Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Menemani USG


__ADS_3

Melihat semua perlakuan Wenda Nakula hanya perlu membayar dengan senang hati untuk melayani Wenda. Malam itu berlalu sangat cepat kini Wenda beranjak pergi dari rumah sakit bersama Nakula dan tanpa terasa kini sudah pagi.


Semalaman mereka berada di rumah sakit itu untuk melakukan operasi Nakula. Dengan senang Wenda merangkul lengan Nakula yang sedang menyetir.


"Hibur aku selama seminggu." ucap Wenda sambil mengecup leher Nakula.


"Seminggu?" tanya Nakula tampak bingung.


"Iya seminggu, karena aku akan ke Jerman melanjutkan S2 ku nanti aku akan sering-sering menemuimu." jelas Wenda.


Nakula yang mendengarnya hanya berfikir ternyata Tante dan Keponakan tidak jauh beda sama-sama haus akan sentuhan pria.


"Baiklah, aku akan membuat seminggumu tidak akan terlupakan." ucap Nakula dengan tersenyum lirih.


"Benarkah honey?" Suara Wenda sudah mulai berat dengan tatapan mata yang penuh dengan gairahnya.


Tangannya sudah menelusuri beberapa area di tubuh Nakula entah wanita itu benar-benar sangatlah liar. Nakula yang mendapat serangan dari Wenda dengan cepat memarkirkan kendaraannya di parkiran apartemen Wenda.


Tanpa sabaran mereka melakukan hal itu di dalam mobil karena Wenda sudah tidak ingin membuang waktu lagi akhirnya permainan berlanjut cukup lama.


"Tok...tok..tok."  bunyi kaca mobil yang di ketuk security.


Dengan cepat Wenda membuka sedikit kaca mobilnya.


"Ada apa Pak?" tanya Wenda genti sambil menggulung rambutnya.


"Eh Nona Wenda, saya fikir siapa." ucap security yang tampak salah tingkah.


Tanpa sadar ia lupa tujuan utamanya mengetuk kaca mobil itu, dengan cepat Wenda dan Nakula keluar dari mobil lalu masuk ke apartemen menggunakan lift.


Tidak sampai di situ saja kini mereka melanjutkan lagi di dalam kamar dengan brutalnya Nakula terus menyerang tubuh Wenda yang juga tampak menikmati serangan itu.


"Ah rasanya tidak senikmat saat bersama Zeyra," gumam Nakula saat berada di atas tubuh Wenda.


Wajahnya tersenyum jahat menatap Wenda yang tidak fokus dan hanya mengeluarkan suara desahannya.


"Aku jadi merindukanmu Zeyra, tunggu aku akan datang padamu sayang." gumam Nakula yang sepertinya sudah memiliki rencana untuk mencari Zeyra lagi.


Akhirnya setelah setengah hari mereka melakukannya kini terlihat tenaga yang sudah kelelahan. Tidur panjang pun mereka nikmati dengan berpelukan tanpa sehelai kain pun.


Sedangkan Zeyra yang pagi itu sudah berjanjian dengan Delon untuk ke Dokter memeriksakan kandungannya.


"Aku akan membawa Zeyra periksa kandungan hari ini." ucap Delon pada Jacobie yang hendak melangkah ke mobil.


"Jaga dia." jawab Jacobie dengan wajah datarnya.


Delon yang mendapatkan persetujuan hanya tersenyum lalu melangkah ke rumah belakang untuk melihat Zeyra yang sudah siap.


"Kau sudah siap?" tanya Delon.

__ADS_1


"Iya." jawab Zeyra tersenyum.


Zeyra sudah merasa sangat nyaman dengan perhatian yang Delon berikan padanya kini ia tidak pernah berfikir untuk hal yang memusingkan dirinya.


Selagi ia bisa merawat janinnya dengan baik itu sudah hal yang luar biasa untuknya dan ada pria yang begitu perhatian padanya.


Setelah mereka naik ke mobil dan berjalan menuju rumah sakit tanpa sengaja Nyonya Syein dan Tuan Reindra melihat kepergiannya.


"Pah, sepertinya mereka saling menyukai." ucap Nyonya Syein.


"Iya Mah, tapi tetap saja itu tidak akan mudah bagi Delon menerima status Zeyra dan anak itu." jelas Tuan Reindra.


"Iya Papah benar." balas Nyonya Zeyra.


Sedangkan Jee yang kini hanya bisa terbaring di kamarnya dengan wajahnya yang semakin hari semakin putih pucat.


Alfy yang tidak ingin meninggalkannya sedetik pun masih tetap setia bersama Jee menemani hari-harinya sekalipun kadang mereka ribut.


Karena akhir-akhir ini Jee selalu meminta untuk pisah namun Alfy tidak pernah menyetujui permintaan istrinya.


Apapun yang terjadi bagi Alfy mereka tidak akan pernah berpisah sekalipun Jee harus meninggalkannya di titik terkahir perjuangannya melawan sakit, Alfy akan terus berada di sampingnya.


Mereka selalu menghabiskan waktu sepanjang hari di kamar atau hanya duduk sebentar di taman belakang yang menunjukkan kolam renang juga.


Setelah baru sampai di rumah sakit dengan cepat Delon berlari membukakan pintu untuk Zeyra, perlahan wanita itu turun.


Baru saja keluar dari mobil lagi-lagi ia sangat mual karena tanpa sengaja menatap pintu mobil Delon.


Sangat romantis sekali Delon, memang bukan hal yang besar namun pehatian sekecil itu tentu membuat wanita mana pun akan merasakan sangat di cintai.


Dengan sabar Delon terus memijat-mijat leher Zeyra yang terus memuntahakan semua sarapannya tadi. Setelah cukup lama akhirnya drama calon bayi pun berakhir kini Zeyra menuju toilet untuk membersihkan mulutnya.


Delon yang sudah menunggu di depan ruang periksa segera menjemput Zeyra yang tampak melangkah dari luar toilet.


"Ayo Dokter sudah menunggumu." ucap Delon.


"Kau sudah mendaftarkanku?" tanya Zeyra yang tidak percaya.


"Ayolah." ucap Delon sambil tersenyum.


Kini mereka masuk ke ruang periksa dengan tersenyum ramah Dokter dan suster menyambut kedatangannya. Tanpa menunggu lama Dokter segera memeriksa keadaan Zeyra, ia mulai mengolesi benda jelly di perut Zeyra dan menggeser-geser alat periksa itu.


Delon yang menatap layar di samping itu tampak antusias ia tentu tidak sebodoh Tuan Alfy karena sudah mengetahui tentang perkembangan manusia.


Usia kandungan Zeyra sudah menginjak jalan tiga bulan bentuknya sudah mulai terlihat namun masih sangat kecil. Zeyra yang melihat layar itu tersenyum merasa haru sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ibu sekaligus ayah untuk anaknya.


Setelah beberapa lama mereka di periksa kini Dokter kembali duduk dan mempersilahkan Delon dan Zeyra untuk duduk.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Delon.

__ADS_1


"Anda..." ucapan Dokter tidak di lanjutkan.


"Saya suaminya Dok." ucap Delon yang membuat Zeyra terkejut.


"Baiklah, Tuan kandungan Nyonya Zeyra sangat rentan di usia muda ini jadi perlu anda untuk lebih siaga." ucap Dokter.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan kan Dok?" tanya Delon lagi.


"Tidak ada Tuan, semuanya baik-baik saja." jawab Dokter.


Setelah mereka keluar dari ruangan dengan menuju apotik untuk menebus vitamin yang di resepkan pada Dokter. Selesai sudah urusan rumah sakit kini waktunya Delon mengantar Zeyra untuk membeli susu hamil.


Mereka berdua masuk ke dalam toko itu lalu memilih beberapa macam susu, Delon menunjukkan pada Zeyra untuk memilih rasanya.


Akhirnya Zeyra memutuskan mengambil rasa vanila rasa kesukaannya akhir-akhir ini. Delon yang mengetahui kesukaan baru Zeyra begitu antusias membelikan semua yang berbau vanila dari parfum minuman cemila dan kue yang rasa vanila.


Zeyra yang melihat perhatian Delon hanya mampu menikmati saja ia tidak sanggup untuk menolaknya karena memang itu yang ia inginkan.


Kegiatan mereka hari itu pu selesai dan kini menuju pulang ke rumah. Di perjalanan Zeyra yang terus menatap ke arah Delon.


"Kau sejak kapan suka mengantongi kresek?" tanya Zeyra yang akhirnya keluar juga.


"Sejak kau terlihat sangat jelek." ucap Delon yang mengejek Zeyra.


"Ih apaan sih, aku serius." ucap Zeyra yang kesal.


"Iya kau sering mual melihat pantulan wajahmu sendiri sebenarnya aku juga sangat mual karena kau jelek." ejek Delon lagi.


Zeyra yang merasa jadi tidak percaya diri meraba wajahnya ia malu mendengar ucapan Delon wajahnya tampak sedih. Ingin sekali berkaca namun takut jika nanti akan mual lagi.


"Bagaimana jika mulai sekarang aku akan memanggilmu jelek?" tanya Delon sambil tertawa.


"Tidak, aku tidak mau." jawab Zeyra yang cemberut.


"Ayolah namamu terlalu cantik untuk ku panggil, sangat tidak pantas." tambah Delon.


Zeyra yang mendengarnya merasa kesal dan memilih untuk diam dari pada harus bertengkar dengan Delon sepanjang perjalanan.


"Kau marah padaku yah?" tanya Delon yang melihat Zeyra membuang wajahnya terdiam dan menatap ke luar jendela mobil yang tertutup.


Delon yang merasa penasaran dengan pelan ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan lalu mendekat ke arah wajah Zeyra.


Ternyata wanita itu sudah tertidur lelap entah sejak kapan.


"Bisa juga orang kesal tertidur." gumam Delon sambil menatap wajah polos Zeyra.


Ia menatap begitu dalam matanya tampak terhibur melihat pemandangan indah itu, akhirnya Delon mendapat inisiatif lagi untuk memotret Zeyra.


Tentu foto itu akan berguna suatu saat nanti entah untuk apa. Setelah itu kahirnya Delon memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan senyum di wajanya sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Selamat membaca, author minta maaf karena belum bisa buat cerita yang sempurna untuk kalian yah


__ADS_2