
Happy reading...
Malam yang begitu panjang terlihat semakin gelapnya malam semakin terangnya bintang kesunyian semakin terasa amat dalam kesedihan pun semakin dalam. Seorang pria yang tertidur di dalam mobil tepatnya di pinggir jalan tanpa ada kendaraan satu pun yang melintaws. Entah sejak kapan pria itu tertidur di dalam mobilnya dengan wajah yang sangat berantakan.
Nakula, saat ini ia benar-benar tidak tahu akan berlabuh ke mana kah membawa dirinya yang tidak lagi ada derajatnya di mata orang-orang. Tiba-tiba saja tampak beberapa orang pria yang bertubuh kekar dengan wajah yang sangat menyeramkan mendekat ke arahnya.
"Siapa kalian?" tanya Nakula yang tampak terkejut.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami," jawab salah satu pria itu.
Dengan cepat mereka menarik tubuh Nakula ke tempat yang sulit di jangkau orang lain dan mereka terus memukuli tubuh Nakula yang tidak bisa melawan serangan itu. Nakula yang berusaha membela dirinya selalu mendapat serangan bergantian. Baru saja kedua kakinya ingin berdiri pria lainnya sudah lebih cepat menendang kedua kakinya lagi.
Beberapa kali mereka menginjak perut Nakula sampai keluar darah dari mulutnya, kini wajah pria tampan itu sudah tidak bisa terlihat jelas lagi karena tertutupi dengan darah.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Nakula yang terdengar suara beratnya.
"Kau sudah merusak putri Tuan kami, tentu itu adalah kesalahan besar yang kau lakukan anak muda." jelas salah seorang dari mereka.
"Tidak, aku tidak merusaknya kalian sudah salah...dia jauh lebih buruk dariku." ucap Nakula berusaha membela diri.
Namun seketika matanya terkejut ketika melihat pria yang berdiri tegak di hadapannya sudah menodongkan pistol ke arah kepalanya. Nakula hanya menggelengkan kepala merasa panik tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi matanya begitu redup karena sangat lemah.
Perlahan ia menyeret tubuhnya agar menjauh dari arah pistol itu namun pria yang menodongkan pistol juga melangkah semakin dekat padanya. Beberapa orang di sekelilingnya hanya berdiri menyaksikan pertunjukan yang menegangkan itu.
__ADS_1
Air mata Nakula terus menetes fikirannya baru tersadarkan dengan wajah Zeyra yang tersenyum manis padanya kali ini kesadarannya sudah mulai kembali. Ia mengingat semua kejahatan yang di perbuat pada Zeyra yang begitu tulus mencintainya.
Bagaimana bisa Nakula setega itu pada wanita yang benar-benar mencintainya sampai rela memberikan semua yang ada pada dirinya. Tidak mudah tentu untuk mendapatkan wanita yang sebaik Zeyra namun kesalahan sudah terlanjur menumpuk dan tidak akan mungkin ia bisa mendapatkannya lagi.
Mata Nakula penuh dengan tatapan kosong fikirannya terus memutar tentang memorinya bersama Zeyra yang sebenarnya tidak sama sekali ia inginkan pada saat itu. Mengingat saat ini Zeyra sedang mengandung anaknya semakin membuat Nakula terasa sakit.
"Zey, maafkan aku telah membuat dirimu hancur sehancur-hancurnya aku benar-benar menyesal aku sama sekali tidak menyadari perbuatanku, aku mohon maafkan aku, aku tidak bisa pergi tanpa maaf darimu Zeyra. gumam Nakula sambil menatap kembali ke arah pistol itu.
Kini pria yang sudah menodongkan pistol mulai menekan dan tembakannya tepat sasaran di kening Nakula tanpa terarah miring sedikit pun.
"Tidak....." teriak Nakula dan matanya terbulat sempurna.
"Astaga, ini hanya mimpi." ucap Nakula yang melihat keadaannya masih berada di dalam mobil.
Matanya terasa dingin seketika tangannya mengusap dan benar kali ini Nakula bermimpi sampai menangis di luar mimpinya. Nafasnya begitu memburu merasakan tegang yang belum bisa membuatnya legah karena mimpi buruk yang baru saja ia lalui.
