Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kemenangan Suami


__ADS_3

“Ah tidak, aku hanya mengucapkan terimakasih karena kau sudah mau bekerja sama dengan baik untuk memenangkan kompetisi itu.” ucap Jee.


“Yah berkat kaulah akhirnya istriku tersayang ini bisa membuat suaminya lebih bangga  padanya.” sahut Alfy yang dengan santainya mengecup tangan Jee yang melingkar di lehernya.


Ravindra yang mendengar pernyataan Alfy tentang istri tersayang mendadak kaget tidak percaya, bola matanya begitu bergerak tidak teratur menatap Alfy kemudian menatap Jee bergantian. Mencari kebenaran dari ucapan pria yang selama ini dia anggap sebagai Kakak yang posesif pada adiknya.


Seketika pupuslah harapan Ravindra untuk meminta restu pada Alfy agar bisa memiliki Jee seutuhnya.


“Oooh kalian sudah menik-ah?” sahut Ravindra lagi yang terdengar sedikit kaku. Alfy yang mendengar hanya tertawa sinis. Berhasillah misinya kali ini membuat pria itu jatuh dari impian tingginya.


Alfy enggan menjawab justru saat ini ia kembali membenamkan wajahnya di perut rata istrinya dan menselonjorkan kedua kakinya ke sofa lainnya.


“Sayang jangan bergerak yah, aku sangat mengantuk.” ucap Alfy yang sengaja ia lontarkan sedikit keras.


Jee tidak menjawab ucapan Alfy karena merasa malu dengan sikap suaminya yang sangat berlebihan menampakkan kemesraan di depan orang asing. Alfy yang kesal kini menggigit perut Jee sampai terasa geli.


“Iya sayang.” jawab Jee dengan cepat karena merasa mendapat perintah dari suami.


Sementara Ravindra yang merasa kesal kini segera meminta ijin untuk pulang dengan alasan sangat lelah seharian dan ingin tidur. Akhirnya pertemuan hari itu berjalan mulus tanpa kendala satu pun. Alfy merasa legah kali ini ia bisa menyingkirkan satu pria hidung belang dengan mudahnya.


Dan kau Jee jangan senang dulu urusanmu belum beres tentunya dengan suamimu. Setelah kepergian Ravindra kini Alfy melangkah menuju kamar dan meninggalkan Jee seorang diri di ruang tengah itu.


***

__ADS_1


“Hati-hati, Zey.” ucap Delon yang dengan sigapnya menarik tangan istrinya untuk menahan bokongnya ketika ingin duduk di sofa.


“Astaga, aku hanya ingin duduk mengapa harus hati-hati?” Merasa kesal dengan sifat berlebihannya Delon.


Pria itu membantun Zeyra untuk duduk di sofa tanpa boleh menolak sedikit pun, bagi Delon mendaratkan bokong di sofa tentu hal yang bahaya jika tidak di lakukan dengan pelan. Zeyra yang benar-benar bosan dengan sifat panik Delon rasanya ingin cepat-cepat segera melahirkan.


“Jangan bergerak, aku akan mengambilkanmu alas.” ucap Delon yang beranjak dari duduknya menuju kamar.


Tanpa sepengetahuan Zeyra ternyata Delon sudah membelikan Zeyra bantal hamil yang bisa di gunakan saat duduk, tidak cukup sampai di situ saja Delon juga membelikan jenis bantal lainnya yang sudah ia tata di atas kasur untuk Zeyra tidur dan beberapa perlengkapan lainnya.


“Nah ini kan cocok.” ucap Delon yang menaruh bantal di punggung Zeyra.


“Aduh ini apasih? Aku tidak nyaman.” ucap Zeyra yang terdengar kesal.


“Sudahlah ini pasti akan nyaman.” Delon yang berusaha memaksa Zeyra padahal bukan dia yang merasakannya bagaimana bisa mengatakan itu akan nyaman jelas-jelas yang memakai saja terus mengomel karena kesulitan bergerak.


“Ayo ku bantu, jangan cepat-cepat jalannya.” Delon yang segera berdiri menggandeng tangan Zeyra yang baru saja ingin berdiri dari sofa. Tampak wajah kecewa pada Zeyra, baru saja ia ingin membebaskan dirinya dari Delon malah semakin membuat pria itu menempel padanya.


