
Kini suasa malam telah bergati subuh di kediaman Syein Biglous tampak dua orang wanita yang tengah asyik berlari kecil di halaman depan rumah yang luas itu.
Suara tawa terdengar begitu masuk ke dalam telinga yang lagi-lagi mengajak Tuan Reindra, Tuan Indrawan bersaam istrinya terbangun dan melangkah ke luar.
Mereka tertawa bahagia melihat pemandangan pagi itu tampak sejuk di hiasi dengan dua wanita cantik yang berolahraga.
Setelah cukup lama akhirnya Jee dan Dokter Adeline menyudahi gerakannya karena Jee harus bergegas membersihkan diri.
"Dokter, saya duluan yah." ucap Jee yang melangkah memasuki rumah.
"Sudah selesai sayang?' tanya Nyonya Syein pada Jee.
Jee yang melihat keempat orangtuanya tersenyum. "Iya Mah, kalian sudah dari tadi bangun?" tanya Jee.
"Sejak suaramu terdengar lucu itu," sambung Nyonya Flora.
"Maafkan Jee yah." Raut bersalah tampak terlihat di wajah cantik itu.
"Tidak apa-apa sayang sana mandi." perintah Nyonya Flora lagi.
Dengan cepat Jee melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan semangat mengingat hari ini adalah harinya untuk bebas.
Hari yang bena-benar ia nantikan sejak lama dan baru kali ini bisa di raih hal yang paling istimewa tentu Jee rasakan.
Setelah masuk ke dalam kamar ia melihat pangerannya yang tampan masih bergelut dengan selimut entah sejak kapan Alfy mulai bisa melepaskan pelukannya pada Jee.
Biasanya tiap matanya tertidur selalu memeluk tubuh istrinya dan jika Jee bergerak sedikitpun ia pasti terbangung namun perlahan keadaan Jee mengajarinya untuk tidak manja.
"Lucu sekali sih," Suara Jee yang mencubit pipi suaminya.
Namun ia tidak sadar jika sentuhan itu akan membuat Alfy segera terbangun dan menerkamnya saat itu juga dengan kedua tangannya.
"Kenakan?" Alfy yang sudah menjatuhkan tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Lepaskan, Han!" Jee berusaha memberontak namun lagi-lagi ia tidak kuat.
"Siapa suruh menggodaku." ucap Alfy membela diri.
"Ayo mandi." ajak Jee.
"Mandikan," jawab Alfy.
Mendengar itu Jee segera menatapnya tajam.
"Sejak kapan kau menakutkan seperti itu?" tanya Alfy menggoda istrinya.
"Cup," suara kec*pan Alfy di bibir istrinya.
Dengan segera ia beregas ke kamar mandi Jee yang melihat tersenyum menang akhirnya pagi ini tidak perlu menahan amarah lagi.
Setelah cukup lama mereka membersihkan diri akhirnya kini pasangan itu turun bersama ke lantai dasar dan melihat yang lainnya sudah menunggunya di meja makan.
Delon juga sudah hadir di meja makan itu menunggu Nona Jee.
__ADS_1
Mereka kini makan bersama dengan tanpa ada suara yang memecah keheningan tiba-tiba saja Jee merasa ada yang kurang.
"Jac tidak pulang?" tanya Jee.
"Tidak Nona, ia menjaga Zeyra." jelas Delon.
Mendengar hal itu Jee hanya menganggukkan kepala.
"Kalian selalu memanggilnya Nona, seperti tidak menganggapku saja." celoteh Alfy.
Jee yang mendengar sontak tersedak makanan dengan cepat Alfy memberikannya minum sementara Delon yang berfikir tampak tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Bukannya dia yang selalu menyebut pada kami dengan Nona." gumam Delon saat mengingat tiap kali Alfy menyebutkan istrinya pada setiap orang.
"Panggil dia Nyonya." tambah Alfy lagi.
"Baik Tua," jawab Delon.
Sarapan pun selesai Jee sudah meminum jus dan obat-obatannya kini ia melangkah bersama dengan Alfy dan Delon ke depan rumah.
"Delon kau pergi bersamaku," ucap Alfy saat melangkah menuju mobil.
"Tapi Nona Tuan? eh Nyonya maksud saya." Wajah Delon tampak bingung.
"Pergilah aku akan ke kampus sendirian hari ini," Suara Jee yang sudah berteriak kecil dan mengulurkan lidahnya pada Delon.
"Sungguh manis sekali Nyonya seperti itu," gumam Delon sambil menatap Jee.
"Aku pergi duluyah," ucap Jee sambil mengecup pipi suaminya.
"Di sini." ucap Alfy sambil menunjuk bibirnya.
"Hah?" Jee yang melihat keadaan sekitar rasanya tidak aman.
"Cepat!" perintah Alfy yang tidak mau tahu.
Lagi-lagi pasangan itu menjadi tontonan rutinitas tiap pagi keluarga besar di depan rumah yang hanya bisa tertawa menggelengkan kepala melihat tingkah putra putrinya.