Apa sebaiknya aku memperbaiki semuanya sebelum terlambat? tapi jika aku meminta maaf pada mereka apakah mereka akan memaafkanku? sepertinya tidak akan mudah bagi mereka menerima maaf dariku setelah apa yang aku perbuat di belakang mereka semua. Dan yah aku sadar betapa buruknya diriku ini tidak akan pantas untuk mendapatkan maaf dari mereka. Tapi jika aku tidak meminta maaf rasanya benar-benar belum bisa membuatku tenang.
Nakula semakin berfikir keras untuk mempertimbangkan keputusannya, ingin lari dari semua ini tetapi langkahnya terasa begitu berat karena masih ada rasa bersalah yang amat besar. Terutama pada keluarga Syein Biglous, bagaimana pun Tuan Reindra adalah paman yang sudah berusaha mendidik Nakula sejak kecil bersama sepupunya yang lain.
Mereka semua bersatu menjadi pengacara karena tujuan utamanya membantu para orang-orang yang mengalami ketidak adilan. Tapi apa yang Nakula perbuat di belakang mereka, bukannya membantu untuk keadilan justru ia sibuk untuk mengganti posisi Alfy yang menjadi pimpinan utama Syein Biglous.
Bukan tanpa alasan Alfy Syein menjadi pemimpin di group mereka, itu semua karena memang kemampuan Alfy yang sangat di akui setiap mendapatkan kasus dan berkat kerja kerasnya juga mereka bisa berkumpul menjadi satu di gedung itu.
__ADS_1
Akhirnya setelah Nakula berfikir keras malam itu, kini ia kembali tertidur dengan keadaan yang masih berkecamuk dengan perasaannya.
Kini mentari pagi datang menyambut dengan sinarnya yang begitu mengejek hati para makhluk di bumi ini yang masih saja terlihat gelisah, sementara ia yang datang hanya sesaat meskipun berulang kali mampu memberikan ketenangan pada diri kita masing-masing. Saat ia datang kembali manusia hanya di berikan kesempatan untuk memilih jalannya saat itu untuk selamanya. Melanjutkan tidur yang panjang dengan mimpi atau akan bangun untuk mengejar mimpi.
Di kediaman Syein Biglous yang sudah terlihat Alfy dan keluarganya tengah sarapan di meja makan tampak sangat tegang. Mereka semua menyadari raut wajah Alfy kali ini tidak setenang biasanya, meskipun ia sangat cuek namun untuk wajah mereka tentu bisa membedakan saat Alfy gelisah dan saat ia sedang marah.
Tuan Reindra dan yang lainnya menyadari kehadiran Jee tidak ada di meja itu, semua tampak khawatir jika Jee dan Alfy sedang ada masalah lagi.
"Fy, kemana istrimu?" tanya Tuan Reindra dengan nada pelan.
"Jee masih tidur, Pah." jawab Alfy singkat.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Nyonya Flora.
Alfy yang meyadari kekhawatiran orangtuanya hanya mengangguk lalu beranjak dari kursinya dengan meraih tas kerjanya. Di depan Delon dan Jacobie yang sudah terlihat menunggunya untuk berangkat ke kantor bersama, namun belum sempat Alfy masuk ke mobil kini terlihat seorang pria yang tampak menyedihkan datang.
"Mau apa kau kemari?" tanya Alfy dengan tatapan tajamnya.
Yah pria itu adalah Nakula, sejak semalam ia bermimpi buruk fikirannya sudah tidak bisa tenang dan ingin segera datang ke kediaman Syein Biglous.
"Tolong..." ucap Nakula yang terdengar ragu untuk berbicara.
Alfy yang keadaannya saat itu sangat tidak terkontrol segera menghajar Nakula yang di mulai dari mendaratkan pukulan pada wajah pria itu. Nakula yang belum sempat melindungi diri dari Alfy sudah tersungkur ke lantai dan tersandar di roda mobil Alfy.
__ADS_1
Tubuh Nakula begitu terlihat lemas dengan wajahnya yang sudah mengeluarkan lebam di bawah matanya. Dengan cepat Delon meraih tangan Alfy namun Alfy lebih keras menyingkirkan tangan Delon. Alfy mulai menghajar kembali Nakula yang masih tersungkur di bawah tanpa perlawanan.
Bersambung...!