lainnya, sedangkan jika Jacobie membawa Nakula ke jalur hukum tentu hal itu sama sekali tidak membuatnya puas.
Mengingat usia Zeyra yang di anggap cukup dewasa untuk mempertimbangkan hal itu. Akhirnya Jacobie memutuskan dengan menghukum nakula secara fisik.
Ia menyuruh pasukannya untuk menyeret Nakula ke sebuah rumah sakit ternama khusus untuk kelam*n.
"Bawa dia masuk." ucap Jacobie.
Dengan cepat dua pria itu membawa Nakula masuk ke dalam rumah sakit dengan membopongnya. Nakula yang kini sudah tidak berdaya hanya pasrah saja.
Setelah mereka sampai kini Dokter langsung dengan cepat dan telitinya mengerjakan sesuai dengan perintah Jacobie.
Sebelumnya ia sudah mendapat telefon dari Jacobie untuk memenuhi perintahnya. Sebenarnya hal itu tidak bisa di lakukan tanpa persetujuan pasien.
Namun mengetahui orang itu adalah Jacobie tentu mereka tidak akan berani menolaknya.
Kini Nakula sudah tidak sadarkan diri karena bius yang di berikan oleh Dokter. Ia juga tidak tahu apa yang sudah Dokter lakukan padanya.
Setelah hampir satu jam lamanya operasi pun selesai dan berjalan lancar. Jacobie yang sudah tertawa licik kini menyuruh orangnya untuk menaruh Nakula di sebuah club malam.
Nasib Nakula kali ini tidak akan berhenti sampai di sini saja ia masih harus menggantungkan hidupnya di club malam itu karena sudah tidak memiliki biaya hidup lagi.
Jacobie meninggalkannya di tempat itu karena ingin memberinya pelajaran. Sedangkan untuk Zeyra sampai saat ini masih belum ada fikiran harus melakukan apa.
Yang jelas ia tentu tidak akan tega meninggalkan Zeyra seorang diri selain kepolosan Zeyra ini juga termasuk salahnya Jacobie.
Seandainya Zeyra bukan adik angkat tentu Nakula tidak akan menghamilinya. Dengan cepat Jacobie bergegas pergi menuju rumah utama.
Sesampainya di rumah Tuan Reindra dan Nyonya Syein sudah tampak menunggunya di ruang tengah.
Jacobie yang tampak gugup mau tidak mau harus mengahadapi kedua orang itu. Perlahan ia melangkah mendekat lalu menundukkan kepalanya dengan hormat.
"DI mana Nakula, Jac?" tanya Tuan Reindra.
Jacobie yang gugup tidak bisa menjawab hanya terdiam saja ia tidak tahu apakah harus jujur pada Tuannya mengenai perlakuannya itu.
"Sudah saya lepas Tuan." ucap Jacobie.
"Bagaimana bisa kamu melepaskan pria baj*ngan sepertinya?" Tuan Reindra yang tampak tidak percaya.
Namun Jacobie masih enggan memberi tahunya biarlah itu semua menjadi rahasianya saat ini dan kedepannya.
Akhirnya Tuan Reindra membiarkan Jacobie untuk pergi menemui Zeyra.
"Yasudahlah itu keputusanmu, sekarang temui Zeyra kenapa ia tidak ingin kembali ke sini?" perintah Tuan Reindra.
"Permisi Tuan." Jacobie segera bergegas pergi.
Ia mengajak Delon untuk menemaninya ke rumah suster Syanin, entah sejak kapan ia melihatkan tanda persahabatan pada Delon.
__ADS_1
Dengan melaju kedua pria itu menuju rumah suster Syanin yang kebetulan hari itu ia dapat jadwal piket malam.
Setelah hampir satu jam lamanya kini mereka tiba di depan rumah yang tidak terlalu besar, jika menurut penglihatan Delon dan Jac tentu rumah itu sangatlah kecil.
"Sya..." panggil Delon mengetuk-ngetuk pintu.
Jacobie yang mendengar panggilan itu menatap Delon dengan enggannya.
"Cih... seperti orang pacaran saja panggilannya." ucap Jacobie lirih yang ternyata terdengar di telinga Delon.
Delon tersenyum berniat ingin menggoda Jacobie.
"Iya tapi nanti, sekarang sih belum." jawab Delon.
Mendengar jawaban Delon mata Jacobie melotot tanpa bisa ia kendalikan sepertinya ada sesuatu yang terbakar di dalam dadanya.
"Apa maksudmu?" tanya Jacobie.
"Yah seperti yang kau dengar barusan," jelas Delon yang enggan memperjelas.
Suster Syanin yang mendengar ketukan pintu dengan segera membuka pintu rumahnya. Matanya terkejut melihat kehadiran dua pria tampan itu.
Ia diam mematung memandangi Delon dan Jacobie bergantian sampai akhirnya Jacobie membuyarkan lamunannya.
"Kau mau sampai kapan menyuruh kami berdiri di sini?" tanya Jacobie dengan datarnya.
