
Seketika air mata menetes di pipi mulus Jee, sakit yang ia rasakan bercampur dengan rasa malu usahanya kali ini sampai merendahkan diri masih belum bisa mendapat maaf dari suaminya. Alfy benar-benar belum bisa memaafkan Jee karena sudah berbohong dalam waktu yang cukup lama. Tentu Alfy tahu jika Ravindra bukan baru saja bersamanya, semenjak ia melihat Ravindra ketika di kampus pertama kali setelah insiden di jalan menyerempet mobilnya sampai pada waktu olimpiade Jee terus berbohong padanya.
“Jee mana, Fy?” tanya Nyonya Syein yang melihat putranya melangkah menuju ruang kerja.
“Di kamar, Mah.” jawabnya tanpa menghentikan langkahnya.
Semua yang ada di ruangan itu tampak saling melempar pandangan seolah bertanya ada apa dengan mereka berdua. Pintu kamar juga tidak terlihat akan terbuka sepertinya Jee tidak akan keluar kamar.
“Apa semarah itu dia padaku hiks...hiks.” ucap Jee dalam hatinya sambil menangis di pinggir kasur.
Merasa tidak enak dengan suasana hari itu kini Jee memutuskan untuk tidak keluar kamar sampai keadaannya dengan Alfy membaik. Akhirnya sampai malam Jee tertidur duduk di pinggir kasur tanpa sadar kepalanya terjatuh ke kasur. “Aw.” suara rintihan Jee yang merasakan tangannya tertindis tubuhnya ketika jatuh dari duduknya.
Saat Jee bangun di tengah malam matanya menatap ke segala arah ruang kamar itu tidak juga mendapat sosok yang dicari. “Kemana dia?” gumamnya.
Alfy yang kini memilih untuk beristirahat di ruang kerjanya tampak gelisah ingin ke kamar, rasanya sangat tidak enak jika tidur tanpa istrinya di sampingnya. Kali ini ia terus berusaha tidak dengan mudah memberikan maaf pada Jee.
***
Di rumah sakit Zeyra yang tengah tertidur kini bergantian Delon yang menjaga bayinya dengan terus berdiri kesana kemari menggendongnya. Sambil bernyanyi harap agar bayinya bisa tertidur, alih-laih tertidur justru bayinya semkain menangis mendengar suara Ayahnya yang begitu berat.
“Aduh mengapa kau semakin menangis? Sepertinya kau belum terbiasa mendengar orang bernyanyi yah?” ucap Delon yang berbicara dengan bayinya.
Mata sipit itu terus menatapnya dengan sempurna seperti ingin mengatakan jika ia bukan menangis karena belum terbiasa mendengar suara itu, tetapi suara Delon membuat telinganya seperti mendengar orang bertengkar. Tiap kali lagunya bernada tinggi suara Delon terasa menggelegar di telinga mungil itu.
“Diamlah sayang, nanti kau pasti akan suka dengan laguku.” ucap Delon sambil melanjutkan nyanyiannya.
Hemmmm...hemmmm...heemmm tidurlah putraku sayang...hemm...hemmm...hem.
__ADS_1
Berulang kali hanya ucapan itu yang ia nyanyikan dengan nada yang berubah-berubah, terkadang rendah terkadang juga tinggi.
Zeyra yang mendengar suara tangisan putranya semakin terdengar keras kini terbangun ia melihat Delon yang terus menggendong bayinya dengan bernyanyi. Wajah tersenyum Zeyra ketika melihat Delon yang sangat tulus menyayangi anaknya membuatnya sangat salut.
“Dia sepertinya takut mendengar suaramu.” ucap Zeyra yang mengejutkan Delon.
“Takut? Tidak suara bagus kok.” bantah Delon yang tidak terima dengan kejujuran Zeyra.
“Sudahlah bawa kesini, sepertinya dia ingin minum susu.” ucap Zeyra yang sambil tertawa melihat wajah kesal Delon karena kejujurannya.
Zeyra yang tengah memberi asi pada putranya tampak tersenyum sambil menatap bayinya dengan penuh kebahagiaan. Delon yang melihatnya turut merasakan kebahagiaan itu meskipun bayi yang bersamanya bukan sepenuhnya darah dagingnya. Tapi rasa sayang Delon padanya tidak mampu mengalahkan jarak antara mereka.
