Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Perhatian Delon


__ADS_3

Nyonya yang baru saja tiba di ruang tengah kini duduk menepi sebisa mungkin ia tidak akan mengganggu Jee yang sedang belajar.


Alfy yang terus memperhatikan gerakan Jee dan Fiky tampak serius sampai-sampai saat meeting ia tidak mendengar apapun yang Jacobie paparkan di depan.


Yah tiap kali meeting Jacobie ataupun Delon yang sudah berkewajiban menjadi juru bicara Alfy dan tugas Alfy hanya untuk membantu mencari jalan keluar setiap masalah yang ada di meja itu.


Selain itu Alfy menyerahkan pada beberapa pengacara yang berada di bawah pimpinannya.


"Eh Kak, yang ini kok caranya sulityah?" tanya Jee membandingkan caranya dia dan yang ada di buku milik Fiky.


Dan Fiky menjelaskan jika cara yang di buku itu memang agak sulit jika di lihat tapi setelah ia menjelaskan pada Jee ternyata sangat mudah dan jauh lebih cepat.


Yah mata kuliah Akuntansi Biaya memang sedikit ribet karena banyak penghitungan dengan rumus-rumus.


Alfy yang melihat Jee dan Fiky tampak dekat dengan cepat ia keluar dari ruangan meeting dan menelfona Nyonya Syein.


Jacobie yang melihat tingkah Alfy hanya menggelengkan kepala merasa tidak sanggup menghentikan sikap posesif Tuan mudanya itu.


"Mah, kok Mamah jauh sih dari Jee?" tanya Alfy.


"Hah? kamu tau dari mana Fy?" tanya Nyonya Syein sambil menoleh ke segala sudut ruangan untuk memastikan tidak ada orang yang di utus Alfy.


"Alfy sudah pasang cctv." jawab Alfy singkat.


Nyonya Syein yang terkejut mendengarnya pun hanya melongo dan menutup mulutnya ia tidak habis fikir dengan tingkah putranya itu.


Akhirnya dengan terpaksa Nyonya Syein hanya bisa mengikuti kemuan putranya, Alfy yang melihat kini sudah legah dan bisa kembali fokus bekerja.


Hari terlewati begitu cepat kini tiba waktunya Alfy pulang ke rumah bersama dengan kedua pria tangan kanannya itu.


Sesampai di rumah Jee yang melihat kedatangan suaminya dengan cepat menyambut Alfy ke depan pintu ia tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya.


Alfy yang mengerti tingkah istrinya dengan segera memeluk tubuh Jee yang kini sudah melingkar sempurnah di leher Alfy dan kedua kakinya melingkar di pinggang suaminya.


Tingkah Jee benar-benar seperti anak kecil semua yang melihat hanya tertawa lucu.


"Kau sudah mandi yah?" tanya Alfy yang mencium pipi Jee.


"Iya." jawab Jee singkat.


"Mengapa tidak menungguku?" tanya Alfy.


"Hus," ucap Jee yang menegur Alfy karena banyak orang.


Tampaknya Alfy sangat masa bodoh dengan hal itu kini mereka berdua naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Sedangkan Jacobie dan Delon kembali ke rumah belakang mereka menuju kamarnya masing-masing namun saat Delon akan masuk ke kamarnya ia mendengar suara Zeyra yang sudah muntah-muntah.


Dengan cepat Delon membuka pintu ruangan Zeyra berada, ruangan mereka memang menyatu hanya kamar dan sebuah ruang santai berada di dalam kamarnya.


"Zeyra, kau tidak papa?" tanya Delon.


"Iya aku tidak papa." jawab Zeyra yang belum sempat tersenyum sudah kembalu muntah lagi.

__ADS_1


Delon yang melihatnya merasa tidak tega dan dengan cepat ia mengurut-urut leher belakang wanita itu. Setelah selesai muntah Delon membuatkan air hangat untuk Zeyra.


Kini Zeyra sudah kembali beristirahat di sofa namun wajahnya seperti menginginkan sesuatu Delon bisa melihatnya.


"Ada apa Zeyra?" tanya Delon.


"Tidak kok." jawab Zeyra berbohong.


Namun tiap kali ia diam mulutnya seperti ngiler akan sesuatu dan rasanya sangat sulit untuk di hilangkan.


"Kau menginginkan seuatu yah?" tanya Delon tersenyum.


"Tidak." Zeyra lagi-lagi berbohong.


"Ayolah bilang saja padaku aku akan mencarikannya jika tidak kau tidak akan tidur semalam loh." Delon yang menakut-nakuti Zeyra.


Wajah Zeyra tampak terkejut ketika Delon berbicara seperti itu padanya.


"Benarkah?" tanya Zeyra.


"Iya, ayo katakan kau mau apa?" tanya Delon lagi.


Dengan ragu Zeyra menggigit bibir bawahnya sambil mempertimbangkan apakah dia harus jujur atau tidak.


"Aku ingin apel yang rasanya sangat asem." jelas Zeyra dengan penuh bayangan di wajahnya.


"OKe, aku akan pergi membelinya, kau istirahatlah." ucap Delon langsung bergegas pergi.


