Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Di Luar Dugaan


__ADS_3

Hai readersku semua kalian sudah penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya yuk ikutin terus yah...happy reading!!


Akhirnya Jee menceritakan tentang Dara yang saat ini kesulitan untuk memahami pelajaran Akuntansi dan Jee yang mengingat dirinya saat belajar bersama Fiky akhirnya meminta Fiky mengajari sahabatnya.


Dara yang mendengar percakapan Fiky dan Jee hanya terkejut dan diam mematung ia memikirkan harus belajar dengan Fiky yang tidak begitu akrab dengannya.


 


Tentu Dara merasa malu jika harus bertemu dengan Fiky hanya berdua namun jika ia membawa adiknya Fano membuatnya tidak konsentrasi belajar.


Dara adalah anak pertama dari dua bersaudara adiknya yang bernama Fano saat ini berada di bangku SMP kelas dua.


Fiky yang paham dengan keinginan Jee akhirnya menuruti permintaannya untuk mengajari Dara sampai bisa memahami pelajarannya.


Akhirnya percakapan di ponsel pun berakhir kini Jee dan Dara kembali fokus dengan pembicaraan mereka tadi.


"Kau jangan khawatir lagi Kak Fiky akan membantumu." ucap Jee.


"Tapi aku malu Jee." Dara yang tersenyum sedikit memaksa.


"Sudahlah jangan malu dia baik kok." bantah Jee dengan tersenyum.


 


Akhirnya Dara pun menyetujui usul Jee, kini mereka saling bercerita sesekali tertawa dan terkadang juga sedih ketika membahas sakit yang di derita Jee.


 


Setelah cukup lama Dara membujuk Jee agar tetap bersemangat sepertinya bujukan Dara tidak bisa membuat Jee berubah fikiran.


Perasaan menyerahnya sudah jauh lebih besar kini Jee hanya bisa pasrah di dalam kamar karena untuk membangunkan kepalanya sangat sakit rasanya.


Terlebih lagi jika Jee harus berada di luar kamar melihat darah yang sering kali keluar tanpa melihat situasi membuat Jee tidak ingin membebankan fikiran kelaurganya.


Hanya di kamar inilah ia berfikir bisa menyembunyikan kesakitannya tanpa orang di luar sana ikut sedih melihatnya menderita.


Sedangkan Alfy saat ini sedang Jee fikirkan bagaimana agar ia bisa jauh dari suaminya karena jujur saja terus menerus bersama Alfy, Jee juga tidak kuat menyakiti perasaan suaminya yang sangat ia sayangi.


Dara yang mendengar semua ucapan Jee hanya menggelengkan kepala sambil meneteskan air matanya ia sangat tidak bisa menahan kesedihannya kali ini.


Jee begitu peduli dengan orang-orang di sekelilingnya sampai lupa memperdulikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jee, apa kau yakin ingin menjauhi Alfy?" tanya Dara mencari kepastian.


Jee hanya mengangguk dengan tatapan penuh ketidak relaan namun apa lagi yang bisa ia lakukan bila bukan meninggalkan suaminya.


Adanya Jee bersama Alfy akan terus membuat suaminya menderita juga dan cukup kali ini Jee sendirian yang merasakan itu.


Begitu sesak dadanya membayangkan ketika berpisah dengan suami kesayangannya namun mau bagaimana lagi keadaan memaksanya harus berbuat itu.


Melihat pembicaraan mereka yang sudah cukup lama akhirnya Dara pamit untuk pulang karena ia juga harus menyuruh Jee beristirahat yang banyak.


"Yasudah aku pulang dulu yah sayang." ucap Dara sambil memeluk tubuh Jee.


"Iya hati-hati yah." jawab Jee dengan tersenyum.


Kini Dara keluar kamar dan berpamitan pada keluarga yang ada di ruang tengah, tampak terlihat wajah mereka semua sangat cemas.


Namun Dara tidak melihat sosok Alfy di ruangan itu entah kemana perginya pria itu. Dengan berat langkah Dara menuju mobilnya lalu melaju pulang.


Rasanya tidak habis fikir dengan yang terjadi pada Jee benar-benar membuatnya terkejut rasanya seperti mimpi buruk.


Alfy yang tidak ada di ruang tengah saat ini sedang tampak fokus menatap layar ponselnya di ruang fitnesnya dengan penuh antusias.


Ia memperhatikan gerakan Jee yang berada di kamar melalui kamera cctv yang baru saja teringat di kepalanya padahal sudah lama ia pasang.


Alfy yang melihatnya menggeleng tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi pada Jee, Jee terus memeluk sambil beberapa kali memijat-mijat sekitaran tubuhnya terus bergantian dari tangan badan sampai kakinya.


