Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Bagaimanakah tindakan Dokter itu?


__ADS_3

“Halo, wah ku fikir nomor ponselmu sudah kau buang hahaha.” ucap Tuan Farhan yang tertawa membuka pembicaraan itu.


“Bagaimana bisa aku membuang nomorku? sedangkan aku akan kembali ke Indonesia menemui.” jawab Tuan Remon yang ikut tertawa mendengarnya.


“Ternyata kau masih ingat dengan sahabatmu ini yah?” tanya Tuan Reindra mengejek.


Tuan Remon yang kesal mendengar ejekan sahabatnya hanya menghela nafasnya kasar. “Bisakah kita bertemu di kafe biasa?” tanya Tuan Remon yang sukses mengejutkan Tuan Farhan.


“Hah bertemu? Maksudmu?” tanyanya begitu tak percaya.


Tuan Remon menceritakan jika dirinya saat ini sudah berada di Indonesia dan menunggu kedatangan Tuan Farhan di kafe biasa dulu mereka bertemu. Akhirnya tanpa menunggu lama Tuan Farhan segera meninggalkan rumah menyisahkan suster Syanin bersama Nyonya Melly. Nyonya Melly memang tidak suka dengan suster Syanin tapi ketakutannya ketika di ancam Tuan Farhan akan di ceraikan dan tidak mendapat uang menciutkan nyali wanita itu.


***


Alfy yang mulai aktif bekerja di kantor setiap hari selalu meminta istrinya untuk menemaninya di kantor, Jee yang merasa bosan berada di rumah memilih untuk ikut denga Alfy. Di ruang kerja yang biasanya terdapat tiga orang pria kini kembali lagi menyisahkan Alfy dan Jee di ruang kerja.


"Sayang, aku mengantuk." ucap Jee terdengar manja.


Sementara Alfy yang tengah sibuk berkutit dengan laptonya menatap kembut ke arah Jee, wajah tampannya tersenyum dan berdiri dari meja kerjanya. "Ayo aku antar ke kamar." ucapnya meraih tubuh Jee yang duduk di sofa menuju ruang istirahat pribadinya.


Jee yang mengikuti permintaan suaminya tanpa sadar tengah memberi jalan kebebasan lagi pada Alfy. "Mengapa kau tidak kembali ke meja kerja sayang?" tanyanya penasaran melihat Alfy yang mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.


Kemudian pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Jee. "Kau membuatku mengingat sesuatu, Sayang."


"Deg" suara detakan jantung Jee yang seolah terhenti ketika mencerna pendengarannya. Di ruangan ini, tanpa ada orang lain jika ia benar tentu Alfy akan melakukan hal itu lagi padanya.


"Aaahh jangan sayang, aku takut jika ada yang mengetahuinya. Nanti saja yah di rumah." bantahnya sambil berusaha memundurkan tubuh suaminya. Alfy yang tak mau mengalah lebih memajukan tubuhnya sampai membuat Jee terbaring di kasur.


"Sayang, emm-" (ucapan Jee sudah tak bisa di lanjutkan ketika suaminya mulai melancarkan aksi bibirnya dan menindih tubuh Jee). Mata sendu terlihat pada kedua penglihatan pria itu, seakan mengartikan ia benar-benar sangat menginginkannya.


Jee yang tidak bisa membebaskan diri lagi akhirnya memilih membalas serangan Alfy tak kalah semangatnya. Sesekali suara keduanya saling beradu dalam lembutnya sentuhan demi sentuhan yang mereka dapatkan. Ruangan hening kembali terisi dengan desahan keduanya, suasana ruangan yang terasa dingin kini perlahan berubah menjadi panas.


Alfy yang sudah menguasai tubuh Jee terus menelusuri setiap bagian yang membuatnya kembali semakin bergairah tanpa terlewatkan satu pun. Cukup lama permainan di ruangan itu berlangsung sampai akhirnya tubuh mereka saling berpagutan dengan eratnya.


"Sayang, wajah dan leherku merah semua bagaimana ini?" tanya Jee yang panik saat menyadari penampilan kulitnya.


Alfy yang masih terbaring dengan keringat di tubuhny tersenyum menatap istrinya yang semakin hari terlihat semakin menarik. "Mengapa menatapku seperti itu? kau tidak dengar yah aku bertanya?" ucap Jee dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kau semakin membuatku terus menginginkannya, Sayang." jawab Alfy yang memeluk tubuh Jee dengan beberapa kali ia mengec*p kedua benda padat istrinya.


"Aw, sudah hentikan sayang." bantah Jee yang kegelian. Sedangkan Alfy terus melakukannya beberapa kali sampai menggigitkan. Jee yang merasa kesakitan merintih dan berlari turun dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.


Hari-hari mereka lewati hanya dengan berdua tanpa berpisah sehari pun, sampai suatu hari ketika Alfy dan Jee ingin berangkat ke kantor Tuan Reindra menghampiri keduanya. "Kalian mau ke kantor lagi?" tanyanya.


Jee yang hanya tersenyum tanpa menjawab seolah mengiyakan pertanyaan mertuanya. "Iya Pah." jawab Alfy.


"Papah minta mulai hari ini Jee tidak lagi ikut terus ke kantor." tegas Tuan Reindra yang membuat keduanya terkejut.


"Maksud Papah apa?" tanya Alfy terdengar kesal.


"Papah tidak ingin cucu Papah kenapa-kenapa lagi, jadi berhentilah kalian memikirkan kebahagiaan kalian tanpa mengingat kandungan Jee." pintah Tuan Reindra.


