
Di ruang fitnes Alfy dan Jee yang memutuskan untuk menyudahi aktifitas mereka kini melangkah keluar menuju kamar.
“Tunggu, Sayang.” ucap Alfy dengan terburu-burunya menghentikan langkah Jee.
“Ada apa?” tanyanya.
Tanpa suara Alfy yang mendekat ke arah istrinya kini mengalungkan jaket miliknya untuk menutupi tubuh istrinya yang terlihat sangat menggoda.
Jee enggan mengganti baju lagi rasanya dan karena kelelahan akhirnya Alfy yang memaksanya untuk menutup tubuh istrinya dengan jaket. Kini mereka berdua berjalan menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar Jee dan Alfy memutuskan untuk langsung membersihkan diri.
“Diamlah! Biar aku yang memandikanmu.” ucap Alfy yang sudah mulai menelusuri setiap area milik Jee.
“Sudah biar aku saja.” ucap Jee yang menahan tangan suaminya.
“Mengapa?” tanya Alfy datar.
“Aku malu.” jawab Jee yang kini menundukkan kepalanya tanpa mau menatap Alfy lagi.
“Memangnya apa yang belum ku lihat dari tubuhmu ini? yang ini, yang ini, yang ini dan yang ini semuanya sudah ku lihat bahkan bukan hanya ku lihat, kedua tanganku sudah sangat hapal bentuknya dan rasanya.” jelas Alfy panjang lebar.
Jee yang tersadar hanya bisa diam tanpa kata lagi. Alfy yang dengan teliti nya menelusuri setiap lekukan tubuh istrinya membuat Jee sesekali menggeliat karena geli.
Cukup lama mereka berada di kamar mandi sampai akhirnya Alfy memutuskan untuk menyudahi aksinya. Keduanya pun keluar bersamaan dari kamar mandi.
“Jangan memakai baju!” ucap Alfy yan seketika menghentikan gerakan tangan Jee yan baru saja ingin membuka lemarinya.
“Memangnya ada apa?” tanya Jee bingung.
Alfy yang belum sempat memberikan jawaban pada istrinya kini sudah menghempaskan pelan tubuh Jee ke atas kasur. Bibirnya sudah mulai menelusuri setiap area sensitif Jee. Dan kedua kalinya mereka melakukannya lagi hari itu sampai akhirnya mereka selesai dengan keringat yang bercucuran di tubuh keduanya.
“Mmmuah.” Suara kecupan manis Alfy di kening Jee kemudian mengelus lembut kepala istrinya.
“Ayo tidurlah. Setelah ini kita baru berkeliling.” pintah Alfy pada Jee.
Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum betapa bahagianya bisa memiliki suami yang begitu memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu. Menatap wajah tampan Alfy yang sudah menutup kedua mata indahnya Jee hanya tersenyum dalam hati.
Tak bisa di ungkapkan lagi perasaan bahagianya kali ini. Kedua tangannya kembali mengeratkan pelukan pada tubuh kekar suaminya dan ikut memejamkan mata.
Mereka berdua terlelap dengan perasaan berbunga-bunga hari kebahagiaan benar-benar selalu berpihak pada mereka. Meskipun begitu banyak masalah yang harus keduanya lewati tapi tetap mampu membuat Alfy dan Jee lagi-lagi bersatu kembali.
***
“Sya, apa kau tidak mau memperbaikinya lagi?” tanya Zeyra yang saat ini sedang bersama suster Syanin di kamarnya menjaga Zidan.
“Tidak Zey, aku tidak mau bersama orang yang tidak mengharapkan kehadiranku.” jawab suster Syanin dengan wajah menekuk penuh kekecewaan.
Belum sempat ia merasakan kebahagiaan Tuhan sudah lebih dulu mengambil harapan itu.
“Apa kau mencintainya?” tanya Zeyra lagi.
__ADS_1
Suster Syanin yang enggan menjawab justru menjelaskan jika merasa kecewa dengan sikap Jac padanya.
“Aku tidak menyangka jika pernikahan itu hanya karena paksaan dari kalian berdua, ku fikir ia menerima pernikahan itu karena memang awalnya memiliki rasa padaku.” ungkap suster Syanin seolah meminta Zeyra meyakinkan dirinya.
“Hemmm.” Suara hembusan kasar Zeyra yang bingung harus mengatakan apa lagi.
“Tapi yang ku lihat Abangku memang memiliki rasa denganmu, dan kalian itu hanya salah paham saja.” jelas Zeyra lagi.
