Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kembali Ke Habitat


__ADS_3

Delon merasa ada yang tidak beres dengan ini semua segera menghubungi Alfy yang masih berada di pulai White.


“Bangun...” ucap Jee yang menggoyang-goyangkan tubuhn Alfy.


“Aaahh...nanti dulu aku masih ingin tidur.” Jawab Alfy yang masih ingin bermalas-malasan.


"Astaga ayolah." ucap jee memaksa Alfy.


"Emmm..." suara Alfy sambil menunjuk-nunjuk bibirnya.


Jee yang melihat tampak mengerti, dengan cepat ia mengec*p bibir suaminya untuk bisa menyadarkan Alfy dengan cepat namun hal itu nyatanya tidak membuat Alfy bangun. Merasa kesal akhirnya Jee beranjak mengambil ponsel suaminya.


“Ponselmu berbunyi dari tadi, sepertinya ada yang penting.” Jelas Jee.


Dengan segera Jee menjawab telefon dari Delon. “Ada apa?” tanya Jee.


“Ada masalah pada klien, bisakah aku bicara dengan Tuan?” tanya Delon yang terdengar buru-buru.


Dengan cepat Jee membangunkan Alfy dan memberitahu jika ada masalah, mendengar kata masalah seketika mata Alfy membulat dengan sempurna.


“Katakan.” Ucap Alfy yang khawatir.


Dengan segera Delon menceritakan tentang kehilangan barang bukti klien mereka dan waktu sudah sangat mepet untuk mencarinya lagi.


“Sial.” Teriak Alfy yang segera memutuskan sambungan telfon itu.


“Ada apa?” tanya Jee.


Alfy yang tampak berfikir keras kini mau tidak mau harus kembali ke Kota untuk menyelesaikannya sendiri. Tanpa menunggu lama mereka segera bergegas meninggalkan pulau itu dengan spead yang langsung menuju Kota tanpa melewati dermaga ujung pulau dulu.


Alfy bersama Jee dan juga kedua Dokter itu kini sudah tiba di kediaman Syein Biglous. Mereka lagi-lagi terkejut melihat kedua orangtuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga seperti saat Jee dan orangtuanya tinggal di rumah itu.


Namun Alfy yang tersadar dengan masalah kerjaan kini mengacuhkan rasa penasarannya dan segera mengecup kening Jee lalu melajukan mobilnya ke kantor polisi.


“Kalian kenapa pulang tiba-tiba?” tanya Tuan Reindra yang kecewa.

__ADS_1


“Papah kok tidak senang kami pulang cepat?” Jee bertanya kembali saat melihat raut wajah Tuan Reindra.


Tentu kepulangan mereka bukan hal yang di harapkan oleh Tuan Reindra dan Tuan Indrawan. Karena mereka sangat berharap jika waktu dekat ini Jee hamil namun kenyataannya tidak seperti yang mereka harapkan.


Kini Jee yang sudah ikut bergabung duduk bersama kedua Dokter hanya mendapat tatapan aneh dari keluarganya.


“Jee sejak kapan pakaianmu sebesar ini?” tanya Nyonya Flora sambil memegang baju ondel-ondel yang Jee pakai.


 


Wajah Jee kini terlihat cemberut menahan kesal yang di lakukan oleh Alfy sama sekali membuatnya semakin malu. Akhirnya dengan rasa penuh kesal ia menceritakan di ruang keluarga tentang keinginan Alfy yang harus ia turuti setiap waktu memakai pakaian sebesar ini dan harus yang tertutup.


Semua yang mendengar cerita Jee terkejut sambil melongo tidak percaya mengapa bisa Alfy menyengsarakan istrinya seperti itu. Tuan Indrawan yang mendengarnya hanya tertawa sesekali menggelengkan kepalanya.


Begitu juga dengan Dokter Richard, ia tidak habis fikir dengan sifat sahabatnya yang benar-benar terbakar api cemburu padanya. Rasanya tidak tega karena ulah Dokter Richard, Jee harus menanggung semua kesulitan


itu.


Kini di depan kantor polisi sudah terlihat sebuah mobil mewah yang terparkir dengan sempurna, seketika wajah tampan Alfy yang baru saja keluar dari mobil membuat semua pandangan para polisi wanita tertuju padanya. Siapa yang bisa menahan mata jika melihat pria yang semua di bagian tubuhnya sangat sempurna itu.


“Selamat siang, Tuan.” Ucap Delon yang sudah menyambut kedatangan Alfy.


Saat itu hanya ada Delon yang bersama Alfy karena Jacobie sedang berusaha melacak keberadaan barang bukti kliennya itu. Alfy dan Delon melangkah masuk menuju ruang penyimpanan barang bukti.


“Mengapa bisa seperti ini? Apa kalian tidak memiliki keamanan di sini?” teriak Alfy yang sudah sangat kesal.


