Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Baju Tidak Akan Mempengaruhi Kecantikan Seseorang


__ADS_3

Zeyra yang bercerita pada Delon tentang perilaku Jacobie pada suster Syanin sangat yakin jika sebenarnya dia memiliki rasa.


“Sepertinya tebakanmu kali ini benar.” ucap Delon dengan pertimbangan.


“Tentu saja.” sahut Zeyra.


“Lalu kau meminta ku untuk membantu apa?” tanya Delon lagi.


“Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk membuat mereka bisa bersama.” ucap Zeyra tersenyum.


Delon yang mendengar merasa sedikit ogah karena biar bagaimana pun dulu dia pernah menyukai suster Syanin.


Namun Delon juga tidak tahu sejak kapan perasaan itu hilang.


“Jika mereka bisa bersatu karena ku, lalu aku bagaimana?” tanya Delon.


“Yah mau bagaimana lagi memangnya?” Zeyra yang tampak tidak paham.


“Aku juga sudah lelah jika harus hidup sendiri.” lanjut Delon sambil tersenyum pada Zeyra.


“Baiklah aku akan membantumu.” Mata Zeyra yang mengedipkan sebelah memberi isyarat pada Delon.


Delon yang penasaran. “Benarkah?”


“Bi Umi...” panggil Zeyra sambil menengadahkan kepalanya mencari sosok wanita.


“Iya, ada apa Nona?” sahut Bi Umi sambil berlari kecil mendekat Zeyra dan Delon.


“Bibi single kan?” tanya Zeyra.


“Iya Nona, ada apa yah ? Bibi jadi malu di tanyain begituan.” ucap Bi Umi sambil tersenyum.


“Astaga apa maksud Zeyra ingin aku dengan Bibi?” umpat kesal Delon sambil menatap tajam ke arah Zeyra.


“Bi pergilah ke dapur!” pintah Delon.


“Em...baik Tuan.” jawab Bi Umi.


“Apa-apaan sih? Kau mau aku dengan dia?” tanya Delon pada Zeyra.


Zeyra yang melihatnya hanya tersenyum saja tanpa menjawabnya.


“Habis kau meminta ku mencarikannya, sedangkan aku tidak memiliki teman atau kenalan selain Bi Umi atau suster Syanin.” jelas Zeyra.


Delon menatap dalam ke arah Zeyra ia begitu ingin berbicara jika bisa ia lakukan tanpa rasa ragu.


“Yasudahlah aku pergi dulu.” ucap Delon beranjak dari tempat duduknya.


Melihat kepergian Delon, Zeyra merasa ada yang hilang dari dirinya.


Rumah seketika terasa sangat sunyi tanpa kehadiran Delon.


Kini Zeyra duduk di sofa sambil menatap kosong ke arah televisi.


Di jalan Delon tidak henti-hentinya berbicara bak seorang ibu yang ngomel pada anaknya.


Baru saja mau bicara serius mengapa dia begitu tidak nyambungnya sih? Apa tidak bisa sedikit saja memberi waktu untukku bicara padanya. Dan apa maksudnya menjodohkan ku pada Bi Umi? Apa aku terlalu tua untuknya? Hiss benar-benar kakak dan adik sama-sama menyebalkan.

__ADS_1


Kembali cerita di pulau White,


Sore itu pemandangan begitu mempesona dengan matahari yang mulai menenggelamkan diri dengan mengintip malu-malu.


Warnanya sungguh membuat pulau White begitu indah. Jee dan Alfy yang sudah keluar dari kamarnya terlihat bahagia.


Beberapa lama terlewatkan, kini keadaan Jee sudah semakin membaik.


Tentu sore itu Jee sudah bisa berlari ke sana kemari tanpa kursi yang setia membawanya biasanya.


“Wah senangnya akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ku dengan bebas lagi.” ucap Jee sambil memandangi kedua kaki mulusnya yang terbalut dengan rok mini.


“Kau begitu senang yah?” tanya Alfy.


“Iya, terimakasih yah sudah mengijinkan aku bermain.” ucap Jee sambil memeluk tubuh suaminya di pinggir pantai lalu tersenyum.


“Wah-wah sepertinya ada yang sangat bahagia yah?” tanya Dokter Richard yang menghampiri mereka bersama Dokter Adeline.


“Selamat Nyonya Jee atas kesehatan anda yang semakin maju.” ucap Dokter Adeline sembari tersenyum legah.


“Iya Dokter, eh bukankah aku menyuruhku memanggil namaku saja?” ucap Jee yang mengingat perjanjian mereka.


“Baiklah Jee, kalau begitu panggil aku Adeline saja.” tambah Dokter Adeline.


“Oke.” jawab Jee sambil mengedipkan matanya.


Tanpa mereka sadari Dokter Richard yang terus memandangi Jee dari atas ke bawah sudah mendapat tatapan tidak enak dari Alfy.


“Alfy benar-benar beruntung, gila siapa pun juga pasti mau jika di jodohkan dengan wanita seperti ini.” gumam Dokter Richard.


