
Di perjalanan dua orang tampak terdengar hening tidak ada yang mengeluarkan suara merasa tidak nyaman dengan keadaan itu akhirnya Delon memulai berusaha untuk memecahkan suasana tegang.
"Sus, apa aku boleh bertanya?" tanya Delon pada suster Syanin yang sejak tadi hanya diam menatap ke arah luar mobil itu.
"Iya tentu saja Tuan." jawab suster Syanin yang terdengar sedikit gugup.
Karena biar bagaimanapun mereka sama sekali tidak pernah berkomunikasi apa lagi dengan keadaan hanya berdua saja membuat wanita itu benar-benar gerogi.
"Apa benar anda mengundurkan diri dari rumah karena keluarga?" tanya Delon berusaha mecari tahu jawaban.
"Em iya Tuan karena itulah saya mengundurkan diri." jelas suster Syanin yang terlihat matanya tampak mencari pemandangan di segala arah.
Tingkah wanita itu benar-benar membuat Delon semakin yakin saat melihat matanya tentu itu sangat mudah di baca oleh pria seperti Delon.
"Bukan karena hal semalam?" tanya Delon dengan jujurnya.
Mendengar ucapan pria itu mendadak suster Syanin menoleh dengan wajah terkejutnya bibirnya masih terkunci tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Ia tidak tahu apa yang harus di katakannya saat ini.
Wanita itu terdiam menunduk merasa malu ia belum bisa mengakui perasaannya pada orang lain jika pria yang ia cintai saja tidak mencintainya.
Melihat tingkah wanita di sampingnya dengan segera Delon merubah suasana lagi menjadi tenang.
"Awas Sus, ada cicak." teriak Delon menunjuk ke arah pinggir pintu mobil di tempat suster Syanin duduk.
Mendengar teriakan itu reflek suster Syanin meloncat memeluk tubuh pria itu dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Delon.
"Deg." Suara detak jantung Delon seketika terhenti saat mendapat perlakuan dari wanita itu.
Matanya menatap dalam pada wajah wanita itu tangannya masih terus menyetir tanpa memperhatikan jalan di depan lagi.
"Tiiiiiiit...." suara klakson mobil terdengar nyaring.
Dengan cepat suster Syanin pindah posisi ke tempat semua sementara Delon kembali fokus mengemudi karena hampir saja mereka kecelakaan tadi.
"Tuan apa yang anda lakukan?" tanya suster Syanin gugup.
"Maafkan saya Sus, tadi hanya ingin menghibur anda tapi gagal." ucap Delon dengan senyum malunya.
Mendengar ucapan Delon suster Syanin merasa lucu sejak kapan pria di sampingnya humoris seperti itu yang ia tahu selama ini wajah pria itu tidak suka tersenyum hanya tatapan lurus saja saat berjalan ataupun bertemu seseorang.
Selama perjalanan yang lumayan jauh tanpa sadar mereka berdua saling bercerita tentang pekerjaan mereka masing-masing. Merasa nyambung dengan Delon suster Syanin akhirnya tidak canggung lagi untuk tertawa lepas di hadapan pria itu.
__ADS_1
"Ternyata dia lucu sekali ketika tertawa seperti ini," gumam Delon sambil menatap wajah wanita itu.
Suster Syanin yang mulai sadar sejak tadi mendapat pandangan dari pria itu akhirnya melambaikan tangannya di hadapan Delon.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya suster Syanin bingung.
"Eh iya Sus saya tidak apa-apa." jawab Delon setengah terkaget.
Menggelengkan kecil kepalanya suster Syanin lagi-lagi tersenyum membuat mata Delon semakin tidak tahan jika menghilangkan kesempatan melihat senyuman manis itu.
"Sus, jika nanti saya mengunjungi anda sesekali apakah boleh?" tanya Delon ragu.
"Hah...Tuan mau mengunjungi saya?" tanya suster Syanin terkejut.
"Memangnya tidak boleh yah." Dengan wajah sedikit kecewa Delon kembali fokus menyetir lagi.
Melihat wajah pria itu tampak menekuk suster Syanin akhirnya kembali memikirkannya.
"Boleh saja Tuan, tapi rumah saya tidak layak untuk anda kunjungi." jelas suster Syanin sedikit malu.
"Astaga mengapa anda bicara seperti itu Sus?" Wajah Delon tampak merasa aneh dengan jalan fikiran wanita itu.
"Yasudah nanti jika anda ingin datang silahkan saya tidak melarang." Dengan cepat suster Syanin membalas ucapan Delon.
"Ini ponsel ku, Suster bisa masukkan nomor Suster di situ." ucap Delon dengan santainya.
Wajah wanita itu masih sangat kebingungan namun ia menurut saja saat itu dan akhirnya suster Syanin memasukkan nomornya di ponsel milik Delon.
Sepanjang jalan mereka tertawa bercerita banyak hal tentang kehidupannya masing-masing tanpa sadar suster Syanin merasa tidak nyaman ketika berada di luar pekerjaan namanya selalu mendapat panggilan gelarnya itu.
"Tuan, jika boleh saya minta anda cukup memanggilku Syanin saja." ucap suster Syanin pada Delon.
"Benarkah?" tanya Delon yang merasa penuh kemenangan saat itu moment yang langka ia dapatkan ini.