Dengan cepat Jee mengecup bibir suaminya lalu beranjak pergi dari rumah itu dengan melaju Jee sambil berteriak di dalam mobil.
Alfy yang tampak dengan ekspresi datarnya hanya terdiam saja sampai akhirnya mereka sama-sama tiba di tujuan masing-masing.
Alfy yang segera masuk ke ruang kerjanya mendapat sapaan hormat dari para karyawannya sementara tatapannya tetap fokus ke depan tidak memperdulikan mereka.
Sedangkan Jee yang baru saja tiba di depan kampusnya tampak begitu bahagia ia tidak sadar jika di sudut kampus sudah ada sepasang mata yang memperhatikan pergerakannya.
"Dia sudah ke kampus Tuan dan saat ini ia sendirian tanpa pengawal." Dengan memberikan laporan sesuai permintaan pria di seberang sana.
"Baik awasi terus dia." ucap pria itu.
Yah Narendra sudah mencari waktu untuk bertemu Jee tentunya ia akan mencari sela-sela di mana Alfy mulai lengah darinya.
Sedangkan di rumah sakit tepatnya di sebuah ruang rawat suster Syanin yang baru saja terbangung melihat Jacobie sudah duduk rapi di kursi yang berada tepat di sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?" tanya Jacobie.
"Iya Tuan." jawa suster Syanin yang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
Entah pria itu kapan tidurnya padahal tadi subuh dia masih duduk di kursi itu dan sekarang sudah terlihat segar dan sudah mandi pastinya.
Sepertinya ia menghabiskan malam dengan setia duduk di kursi itu bersama laptopnya padahal tanpa suster Syanin ketahui pria itu tengah menghabiskan sisa waktu subuhnya dengan menangis.
Matanya yang agak sembab sebenarnya bukan karena bergadang namun karena air mata penyesalan yang tidak henti-hentinya ia keluarkan.
"Bersiaplah aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Jacobie dingin.
"Tapi Noan Zeyra..." Suster Syanin yang tampak khawatir.
"Tidak apa-apa di depan sudah ada pengawal." jelas Jacobie.
Yah orang kaya mah bebas masih banyak orang kepercayaan mereka bisa di suruh jika mendatangkan satu detik saja tentu mereka mampu dengan orang yang banyak pun mereka mampu pastinya.
Akhirnya suster Syanin dengan cepat mengemasih tasnya di loker rumah sakit lalu bergegas pergi dengan Jacobie selama di perjalanan pun mereka tidak ada berbicara.
Sama-sama tidak berani berbicara hanya keheningan saja yang menemani perjalanan mereka namun saat menuju rumah suster Syanin tampak terkejut.
"Tuan, bagaimana bisa anda mengantarku dengan tidak bertanya apa pun?" Suster Syanin yang terkejut dengan melihat Jacobie yang mengetahui arah rumahnya.
Sementara Jacobie yang bingung harus berbuat apa akhirnya ia memikirkan alasan.
"Yah dari tadi kau hanya diam berarti jalan yang kupilih benar, jika salah tentu kau akan menyuruhku belok atau putar balikkan?" Jacobie dengan liciknya beralasan yang tidak masuk akal.
"Benarkah seperti itu?" tanya suster Syanin tampak heran tidak percaya.
Namun belum sempat Jacobie menjawab kini mobil sudah lebih dulu terparkir di depan rumahnya suster Syanin dan lagi-lagi membuat wanita itu semakin tercengang.
Bagaimana bisa pria itu memberhentikannya tepat di depan rumah miliknya jika ia tidak mencari tahunya tentu itu adalah hal yang mustahil.
Suster Syanin yang terus menatapnya di dalam mobil.
"Turunlah!" perintah Jacobie membuyarkan tatapan suster Syanin.
Dengan cepat wanita itu turun dari mobil dan Jacobie tanpa berbicara apapun langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan suster Syanin yang masih terdiam membisu.
Hari itu begitu singkat tidak terasa waktu Jee berkuliah sudah berakhir dan terakhir mereka mengumpulkan tugas untuk nilai tambahan.
Fiky yang belum sempat berbicara pada Jee tampak terburu-buru mengemasi barangnya namun ia sudah terlambat Jee sudah lebih dulu menuju parkiran.
Namun mata Fiky seketika melotot saat menyaksikan seseorang dengan jas hitam menarik tangan Jee ke samping sebuah mobil lalu membiusnya.
Dengan cepat Fiky berlari tapi tidak bisa mengejar lalu ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Alfy.
"Jee di culik." ucap Fiky singkat.
Alfy yang tengah sibuk seketika meraih ponsel di saku jasnya matanya tampak tidak percaya membaca pesan itu dengan cepat ia menelfon Fiky.
"Siapa yang menculiknya?" Suara Alfy tampak tegang dengan cepat Delon berdiri merasa terkejut.
__ADS_1
"Entahlah, aku sedang mengejar mobil itu." jelas Fiky.
Saat itu juga Alfy meminta Fiky untuk mengaktifkan gpsnya agar ia bisa melacak keberadaan Fiky sementara Alfy yang sudah berlari bersama Delon menuju mobilnya.