Jee yang tidak berani membantah mertuanya hanya terdiam menatap Alfy, sedangkan Alfy yang panik berusaha mencari cela untuk bisa membawa Jee ikut dengannya.


"Bagaimana jika Jee tidak ikut denganku? apa proses hamilnya akan tertunda juga?" ucapnya dalam hati. Tujuan Alfy membawa Jee ke kantor setiap hari tentu bukan tanpa alasan. Ia takut jika kehamilan palsu istrinya di ketahui oleh orang tua mereka dan tentu Alfy akan di marahi karena berbohong.


"Tapi Pah, Alfy tidak enak bekerja tidak melihat Jee dan calon anak Alfy." ucapnya berbohong lagi.


Alfy yang pasrah dan tidak berani lagi menjawab akhirnya memilih untuk segera berangkat ke kantor. Wajahnya yang menekuk membuat Jee tidak tega membiarkan suaminya pergi sendiri. Tapi ketika ia melihat wajah mertuanya, seketika senyuman kecut di wajah cantik itu terlihat dan melangkah ke ruang tengah.


Siang hari Jee yang berbaring di ruang tengah bersama Nyonya Syein dan Nyonya Flora terlihat menikmati film di televisi.


"Nyonya, ada Tuan Fiky." ucap Bi Ria yang membuat Jee membangunkan kepalanya dari pangkuan Nyonya Flora.


"Eh Kak Fiky." sambut Jee dengan  tersenyum.


Kedua wanita paruh baya yang melihat ekspresi pria itu tampak mengerti, segera mereka meninggalkan Jee dan Fiky berdua di ruangan itu. Jee yang menatap dengan bertanya-tanya apa yang membuat pria tampan ini terlihat sedih.


Fiky bercerita tentang perasaannya, ia merasa kehilangan sosok Dara yang selalu perhatian dengannya. selama mereka berpacaran Fiky tidak benar-benar mencintai Dara selain rasa kagum dengan cantik dan kebaikan wanita itu. Jee terkejut ketika mendengar kejujuran Fiky tentang berakhirnya hubungan mereka karena Fiky masih menaruh harapan pada Jee.


"Kak, kenapa bisa jadi begitu sih?" tanya Jee dengan terkejutnya. Ia tidak menyangka jika Fiky masih memiliki rasa padanya.


Fiky hanya terdiam menunduk penuh penyesalan, ia sangat malu untuk datang pada Dara dan memohon kembali padanya. Saat kepergian Dara di hidupnya ia baru sadar jika perasaannya pada Jee sudah tak ada lagi selain sebagai adik dan kakak. Jee yang bingung harus berbuat apa hanya menghela nafas kasarnya. Sepertinya kali ini kedua pasangan itu membutuhkan bantuan darinya.


Belum selesai keduanya berbicara tiba-tiba seorang Dokter asing berdiri di depan pintu besar itu. Fiky dan Jee yang menyadari kehadiran Dokter menatap penuh tanya.

__ADS_1


"Jee, kau sakit?" tanya Fiky dengan penasaran.


Jee menggelengkan kepalanya sambil terus menatap ke arah pintu rumah. Tak lama kemudian Tuan Reindra datang menyambut kedatangan Dokter dengan ramahnya. "Mari masuk, Dokter."


"Pah, siapa yang sakit?" tanya Jee dengan paniknya.


Tuan Reindra yang tersenyum mengajak Dokter untuk duduk bersama Jee dan Fiky. "Kau sejak tadi, Fiky?" tanyanya.


"Em baru saja, Tuan." jawab Fiky sopan.


"Plaakkk" Suara pukulan tangan Tuan Reindra di paha pria itu.


"Panggil saya seperti kau memanggil Papinya Jee." pintahnya dengan tegas.


"Apa-apaan ini, apa iya aku harus memanggil Papah? jika putranya tahu apa yang akan ia katakan padaku?" ucapnya dalam hati.


"Em iya Paman." jawab Fiky mencari aman saja.


Jee yang tertawa mendengar panggilan yang kaku hanya menggelengkan kepalanya saja. Tuan Reindra yang dengan segera menganggukkan kepala tersenyum.


"Jee, Dokter ini Papah panggil untuk memeriksa kandunganmu. Papah tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada cucu Papah. Khusus Dokter dari luar negeri dan yang terbaik akan menangani cucu Papah." ucap Tuan Reindra yang di sambut tepukan tangan oleh Tuan Indrawan.


"Wah, wah ada yang ingin menyaingiku sepertinya." sahut Tuan Indrawan yang sirik dengan sahabatnya.


"Astaga siapa yang ingi menyaingimu sih." jawab Tuan Reindra kesal.


"Oke untuk pemeriksaan bagianmu, tapi untuk perawatan selanjutnya adalah bagianku yah." ucap Tuan Reindra meminta kesepakatan.


"Hem iya, iya terserah kau saja." jawab Tuan Reindra.


Kini Dokter segera mengeluarkan beberapa alat yang ia butuhkan, sementara Nyonya Flora dan Nyonya Syein menemani Dokter masuk ke kamar Jee di ikuti dengan wanita cantik itu.


Setelah beberapa kali Dokter memeriksa kandungan Jee, matanya terlihat memekik. Seolah ada tatapan bingung di sorot matanya.


Kini semuanya keluar tanpa sisa satu pun di dalam kamar. Tuan Reindra dan Tuan Indrawan yang begitu antusias menunggu kabarnya hanya tersenyum tidak sabaran.


"Bagaimana, Dok? cucu kami baik-baik saja kan?" tanyanya dengan tak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2