“Tidak Zey, kau salah. Sebenarnya Jac menyukai Dokter Adeline bukan diriku.” ucap suster Syanin yang kembali mengingat wajah wanita cantik itu.
Zeyra yang mendengarnya tidak percaya kepalanya menggeleng berusaha mencerna apa yang ada di fikiran wanita di hadapannya ini. Bagaimana bisa suster Syanin menyangka Jac menginginkan wanita itu.
“Astaga kebodohan apa lagi ini? jelas-jelas Abangku menyukaimu mengapa kau lagi-lagi membawa wanita luar untuk masuk ke kehidupan kalian sih?” gumam Zeyra yang merasa geram dengan kedua pasangan ini.
Begitu pun dengan Delon yang bersama Jac di kantor.
“Kau benar tidak ingin menikah dengannya?” tanya Delon.
“Tidak.” jawab Jac singkat.
Kini Delon yang berdiri melangkah dari kursi kerjanya mendekat ke arah Jac. “Kau benar tidak mencintainya?” tanyanya dengan tatapan penuh keraguan.
“Apa maksudmu memaksa ku harus mengakui apa?” tanya Jac yang terdengar seakan tahu ucapan Delon.
“Cih tumben pria ini sedikit konek saat di ajak bicara.” gumam Delon yang tertawa dalam hatinya.
“Em aku hanya ingin memastikan saja benarkah kau tidak akan mengambil kesempatan ini untuk menikahinya?” tanya Delon yang memberi pertimbangan pada Jac.
“Tidak mungkin aku harus datang padanya dan mengajaknya menikah secara langsung, ah tidak, tidak itu hal yang memalukan sekali.” gumam Jac yang membayangkan dirinya menemui suster Syanin dan meminta maaf atas ucapannya yang membuat pernikahan mereka batal.
“Ah sudahlah kau urus saja keluargamu, aku bisa mengurus diriku sendiri.” sahut Jac yang tersadar dari lamunannya.
Delon yang tertawa pusing melihat tingkah Kakak iparnya hanya bisa mengikuti alur cerita mereka berdua saja. Sepertinya peran Delon dan Zeyra sudah cukup dalam hubungan mereka.
“Hemm baiklah kalau begitu anggap saja kemarin adalah peran terakhir untukku dan Zeyra membantu kalian, dan kali ini aku ingin lihat seberapa dewasa kalian berdua menyikapi perasaan masing-masing.” ucap Delon yang menyerah dan memilih kembali ke meja kerjanya.
“Benarkah? Mereka tidak akan membantuku lagi untuk bersama Syanin? Apa yang harus ku lakukan kedepannya? Meminta maaf atau melupakannya?” gumam Jac tampak cemas.
***
“Pak, biarkan saya saja yang menyetir mobilnya. Anda bisa istirahat hari ini.” ucap Alfy yang menuntun Jee masuk ke dalam mobil dan kembali ke kursi kemudi.
“Sayang, mengapa tidak memakai supir saja?” tanya Jee tampak bingung.
Alfy yang tersenyum mendengar Jee kini mendaratkan satu kec*pan di bibir merah wanita itu.
“Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu.” jawab Alfy sambil tersenyum kemudian mengemudikan mobil.
Mereka menikmati perjalanan dengan terus tangan Jee memeluk erat Alfy. “Anggap saja kali ini kita berpacaran.” lanjut Alfy yang membuat Jee tertawa geli.
“Apa kau suka liburan kita ini?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Yah tentu saja, aku sangat menyukainya.” jawab Jee dengan penuh semangat. Beberapa kali Alfy terus menci*m bibir istrinya. Mereka tertawa sepanjang jalan.
Di pertengahan jalan Alfy mengatakan sesuatu, “Berjanjilah sekali lagi sayang,” ucapnya membuat Jee mengernyitkan dahi seketika.
“Apa sayang?” tanya wanita itu.
“Kau tidak akn pernah meninggalkan ku.” jelas Alfy yang menatap dua bola mata indah istrinya. Jee kembali tersenyum.
“Aku janji tidak akan meninggalkanmu, Alfy Syein.” ucap Jee mengejek nama suaminya.
“Beraninya kau mengejek suamimu yah?” ancam Alfy yang menatap tajam mata istrinya.
Jee yang tertawa kini mengeratkan pelukannya kembali dan mengec*p pipi suaminya dengan mesra.
“Aku mau anak.” ucap Jee dengan manja.
Alfy yang lelah beberapa kali terus menjelaskan pada Jee akhirnya mengalah dan menganggukkan kepalanya pelan. “Benarkah sayang?” tanya Jee yang tak menyangka.
