Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Istriku Tidak Akan Ku Relakan Menjadi Bahan Bicara Pria Mana Pun


__ADS_3

Mobil mewah Delon kini sudah terparkir dengan sempura di halaman rumah Zeyra namun saat Delon hendak bergegas turun dari mobilnya ia tersadar ketika melihat Zeyra yang sudah tertidur dengan bersandar di pundaknya.


Delon hanya tersenyum melihat tingkah Zeyra yang semakin dekat padanya ada rasa senang tersendiri dan tenang. Kini Delon berniat untuk menggendong Zeyra masuk ke dalam rumah, Bi Umi yang menyadari kehadiran Tuannya dengan cepat menyambut Delon.


"Nona Zeyra tidur, Tuan?" tanya Bi Umi.


"Iya Bi." jawab Delon sambil melangkah masuk.


"Wah manisnya mereka." gumam Bi Umi yang menatap punggung Delon saat melangkah masuk ke kamar Zeyra dengan menggendongnya.


"Eh." ucap Zeyra yang terkejut karena menyadari ia di gendong oleh Delon.


Dengan cepat Zeyra berusaha menjatuhkan tubuhnya dari gendongan Delon dan berdiri di dekat kasurnya sambil menunduk malu.


"Seperti anak kecil saja tukang tidur." ucap Delon.


"Maaf." jawab Zeyra yang tertunduk.


Delon yang melihatnya hanya tersenyum sambil mengusap kepala Zeyra dengan kasarnya kemudian bergegas keluar kamar.


Wajah wanita cantik itu tersenyum malu-malu sambil memejamkan matanya lalu melempar tubuhnya untuk mendarat ke kasur empuknya.


Zeyra yang memejamkan matanya merasa senang mendapat perhatian dari Delon rasanya bahagia sekali, berbeda ketika ia mengingat hubungannya dengan Nakula.


Namun beberapa menit kemudian wajahnya berubah menjadi sedih lagi mengingat kejadian saat di kantor tadi.


Matanya mulai meneteskan kristal bening yang kini membasahi pipi mulusnya, tangannya perlahan memegang perutnya yang terlihat buncit.


Pandangan Zeyra tertuju pada perutnya sambil terus menangis. Rasa sesak di dadanya begitu tidak bisa tertahan lagi.


Tidak memiliki Ayah untuk mu Ibu rela sayang, tapi apakah Ibu juga tidak akan memiliki paman untukmu? mengapa semua terjadi bersamaan seperti ini. Hanya kau satu-satunya yang Ibu miliki sekarang berjanjilah saat ini sampai nanti kau tidak akan meninggalkan Ibu sendirian.


Zeyra yang berbicara sambil terus mengelus perutnya begitu tidak menyangka dengan kehidupannya saat ini begitu sangat pahit rasanya.


Jauh dari bayangannya selama ini, menjadi wanita karir tentu akan membayangkan kehidupan yang bahagia dengan pasangannya. Namun semuanya terjadi tanpa bisa ia kendalikan dan membuatnya terjerumus di jalan yang buntu tanpa bisa keluar.


Tangannya segera meraba ponsel di tas kecilnya dan mencari nomor seseorang lalu menelfonnya.


"Halo," ucap wanita di seberang sana.


"Hiks...hiks...hiks." tangis Zeyra pecah tanpa bisa bicara lagi.


"Zey, apa yang terjadi?" tanya wanita itu dengan paniknya.


Dia adalah suster Syanin yang begitu sangat dekat bagi Zeyra padanya selain Jacobie dan Delon saat ini.


"Halo... Zey katakan ada apa." ucap suster Syanin.


Menunggu cukup lama namun Zeyra yang terus menangis membuat suster Syanin tidak bisa sabaran akhirnya meminta Zeyra untuk mengirim lokasinya saat ini.


Kebetulan saat itu suster Syanin piket malam di rumah sakit tentu ia bisa menjenguk Zeyra walau hanya sebentar yang penting ia memastikan jika Zeyra baik-baik saja.


Dengan cepat Zeyra mengirimkan lokasi pada suster Syanin lalu kembali berbaring di kasur sambil terus menangis. Kesedihan Zeyra sudah bisa di rasakan oleh bayi yang ada di kandungannya dan membuat Zeyra terus mengelus perutnya karena terasa sedikit ngilu.


