Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Akhirnya Mobil Impian Tiba Juga


__ADS_3

“Kak, aku tidak mau ini sudah sangat banyak bajunya.” tolak Dara yang menujuk semua tas belanja di tangan Fiky.


“Ayolah.” Fiky terus memaksa Dara.


Di depan butik keduanya tampak saling tarik menarik sampai mengundang perhatian para pelayan di butik itu untuk tertawa. Dara terus menahan langkahnya namun Fiky juga terus memaksanya agar mau belanja lagi.


Dan tetaplah sesuai pada hakikatnya biar bagaimana pun tenaga wanita tetaplah akan kalah dengan tenaga pria. Kini Fiki menggantungkan beberapa pakaian di hadapan tubuh Dara secara bergantian sampai akhirnya ia meminta pelayan di butik untuk membungkuskan semua pakaian yang ada di tangannya.


Jarum jam yang berputar sesuai dengan irama mengikuti setiap langkah pergerakan makhluk di bumi yang begitu tampak menikmati dengan porsi mereka masing-masing. Begitu juga dengan Alfy yang merasa tidurnya sudah cukup dengan segera membangunkan Jee.


“Sayang, bangun.” ucap Alfy sambil melayangkan satu kecupan manis di bibir istrinya.


Jee yang tampak menggeliat di atas kasur meregangkan tulang-tulang tubuhnya akhirnya membuka mata indahnya dan melihat suaminya yang sudah selesai mencuci wajah. Kini saatnya untuk Jee yang membersihkan wajah ke kamar mandi.


“Halo,” ucap Alfy yang baru saja mengangkat ponselnya karena mendapat panggilan.


“Bro,~~~~ mobil yang lu pesan bentar lagi sampai tuh.” ucap Andra.


“Hem.” jawab Alfy singkat.


“Lu di kantor yah?” tanya Andra.


“Gue di rumah.” jawab Alfy datar.


Andra yang merasa penasaran dengan sahabatnya kini semakin banyak melontarkan pertanyaan sampai akhirnya Alfy yang kesal menjawab seadanya.


“Gue di rumah Ndra, istri gue sakit dan itulah sebabnya gue beliin dia mobil.” jelas Alfy yang meninggikan intonasi bicaranya.


“Sakit gara-gara?” tanya Andra lagi.


“Dia kelelahan saja, lu kenapa jadi kepo banget sih?” gerutu Alfy.


“Gue rasa istri lu sakit pasti gara-gara keganasan lu yah hahaha.” ejek Andra yang membuat Alfy semakin kesal.


Jee yang mendengar percakapan suaminya dengan seorang pria di telfon tampak berdiam sebentar menghentikan aktifitasnya di kamar mandi. Kepalanya sedikit keluar untuk menguping pembahasan suaminya.


“Hahaha...punya gue kan perkasa.” ucap Alfy yang tiba-tiba berubah mencair yang tadinya sangat dingin.


Andra yang mendengar ucapan Alfy tertawa terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Entah sebenarnya ucapan Alfy benar atau tidak tapi yang jelas mengapa ketika membahas hal itu Alfy mendadak berubah wujud menjadi humoris.

__ADS_1


“Punya lu gede yah sampai-sampai Jee sakit begitu sungguh tega lu bro.” ucap Andra.


“Bukan, kata Jee punya gue panjang hahaha.” bantah Alfy yang kembali tertawa.


Jee yang mendengar jelas percakapan mereka tampak emosi kini tampak tangannya mengepal erat sambil menatap tajam ke arah Alfy.


“Awas yah, beraninya bawa-bawa namaku his.” umpat kesal Jee.


Jee yang kini sudah tidak bisa menahan emosinya lagi segera melemparkan bantal yang ada di kasur ke arah Alfy.


“Aw sayang ada apa?” tanya Alfy yang terkejut.


“Beraninya membawa-bawa namaku, ih dasar.” teriak Jee terus melempari Alfy dengan bantal.


“Aku tidak sakit karena punyamu yah sayang, aku tidak akan sakit karena punya mu yang kecil itu.” ucap Jee dengan terus berteriak tidak terima.


“Benarkah? Bukannya punyamu yang sudah membesar yah sayang?” ejek Alfy yang kembali membuat istrinya semakin marah dan berlari ke arahnya.


Kini Alfy dan Jee berlari kejar-kejaran layaknya anak kecil yang tengah berebutan sesuatu. Tanpa mereka sadara telfon yang dari tadi masih berada di genggaman Alfy masih terhubung. Andra hanya tertawa mendengar percakapan mereka.


