Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Buku Pengantar Tidur


__ADS_3

Hari pertama Dara untuk memulai belajar bersama Fiky di rumahnya.


"Dara, ini aku udah di depan rumah kamu." ucap Fiky menelfon.


"Eh iya Kak, sebentar yah Dara ganti baju dulu." ucap Dara yang bergegas menuju kamarnya.


Setelah beberapa menit Fiky menunggu di depan rumah tidak lama seorang gadis keluar dari dalam rumah dengan tersenyum.


"Buset, itu Dara kan kok cantik banget." gumam Fiky yang tertegun melihat penampilan Dara dengan pakaian santainya.


Dara saat ini menggunakan celana jeans pendek dan baju kaos yang lumayan begitu mengikuti bentuk tubuhnya.


"Kak, ayo masuk." ajak Dara.


Fiky yang kaget dengan segera tersadarkan dari lamunannya dengan cepat ia tersenyum lalu mengikuti langkah Darah ke dalam rumah.


Dara membawa Fiky ke dalam ruangan tengah disana sudah tampak terlihat beberapa cemilan yang baru saja di sajikan oleh Bi Lilis.


"Dar, ini makanan kamu yang siapin semuanya?" tanya Fiky terkagum.


"Hehehe iya Kak." jawab Dara tersenyum.


"Waow ini banya banget kamu hebatyah." puji Fiky.


Belum sempat ia memuji lebih banyak lagi Dara sudah melanjutkan ucapannya.


"Aku nyiapin duitnya aja Kak, yang buat Bi Lilis hehehe." ucap Dara dengan santainya.


Fiky yang mendengar ucapan Dara hanya tersenyum menggelengkan kepala merasa di tipu kali ini. Akhirnya mereka menyadari jika waktunya harus di gunakan untuk belajar.


"Yaudah ayo kita mulai." ajak Fiky dengan mengeluarkan beberapa buku yang terlihat begitu tebal.


"Kak, ini serius yang kita pake buku ini?" tanya Dara yang tampak merasa perutnya sudah mulai mual karena tebalnya benar-benar tampak menakutkan.


"Iya kita pakai ini, memangnya kenapa Dar?" tanya Fiky heran.

__ADS_1


Dara yang enggan menjawab jujur tentang kebiasaan buruknya jika setiap kali melihat buku tebal selalu ingin tidur entah buku itu seperti dongeng tidur yang mengusap-usap matanya.


Namun Fiky yang tidak mendapat penjelasan dari Dara akhirnya melanjutkan membuka lembaran buku halaman pertama.


Di sana sudah terlihat tulisan yang penuh dengan angka-angka, sebenarnya Dara sangat membenci pelajaran yang berhubung dengan angka namun mau bagaimana lagi semua atas saran dari orangtuanya.


Dara adalah anak satu-satunya yang di harap bisa meneruskan usaha mereka di kantor.


Fiky dengan sabar menjelaskan semua yang ada di buku, sementara Dara entah sejak kapan sudah mulai menutup pelan matanya dengan menumpu kedua tangannya di dagu.


"Terus yang ini kita bisa kurangi dengan angka yang ini karena di sini sudah di jelaskan yah kalau hutangnya sudah di bayar pada tanggal ini," ucap Fiky terhenti saat tangannya menunjuk kolom dan menatap ke arah Dara.


"Astaga dia tertidur?" gumam Fiky menggelengkan kepalanya.


"Permisi Tuan, Nona memang selalu tertidur jika melihat buku." ucap Bi Lilis tertawa melihat ke arah Dara.


"Hah benarkah Bi? mengapa bisa seperti itu?" tanya Fiky yang terheran.


Akhirnya Bi Lilis menjelaskan jika Dara memang sejak kecil selalu tertidur tiap kali belajar dengannya sampai akhirnya Tuan dan Nyonya mengambilkan guru les agar membantunya belajar dengan metode pembelajaran melalui video.


Karena sejak awal Jee menawarkannya untuk membantu Dara belajar tentu kedepannya Fiky harus menyanggupinya.


Akhirnya Fiky yang bingung harus bagaimana hanya bisa menatap wajah Dara yang tertidur pulas di atas meja karena kedua tangannya sudah terjatuh sejak tadi.