Entah mengapa hal itu bisa terjadi namun seperti yang orang-orang kebanyakan katakan jika anak tentu akan sangat peka pada hati Ibunya.


"Sya." ucap Delon yang terkejut melihat kehadiran wanita manis itu di depannya.


"Delon." jawab suster Syanin yang juga terkejut melihatnya berada di rumah itu.

__ADS_1


Setelah saling memandang cukup lama akhirnya suster Syanin memecah ketegangan di antara mereka dengan berdehem.


"Eh... kau sedang apa?" tanya Delon yang tersadar dari lamunannya.


"Zeyra tadi menangis saat menghubungiku, dan mengirimkan lokasi ini padaku." jelas suster Syanin.


Akhirnya Delon mengantarkan suster Syanin ke kamar Zeyra dengan wajah datarnya. Perlahan mereka berdua mendekat lalu masuk ke kamar Zeyra.


"Zey, apa yang terjadi?" tanya suster Syanin yang terkejut melihat Zeyra menangis begitu sedihnya.


Tanpa menunggu lama Zeyra segera memeluk suster Syanin sambil terus menangis, Delon yang melihatnya merasa tak kuasa hatinya begitu sakit melihat wanita di hadapannya bersedih.


Namun kali ini Delon harus bisa menahan diri karena bukan hanya ada mereka berdua tetapi ada suster Syanin di kamar itu.


Di sisi lain, terlihat tiga wanita yang sedang melakukan panggilan video mereka adalah Dara, Sisil, dan Mira. Ketiganya tampak begitu semangat bercerita sampai akhirnya Sisil yang merasa bosan berbicara melalui ponsel mengajak mereka untuk bertemu.


"Bosen nih, kita ke mall aja yuk." ajak Sisil.


"Gue sih oke-oke aja." ucap Mira.


"Aduh sepertinya kalian aja yah, hari ini adalah jadwal aku belajar." tolak Dara dengan wajah yang tampak mengernyit.


Mira dan Sisil terkejut mendengar penolakan dari Dara karena biasanya Dara selalu paling suka tiap di ajak shoping dan sekarang ia lebih mengutamakan belajar.


"Sejak kapan shoping bisa terkalahkan dengan belajar, Ra?" tanya Sisil mengejek.


"Em sejak Kak Fiky jadi guru aku hehe." jawab Dara dengan senangnya .


"Deg." suara jantung Sisil terhenti seketika mendengar nama Fiky di sebut oleh sahabatnya.


Dengan segera ekspresi Sisil berubah menjadi kesal dan langsung mematikan sambungan panggilan video itu tanpa bicara.


"Iya, kok langsung main matiin aja sih." sambung Dara yang tidak tahu apa-apa.


Di rumah, Sisil yang sudah menangis terus memukuli bantal kekecewaannya pada Dara kini mulai menguasai dirinya.


Sepertinya Sisil memang sangat serius memiliki perasaan pada Fiky dan kemarahannya benar-benar terlihat saat mengetahui Dara menyebut nama Fiky.


"Tring...tring...tring." Suara ponsel Sisil berdering menampikan layar nama Dara.


"Kenapa Sisil tidak mengangkatnya?" gumam Dara bingung.


"Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi, kita musuh." gumam Sisil sembari menatap tajam ke arah ponselnya.


Di pulau White kini tampak dua pasangan yang sedang asyik tertawa sambil menikmati suasana pantai terlebih lagi Alfy dan Dokter Richard yang sedang mengipas ikan bakar.


"Manisnya." ucap Jee menatap kagum melihat suaminya begitu tampan yang tengah sibuk mengipas-ngipas bakarannya.


"Iya, mereka sungguh manis Nyonya." lanjut Dokter Adeline yang tersenyum.


Jee yang entah sejak kapan merasa risih dengan panggilan Dokter Adeline padanya mengerutkan dahinya.


"Dok, bisakah anda memanggil saya Jee saja?" tanyanya.


"Tapi Nyonya itu sungguh tidak sopan," ucap Dokter Adeline.


