
Di sebuah cafe mewah tampak beberapa wanita cantik dan seksi sedang asyik berbicara sambil tertawa dengan serunya.
Tanpa terasa malam sudah semakin larut akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di depan cafe mereka saling memeluk bergantian sambil cepika cepiki dengan genitnya.
"Guys, gue balik duluan yah." ucap salah satu wanita itu dengan melajukan mobilnya.
Mereka adalah para sahabat Wenda yang kini berdiri di depan cafe hendak bergegas pulang, sedangkan Wenda sudah pulang lebih dulu.
"Tiiiiiiiiit...." suara klakson mobil wenda berbunyi sangat keras.
Ia melihat seorang pria yang menyebrang tanpa hati-hati dengan cepat Wenda memberhentikan mobilnya.
"Woy, lu bisa kagak sih nyebrang hati-hati?" tanya Wenda yang berteriak.
Dengan cepat pria itu membalikkan tubuhnya menghadap Wenda, wajahnya terkejut.
"Wenda." ucap pria itu.
"Nakula." jawab Wenda.
Mereka cukup lama bertatapan kaget sampai akhirnya suara mobil membunyikan klaksonnya.
"Mobilnya minggirin dong." ucap orang yang ada di dalam mobil tepat di belakang mobil Wenda.
"Iya-iya sorry." jawab Wenda dengan segera memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan.
Setelah memarkirkan mobilnya Wenda kembali pergi ke arah Nakula yang masih diam berdiri di pinggir jalan itu.
"Kok kamu di sini ngapain sih?" tanya Wenda yang penasaran.
Wanita itu tidak tahu jika Nakula sedang kesulitan untuk bertahan hidup saat ini ia tidak memiliki apa-apa lagi.
"Aku tidak tau harus pergi ke mana lagi." ucap Nakula dengan sedihnya.
"Maksud kamu apasih?" tanya Wenda yang tampak bingung.
"Hidupku susah Wen, sudah jauh berbeda dengan yang dulu." jelas Nakula.
Wenda yang mendengar mulai mengingat saat Nakula datang ke rumah Tantenya dan menjadi pria panggilan.
"Jadi malam itu kamu benar menemani Tante Melly yah?" tanya Wenda.
"Belum kok." jawab Nakula tidak terima.
"Belum gimana maksudnya?" Wenda yang bingung.
Akhirnya dengan terpaksa Nakula bercerita jika ia tidak sempat berhubungan dengan Nyonya Melly berhubung miliknya tidak bisa memberi kepuasan pada wanita itu.
Wenda yang mendengarnya pun terkejut merasa simpati pada pria di hadapannya, biar bagaimana pun Wenda juga dulu sangat sering berkencan dengan Nakula.
__ADS_1
Meskipun mereka tidak memiliki status yang jelas bagi Wenda Nakula adalah pria yang selalu menghabiskan waktu bersamanya.
Tanpa Wenda ketahui Nakula bagaimana sifat asli saat di belakangnya bersama wanita-wanita lainnya.
Nakula yang melihat kebaikan Wenda dengan cepat memanfaatkan situasi sulitnya untuk mendapatkan kehidupan yang layak lagi.
"Nda, aku boleh minta tolong padamu?" tanya Nakula dengan wajah sedih.
"Em iya minta tolong apa?" balas Wenda.
"Aku ingin pinjam uang untuk mencari tempat tinggal sementara, nanti setelah aku dapat pekerjaan lagi baru aku ganti." ucap Nakula.
Wenda yang tampak prihatin dengan keadaan pria itu tampak suka rela mengeluarkan kartu kredit miliknya.
"Ini untukmu sementara pakai saja yah," ucap Wenda meletakkan kartu kredit di tangan Nakula.
"Ini serius, Nda?" tanya Nakula tidak percaya.
"Iya serius. Ayo ikut aku." ajak Wenda menggandeng tangan Nakul ke mobilnya.
Wenda mengajak Nakula masuk dan kini mereka melaju ke sebuah apartemen mewah di Kota X. Sesampainya di parkiran Wenda dan Nakula turun menuju lift.
Nakula yang hanya terdiam mengikuti langkah Wenda di depan tampak tersenyum menyeringai, kali ini berhasil merubah hidupnya lagi pastinya.
Setelah keluar dari lift, Wenda mengajak Nakula masuk ke sebuah apartemen milik Wenda tempatnya sangat luas bisa di gunakan untuk orang yang tinggal satu keluarga.
Yah itu adalah apartemen Wenda yang di berikan oleh Tuan Farhan saat Wenda ulang tahun ke tujuh belas dulu.