“Kita beri nama siapa dia?” tanya Delon yang membuat Zeyra seketika terhenti dari senyumannya dan sedang berfikir keras.
“Apa kau memiliki saran nama yang baik?” Zeyra bertanya balik karena merasa bingung.
“Zidan Ganeendra, bagaimana?” jawab Delon yang meminta persetujuan dari Zeyra.
“Nama yang bagus.” puji Zeyra yang membangunkan kegeeran Delon seketika.
“Ehem, iya namaku memang bagus maka itu aku tidak ingin memakai nama lengkapku karena sangat bosan ketika banyak yang memuji namaku. Rasanya sangat malas jika terus mengatakan terimakasih...terimakasih.” begitu Delon memperagakan mulutnya yang sedikit memaju seakan mengejek para orang-orang di sekelilingnya.
Zeyra hanya menggelengkan kepala merasa geli, “Maksudnya nama Zidan yang bagus bukan namamu.” lanjut Zeyra yang membuat Delon seketika terdiam dan menahan wajahnya yang memerah karena malu.
“Oh.” jawabnya singkat.
“Lama-lama kegeeranmu seperti Abangku saja.” ledek Zeyra yang tertawa pada Delon.
__ADS_1
“Beraninya kau samakan aku dengan pria tidak jelas itu.” ucap Delon dengan wajah kesalnya.
“Memangnya kau fikir dirimu itu jelas yah memaksa anak bayi untuk bisa menikmati suara parau seperti tadi, jelas-jelas dia menangis tetap saja kau paksa hahaha.” ejek Zeyra lagi.
Delon yang merasa kalah berdebat kini memilih mengancam Zeyra. “Berhentilah meledek jika tidak malam ini kita akan melewati bulan madu itu, apa kau mau?” tanya Delon dengan mata menggoda sesekali ia menaikkan kedua alisnya.
Zeyra yang tadinya tertawa terkekeh seketika terdiam menutup mulutnya, matanya menekuk tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaimana bisa Delon mengatakan hal segila itu apa dia tidak sadar jika saat wanita baru melahirkan masih mengalami pendarahan dan keadaannya juga tidak begitu baik.
“Kau gila yah?” tanya Zeyra yang bernada sedikit tinggi.
“Makanya berhentilah meledek, kau ini.” Delon yang beranjak ke sofa membaringkan tubuhnya.
***
“Haaaah bosannya mengapa tidak ada semangatku bekerja sih?” gerutu Jac yang membanting berkas di hadapannya kemudian meremas kasar kepalanya. Suasana di ruang kerjanya tampak sepi tidak ada satu pun wujud manusia yang ia lihat.
Begitu juga dengan beberapa lantai di bawah tentu semua tidak ada penghuni karena hanya dia yang bekerja selalu sampai larut malam. Dulu sebelum Delon dan Alfy menikah mereka selalu menghabiskan waktu bersama hingga menjelang subuh. Namun keadaan saat ini sudah berbeda hanya Jac saja yang masih tetap sama seperti dulu selalu sendiri.
“Zey, kau sudah tidur?” tanya Jac yang mengirim pesan singkat.
“Belum, Bang. Ada apa?” balas Zeyra yang dengan cepat mengirimnya.
Jac kini tidak lagi membalas pesan itu kini ia melangkah keluar kantor dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit wajahnya tersenyum kecil seperti akan melihat seseorang yang membangkitkan semangatnya lagi.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” tanya Delon yang mendengar suara ketukan dari luar.
“Buka saja, sepertinya aku tahu siapa yang akan datang.” jawab Zeyra yang sudah menduga jika Jac ingin bertemu suster Syanin.
__ADS_1
Akhirnya Delon dengan cepat membuka pintu dan benar dugaan Zeyra sangat tepat. Tampak sosok pria bertubuh tinggi besar dengan wajah datarnya berdiri di depan pintu. Perlahan matanya menangkap ke segala arah seperti sedang mencari seseorang.
“Abang cari Syanin yah?” tanya Zeyra yang tepat sasaran. Mendengar pertanyaan yang sangat mengejutkannya Jac merasa gugup bercampur malu. Belum lagi ketika melihat ekspresi Delon yang sedang menahan wajah tertawanya.