
Namun ketika berpelukan Jee yang menyadari kehadiran Fiky segera melepas pelukannya dan menatap dalam pria itu.
“Kalian-“ ucapan Jee menggantung karena ragu.
“Pacaran? Tidak kami hanya berteman Jee.” jawab Dara sambil tertawa.
Jee yang mendengar merasa legah beruntunglah kali ini persahabatan mereka tidak akan hancur karena percintaan.
“Tapi aku menyukainya, Jee.” Sahut Fiky yang membuat Dara dan Jee terkejut.
“Kak, benarkah?” Jee tidak percaya.
“Sudahlah dia hanya mengerjaimu saja, Jee.” Tambah Dara yang mengacuhkan Fiky.
Dara hanya tertawa bersama Jee dan ia menanyakan keberadaan Sisil dan Mira yang sejak kedatangannya mereka berdua menghilang. Jee tentu mengerti alasan Sisil mengajak Mira pergi karena melihat Fiky yang begitu dekat dengan Dara.
“Kemana yah mereka?” gumam Jee sambil melemparkan tatapannya ke segala arah.
Namun sayangnya sosok yang ia cari tak kunjung ia temukan sampai akhirnya mereka di kejutkan dengan kehadiran Dokter Adeline yang datang bersama dengan Doker Richard.
“Hai Jee, bagaimana kabarmu?” tanya Dokter Adeline sambil menempelkan pipi mereka secara bergantian dan di saat yang sama berpelukan.
Dokter Richard yang tampak menikmati acara itu mendapat tatapan tajam dari arah kumpulan beberapa pria berjas mewah. Tentu tatapan tajam itu hanya di miliki oleh Alfy Syein yang selalu menangkap mata pria-pria yang ingin memandang tubuh istirnya.
Sementara Jee yang tengah asyik bercerita dengan Dokter Adeline menyadari suaminya yang sudah saling melempar kemarahan pada pria di samping Dokter Adeline.
Akhirnya demi menghindari kemarahan Alfy, kini Dokter Richard memilih mendekat pada sahabatnya dan meninggalkan Dokter Adeline bersama Jee.
Zeyra yang merasa sedikit keram pada perutnya segera berisitirahat di kursi di dampingi oleh Delon dan suster Syanin yang sejak siang setia menjaga Zeyra. Ketulusan suster Syanin dalam merawat pasiennya sangat di yakini oleh Delon dan Jacobie.
“Istirahatlah, aku akan membantu Delon menjaganya.” Ucap Jacobie yang melihat wajah lelah suster Syanin.
“Tidak, ini adalah tugasku. Dan kalian para pria tentu tidak tahu apa-apa tentang wanita hamil.” Bantah suster Syanin yang terkesan mengejek Jacobie.
__ADS_1
Mendengar ucapan ketus wanita itu kini Jac memilih menjauh darinya dan kembali bergabung dengan Alfy dan beberapa pria di sana.
“Jee, aku menghampiri Zeyra dulu yah.” Ucap Dokter Adeline meninggalkan Jacobie.
Biar bagaimana pun perasaan Dokter Adeline masih sama seperti dulu yang menyukai Kakak dari Zeyra. Jee yang di tinggal seorang diri kini berdiri sambil menikmati segelas wine di tangannya sedangkan Dara dan Fiky sudah pergi ke sisi lain untuk menikmati acara malam itu.
Tiba-tiba datang seorang pria berjas warna biru dengan wajah kebule-bulean ia tersenyum ramah pada Jee. Tampaknya pria itu adalah tamu dari luar negeri wajahnya memang sangat muda setara dengan usia Alfy saat ini.
“Apakah anda bersedia berdansa dengan saya?” tanya pria bule itu.
Jee yang melihat suaminya sedang sibuk bertemu dengan sahabatnya yang baru saja kembali ke Indonesia Lusi, Lukman, Andra, dan Fery begitu sangat bahagia. Melihat Alfy yang tidak meliriknya Jee memberanikan diri untuk menerima tawaran pria bule itu.
“Baiklah.” Jawab Jee dengan berbahasa Inggris.
Kini mereka berdua menuju depan panggung untuk ikut bergabung berdansa dengan yang lainnya meskipun sebenarnya Jee merasa ragu untuk menerima ajakan pria itu. Kini perlahan tangan Jee mulai di lingkarkan pada leher pria itu dan mereka mulai berdansa dengan mengikuti alunan musiknya.
Cukup lama mereka berbicara mengenai diri mereka masing-masing, tanpa sadar dari sudut yang berbeda tampak sepasang mata yang sudah menangkap pemandangan panas itu.
