
“Ayo kita pulang ke hotel aku lelah.” ajak Alfy yang menarik tangan istrinya yang kini mengikuti langkah Alfy.
“Bukannya tadi katanya masih mau jalan-jalan lagi?” tanya Jee yang bingung mendengar ajakan suaminya untuk kembali ke hotel. Alfy hanya terus melangkah tanpa mau menjawab ucapan istrinya yang ada di dalam fikirannya adalah menggagalkan hanya menggagalkan.
Setelah beberapa waktu berlalu kini keduanya pun tiba di hotel, Alfy yang tengah melepaskan seluruh pakaian dengan cepatnya mendorong tubuh Jee hingga terpental di atas kasur.
“Sayang ada apa?” tanya Jee yang terlihat panik melihat tingkah Alfy seperti tidak sadarkan diri tatapan matanya begitu kosong. Alfy masih membungkam mulutnya sementara kedua tangannya sudah menguasai dua benda empuk yang menempel sempurna di dada istrinya. Jee yang panik melihat tingkah Alfy dengan cepat mengambil sebuah pil di dalam tasnya.
Belum sempat ia meminumnya tangan kekar Alfy sudah lebih dulu meraih obat itu. “Tidak ada yang menyuruhmu meminumnya, Sayang.” ucapnya dengan kembali menarik kasar tangan Jee dan kembali menindih tubuh padat itu.
Alfy yang dengan liarnya mulai menggerakkan tangannya merayap ke seluruh bagian sensitif istrinya, membuat bulu Jee yang tidak terlihat seakan berdiri begitu tajamnya, aliran darah yang terasa begitu berlarian di seluruh tubuh wanita itu.
Perlahan Jee mulai menikmati permainan Alfy yang begitu memanjakannya beberapa menit permainan di bawah sana terus ia lakukan sampai akhirnya tubuh Jee mulai menegang sempurna. Alfy yang tersenyum puas tak cukup sampai di situ saja, kini tubuh penembak milik Alfy sudah mulai terarah dan akhirnya sekali hentakan keduanya mulai mengerang hebat. Alfy yang saat itu begitu bersemangat membuat Jee merasa bingung.
“Hamil kau sekarag sayang, hamil kau sekarang haha.” gumam Alfy tertawa dalam hati sambil terus bergoyang mengiringi permainannya. Jee hanya bisa mendesah tak karuan mendapat perlakuan memuaskan dari suaminya. Setelah beberapa saat berlalu kini keduanya mulai tampak menikmati akhir dari permainan itu. Tubuh Jee dan Alfy bersamaan menegang seketika sampai di puncaknya. Dengan cepat Alfy merebahkan tubuhnya yang penuh dengan keringat di samping istrinya.
Belum sempat Alfy memejamkan matanya tiba-tiba saja ponselnya berdering, tangannya mulai meraba meja di samping kasur mereka. Alfy yang mendengar ucapan seorang pria di seberang sana merasa bingung mengapa mereka tahu jika ia sedang berada di paris saat ini.
__ADS_1
“Ah si*l padahal aku sama sekali tidak ingin terganggu waktu beduaan dengan istriku.” gumam Alfy dengan kesalnya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Jee yang penasaran.
“Nanti malam kita di undang acara ulangtahun perusahaan klien aku.” ucap Alfy terdengar tidak senang.
Jee yang merasa senang mendengar acara terlihat senyum lebar di bibirnya. “Yasudah kita pergi saja, aku juga penasaran melihat acara di sini bagaimana.” ajaknya dengan bersemangat.
“Haaaah, bagaimana ini? Apa iya bisa hamil jika sekali saja seperti tadi? Apa aku harus melakukannya lagiyah?” gumam Alfy yang tidak fokus dengan pembahasannya bersama Jee.
“Sayang, sayang...” panggil Jee yang membuyarkan lamunan Alfy seketika.
Adegan panas itu seketika memenuhi seisi kamar mereka di iringi desahan yang terus menyusul di mulut mungil Jee. Alfy yang merasa kembali berada di ujung kini menumpahkan seluruh kepemilikannya di dalam tubuh istrinya. Kali ini keduanya benar-benar kelelahan dan tertidur lelap tanpa menutup tubuh mereka dengan sehelai kain pun.
Tanpa terasa waktu berputar begitu cepat, Jee yang merasakan tubuhnya lemah berusaha bangun dari tidurnya. Melihat jam di tangan ternyata hari sudah hampir gelap, seketika kaki jenjangnya melangkah turun dari kasur dan menuju kamar mandi.
Tentu ia harus lebih awal bersiap karena pada hakikatnya wanita akan memakai waktu lebih lama di bandingkan pria. Setelah selesai ia membersihkan diri kini saatnya memilih gaun untuk acara malam itu. Alfy yang baru terbangun dari tidurnya beberapa kali mengusap kasar kedua mata yang sulit ia buka sejak tadi.
__ADS_1
Matanya tertuju pada wanita yang duduk membelakanginya, terlihat paras cantik dari pantulan cermin besar di hadapannya. “Sayang kau cantik sekali.” Saat mendekatkan langkah pada Jee.
Jee enggan menjawab ia hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, “Kau mengapa tersenyum?” tanya Alfy heran.
“Aku hanya tersenyum, memangnya kau ingin aku menjawab apa? Terimakasih begitu, aku bosan selalu menjawab seperti itu setiap kali orang memujiku.” Ge’er seketika menguasai hati wanita di hadapan Alfy. Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut istrinya ia hanya bisa menghela nafas kasar.
Kemudian tangannya mulai meraih sisir yang berada di depan kaca besar, Alfy menyisir lembut rambut istrinya dan mengecup beberapa kali kepala Jee yang terasa begitu harum. Jee tersenyum melihatnya dan berdiri memeluk tubuh suaminya.
Alfy yang menuju kamar mandi meyisakan senyum di wajah istrinya yang tengah memakai make up. Setalah selesai bersiap keduanya pun segera menuju keluar kamar. Tangan Alfy yang terus menggenggam erat tangan istrinya sangat terlihat wajah paniknya. Jee yang tidak tahu dengan perasaan suaminya hanya berjalan biasa saja. Mobil mereka terparkir dengan sempurna di sebuah hotel besar, para tamu undangan terlihat begitu ramai membawa pasangan masing-masing.
“Ingat kataku sayang, jangan pernah sedetik pun menjauh dariku.” ucap Alfy yang mengingtkan Jee sebelum keluar dari mobil.
“Iya sayang.” Jawab Jee sambil melangkah keluar lebih dulu. Alfy sangat malas sebenarnya pergi ke acara itu namun demi menjaga nama baik kantor ia terpaksa harus datang. Jee yang sudah tampil sangat cantik tentu membuat kerjaan Alfy semakin sulit menjaga mata-mata yang akan memandang istrinya di acara nanti.
Keduanya kini mulia melangkah masuk, tangan Alfy terlihat sangat erat menggenggan tangan Jee. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh pemilik acara dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam. Lama Alfy berbicara dengannya sampai akhirnya ia tahu bahwa Jac yang memberi tahu mereka sedang berada di Paris saat ini. Seketika rahang Alfy mengeras menahan kesal, ternyata pria itu yang mengacaukan semuanya.
Jika bukan karena Jac, tentu malam ini Alfy akan berkerja keras lagi menghasilkan anak untuk kedua kaluarganya yang sudah menanti kehadiran cucu. Semenjak Alfy mendengar Jee mendapatkan tawaran bekerja mendadak rasa takutnya terlupakan. Ia hanya terus fokus berfikir untuk membatalkan Jee bekerja.
__ADS_1
Alfy tidak akan bisa mengawasi Jee jika ia sudah bekerja di salah satu perusahaan. Dan itu membuat Alfy tidak akan tenang melepaskan istrinya untuk di pandangi mata-mata liar di luar sana.