“Astaga mau sampai kapan kau terus mengawasiku seperti ini?” tanya Zeyra yang nampak bosan dengan perlakuan suaminya.


“Sampai aku tidak bisa bernafas lagi.” sahut Delon yang terdengar mengejutkan istrinya.


Kini mereka duduk di meja makan, belum sempat tangan wanita itu mengambil buah jeruk Delon dengan cepatnya menarik dari hadapannya. “Kau jangan memakan buah ini rasanya sangat asam, makan yang ini saja.” ucapnya.

__ADS_1


“Aku tidak suka buah apel.” bantah Zeyra yang sedikit muak.


Akhirnya lelah dengan semua kegagalannya kini wanita hamil itu memilih untuk beristirahat di kamar saja, mungkin dengan ia tertidur Delon akan sedikit menjauh darinya.


“Pelan-pelan.” ucap Delon yang segera menuntun Zeyra bangun dari duduknya dan menuju kamar. Padahal di rumah itu lantai semua tersusun dengan rata sebenarnya apa yang Delon khawatirkan mengapa akhir-akhir ini pria itu seperti memiliki halusinasi yang begitu payah.


“Hah apa semua ini?” tanya Zeyra yang terkejut melihat kasur mereka yang di penuhi dengan bantal berbagai macam bentuk.


“Kau bisa tidur memakai semua bantal itu sesuai dengan keinginan posisi tidurmu.” jawab Delon yang dengan santainya tersenyum lebar. Tanpa ia sadari perlakuannya membuat Zeyra hanya melongo tidak percaya.


Di kasur ada beberapa bentuk bantal hamil, jika Zeyra ingin tidur menyamping sudah ada bentuk bantal yang bisa ia gunakan, dan jika ia ingin tidur bersandar juga ada bantal yang membentuk seperti kursi sandar, untuk posisi tiarap juga sudah ada bentuk bantal besa yang membuat peluang perut Zeyra bisa masuk ke dalam bantal itu agar tidak tertindis. Dan berbagai macam bentuk bantal lainnya yang berukuran besar.


Kasur mereka saat ini hanya di penuhi dengan bantal-bantal semacam karakter tubuh wanita hamil. Melihat tingkah Delon yang begitu antusias membuat Zeyra hanya bisa terdiam dengan wajah pasrahnya saja.


Selama beberapa bulan terkahir Delon terus bersikap sangat berlebihan pada istrinya, sampai-sampai sikapnya membuat Zeyra merasa frustasi karena sama sekali tidak bisa mendapat kebebasan. Tentu sebagai wanita yang sudah siap melahirkan bayinya, Zeyra tahu apa yang boleh dan tidak boleh untuk di lakukan. Namun tetap saja Delon selalu membuatnya seakan menjadi seorang ibu yang begitu tidak tahu apa-apa dan hanya Delon lah yang paling tahu semuanya.


Sampai akhirnya suatu pagi saat Delon dan Zeyra berjalan di taman dekat perumahan mereka tiba-tiba perut Zeyra merasakan hal aneh.


“Aduduh.” ucap Zeyra yang terhenti seketika dari langkahnya. Delon yang mendengar keluhan istrinya begitu panik memegangi perut istirnya.


“Ada apa, Zey?” tanyanya dengan kebingungan.


“Aw... perutku sakit.” rintih Zeyra yang kini sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya beruntung saja Delon dengan cepat menangkap sang istri. Sampai akhirnya Zeyra bisa tertahan oleh Delon. Semua orang yang ada di sekitar taman itu tampak penasaran dengan suara yang terdengar gaduh.

__ADS_1


“Wah, sepertinya istri anda mau melahirkan Tuan.” ucap seorang ibu tua yang berada di situ.


Delon yang mendengar ucapan wanita itu segera menggendong Zeyra berlari menuju jalan utama yang tepatnya juga tidak jauh dari taman. Taksi yang membawa mereka kini melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Delon yang tampak panik beberapa kali terus memaksa supir taksi agar terus melajukan kendaraannya. Begitu terlihat kekhawatiran Delon pada Zeyra, ia takut jika terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.


__ADS_2