
Di kantor polisi kini Alfy dan Delon yang sudah melangkah cepat memasuki tempat kunjungan pada kliennya. Salah seorang petugas yang tanpa di perintah dengan sigap membawa klien itu ke hadapan Alfy. Melihat kehadiran pengacara di hadapannya tatapannya kini berubah seperti menatap penuh dengan ejekan.
"Untuk apa kalian kemari?" tanya klien itu.
"Beraninya kau..." teriak Delon yang baru saja hampir mendaratkan pukulan di wajah pria itu.
Namun Alfy dengan sigapnya melemparkan tatapan tajam pada Delon, hal itu tentu membuat Delon seketika terdiam mematung dan menundukkan kepalanya.
"Duduklah!" pintah Alfy berusaha tenang.
"Apa hakmu menyuruhku duduk, setelah apa yang kalin lakukan padaku?" cuih
Terdengar ludahan klien itu ke samping Alfy, kesabaran Alfy tampak sedang di uji saat itu perlahan ia memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan dengan pelan.
"Jika kalian ingin mendapat nama baik apakah hanya dengan cara selicik ini mencuri barang bukti untukku bebas agar pekerjaan kalian lebih mudah, atau justru kalian lah dalang di balik kasus peipuanku ini?" tanya klien itu tanpa basa basi.
Alfy yang merasa tidak tahan lagi kini berdiri dan memandang wajah pria itu dengan penuh kemarahan bagaimana bisa niat baiknya kali ini mendapat hinaan serendah itu.
Delon yang merasa ingin sekali menghajar pria itu namun tidak berani bergerak sebelum mendapatkan perintah dari Tuan mudanya.
"Pergilah kalian dari sini, aku sangat muak melihat kalian bagaimana bisa aku percaya dengan orang yang sudah menipuku." gerutu klien itu lalu meninggalkan Alfy dan Delon yang masih menahan amarah.
Tangan Alfy terlihat mengepal dengan eratnya kali ini Hengky sudah benar-benar merusak namanya. Alfy tidak perduli dengan namanya asalkan kliennya bisa percaya padanya dan tetap menjalankan tugasnya. Namun sayangnya kliennya kali ini enggan mendengarkan ucapan Alfy dan memilih untuk mengganti kuasa hukumnya.
Kini Delon dan Alfy keluar dari tempat itu dan melajukan kendaraan menuju kantor, selama perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka di dalam mobil. Delon yang melihat raut kesal Tuan mudanya tidak berani melontarkan satu kata pun.
Sedangkan keluarga Alfy bersama istri tercintanya kini sedang menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Jee. Sesampainya mereka di rumah sakit Dokter Adeline bersama beberapa dokter lainnya segera memeriksa Jee dari luar hingga dalam. Satu jam lamanya keluarga menunggu di luar untuk mengetahui hasil pemeriksaan.
"Halo, Pah." ucap Alfy yang terdengar lemas.
__ADS_1
"Fy, apa kau tidak ingin ke rumah sakit sekarang?" tanya Tuan Reindra.
Alfy yang mendengar kata rumah sakit seketika matanya membulat karena terkejut. Fikirannya sudah langsung menjurus pada istri kesayangannya.
"Apa yang terjadi dengan Jee, Pah? Alfy kesana sekarang." lanjutnya lagi setelah bertanya dan membuat Tuan Reindra terkejut.
Belum sempat Tuan Reindra menjelaskan, Alfy sudah lebih dulu mematikan ponselnya dan berlari menuruni tangga darurat. Wajahnya terlihat sangat panik sampai ia tidak lagi menggunakan lift di kantor untuk turun ke lantai dasar. Sedangkan Delon yang kaget mendengar teriakan Alfy juga ikut penasaran namun rasa penasarannya harus ia tahan hingga nanti mendapatkan jawaban setelah kembalinya Alfy.
"Bagaimana Pah?" tanya Nyonya Syein yang melihat ekspresi suaminya yang mematung.