Air mata sudah tidak tertahan lagi terus membanjiri wajah Alfy sambil membungkam mulutnya yang ingin berteriak melihat derita yang di alami istrinya.


Tanpa bisa bersabar lagi Alfy berlari menuju kamar Jee melewati ruang tengah tanpa menyapa, semua yang melihat tingkah Alfy berlari sambil menangis begitu terkejut.


Mereka berlari menaiki tangga bersamaan takut jika terjadi sesuatu pada Jee dan Alfy.


"Ada apa Fy?" tanya Nyonya Syein yang tidak mendapat jawaban dari putranya.


Dengan cepat Alfy membuka pintu kamarnya lalu memeluk Jee yang terkejut melihat kehadiran suaminya yang tiba-tiba itu.


Suara tangis Alfy begitu pecah di kamar mereka sementara Jee yang di peluk hanya membalas pelukan suaminya dengan ikut menangis juga.


"Kenapa tidak jujur padaku." ucap Alfy sambil menangis.


Jee yang mendengarnya tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya matanya hanya menatap ke arah pintu yang memperlihatkan segerombolan keluarganya.

__ADS_1


Wajah mereka semua tampak meneteskan air mata ketika melihat Alfy yang menangis histeris memeluk tubuh istrinya.


"Apa maksudmu?" tanya Jee yang bingung.


Alfy yang mendengar ucapan Jee segera melepas pelukannya lalu menggenggam erat lengan istrinya tatapannya begitu tampak menahan amarah dan rasa sedih yang bercampur.


"Kau kesakitan kan? jawab aku kau merasa sakit kan di tubuhmu?" tanya Alfy dengan mata yang sudah bengkak. terlihat sangat sipit.


Jee yang mendengar ucapan Alfy hanya menangis tanpa menjawab satu kata pun ia bingung harus menjawab apa dan bagaimana jika Alfy hanya menduga-duga saja.


"Tidak, aku tidak kesakitan apa maksudmu?" bantah Jee.


Alfy yang mendengar jawaban dari Jee hanya menatap dengan dalamnya ia mencari sosok Jee yang dulu ia kenal tidak pernah berbohong dan membantah padanya.


Kini Jee sudah sangat jauh berbeda dari yang Alfy kenal dulu serasa mimpi buruk bagi Alfy.


Semua keluarga hanya berdiri terus mendengar perdebatan Alfy dan Jee di kasur tanpa berani masuk ke dalam karena memang emosi Jee sedang tidak stabil.


Mengingat ucapan Dokter Adeline jika Jee tidak boleh merasa terteka untuk membuat keadaan tubuhnya tidak semakin buruk akhirnya mereka memilih diam dan tidak ikut campur.


Alfy yang tidak mendapatkan jawaban dari Jee kini memeluk tubuh istrinya dengan eratnya berkali-kali ia mengecup kepala Jee dengan penuh rasa cintanya.


Tuan Reindra yang melihat kedua anaknya begitu menyedihkan hanya menggelengkan kepala dengan tertunduk rasanya hatinya begitu hancur.


Tidak bisa terbayangkan jika akan terjadi seperti ini pada kedua anaknya sementara begitu indah harapannya untuk kedua anak mereka.


Tuan Indrawan yang melihat tatapan sedih sahabatnya dengan cepat merangkul Tuan Reindra lalu menuju lantai bawah untuk kembali duduk di ruang tengah.


"Aku tidak habis fikir bisa begini." ucap Tuan Reindra.


"Sabar, kita pasti menemukan jalan bahagia untuk anak kita nanti." balas Tuan Indrawan.


"Tapi bagaimana Indra, aku tidak kuat melihat kesedihan mereka dan tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini." bantah Tuan Reindra.


Tuan Indrawan yang begitu yakin tersenyum berusaha kuat untuk sahabatnya itu.


"Aku yakin akan ada jalan, saat ini anak kita sedang dalam ujian tahap pertama." jelas Tuan Indrawan.


Kini Tuan Reindra yang tampak khawatir padahal dahulu Tuan Indrawanlah yang begitu khawatir dengan hubungan anak mereka namun saat ini keadaan sudah terbalik.


Justru Tuan Reindra yang begitu sangat tidak percaya diri mengkhawatirkan anak-anaknya yang sedang di ambang kehancuran.

__ADS_1


Ceritanya author lanjutin sampai di sini duluyah jangan bosan untuk tetap setia menunggu karena menunggu itu hal yang indah hehe. Terimakasih salam hangat dari author Marina Monalisa.


__ADS_2