"Ayolah, jika anda memanggil saya seperti itu rasanya ada jarak antara kita." lanjut Jee sambil tersenyum memohon.


"Baiklah Nyo- eh Jee." ucap Dokter Adeline.

__ADS_1


Sedangkan Alfy yang tengah sibuk mengurus bakarannya kini sambil bercerita dengan Dokter Ricahrd tanpa terdengar oleh para wanita mereka.


"Jadi kapan kau akan melamarnya?" tanya Alfy pada Dokter Richard.


"Aku masih ragu bagaiaman jika ia menolakku?" ucap Dokter Richard.


"Soal hasil nanti kau fikirkan, yang terpenting usaha dulu." tegas Alfy.


Alfy dan Dokter Ricahrd memang sudah saling bercerita tentang kehidupannya dan semua tentang orang-orang di sekelilingnya.


FLashback on


"Jadi aku dan Jee awalnya tidak tahu jika kami sudah di jodohkan dari kecil." ucap Alfy mengakhiri ceritanya.


"Aku sedih sekali karena orangtuaku tidak mengurus jodoh untukku, kau beruntung." tambah Dokter Richard yang terdengar aneh.


"Bukankah kau senang jika bisa mencari jodoh sendiri?" tanya Alfy.


"Tapi jika calonku seperti istrimu tentu aku tidak akan menolak, mungkin aku justru meminta di cepatkan meskipun masih kecil mungkin aku memaksa orangtuaku." jelas Dokter Richard yang tanpa sengaja membuat kemarahan di wajah Alfy.


Tanpa bisa menahan tangannya kini Alfy sudah mencengkram erat kedua kera baju Dokter Richard dan menindih tubuhnya.


"Kau mau mati yah?" tanya Alfy dengan nada suara yang tinggi.


"Ayolah aku hanya berandai, tidak mungkin aku mengambil istrimu." ucap Dokter Richard yang tampak heran.


Entah sejak kapan Alfy bersikap aneh seperti itu membuat Dokter Richard menggelengkan kepalanya sahabatnya ini sudah sangat jauh berubah ternyata.


"Aku tidak mungkin memikirkan istrimu, aku mencintai-" ucapan Dokter Richard menggantung.


"Mencintai siapa?" tanya Alfy penasaran dengan melepaskan cengkramannya tadi.


"Ah sudahlah lupakan saja." ucap Dokter Richard.


"Jika kau tidak menjawabku, aku akan mengirim spead untuk membawamu keluar dari pulau ini dan kau tau tentunya ini adalah tempat kekuasaanku." ucap Alfy dingin.


"Heh...iya-iya aku jelaskan." ucap Dokter Richard mengalah.


Kini ia menceritakan jika sebenarnya sudah lama ia mengagumi Dokter Adeline yang saat itu kuliha bersama di Jerman.


Namun sampai saat ini Dokter Richard tidak berani menyatakan perasaannya pada wanita yang membuatnya selama ini terus terbayang wajah cantiknya.


Sampai akhirnya Dokter Richard memperlihatkan foto Dokter Adeline di ponselnya dan tentu hal itu membuat Alfy tertegun karena jelas ia mengenal wanita itu.


"Jadi wanita ini yang kau gilai sampai seperti ini?" tanya Alfy.


"Tentu saja." jawab Dokter Richard santai.


Alfy tidak menyangka jika sahabatnya menggilai Dokter yang merawat istrinya saat ini, kepalanya hanya menggeleng memikirkan betapa sempitnya dunia ini.


Flashback off


Akhirnya setelah menunggu lama kini Alfy dan Dokter Richard sudah selesai memanggang ikan dan membawanya ke hadapan kedua wanita cantik itu.


"Setelah kami makan, kau bisa selesaikan urusanmu." ucap Alfy memecah tawa di antara mereka.


"Urusan apa ?" tanya Jee yang penasaran.


"Sudahlah ayo kita makan." ajak Alfy mengacuhkan pertanyaan istrinya sambil menatap ke arah Dokter Richard.

__ADS_1


Wah semakin banyak ceritanya yang bikin penasaran sepertinya yah? Semoga kalian masih setia yah menunggu episode berikutnya.


__ADS_2