Semua pria yang sedang bersama Alfy tampak terkejut ketika Alfy beranjak pergi dari mereka tanpa bicara apa pun. Dan Jee yang saat itu sedang berputar melepas tangan pria bule dengan segera di tangkap oleh suaminya sendiri dan kembali dalam pelukan Alfy.
Tangan kekar Alfy melingkat sangat erat di pinggang istrinya dengan mata yang menatap pada kedua bola mata Jee. Setelah cukup lama mereka berdansa kini Jee kembali memutar tubuhnya dan berposisi membelakangi suaminya dengan kedua tangan yang menyilang di depan perutnya. Alfy memegang kedua tangan Jee dan menempelkan bibirnya tepat di telinga sang istri.
“Beraninya kau membuatku marah.” Suara lirih Alfy yang terkesan mengancam ketentraman Jee.
Jee yang tadinya hanya ingin melihat kecemburuan suaminya menjadi takut dengan ucapan Alfy yang seperti akan melakukan sesuatu padanya.
“Mereka seperti masih pacaran saja yah, Pi.” ucap Nyonya Flora yang melihat tingkah Alfy dan Jee.
“Iya Mami benar, kita juga bisa seperti itu.” sahut Tuan Indrawan yang mengejutkan Nyonya Flora.
“Ih Papi, kita sudah tua sangat malu jika bertingkah seperti itu.” ucap Nyonya Flora yang menyubit lengan suaminya.
Aw Mi, sakit.” rintih Tuan Indrawan.
__ADS_1
Semua mata yang tertuju pada mereka melihat itu adalah pemandangan yang indah tanpa mereka ketahui sebenarnya yang terjadi pada Jee. Alfy begitu pandai menyembunyikan perlakuan kasarnya pada Jee.
Sedangkan pria bule tadi yang melihat tatapan tajam Alfy segera beranjak pergi menjauh karena ia tentu sangat mengenal siapa sosok Alfy Syein.
“Jee apa yang kau lakukan? Mengapa kau bodoh sekali memancing singa yang tertidur sih.” gumam Jee yang menyadari kebodohannya.
Hanya Alfy saja yang tahu apa yang akan terjadi setelah mereka selesai berdansa. Zeyra dan Delon yang tampak menikmati acara mereka tampak saling melempar pandangan. Rasa bahagia begitu terlihat di wajah mereka. Begitu juga dengan Tuan Reindra dan Nyonya Syein yang turut bahagia melihat mereka menikah.
Malam itu acara begitu sangat meriah dan mampu membawa kebahagiaan pada semua para tamu undangan, kecuali Sisil yang kini menangis sepanjang jalan pulang bersama Mira.
“Sil, ayolah berhenti menangis.” Rayu Mira yang merasa sahabatnya sudah sangat berlebihan menangisi seorang pria yang nyata-nyata tidak memiliki perasaan padanya.
“Aku sakit Mira, sudah sejak lama aku menyukai Kak Fiky tapi Dara dengan mudahnya mengambil semuanya.” Ucap Sisil yang memojokkan Dara.
Sampai akhirnya mereka tiba di rumah Sisil dan Mira segera masuk mengantarnya ke kamar dan menemani sahabatnya malam itu.
“Sil, Dara juga tidak tahu tentang perasaan kamu dan bagaimana bisa kamu menyalahkan dia?” tanya Mira.
“Kamu bela Dara yah?” Sisil yang terhenti dari tangisannya dan menatap Mira dengan tajam.
“Bukan membela, tapi Dara kan tidak tahu kamu menyukai Kak Fiky.” Ucap Mira lagi.
Sisil yang menyadari kini terdiam dan kembali membayangkan wajah tampan Fiky yang tersenyum saat bergandengan tangan dengan Dara tepat di hadapannya semakin membuat Sisil sakit.
***
Fiky yang mengantar Dara pulang dari acara tampak sesekali melempar pandangan pada wanita di sampingnya itu.
“Kak Fiky, tolong nyetirnya lihat kedepan dong jangan lihatin Dara terus.” Protes Dara yang takut jika mereka akan menabrak.
Fiky yang mendengar ucapan Dara segera memarkirkan mobilnya ke tepi jalan dan menatap Dara dengan dalam. Dara yang mendapat tatapan itu merasa detak jantungnya begitu kencang tidak beraturan.
“Kak, ada apa?” tanya Dara yang mulai gugup.
__ADS_1
“Apa kau merasakan ini, Dar?” tangan Fiky yang meraih tangan mungil Dara dan meletakkannya pada dada bidang Fiky.