"Kau suka tempat ini?" tanya Wenda.
"Maksudmu?" tanya Nakula.
"Kau tinggallah di sini, ini apartemen milikku." jelas Wenda.
Nakula yang sudah legah karena mendapat bantuan yang super luar biasa akhirnya perlahan memeluk Wenda. Perlakuan lembut Nakula membuat Wenda semakin menginginkan dan menginginkan lebih jauh lagi.
Mereka memang sudah sering melakukan dulu dan sudah cukup lama tidak bertemu lagi tentu mereka berdua saling merindukan sentuhan itu.
"I miss you honey." ucap lirih Wenda sambil memeluk erat tubuh Nakula.
Mendengar ucapan manja Wenda seperti mendapat persetujuan untuk melakukan yang lebih dalam lagi. Kini Nakula sudah mulai melancarkan tangannya beraksi di dalam tubuh Wenda.
Mulai menelusuri dari atas sampai bawah, merasa tidak sabaran lagi Nakula dengan cepat membuka baju Wenda dan seluruh perlengkapannya.
Wenda yang juga dengan liarnya mulai melancarkan aksinya meraba seluruh area sensitif Nakula wajahnya mendadak berubah terkejut.
"Mengapa seperti ini?" tanya Wenda sambil memegang sesuatu.
Nakula yang baru tersadar lagi-lagi merasa kesal apa yang salah pada dirinya sebenarnya mengapa kelam*nnya tidak bisa berfungsi.
Padahal hasratnya sudah sangat menginginkan hal itu akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidak melanjutkan.
__ADS_1
"Sial, untuk apa aku menaruhnya di sini jika tidak memberiku kepuasan sama sekali." gumam Wenda.
Dan Nakula menceritakan kejadian itu ia sama sekali tidak tahu begitu juga yang pernah ia rasakan saat Nyonya Melly mengusirnya.
Wenda yang merasa seperti mengganjal di fikirannya dengan cepat mengajak Nakula untuk ke Dokter.
"Ayo kita pergi." ajak Wenda.
"Kemana?" tanya Nakula.
Tanpa menjawab, Wenda berjalan menuju mobilnya bersama Nakula, kini mereka kembali melaju. Selama di perjalanan mereka tidak ada berbicara apa-apa.
Setelah beberapa lama di perjalanan kini Wenda dan Nakula tiba di rumah sakit. Dengan cepat Wenda membawa Nakula ke Dokter bagian itu.
"Tuan Nakula." panggil salah satu suste yang baru saja keluar dari ruangan.
Dengan cepat Nakula dan Wenda masuk ke ruangan Dokter itu.
"Tuan Nakula, apa saja keluhan anda?" tanya Dokter.
Akhirnya Nakula menceritakan tentang keluhannya dan keanehan yang ia alami selama beberapa waktu terakhir ini.
"Baik jika begitu mari kita periksakan dulu." ucap Dokter mempersilahkan Nakula.
Setelah beberapa area di periksa Dokter sepertinya keluhan pemilik benda itu ia sudah tahu.
"Bagaimana Dok?" tanya Wenda antusias.
"Anda ini..." ucapan Dokter menggantung.
"Saya istrinya Dok." jawab Wenda dengan wajah meyakinkan.
"Oh baik jika seperti itu, Tuan Nakula sebelumnya pernah menjalani operasi tentunya apa anda lupa?" tanya Dokter.
"Hah operasi Dok?" tanya Wenda yang tampak panik.
Sedangkan Nakula terlihat tampak bingung karena seingatnya tidak pernah melakukan operasi apapun itu.
"Maaf Dok, maksudnya operasi apayah?" tanya Nakula lagi.
"Operasi untuk menetralkan kelam*n anda Tuan agar tidak berfungsi sementara." jelas Dokter.
Nakula dan Wenda yang mendengar sama-sama terkejut kapan dan untuk apa ia melakukan hal itu.
"Dokter, saya tidak pernah melakukannya." bantah Nakula.
"Apa ada jalan keluar Dok?" tanya Wenda yang mulai khawatir.
"Tentu ada, kita bisa melepaskannya kembali dan membuatnya berfungsi seperti biasanya." ucap Dokter.
"Lakukan sekarang juga Dokter." perintah Wenda tanpa sabaran.
__ADS_1
Akhirnya Dokter dengan segera melakukan operasi itu sedangkan Nakula kali ini mendapatkan kemenangan lagi, tanpa berusaha keras Wenda sudah membantunya sangat banyak.
Bersambung...