
Hari sudah semakin malam Jee yang baru saja terbangun kini menatap wajah di hadapannya yang sudah tersenyum manis.
Siapa lagi jika bukan Alfy yang menunggunya sejak tadi sambil beberapa kali mengecup keningnya Jee hingga wanita itu merasa aneh dan memilih untuk bangun.
Menyadari waktu sudah makan Jee begitu terkejut ia mengingat jika tugas kuliahnya belum selesai dan masih banyak.
"Astaga..." teriak Jee yang beranjak dari kasur dan berlari ke arah meja di kamar itu.
"Ada apa Han?" tanya Alfy yang bingung.
Setelah Jee melihat lembaran terakhir di kertas itu wajahnya bingung sambil menebak-nebak.
"Apa kau yang sudah mengerjakannya?" tanya Jee.
"Ehem." jawab Alfy tersenyum dengan mengerutkan alisnya.
Dengan membalas senyuman suaminya Jee melangkah pelan ke arah Alfy dan duduk di pangkuan suaminya yang masih terduduk di atas kasur.
"Cup..." Suara kecupan Jee pada pipi suaminya.
"Terimakasih Han." ucap Jee sambil mengalungkan kedua tangannya di leher suami tampannya.
"Apa hanya ituyah ucapan terimakasihmu?" tanya Alfy menggodanya lagi.
"Memangnya kau mau apa?" tanya Jee balik dengan bingungnya.
"Seperti yang tadi lagi mungkin." jawab Alfy mengedipkan matanya.
"Ahh aku capek, Han." Wajah Jee seketika merengut.
Alfy yang tersenyum melihat istrinya manja hanya tertawa lalu kembai merebahkan tubuh mereka kembali ke kasur lalu berpelukan.
"Aku besok ingin kuliah tapi tidak ingin ada yang menjagaku." Jee memecahkan kemesraan itu seketika.
Alfy yang mendengar keinginan istrinya dengan cepat menatap kaget pada Jee ia tentu tidak akan mengijinkan istrinya itu untuk sendirian.
"Tidak." ucap Alfy dengan singkatnya.
Jee yang mendengar itu dengan cepatnya meneteskan air matanya mungkin itu keinginan bayinya kali ini karena biasanya ia tidak pernah keberatan dengan pengawasan Alfy.
"Mengapa kau ingin sekali sendiri?" tanya Alfy yang merasa tidak tega melihat istrinya menangis.
"Entahlah mungkin ini keinginan baby kita, Han." jelas Jee yang masih terisak-isak menahan suara tangisnya.
__ADS_1
Cukup lama Alfy memikirkannya ia begitu berat melepaskan istrinya namun jika mau bagaimana lagi ini semua keinginan anak di dalam perut istrinya.
Setelah mengingat-ingat belakangan ini semua masalah sudah teratasi dengan baik tentu Alfy paham jika sudah tidak ada lagi yang mengincar keselamatan istrinya.
"Baiklah kau boleh pergi sendiri." jawab Alfy dengan wajah tidak iklasnya.
Jee yang mendengarnya dengan tersenyum mengusap air mata yang membanjiri pipi mulusnya itu dengan cepat ia memeluk erat tubuh suaminya.
"Benarkah?" tanya Jee berusaha meyakinkan pendengarannya lagi.
"Iya." jawab Alfy singkat.
Akhirnya wajah Jee sudah tidak menangis lagi ia ingin malam itu cepat berlalu dan besok bisa membawa mobilnya lagi sendiri menuju kampus.
Sungguh kasian wanita itu sangat menginginkan kehidupannya di masa muda dengan menikmati kebebasan namun sayangnya pernikahan sudah lebih dulu menghampirinya.
Meskipun kehidupannya tidak bebas lagi ia tetap bersyukur memiliki suami sehebat dan setampan Alfy yang selalu menyayanginya.
Sementara di kediaman mewah Narendra entah pria itu sejak kapan tidak pergi bekerja sepanjang hari hanya menatap wajah Jee di layar ponselnya.
Narendra mengambil foto itu saat Jee berada di dalam kamarnya dengan keadaan pingsan sejak itu ia memiliki perasaan semakin dalam pada istri Alfy.
"Aku tidak boleh menyerah." ucap lirih Narendra.
Pria itu berusaha menguatkan dirinya dan meyakinkan untuk bisa mengambil Jee dari tangan Alfy.
"Baik Tuan." jawan pria itu.
Wajah Narendra menatap tajam ke depan tanpa arah ia membayangkan apa yang harus di lakukan besok rasanya sudah tidak bisa lagi menahan waktu ingin bertemu dengan Jee.