Alfy yang sudah memperhatikan tatapan memangsa Dokter Richard dengan segera membawa Jee menjauh dari mereka.


“Kita mau kemana?” tanya Jee penasaran.


“Ke kamar.” ucap Alfy dengan tatapan ke depan tanpa melihat istrinya.


“Aaahhhhh aku kan baru saja menikmatinya kenapa kau tega sekali sih?” Jee yang terus merengek pada Alfy meminta untuk kembali.


“Sudah diamlah menurut saja padaku, jika tidak aku akan melahap mu habis malam ini,” ancam Alfy.


“Tapi....” ucapan Jee tergantung merasa tidak percaya diri jika yang di katakan Alfy sesuai dengan pemahamannya.


Jee menebak ancaman Alfy adalah permainan di atas ranjang. Tapi bagaimana jika itu salah tentu Jee malu.


“Kau sudah selesai kedatangan tamunya kan?” tanya Alfy membuat Jee membulatkan matanya.


“Matilah aku, ternyata benar.” ucap Jee dalam hati.


“Iya-iya jika belum juga tidak apa-apa aku tidak akan melakukannya, kau masih belum pulih.” lanjut Alfy yang menebak.


“Ah syukurlah dia tidak tahu.” gumam Jee dengan legah.


Sesampainya di kamar Alfy bukannya menyuruh Jee istirahat tapi justru membawa baju pantai yang sudah di antar oleh pelayan ke kamar mereka.


“Pakai ini!” perintah Alfy sambil menyodorkan baju itu.


Jee yang memperhatikan model baju ini sama sekali tidak tertarik untuk memakainya.

__ADS_1


“Kau menyuruhku memakai baju sebesar ini?” tanya Jee yang terkejut.


“Pakailah jika kau ingin bermain di luar.” jawab Alfy.


Sumpah demi apa baju yang di berikan Alfy benar-benar tidak pantas untuk ukuran tubuh Jee yang langsing. Baju itu berukuran xxl dan menutup dari leher sampai mata kaki tentunya.


“Apa tidak ada model yang lebih baik dari ini?” tanya Jee menawar.


“Tidak.” jawab Alfy yang beranjak keluar kamar.


Ia menunggu di depan kamar beberapa menit Jee keluar mengenakan baju yang ia pilih warnanya sedikit bagus di antara yang lainnya.


Alfy yang menyadari kehadiran istrinya dengan cepat menggandeng tangan Jee melangkah kembali menuju pantai.


Sepanjang jalan Jee terus memegangi bergantian setiap bajunya karena merasa sangat tidak pantas.


“Itu bukankah Jee dan Tuan Alfy?” tanya Dokter Adeline pada Richard.


“Ah bukan sepertinya itu pelayan.” jawab Dokter Richard yang tampak acuh.


“Tidak, itu benar Jee. Ayoo kita kesana!” ajak Dokter Adeline menarik tangan Dokter Richard.


Tanpa sadar Dokter Richard terus memandangi tangannya yang di genggam erat oleh wanita di depannya.


Wajahnya tersenyum senang menikmati pegangan itu.


“Jee ada apa denganmu?” tanya Dokter Adeline tampak heran.


Begitu juga dengan Dokter Richard yang tampak terkejut melihat penampilan Jee memakai baju oversize itu.


“Aku...” ucap Jee yang terhenti karena tidak tahu ingin bicara apa.


“Ia merasa sesak dengan pakaiannya, sepertinya berat badannya semakin naik.” lanjut Alfy dengan wajah kesalnya.


Apa-apaan dengan mengatai berat badanku mulai naik? Bukankah dia yang berat badannya semakin naik? Lalu apa tujuannya menyuruhku memakai baju ondel-ondel seperti ini sih?


Jee terus menggerutu di samping Alfy dengan tatapan kesalnya.


“Jee nanti malam setelah makan kita akan memeriksa keadaanmu lagi yah? Semoga ada kabar baik setelah ini.” ucap Dokter Adeline.


“Iya semoga saja.” jawab Jee sambil tersenyum terpaksa.


Sedangkan Alfy tersenyum licik melihat Dokter Richard.


Meskipun mereka sahabatan tapi jika hal itu mengenai Jee tentu tidak akan ada kata perdamaian bagi Alfy.


“Haha sepertinya jiwa kebodohan Alfy muncul lagi.” gumam Dokter Richard yang menyadari senyuman sahabatnya.


“Baju anda meskipun seperti ini tetap tidak merubah apa pun keindahan yang anda miliki yah?” Dokter Richard yang sengaja membuat Alfy semakin kesal.


“Ah terimaksih Dokter.” jawab Jee tersenyum malu.


Sementara Alfy yang mendengarnya merasa panas di telinganya. Dengan cepat ia membawa Jee ke dalam pelukannya lalu menjauh dari Dokter Adeline dan Dokter Richard.


“Astaga Dokter, kata-katamu semakin menjerumuskan ku ke dalam neraka! Ku mohon berhentilah.” ucap Jee dalam hati sambil mengikuti langkah suaminya yang kini sudah memeluknya sambil berjalan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2