Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Menyerahkan Diri


__ADS_3

Sebulan telah berlalu kini mantan dari seorang pengacara yang bernama Nakula Mahesa Biglous telah kembali ke dunia bebas.


Bagaimana bisa hukuman yang begitu lama sekarang bisa berubah menjadi hukuman yang begitu singkat.


"Ini kuncinya Tuan," ucap pria itu pada Nakula.


Ia adalah salah seorang kepercayaan Nakula yang membawakan sebuah mobil sportnya sudah lama barang itu tidak terpakai oleh Nakula.


Dengan melajukan kendaraannya ia merasa udara di Kota Metropolitan itu sangat membuatnya rindu mengendarai dengan begitu ugal-ugalan.


Untung saja ia bisa tiba di sebuah kafe mewah dengan selamat setelah mobilnya terparkir dengan sempurna sesegera mungkin ia melangkah memasuki kafe itu.


Di sebuah kursi yang berada di pojok ruangan itu sudah terlihat salah seorang pria berkepala botak dengan wajah yang sangat menyeramkan.


"Tuan sudah menunggu anda di sana, Tuan." Salah seorang pelayan yang mengantar Nakula ke arah kursi yang sudah ada pemiliknya.


Melihat kedatangan Nakul di hadapannya pria itu tertunduk sopan dan mempersilahkan Nakula untuk duduk.


"Apakah anda sudah nyaman Tuan?" tanya Pria itu namanya adalah Bram.


Bram merupakan orang kepercayaannya Nona Friska sekaligus kuasa hukum Nona Friska, dan tentu Bram lah yang membantu Nakula untuk bebas dari masa tahanannya itu.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Nakula yang penasaran namun tetap menunjukkan wajah sombongnya.


Akhirnya Bram menceritakan tujuannya membebaskan Nakula adalah untuk membantu Nona Friska menghancurkan Alfy.


"Apa maksudmu?" tanya Nakula terkejut mendengar nama Alfy di sebutnya.


Akhirnya Bram menjelaskan apa yang terjadi pada Nona Friska sampai akhirnya Bram mencari tahun musuh Alfy dan ia memilih Bram untuk ia bebaskan dari tahanan.


Nakula yang tampak berfikir panjang mengingat dendamnya pada perusahaan itu bagaimana ia saat di pecat secara tidak hormat.


Rahangnya bergerak menahan amarah tatapannya begitu dalam sementara Bram yang melihat itu merasa puas sepertinya jalan yang ia susun akan terlaksana dengan mulus tentunya.


"Bagaimana Tuan?" tanya Bram yang memecahkan lamunan Nakula seketika.


"Baiklah aku terima tawaranmu," jawab Nakula dengan tegasnya.


"Terimakasih Tuan, dan ini ada cek dari Nona Friska untuk anda gunakan dalam permainan anda untuk kebutuhan anda ini kartu kredit dari Nona juga," Bram menyodorkan kedua benda berharga itu.

__ADS_1


Melihat fasilitas yang di beri oleh Nona Friska, wajah Nakula tampak tersenyum begitu puas tanpa susah payah ia mendapatkan ini semua akhirnya.


"Apa ada lagi kau ingin bicarakan?" tanya Nakula dengan tidak sabarannya.


"Tidak ada Tuan," jawab Bram dengan pelan.


Tanpa bicara Nakula segera bergegas pergi dari kafe itu meninggalkan Bam seorang diri yang masih terus menatap punggung Nakula yang kini sudah tidak terlihat lagi.


Nakula di perjalanan mulai memikir siasat yang harus ia susun dengan baik tentu butuh konsentrasi yang baik, dia baru ingat tentu hari pertama ia membutuhkan hiburan bukan.


Dengan cepat ia meraih ponselnya yang sudah diberikan oleh pihak lembaga tahanan sebelum ia pergi tadi.


"Halo Zey," ucap Nakula dengan akrabnya.


Wanita yang mendengar suara itu terkejut bukan main karena yang ia tahu Nakula masih berada di dalam tahanan saat ini.


"Ini..." ucap Zeyra Henry dengan ragunya.


Yah Zeyra Henry memang pernah bertemu dengan Nakula bahkan sering sebelum ia akhirnya bekerja di Belanda bersama Nona Friska.


Namun saat ia kembali ke Indonesia betapa terkejutnya ketika mengetahui Nakula menjadi tahanan lapas saat itu hantinya benar-benar hancur.


Zeyra begitu menyukai Nakula namun sifatnya yang begitu mementingkan harga dirinya membuat wanita itu tidak bisa menyatakan perasaan pada Nakula setelah begitu lamanya mereka dekat.