Tentu sangat sulit bagi pria asing bertemu dengan Jee sedangkan Fiky yang sangat dekat dengannya saja sama sekali tidak bisa bertemu dengannya kecuali di dalam kelas.
Malam semakin gelap di rumah sakit Zeyra yang baru saja terbangun melihat sosok wanita yang entah sejak kapan berada di sampingnya.
"Suster?" tanya Zeyra yang tampak heran.
"Kau sudah bangun, Nona?" tanya suster Syanin sembari tersenyum.
Zeyra yang tampak menatap ke segala ruangan itu merasa bingung mengapa ia bisa di rumah sakit sedangkan terkahir ia ingat berada di dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi, Sus?" tanya Zeyra.
"Tidak apa-apa Nona, anda hanya mengalami masa kehamilan awal." jelas suster Syanin dengan perlahan.
__ADS_1
Zeyra yang tidak percaya mendengar kabar itu melongo tidak percaya beberapa kali ia menggelengkan kepalanya air mata yang entah sudah sejak kapan menetes.
"Tidak...tidak ...sus." ucap Zeyra yang tidak percaya.
"Nona, tenanglah." ucap suster Syanin yang mulai panik.
Suster Syanin perlahan mendekat dengan meraih tubuh Zeyra dengan lembut ia memeluk wanita itu sementara Zeyra terus menangis histeris.
Kini Zeyra hanya bersandar lemas di dada suster Syanin ia terus menangis sambil meremas perutnya tentu saat ini Zeyra sangat tahu penyesalan apa yang di rasakan.
Mengingat kejadian saat bersama Nakula dari awal di apartemen sampai perpisahannya di pulau bagaimana bisa ia tidak memikirkan yang telah ia lakukan.
Dan saat ini tibalah waktunya hal itu menjadi penyesalannya seumur hidup telah menyerahkan semuanya pada pria yang tidak ia ketahui kebenarannya.
Di kantor Syein Biglous tampak dua orang pria di sebuah ruangan mereka tengah sibuk dengan laptop masing-masing.
Namun wajah Jacobie terus melirik ponselnya ia merasa seperti ada yang akan menghubunginya entah itu perasaan atau keinginan.
Tampaknya pria itu bukan menunggu kabar Zeyra melainkan menunggu suster Syanin untuk menghubunginya duluan.
"Mengapa tidak juga menghubungiku sih?" gumam Jacobie dengan raut kesalnya.
Pria itu merasa kesal saat mengingat Delon telponan dengan suster Syanin lagi-lagi ia membandingkan dengan dirinya yang sama sekali tidak di hubungi oleh wanita itu.
Suster Syanin yang merasa tubuh Zeyra semakin melemah dengan cepat ia mengirimkan pesan singkat pada Jacobie.
Jacobie yang mendengar ponselnya bergetar di meja dengan tidak sabarannya meraih benda kecil itu seperti mendapatkan harta karus.
Begitu cepatnya pergerakan tangan membuka pesan itu wajahnya tampak penasaran dan penuh harap.
Namun harapan itu sirna saat melihat pesan yang memberi tahu kabar Zeyra yang sudah sadarkan diri, pria itu tampak kecewa karena harapannya sebenarnya ingin mendapat pesan basa basi dari suster Syanin.
Astaga Jac mengapa kau terlalu menggemaskan sih kau kan pria bagaimana bisa seorang wanita yang harus menghubungimu duluan.
Mau sampai kapan kau akan bersikap konyol seperti itu jangan sampai nanti kau menyesal setelah suster Syanin merasa lelah menunggumu dan lebih menerima Delon yang lebih agresi darimu.
Ayolah tunjukkan dirimu jika kau pria Jac, jangan membuat seorang wanita menunggu ketidak pastianmu ini.
Delon yang dari tadi memperhatikan ekspresi Jacobie tampak menggelengkan kepala tidak mengerti melamun tidak jelas dan sesekali meraih ponsel seperti ingin menghubungi seseorang namun ragu.
Beberapa kali Jacobie mengambil perlahan ponsel dari meja itu namun saat akan membuka layar ponsel ia kembali menaruh ke atas meja lagi.
Suster Syanin yang berusaha menenangkan Zeyra kini berhasil dan akhirnya Zeyra kembali tidur lagi sepertinya kondisinya saat ini masih tidak begitu kuat.
__ADS_1
Halo semuanya maafyah hari ini author kurang updatenya soalnya lagi tidak enak badan harap pengertian kalian yah semoga kalian tidak bosan menunggu dan tetap menjadi pembaca setia novel ini.
Terimakasih sudah menunggu update dari cerita ini yah.