"Eh Mamah, Papah tidak tahu Alfy sudah berteriak seperti orang kaget saat Papah tanya apa dia tidak ingin ke rumah sakit." jelas Tuan Reindra.
Nyonya Syein yang bisa membaca fikiran putranya hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum mengejek.
Di perjalanan Alfy yang terus melajukan kendaraannya tidak perduli dengan kelajuan mobil yang sudah sangat melampaui batas. Fikirannya hanya ada kepanikan saat ini air matanya yang sejak tadi tertahan di dalam sana kini sukses jatuh di pipinya.
Kelajuan mobilnya sama sekali belum membuat Alfy puas sampai kini ia memajukan tubuhnya seakan dengan posisi itu ia bisa sampai lebih cepat. Ada-ada saja Alfy bagaimana bisa tubuh membantu kecepatan mobil yang ia kendarai.
Dengan cepat supir ambulans itu memasuki mobil Alfy yang terlihat pintu mobilnya tidak tertutup untuk segera memindahkan mobil itu.
"Astaga, memangnya dia saja yang sedang panik di tempat ini sampai tidak memperdulikan mobil mewah ini lagi?" gumam supir ambulans itu.
"Wah kapan lagi aku bisa mengendarai mobil mewah begini tidak apa-apalah sekali-sekali ini rejeki kali aja nanti bisa punya." lanjut pria itu lagi.
"Pak, cepetan." teriak salah seorang anggota keluarga pasien yang sedang kitis.
Supir ambulans itu dengan cepat tersadar dan turun dari mobil Alfy.
Alfy yang berlari menuju ruang keluarga mereka begitu terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
"Mah, apa yang terjadi pada Jee? mengapa bisa seperti ini Mah?" tanya Alfy yang sudah berusaha menerobos masuk.
Namun Tuan Reindra lebih dulu menghalanginya. "Apa yang kau lakukan, Fy?" tanya Tuan Reindra.
"Biarkan Alfy masuk Pah, Jee butuh Alfy kan?" ucapan Alfy terus menghujani Tuan Reindra.
"Tenanglah." pintah Tuan Reindra yang ingin menjelaskan namun selalu terpotong oleh Alfy.
"Papah bilang Alfy tenang, sementara Jee di dalam sana menderita Pah." bantah Alfy sembari terus meneteskan air matanya.
Ia sangat takut jika Jee kali ini benar-benar meninggalkan dirinya, karena mengingat beberapa kejadian di waktu lalu Jee hampir meninggalkannya.
"Biarkan Alfy masuk Pah tolong." ucap Alfy yang sudah menangis memohon.
Nyonya Syein yang melihat tingkah putranya hanya pasrah, lelah tentunya jika berdebat dengan Alfy yang mulutnya sudah seperti ibu-ibu rempong.
"Tuan sudah selesai, mari kita masuk." ucap salah seorang suster.
Alfy yang mendengarnya langsung berlari memasuki ruangan dengan wajah sembabnya. Matanya terkejut saat melihat Jee tersenyum padanya. Dengan cepatnya Alfy berlari memeluk tubuh istrinya, Jee yang heran melihat tingkah Alfy terus tertegun dengan penuh tanya.
"Apa yang sakit? di mana yang sakit ayo beri tahu aku mengapa kau selalu diam saja?" pertanyaan demi pertanyaan terus mengguliri wajah bingung Jee.
"Aku tidak apa-apa." jawab Jee.
"Berhenti terus berkata kau tidak apa-apa! bentak Alfy yang tanpa sadar mengejutkan Jee.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu termasuk Dokter dan suster tampak kaget mendengar suara Alfy yang begitu lantangnya pada Jee.
"Alfy, apa yang kau lakukan?" tanya Tuan Reindra dengan tegasnya.
__ADS_1
Sementara Jee yang terkejut kini hanya menunduk terdiam baru kali ini Alfy sangat marah padanya entah apa kesalahan yang Jee perbuat.
Wanita itu kini menunduk berusaha menutupi dirinya jika ia sudah menangis tanpa bisa menahan air matanya lagi.