"Eh iya silahkan masuk." jawab suster Syanin yang tampak gugup.
"Zey, di depan ada Abangmu dan Delon." ucap suster Syanin.
Yah sejak mereka tinggal bersama Zeyra memintanya untuk tidak memanggil dengan sebutan Nona lagi. Rasanya sungguh aneh jika Zeyra menumpang dengannya namun namanya tetap di atas suster Syanin.
Begitu juga dengan suster Syanin tidak ingin di panggil suster lagi ia ingin di panggil langsung namanya saja.
"Benarkah?" tanya Zeyra yang tampak terkejut.
Dengan cepat ia menuruni kasurnya dan melangkah ke ruang tamu di sana sudah tampak dua orang pria menunggunya.
Belum sempat Zeyra duduk di sofa Jacobie sudah melayangkan pertanyaan padanya.
"Bagaiamana kabarmu?" tanya Jacobie.
"Baik, Bang." jawab Zeyra singkat.
Ia masih terlalu takut untuk berbicara pada Jacobie karena kesalahannya itu. Akhirnya Jacobie memecahkan suasana tegang itu.
"Nyonya dan Tuan Syein memintamu untuk kembali ke rumah utama." ucap Jacobie dengan menatap Zeyra.
"Apa Bang? tapi aku tidak enak pada mereka." ucap Zeyra lagi.
Delon yang mendengar dengan cepat menengahi percakapan mereka.
__ADS_1
"Nona Zeyra, jika anda tidak enak sebaiknya ikutlah dengan kami karena jika tidak Tuan dan Nyonya merasa lebih tidak enak ketika tahu anda menolaknya." jelas Delon pada Zeyra.
Zeyra yang mendengar pun menoleh ke arah suster Syanin meminta jawaban dan suster Syanin yang melihatnya tersenyum lalu mengangguk.
Pertanda menyetujui ucapan Delon barusan, akhirnya Zeyra menyetujui dan saat itu juga mereka kembali ke rumah utama.
Sebelum kembali Zeyra mengucapkan terimakasih pada suster Syanin.
"Syanin, terimakasih yah sudah menampungku selama ini." ucap Zeyra tersenyum.
"Iya tidak papa, aku senang jika ada temanku di sini." jawab suster Syanin.
Kini mereka berdua berpelukan lalu beranjak keluar kamar menuju halaman depan rumahnya.
"Sus, terimakasih yah." ucap Jacobie dengan tanpa ekspresi.
"Iya sama-sama Tuan." jawab suster Syanin.
"Sya, aku pulang yah jaga diri baik-baik." Delon berteriak di dalam mobil.
Jacobie yang mendengar hanya mendesis kesal bagaimana bisa mereka sedekat itu melebihi Jacobie dan suster Syanin dekatnya.
Akhirnya mereka pun masuk semua ke mobil kini tinggallah suster Syanin sendiri lagi. Di dalam mobil tampak begitu tegang tidak ada yang bersuara.
Akhirnya Delon lagi lagi memecahkan suasana.
"Zeyra bagaimana kau tidak mual-mula?" tanya Delon.
"Tidak Bang." ucap Zeyra singkat.
Ia berbohong karena tidak ingin membuat Jacobie semakin khawatir padanya. Ia sangat tahu meskipun Jacobie marah padanya tentu ia masih tetap perduli.
"Tapi terakhir kau sebelum masuk rumah sakit kan aku melihatmu muntah." tambah Delon lagi.
Zeyra yang mengengar kini tidak tahu harus menjawab apalagi ia bingung dan akhirnya memilih untuk jujur.
"Em iya Bang, kadang-kadang sih." jawab Zeyra dengan ragu.
Jacobie yang mendengar merasa kasihan pada adiknya dan akhirnya ia berencana setelah mengantar Zeyra pulang akan menemui Dokter untuk mencari jalan keluar.
Jacobie tidak tega jika adiknya harus mengalami mual sepanjang hari tanpa seorang suami di sampingnya.
Perjalanan sudah cukup lama tidak terasa kini mereka telah tiba di halaman rumah utama Syein Biglous. Dengan cepat Jacobie menuntun Zeyra keluar mobil.
"Aku tidak papa Bang." ucap Zeyra yang merasa terlalu di khawatirkan.
"Sudah menurutlah." jawab Jacobie datar.
Mendengar perintah Jacobie kini Zeyra tidak berani menolak lagi dan hanya mengikuti langkah Jacobie yang membawanya ke hadapan Nyonya dan tuan Syein.
Halo semuanya masih setia menunggu update cerita ini yah. Auhtor belum kasih cerita manis-manisnya yah di episode ini karena masalah Zeyra dan Nakula baru bisa selesai di sini ternyata. Di episode berikutnya author akan ceritain kisah Alfy dan Jee pastinya.
__ADS_1
Semoga kalian sabar yah menunggu moment mereka yang kembali seperti pacaran lagi. Selamat membaca readersku sayang terimakasih. Jangan lupa untuk rate bintang limanya yah.