Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Panggilan Video


__ADS_3

Setelah Fiky berfikir kini tiba waktunya untuk dia memutuskan bagaimana seharusnya membantu Dara dalam belajar.


Mengingat cerita dari Bi Lilis rasanya sangat membantu jika Dara memang selalu tertidur ketika melihat tulisan di buku akhirnya Fiky mendapatkan cara.


Fiky mencoba metode yang ia rasa mungkin akan lebih menarik untuk Dara.


"Tring...tring...tring." Suara ponsel Dara berdering tanda panggilan video masuk.


"Hah Kak Fiky ada apa yah?" gumam Dara heran.


"Halo Kak," ucap Dara yang sedikit gugup.


"Sudah siap belajarnya?" tanya Fiky tersenyum.


"Iya Kak sudah, aku fikir Kakak bakalan datang hehe." jawab Dara tersenyum manis.


Fiky yang mendengarnya hanya tersenyum lalu melanjutkan rencananya, kini Fiky sudah mengarahkan layar ponselnya tepat di arahnya duduk saat ini sambil memegang buku.


"Sekarang kamu fokus melihat layar ponselmu yah." ucap Fiky dengan serius.


Dara yang masih terlihat bingung tampak begitu antusias menunggu hal apa yang akan Fiky perlihatkan padanya sampai harus melakukan panggilan video.


Perlahan Fiky menjelaskan beberapa tulisan di buku lalu menyuruh Dara untuk mencatatnya, dengan cepat Dara pun mencatat yang sudah di perintahkan Fiky.


Wajah Dara tampak sangat serius memperhatikan layar ponselnya, sedangkan Fiky yang sudah selesai menjelaskan beberapa materi pun tersenyum melihat Dara yang tidak terlihat mengantuk sama sekali.


"Bagaimana? kau bisa memahaminya?" tanya Fiky.


Dara yang tanpa sadar telah selesai belajar pun mengangguk tersenyum ia sama sekali merasa seperti terhipnotis oleh metode belajar Fiky saat ini.


"Kak apa belajarnya kita di ganti dengan ini?" tanya Dara yang sepertinya mulai paham.


"Menurutmu apa ini menarik?" ucap Fiky yang bertanya balik.


"Tentu saja Kak, ini bisa memudahkanku untuk tidak mengantuk." ucap Dara yang menahan malu karena keceplosan.


Fiky yang mendengarnya hanya tertawa seakan tidak tahu apa-apa padahal Bi Lilis sudah menceritakan semua padanya.


Akhirnya beberapa hari pun berlalu setiap hari Dara menghabiskan waktunya untuk belajar dengan Fiky melalui panggilan video.


Sedangkan di rumah utama, Jee yang sudah memikirkan keputusannya begitu lama akhirnya menelfon Nyonya Flora.


"Mi, bisa ke kamar Jee?" tanya Jee yang meminta Nyonya Flora.

__ADS_1


"Iya sayang, