
Mata pria bertubuh tinggi itu menatap ke arah Dokter Adeline dengan begitu tajamnya di ruangan itu hanya ada mereka berdua dengan keheningan malam yang mencekam.
"Kau tahu apa yang kau lakukan?" tanya Jac tampak menyeramkan.
"Aku mencintaimu Jac, mengapa kau tidak bisa melihat itu." Wajah Dokter Adeline tampak pucat mendapat pandangan seperti itu matanya berkaca-kaca.
Namun melihat wajah marah itu dengan cepat Dokter Adeline memeluk tubuh pria itu lagi dari arah depan karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Mereka berdua tidak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik mereka dari sudut ruangan itu tampak samar-samar seorang wanita dengan menempelkan tubuhnya di tembok agar tidak terlihat. Tanpa sadar wanita itu meneteskan air matanya dengan cepat ia bergegas pergi dari ruangan itu. Wanita itu adalah suster Syanin melangkah setengah berlari tanpa sadar ia menabrak tubuh tegak seorang pria.
"Sus, ada apa?" tanya pria itu.
"Tidak ada apa-apa Tuan saya permisi." jawab suster Syanin yang terkejut ketika melihat kehadiran Delon.
Melihat tubuh wanita itu yang sudah menjauh darinya tampak membuatnya penasaran mengapa terlihat seperti menangis. Perlahan ia melangkah sambil menggelengkan kepalanya ketika melihat pemandangan di depannya betapa terkejutnya Delon melihat wanita yang sedang memeluk seorang pria.
Kini pertanyaannya sudah terjawab tentu suster itu menangis karena pria itu namun hati Delon tampak tidak yakin benarkan suster Syanin menyukai Jacobie sampai menangis seperti itu. Sepertinya semua orang yang ada di rumah itu terlalu sibuk dengan aktifitas masing-masing sampai tidak mengetahui perkembangan para pekerjanya.
"Ehem." Suara Delon memecah ketegangan antara Jacobie dengan Dokter Adeline.
Melihat kehadiran Delon dengan segera Jacobie melangkah pergi sambil melepaskan pelukan Dokter Adeline di pinggangnya.
Delon melihat itu segera berlari kecil mengejar Jacobie namun di acuhkan oleh pria itu langkahnya semakin cepat tiba di kamar ia langsung menutup kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Wajah Jacobie tampak penuh kebingungan karena mendapat hal yang begitu mengejutkan baginya entah mengapa ia tidak merasa senang ketika mendengar ucapan Dokter Adeline. Padahal Jacobie begitu mengagumi fisik wanita itu mungkin saat ini perasaannya belum begitu jelas karena memang tidak pernah berurusan dengan wanita.
"Jac, bolehkah kita bicara?" teriak Delon dari luar pintu kamarnya.
Mendengar suara itu Jac tidak menjawabnya justru memasang headset di telinganya untuk mendengarkan musik mungkin akan jauh membuatnya tenang.
"Ah ada apa denganku mengapa tidak bisa tenang begini," gumam Jac sambil menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal itu.
Sementara Delon yang dari tadi menunggu jawaban Jac masih tak kunjung mendapatkan akhirnya ia menyerah dan pergi menuju kamarnya.
Di kamar suster Syanin yang masih menangis ia merasa sesak sekali di dadanya kali ini wanita itu berfikir sudah tidak ada harapan lagi untuknya bersama pria itu. Mendengar ucapan Dokter Adeline pada Jac tadi yang belum selesai dan langsung di tinggal membuat suster Syanin semakin salah paham. Ia berfikir jika mereka berdua sudah memiliki hubungan yang resmi malam ini.
__ADS_1
Perlahan wanita itu merebahkan tubuhnya di kasur matanya yang tanpa henti meneteskan air mata dengan tatapan kosong mengarah langit-langit kamar itu sepertinya kali ini ia harus mengambil tindakan sebelum semua semakin menyakiti dirinya. Yah itulah yang suster Syanin fikirkan saat ini bagaimana caranya agar ia bisa menghilangkan perasaan itu pada Jacobie yang sudh mencuri separuh hatinya.
Malam semakin larut dan membuat mata yang dari tadi masih mengeluarkan kristal putih perlahan menutup dengan penuh kesedihan.
"Ah sudah malam sekali ternyata." gumam Alfy saat menatap jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dengan segera pria itu menata rapi beberapa berkas yang baru saja ia selesaikan lalu beranjak pergi dari ruang kerjanya menuju kamar. Sesampai di kamar ia terkejut melihat istrinya yang tertidur di sofa dengan membalikkan kepala di bawah lalu kakinya berada di sandaran sofa itu.
"Istriku, kau sedang apa?" tanya Alfy yang tampak bingung.
"Eh kau sudah datang suamiku hehe." Dengan segera Jee terbangun dari posisi tidurnya yang aneh itu.
"Apa yang kau lakukan barusan?" tanya Alfy masih penasaran.
"Aku bosan sendirian di kamar jadi aku berbalik posisi seperti tadi," jawab Jee sambil tersenyum.
Mendengar jawaban istrinya Alfy tampak heran menggelengkan kepalanya merasa semakin aneh sepertinya keinginan bayinya itu.
"Ayo tidur." ajak Jee menggandeng tangan Alfy menuju kasurnya.
Sambil berhadapan mereka saling melempar tatapan tersenyum, Alfy yang terus mengelus rambut istrinya sesuai keinginan Jee.
"Suamiku." panggil Jee pelan.
"Ada apa?" tanya Alfy.
"Aku tidak suka dengan panggilan kita ini," protes Jee yang membuat Alfy kesal lagi.
"Memangnya kau mau apa?" tanya Alfy dengan merubah posisi mereka kini kepala istrinya di pindahkan dari bantal ke dada bidangnya.
Kini Jee baring dengan memakai dada suaminya untuk bantal tangannya melingkar sempurnah pada perut suaminya.
"Apa kau setuju jika aku memanggilmu Hon?" tanya Jee manja.
"Hon? nama apa itu?" tanya Alfy dengan bingungnya dan alisnya seketika mengkertu ia berfikir itu nama hewan atau yang lainnya seperti dog, pig, dan lainnya itulah yang ada di dalam fikiran pria itu.
__ADS_1
"Yah panggilan untuk kesayangan." jawab Jee dengan santainya.
"Ah tidak...tidak kau mengejekku yah." ucap Alfy yang terdengar kesal.
Melihat ekspresi suaminya di atas kepalanya Jee segera terbangun lalu duduk di samping suaminya tersenyum lalu mengecup pipi pria itu.
"Hon itu maksudnya honey," jawab Jee dengan berusaha sabar.
"Oh itu yasudah sepertinya lucu." jawab Alfy yang seperti malu karena sudah salah mengartikan.
Untung saja ia tidak menyebutkan apa yang ada di dalam fikirannya barusan jika iya tentu pria itu akan merasa malu sendiri telah mengakui dengan sendirinya tentang dunia romantis ia tidak memiliki basic sama sekali.
Jee memang bukan layaknya para wanita yang suka menebar cinta di luar sana namun pengalamannya di dunia pernovelan sangatlah tinggi wanita itu sering kali menghabiskan waktu luangnya dari belajar dengan membaca novel-novel romantis.
Sering kali ia penasaran dengan adegan-adegan romantis di novel itu namun penasaran hanyalah tinggal penasaran untuk wanita itu ia tidak tahu bagaimana mempraktekkannya.
Sampai menikah pun ia masih belum berani mempraktekkan sesuai dengan bayangannya yang ada di dalam novel itu. Tiap kali ia melakukan dengan suaminya hanya sebatas menurut saja yang Alfy lakukan padanya tanpa memiliki imajinasi tersendiri untuk suaminya.
Kini Jee mulai ingat mungkin setelah ia kuliah dan memiliki usaha sendiri kedepannya untuk mengisi waktu luang Jee ingin membuat novel romantis juga tapi itu setelah ia bisa tidak malu lagi pada Alfy. Mungkin dengan mempraktekkan langsung imajinasinya bisa lebih mengerti tentang apa yang harus ia tulis.
Setelah lama berbicara tanpa sadar Jee yang telah kembali bersandar pada dada suaminya telah tertidur lelap perlahan Alfy melihat wajah istrinya karena tidak menyaut ketika di tanya.
"Sudah tidur ternyata dia," gumam Alfy sambil tersenyum lalu mengecup kening istrinya.
Kini pria itu juga ikut memejamkan matanya dengan tenangnya mereka berdua telah tertidur dengan lelapnya ruangan yang sudah gelap dan hanya lampu tidur saja yang menyinari kedua orang itu menambah suasana semakin nyaman untuk bermimpi indah.
Semua orang yang ada di kediaman itu tampaknya sudah terlelap dengan berbagai macam masalah ada yang senang ada juga yang bersedih dan ada juga yang sedang penuh kebimbangan dengan perasaan yang tidak ia pahami.
Sedangkan di tempat lain yah Nona Friska yang masih tidak tenang meratapi nasibnya entah mau bagaimana lagi sepertinya ia sangat salah orang untuk bermain. Selama ini ia menyangkan pria yang menjadi lawannya adalah seorang yang bermurah hati meskipun pada orang jahat.
Entah apa yang ada di dalam fikiran wanita itu sepertinya benar-benar kacau tidak bisa berfikir logis sampai senekat itu membuat permainan konyol.
Tubuhnya bergetar hebat dengan segera wanita itu melangkah menuju laci di ruang kamarnya itu mengambil sebuat tempat kecil sejenis botol dan ada butiran obat dengan cepat ia mengambilnya lalu meminum. Tubuhnya yang mulai mengejang perlahan menjadi tenang kembali.
Setelah beberapa lama meminum obat itu tanpa sadar wanita itu sudah terlelap di kasurnya dengan terlihat sangat tenang .
__ADS_1
Halo readers untuk ceritanya sampai di sini dulu yah sementara semoga kalian suka dengan alur yang author buat jangan lupa untuk dukung terus yah dan votenya jika tidak keberatan hehe. Terimakasih banyak sudah setia membaca dan menunggu update episodenya. Assalamualaikum Wr. Wb