Kini hanya ada Zeyra seorang diri di ruangan itu ia tampak melihat pundak Delon yang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi.


"Dia sangat baik ternyata." ucap Zeyra.


Namun seketika senyumannya hilang saat mengingat Nakula yang dulu juga ia katakan sangat baik ternyata justru menipunya.


Wajahnya tampak melamun memikirkan nasibnya kedepan bagaimana apakah ia harus hidup sendiri membesarkan anaknya.


Sama sekali tidak pernah terfikirkan oleh Zeyra akan hidup sesulit ini ia tidak tahu bagaimana membesarkan anaknya nanti.


Sedangkan suster Syanin yang baru saja mengirim pesan singkat pada Zeyra telah pergi ke rumah sakit untuk bekerja.


"Hay Zey, gimana keadaan kamu?" tanya suster Syanin.


"Aku baik Syanin, kamu gimana?" tanya Zeyra balik namun tidak kunjung di balas oleh pemilik pesan.


Sedangkan Jacobie yang dari tadi terus menatap layar ponselnya dengan tulisan suster Syanin beserta nomor ponsel itu sangat ingin menghubungin, namun ia bingung harus bicara apa.


Perasaannya selalu membawanya pada wanita manis itu tapi akalnya tidak berjalan selancar perasaannya sampai ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa.


Di kamar lantai dua Jee yang baru saja menyiapkan baju kaos suaminya mendadak terdiam melihat Alfy yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, handuk yang melingkar di pinggangnya.


Jee menatap Alfy yang kini perlahan melangkah ke arah Jee dengan tatapan begitu dalam. Kini pria itu tepat berada di hadapan Jee tangannya mulai mengusap lembut pipi Jee lalu mendaratkan kecupan demi kecupan di kening, di mata lalu ke bibir.


Jee yang mendapat sentuhan lembut dari Alfy pun mulai membalas dengan memeluk erat suaminya sambil sesekali mengecup bibir merah Alfy.

__ADS_1


Setelah lama mereka bermain dengan lembut kini Alfy sudah membopong tubuh Jee ke atas kasur dan mereka pun melakukannya.


Ruangan yang tadi sangat dingin kini sudah berubah menjadi sangat panas, dua jam lamanya mereka melakukan namun belum juga usai.


Tanpa Jee sadari saat mereka melakukan ternyata ponsel Alfy yang tadi di kasur menyentuh layar dan menelfon Jacobie.


"Ada apa Tuan menelfonku?" tanya Jacobie heran.


Ia dengan cepat mengangkat telefon itu matanya melotot tidak percaya mendengar suara di sambungan ponselnya mulutnya terbuka dan di tutupi oleh jarinya.


Suara desahan Jee dan Alfy yang terdengar di ponsel itu, jantung Jacobie berdebar tidak karuan ada perasaan kaget, takut, malu dan menginginkannya juga.


Akal Jacobie menyuruh untuk mematikannya namun tangannya tidak bisa bergerak untuk mematikannya ia ingin terus mendengarnya.


"Kau suka, Han?" tanya Alfy sambil mengecup kening Jee.


"Ehem..." jawab Jee lembut dengan nafas yang masih memburu.


"Mengapa kau menyukainya?" tanya Alfy.


"Karena kau kuat." jawab Jee malu.


"Lalu apa lagi?" lanjut Alfy menggoda.


"Besar." ucap Jee dengan membenamkan wajahnya di dada suaminya.


Jacobie yang mendengar hanya menelan kasar di tenggorokannya dalam hatinya terus berbicara. "Kuat, besar apa itu...." ucapnya.


Setelah Jacobie menyadari permainan Tuan mudanya selesai dengan cepat ia mematikan sambungan ponsel itu.


Di pikirannya selalu terbayang kuat, besar kata-kata itu selalu terulang-ulang membuatnya semakin pusing.


Di ruang sebelah Delon yang sudah datang memanggil Jacobie mendengar panggilan Delon akhirnya Jacobie keluar dengan wajahnya yang memerah.


"Ada apa?" tanya Jacobie.


"Ayo kita temani Adikmu makan ini." ajak Delon yang melangkah ke tempat Zeyra.


Jacobie hanya terdiam sambil mengikuti langkah pria di depannya itu sementara fikirannya terus terbayang suara-suara Jee dan Alfy.


Saat mereka bertiga duduk Zeyra terlihat begitu lahap memakan buahnya dan Delon yang ikut memakannya tampak menahan geli di tubuhnya karena terlalu asam.


"Abang nggak makan?" tanya Zeyra melihat Jacobie yang duduk dengan tatapan kosongnya.


"Hey," Delon yang menyenggol bahu Jacobie.


"Iya Besar." jawab Jacobie yang tidak sengaja mengeluarkan kata-kata itu.


Delon dan Zeyra terdiam heran menatapnya karena bingung dengan jawaban Jacobie barusan.


"Apanya yang besar?" tanya Delon penasaran.


"Bukan apa-apa." jawab Jacobie gugup.

__ADS_1


"Bodoh...bodoh...bodo... ngapain sih ngomong seperti itu." gumam Jacobie sambil memaki dirinya sendiri.


__ADS_2