"Iya cukup panggil namaku saja yah." jawab suster Syanin lagi.
"Boleh, tapi kau juga harus memanggilku Delon saja tidak perlu ada Tuannya." balas Delon meminta juga.
Kini mereka setuju untuk merubah panggilan formal itu menjadi santai setelah beberapa lama kemudian sampailah mereka di perumahan yang tidak bisa di sebut sedang namun memang sangat kecil. Bagi Delon itu benar-benar terlihat seperti kosan saja luasnya.
Tapi bagi wanita seperti suster Syanin itu sudah sangat bagus dan luas karena jika di bandingkan dengan gajinya selama bekerja di rumah sakit sangatlah pas-pasan untuk biaya hidupnya.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah wanita itu dengan segera Delon pun memutar kembali mobilnya dan melaju ke arah kampus Nona Jee karena kali ini ia akan kembali dengan aktifitasnya sebagai body guard Nona mudanya itu.
Sepanjang perjalanan wajahnya berseri-seri membayangkan kejadian tadi yang benar-benar di luar dugaan berbeda dengan suster Syanin yang tampak berfikir berat memikirkan selanjutnya harus bagaimana.
Setelah lama ia berfikir akhirnya wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi pihak rumah sakit untuk meminta ijin bekerja kembali di rumah sakit itu.
Mendengar hal itu dan juga mempertimbangkan bahwa sustes Syanin adalah suster yang begitu lama bekerja di sana dengan cepat pihak rumah sakit menerima kembali untunya bekerja.
Kini wajahnya sudah tidak selayu tadi yang ia fikirkan saat ini hanya bagaimana caranya untuk menghapus perasaannya pada Jac dengan cepat. Andai saja di rumah sakit bisa mengobati mungkin akan jauh lebih mudah untuk suster Syanin memulai hidupnya seperti dulu lagi.
Di gedung Syein Biglous terlihat wajah pria yang tampak gelisah beberapa kali ia bolak-balik di dalam ruang kerjanya. Jacobie yang memperhatikan itu juga ikut terganggu.
"Jangan bilang Tuan seperti ini karena Nona Jee lagi cih," gumam Jacobie dengan melirik tajam pada Alfy.
"Kau kenapa?" tanya Alfy yang menyadari tatapan pria itu padanya.
"Tidak ada Tuan." jawab Jacobie dengan segera kembali fokus pada laptop di hadapannya.
Alfy yang tidak bisa menahan lagi kegelisahannya segera menghubungi pengawal yang dari tadi berada di luar ruangan menunggu Nona mudanya selesai kuliah.
"Halo, ada apa Tuan?" tanya pria itu dengan cepat.
"Apa yang dia lakukan?" tanya balik Alfy dengan wajah cemasnya.
"Nona sedang kuliah Tuan di dalam kelas, saya menunggu di depan pintu sekarang." jelas pria itu.
Dengan cepat Alfy mematikan ponselnya kini wajahnya sudah tidak terlihat panik lagi dan tampak raut wajah yang penuh ketenangan. Setelah memastikan dirinya bisa baik-baik saja saatnya untuk ia kembali fokus bekerja langkahnya perlahan mendekati kursi dan mendaratkan bokongnya pada kursi empuk itu.
Jacobie yang melihat tingkah Tuan mudanya hanya bisa menggelengkan kepala saja merasa sangat aneh dengan pemandangan di hadapannya saat ini. Alfy telah jauh berubah semenjak menikah dengan Jee tingkahnya sangan sulit di tebak selalu berubah-ubah seketika tanpa tahu waktu.
Di kampus tepatnya di depan kelas tampak seorang pria tampan yang sedang fokus memberikan materi sesekali pria itu melirik ke arah Jee yang sedang sibuk mencatat materi yang di jelaskan di depan. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan rambut lurusnya yang terurai menunjukkan aura ketenangan di wajahnya.
Jee sangat terlihat serius belajar saat itu sedangkan Fiky yang tanpa sadar sudah melamun di depan kelas membuat semua mahasiswa menatap ke arah Jee mengikuti tatapan Dosen muda itu.
Menyadari tatapan semua seisi ruangan itu Jee tampak terkejut apa yang membuat mereka menatapnya seperti itu sangat membuatnya salah tingkah. Sesekali ia melirih penampilannya dan memeriksa wajahnya untuk memastikan penampilannya baik-baik saja.
Sepertinya semua aman namun ia masih bingung mengapa tatapan mereka seperti ingin mengeroyoknya di ruangan itu.
"Pak!" teriak salah seorang mahasiswa yang membuyarkan pandangan Dosen itu.
Mendengar itu Jee tampaknya sudah mengerti mengapa semua menatapnya tentu karena Dosen yang di depan itu astaga Fiky bagaimana bisa hilang fokus seperti itu pada istri orang lagi di tambah yang sedang hamil lagi.
__ADS_1
Hai readers selamat membaca yah semoga kalian tetap menyukai cerita ini author mohon maaf jika karya ini masih belum begitu sempurna. Terimakasih karena berkat kalian akhirnya novel ini lulus kontrak semoga semua berumur panjang yah untuk bisa menyaksikan ending dari cerita ini. Assalamualaikum Wr. Wb