“Hem.” jawab Alfy terlihat lemas.
Jee yang merasa senang beberapa kali mengec*p pipi suaminya bergantian. “Dua yah sayang, eh tidak, tidak aku kau tiga. Em tidak ah aku mau tiga iya benar tapi kembar.” ucap Jee yang berangan-angan sambil menggerakkan telunjuknya di bibir merah miliknya.
“Iya iya terserah kau saja.” jawab Alfy yang masih dengan wajah lemas.
“Sayangggg awasss....” teriak Jee yang terkejut melihat mobil melintas secara tiba-tiba di depan mereka saat jalan tengah sepi.
Seketika mobil yang mereka kendarai terguling dan kembali tertabrak mobil lainnya lagi. Alfy yang sudah tak sadarkan diri terlihat penuh darah di bagian perut kebawa dan kepalanya hingga menutupi wajahnya.
Sementara Jee yang menatap wajah suaminya meneteskan air mata berusaha meraih wajah suaminya namun ia tak sanggup menggerakkan tubuhnya.
Bayangan di kepalanya kembali berputar melihatkan ia bersama Alfy tengah mengurung anak kembar tiga. Impiannya memiliki anak kembar sepertinya akan sirna hari itu juga.
“Sayang bangun, ayo kita pulang dan beri tahu orangtua kita jika kita berdua siap memiliki anak lagi.” ucap Jee dalam hati yang tidak berdaya lagi menggerakkan tubuhnya. Kini ia hanya bisa menunggu pertolongan sampai akhirnya keduanya tak sadarkan diri di mobil yang terbalik itu.
Setelah beberapa waktu kemudian Jee yang tersadar perlahan membuka matanya. “Dimana aku?” tanya begitu terkejut sama melihat ruangan yang tampak sepi.
“Sayang,” ucap Jee tak kalah terkejutnya saat mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Dengan cepat wanita itu berlari keluar ruangan mencari keberadaan suaminya.
“Maaf Nona, pria yang bersama anda sudah kami pindah ke ruang jenazah.” ucap suster yang menghampirinya.
Kedua kaki Jee mendadak tak bisa di gerakkan, langkahnya begitu berat saat mendengar pernyataan wanita yng baru saja menghampirinya. “Tidak, tidak ini tidak mungkin.” ucap Jee berulang kali menggelengkan kepalanya sambil berderai air mata terus menerus.
Sekuat tenaga ia terus melangkah dengan memegang tembok yang mengarah ke ruang jenazah itu. Ia berusaha memasuki ruang jenazah. “Kau tidak mungkin pergi kan? Kau sudah meminta ku berjanji kan tidak akan meningglakanmu.” ucap Jee sambil melangkah dan akhirnya kini langkah terakhir ia tepat berada di samping jenazah suaminya.
Tangannya bergemetar saat membuka kain penutup wajah tampah suaminya. Jee yang menghembuskan nafas kemudian menarik nafas dalam lagi dan seketika tangannya menarik kasar kain penutup itu.
“Tidaaaaakk, ini tidak mungkin. Sayang bangun ku mohon bangunlah. Aku mohon jangan bercanda seperti ini. Aku tidak akan meninggalkanmu ayo bangun. Kau tidak boleh pergi siapa yang akan memandikanku lagi? Siapa yang menjaga ku? Ayo bangun, Alfy Syein ayo bangun aku meminta mu bangun sekarang juga ayo. “ ucap Jee yang berusaha membuat suaminya kesal sambil terus menggoyang-goyang tubuh Alfy beberapa kali.
Air mata kini sudah berjatuhan membasahi wajah Alfy. Jee yang terus menangis histeris memeluk tubuh suaminya yang terlihat pucat. Ia masih tidak percaya dengan kepergian Alfy secepat itu. Tubuhnya seketika dingin kaku dan kehilangan keseimbangan. Jee yang tersungkur di lantai kini tak tahu lagi harus melakukan apa. Ia hanya seorang diri di tempat itu tanpa keluarga dan kerabatnya.
“Apa yang kau lakukan padaku? Mengapa harus kau yang pergi apa ini yang selalu kau katakan berjanji untuk tidak meninggalkanmu? Jika ku tahu akan seperti ini aku tidak ingin berjanji lebih baik aku yang pergi dan aku yang meminta mu untuk berjanji padaku tidak akan meninggalkan ku.”
__ADS_1
Suara tangis Jee yang pecah memenuhi ruang jenazah itu. Hanya Jee seorang diri tanpa penguat di sisinya lagi