Entah ada perasaan apa rasanya Fiky ingin terus menatap wajah manis yang tertidur di hadapannya itu sungguh pemandangan yang indah.


Akhirnya setelah lama Fiky menunggu Dara yang tertidur tidak juga bangun kini Fiky memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


"Bi, apa Dara tinggal bersama Bibi saja?" tanya Fiky yang penasaran.


"Iya Tuan, Bibi yang menjaga Nona Dara karena Tuan dan Nyonya selalu sibuk di luar negeri mengurus usahanya." ucap Bi Lilis.


Fiky yang merasa sedikit kasihan dengan Dara merasakan apa yang Dara rasakan jika seorang anak tinggal dengan kesepian.


Tentu semua yang ia jalani tidak akan mendapatkan semangat karena tidak ada yang mendorongnya untuk sukses kecuali dirinya sendiri.

__ADS_1


"Yasudah Bi, saya pamit pulang duluyah Bi." ucap Fiky dengan sopannya.


"Baik Tuan, hati-hati yah." ucap Bi Lilis.


Kini Fiky sudah melajukan mobilnya pulang sepanjang perjalanan fikirannya terus terbayang wajah Dara yang tertidur begitu manis di hadapannya.


"Astaga mengapa aku terbayang wajahnya terus sih?" gumam Fiky yang kesal dan mengela nafas dengan kasarnya.


Sedangkan di kediaman Syein Biglous tampak sekeluarga yang sepanjang hari hanya duduk berkumpul di ruang tengah tanpa suara candaan lagi.


Mereka terus merasa sedih menunggu kedua anaknya turun dari tangga untuk berkumpul bersama mereka. Sementara di beberapa media sudah banyak pemberitaan yang mulai menanyakan keberadaan pengacara muda yang berjiwa malaikat itu.


Berita begitu tampak ramai menanyakan keadaan Alfy Syein yang sudah lama tidak muncul tiap kali klien ingin bertemu dengannya.


Selalu yang mereka temui adalah pengacara yang lain yang bekerja di bawah pimpinan Alfy Syein, karena itu mereka semakin penasaran untuk tahu di mana seorang Alfy Syein dan apa yang terjadi padanya mengapa begitu lama kehadirannya sudah tidak terlihat lagi.


Alfy yang setiap hari hanya menghabiskan waktu di kamar menemani sang istri tidak pernah mengeluh ataupun marah pada Jee.


Hatinya hanya ingin tetap dekat dengan istrinya meskipun Jee sudah menolaknya terus menerus dan akhirnya ia pasrah saja.


Saat malam tiba pun Jee sering kali menangis berteriak menahan sakit di tubuhnya tidak jarang ia setiap malamnya hanya berteriak tanpa tidur.


Alfy yang ingin sekali memeluk tubuh istrinya selalu di usir oleh Jee, ia tidak ingin suaminya dekat dengannya dan jika Alfy menolak larangannya tentu Jee akan menyuruhnya keluar dari kamar.


Setiap kali Jee menangis kesakitan Alfy hanya bisa memandangnya tanpa bisa menyentuh atau berbicara sedikit pun.


Hanya air matanya yang terus menetes menyaksikan tangisan istrinya yang membuat Alfy setiap malam juga semakin sakit.


Di dalam kamar Jee yang terbaring lemas hanya menatap dengan tatapan penuh kekosongan tanpa menghiraukan kehadiran suaminya.


"Apa sebaiknya aku pulang bersama Mami dan Papi saja?" gumam Jee.


Beberapa hari ini Jee terus berfikir untuk mencari alasan agar bisa keluar dari rumah itu. Ia tidak ingin membebani keluarga suaminya yang begitu tersiksa melihat penyakitnya saat ini.


Jee ingin kembali ke rumahnya lagi bersama kedua orang tuanya dan memulai hidup baru dengan penyakitnya yang entah kapan saja bisa mengambil nyawanya.

__ADS_1


Hai readersku sayang maafyah author updatenya sedikit saja tiap hari semoga kalian tetap setia menunggu episode selanjutnya yah. Tapi author janji setiap hari pasti akan update kok semoga kalian suka dengan ceritanya yah. Terimakasih.


__ADS_2