“Punyamu sayang yang kecil, bukan punyaku yang sudah membesar.” ucap Jee yang merasa kesal dan tidak ingin mengalah dari Alfy.


“Entahlah.” jawab Jee yang pasrah dan memanyunkan bibirnya.


Alfy yang kasihan melihat wajah melas istrinya segera mendekat dan memeluk erat tubuh istrinya.


“Ayo kita keluar.” Ajak Alfy menggandeng tangan Jee.


“Mau kemana?” tanya Jee yang penasaran.


“Mobilmu sudah datang, sayang.” ucap Alfy.


Jee yang mendengar langsung tersenyum bahagia, siapa yang tidak bahagia jika berpura-pura mimpi langsung di belikan mobil hari itu juga.


“Makasih, sayang.” ucap Jee dengan memeluk tubuh kekar Alfy.


“Biasaya kau tidak ingin meminta padaku, ada apa dengan ini sayang?” tanya Alfy yang penasaran.


Jee hanya tersenyum malu. “Aku sudah tidak tahan lagi jika harus menunggu gajiku sendiri untuk membelinya, sekarang saja aku masih kuliah.” jelas Jee dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


“Lain kali jika ingin sesuatu bilanglah padaku, aku akan segera membelikanmu detik itu juga.” ucap Alfy sambil mengelus kepala istrinya lalu mengecup keningnya.


Jee lagi-lagi tertawa dan menganggukkan kepalanya kemudian mereka bergegas menuju keluar rumah. Di depan rumah sudah tampak sekeluarga yang tengah memperhatikan dengan seksama mobil sport yang baru di antar dari


dealer. Terlihat sangat mewah dan benar mobil itu harganya sangat fantastis melebihi mobil pribadi Alfy.


Andra yang baru saja tersadar dari tawanya kini segera mematikan telfon yang masih terhubung itu fikirannya tidak menyangka bagaimana Alfy bisa seceroboh itu tidak mematikan sambungan telfon.


“Ini mobil kamu, Fy?” tanya Tuan Reindra.


“Bukan Pah.” jawab Alfy.


“Lalu?” lanjut Nyonya Syein yang penasaran.


“Mobil Nyonya, hehe.” Jawab Alfy yang menatap dengan tertawa ke arah istrinya.


“Benar ini mobilmu, Jee?” tanya Nyonya Flora yang tidak percaya.


Jee yang tidak menjawab hanya tertawa kecil ia bingung harus menjawab apa malu rasanya jika ia harus mengatakan mobil itu pemberian Alfy dari hasilnya berakting.


“Ayo kita coba.” ajak Alfy mengajak Jee masuk ke mobil barunya.


Kini mereka menikmati mobil baru itu dengan pergi keliling Kota, terlihat pancaran wajah bahagia pada wanita yang ada di sampingnya. Alfy yang melihat reaksi istrinya juga ikut merasa bahagia, cukup lama mereka berkeliling-keliling sampai akhirnya kini memutuskan untuk kembali ke rumah.


Hari itu berlalu begitu cepat berganti malam dan kembali menyambut pagi, langit yang bercahaya merah pun telah berganti dengan sinar mentari yang terbentang di kaki langit bagian timur. Bulan dan bintang mulai menutup satu persatu menyembunyikan dirinya di ganti dengan matahari yang mengambil posisinya untuk menyinari bumi. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi di mana semua penghuni bumi telah bersiap melakukan aktifitas mereka masing-masing.


“Zey, aku ke rumah Tuan Syein dulu kau baik-baik di rumah bersama Syanin yah.” ucap Delon yang mencium kening istrinya.


“Hati-hati yah.” ucap Zeyra yang menatap suaminya dengan senyumannya.


Kini Delon pergi meninggalkan mereka di rumah untuk bertemu dengan Tuan Reindra. Tidak butuh waktu lama kini Delon sudah tiba di halaman rumah Syein yang tampak sangat tertata rapi di segala sudut bunga-bunga yang bermekaran.


Terlihat juga beberapa penjaga kebun yang sedang merawat bunga dan tanaman lainnya di sekitar rumah itu.


“Delon, bagaimana kabar Zeyra?” tanya Nyonya Syein yang melihat kedatangan Delon.


“Baik Nyonya.” Jawab Delon.


“Sebentar yah saya panggilkan Alfy.” Ucap Nyonya Flora.

__ADS_1


“Maaf Nyonya, saya hanya akan bertemu dengan Tuan Reindra karena beliau tadi menghubungi saya.” Jelas Delon.


__ADS_2