Mendapat kesempatan itu Nakula juga enggan memperjelas hubungan mereka karena pria itu tidak bisa setia pada satu wanita saja.


"Iya ini aku Nakula," ucap Nakula yang sukses membuyarkan lamunan Zeyra seketika di seberang sana.


"Bagaimana bisa kau menelfonku?" tanya Zeyra yang masih bingung.


Dengan cepat Nakula mematikan mobilnya yang sudah terparkir dengan sempurna di parkiran apartemen mewah milik Zeyra.


Begitu juga dengan ponselnya yang sudah ia matikan wanita itu seketika bingung apa yang terjadi pada pria itu apakah ia di siksa di dalam sana karena berani menggunakan ponsel.


Fikiran Zeyra begitu kacau ia tidak bisa tenang dengan segera ia mengganti pakaiannya dan berniat untuk membesuk Nakula di lapas.


Saat tangannya meraih pintu kamar dan membuka matanya begitu terkejut melihat tubuh seorang pria yang berdiri tegak tepat di hadapannya.


Melihat dari sepatu sampai matanya berhenti menatap tepat di wajah Nakula yang terlihat tidak begitu bersih seperti dulu. Kini beberapa rambut halus mulai menghiasi wajahnya yang tampan itu.

__ADS_1


Zeyra terus memandangi Nakula dengan tatapan haru matanya berkaca-kaca dan tubuhnya seperti terkunci melihat pria yang sangat ia rindukan kini berada tepat di hadapannya.


"Kau tidak ingin memelukku yah?" tanya Nakula yang membuat Zeyra tersadar dari lamunannya.


Dengan cepat wanita itu meloncat kegirangan melingkarkan kedua tangannya di leher Nakula dan kedua kakinya di pinggang pria itu.


Tingkah Zeyra terlihat seperti anak kecil yang merindukan Ayahnya ketika lama berpisah.


Nakula yang sudah melangkah memasuki apartemen Zeyra dengan terus menggendong wanita itu akhirnya menaruh Zeyra ke atas kasur.


Kini tampak terlihat tatapan Nakula begitu penuh arti ia terus menatap wajah Zeyra tanpa hentinya sementara wanita yang terbaring itu tidak memberikan gerakan apapun.


Ia juga menatap Nakula dengan tatapan penuh keinginan yang terpendam sampai akhirnya ia tidak sadar dengan permainan Nakula yang sudah mel**at habis bibrnya dan entah sejak kapan mereka sudah saling beradu.


Sampai akhirnya Zeyra terlarut dalam permainan lincah pria yang kini sudah menguasai dirinya tanpa menolak Zeyra dengan senang hati menikmati permainan itu.


Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu di kamar itu kini hanya seisi kamar Zeyra lah yang menjadi saksi bisu permainan mereka.


Setelah keduanya merasa terlampiaskan Nakula benar-benar larut dalam pertunjukan itu sampai ia tidak menyadari bahwa telah mengambil keperawanan wanita yang begitu mencintainya.


Matanya terkejut saat melihat bercak merah yang berada di atas sprei putih itu ia menatap ke arah Zeyra yang masih terbaring lemas.


"Kau masih...?" tanya Nakula dengan wajah kagetnya.


Wajah Zeyra yang masih lemas hanya menjawab dengan sekali anggukan lalu tersenyum lirih.


Bukannya timbul penyesalan justru Nakula tampak tersenyum puas kini rencananya tentu akan berjalan semakin sempurna bukan.


Hari itu Nakula hanya menghabiskan waktu dengan Zeyra di kamar milik wanita itu merasa begitu di istimewakan Zeyra sama sekali tidak keberatan jika semua yang ia miliki di berikan pada Nakula.


Meskipun sebenarnya hatinya bertanya apa posisi dirinya bagi Nakula saat ini mengapa pria itu sama sekali tidak pernah menyatakan perasaan padanya.


Tapi jika melihat cara Nakula memperlakukannya itu semua sudah lebih dari cukup tentunya bagi seorang Zeyra yang memang tidak pernah berhubungan atau bahkan dekat dengan pria mana pun.


Karena Jacobie selalu mengawasinya dari kejauhan saat sebelum bekerja pada Nona Friska dan mendapat kepercayaan dari Jacobie itu.


Dulunya Zeyra memang sangat di jaga ketat oleh Jacobie karena memang masih sangat rawan namun seiring berjalannya usia wanita itu perlahan rasa posesif Jacobie terhapus dengan rasa percanya pada Zeyra yang selalu berusaha meyakinkan Jacobie.


Hai lover cerita Zeyra dan Nakula di episode ini sampai di sini duluyah kita akan lanjutkan di episode berikutnya nantikan terus kelanjutan ceritanya yah. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.

__ADS_1


__ADS_2