Matanya menangkap wajah-wajah para petugas kepolisian di ruangan itu. Mereka semua menunduk takut karena tidak bertanggung jawab dengan amanah yang di berikan. Wajah putih Alfy begitu terlihat memerah.


Alfy mencurigai ada yang sedang bekerja sama di belakang mereka namun masih belum bisa di pastikan siapa mereka dan apa niatnya sebenarnya. Sedangkan Jacobie yang berada di luar masih tidak bisa melacak orang yang mencuri barang bukti itu.


Mereka kali ini bukanlah orang sembarangan, dari cara kerjanya terlihat sangat menguasai sampai-sampai Jacobie kesulitan saat ingin mencarinya. Akhirnya Alfy beranjak pergi dari kantor polisi bersama Delon dengan wajah penuh kemarahannya.


Kali ini Alfy yang turun ke lapangan sendiri tanpa memerintah orang-orangnya hanya Delon yang mendampinginya saat ini. Belum sempat ia masuk ke mobil, tiba-tiba matanya terarah pada cctv yang sudah terlepas di atas lampu yang menyorot ke kantor polisi itu.


“Ambil itu.” Perintah Alfy pada Delon tanpa menatapnya.

__ADS_1


Delon yang mendengar cukup bingung apa maksdunya dengan mengambil cctv yang sudah rusak apakah Alfy bisa memperbaikinya dan menemukan pelakunya. Dengan cepat Delon memanjat tiang yang tidak begitu tinggi.


Kali ini ia benar-benar harus mengerjakannya sendiri karena Alfy yang sudah memandangnya dengan tatapan marah tentu ia tidak ingin menunggu orang lain lagi. Baru saja tangan Delon ingin menyentuhnya Alfy sudah lebihdulu berteriak.


“Pakai kaus tanganmu!” pintah Alfy yang menyaksikan dari bawah.


 Delon yang dengan cepat mengikuti perintah Alfy lalu turun kembali membawa cctv yang rusak itu. Kali ini Alfy mengambil barang itu untuk petunjuk, ia akan melakukan penyidikan sendiri tanpa bantuan polisi.


“Kita tidak boleh percaya mereka untuk saat ini.” Ucap Alfy sambil melangkah masuk ke dalam mobil.


 Kali ini Alfy harus lebih berhati-hati karena musuhnya masih belum bisa terlihat dan apa tujuannya melakukan hal ini masih sangat belum jelas. Alfy dan Delon menuju kantor untuk memeriksa sidik jadi yang ada di cctv itu.


Sementara Zeyra yang kini sedang berbaring lemas terkejut melihat kedatangan Rusli dan wanita yang tidak ia kenal. Namun di lihat dari sikapnya yang menggandengan tangan Rusli, tentu Wenda bisa menebak jika ia adalah istri dari Ayahnya.


“Ayah.” Ucap Wenda dengan wajah heran.


Perlahan Rusli mengajak istrinya untuk mendekat ke arah Wenda sambil tersenyum. Kini kedua orang itu berdiri tepat di hadapan Wenda.


“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Rusli.


Wenda yang merasa kesal enggan menjawab dan memilih memalingkan wajahnya, ia sangat ingat saat kedua orangtuanya tidak ada yang ingin mengurusnya dan menyuruh Tuan Farhan untuk mengambil. Air mata Wenda seketika menetes mengingat semua kejadian di masa lalunya, mengapa saat ia sudah mendapatkan hidup yang teramat buruk baru mereka semua datang kembali di kehidupannya.


“Untuk apa kalian kesini?” tanya Wenda.


“Wenda...” ucap Rusli dengan memegang tangan putrinya.


Namun Wenda sudah jauh lebih dulu menepis tangan pria itu dan bergeser menjauh. Kemarahan tampak menguasai dirinya saat itu. Terlebih lagi ketika ia melihat penampilan Ayahnya yang sudah berubah. Sangat berkelas, kemarahannya semakin tidak terkendali bagaimana bisa Ayahnya hidup senang-senang sementara anaknya tidak sama sekali ia perdulikan.


Dayah yang melihat kemarahan Wenda pada suaminya merasa perlu membantu mereka kali ini. Dengan lembut ia membisikkan kata-kata pada suaminya agar keluar dari kamar dan meninggalkan mereka berdua.


Rusli yang merasa berat hati akhirnya mengalah dan meninggalkan mereka lalu menutup pintu kamar. Di luar ia bertemu dengan Pramono dan Andini, mengingat cerita dari mantan istrinya tentang perlakuan Pramono pada Wenda kini Rusli sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


“Sini kau brengs*k!” teriak Rusli dengan menyerert Pramono ke luar rumah.


“Hentikan.” Ucap Andini yang mulai panik sambil menangis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2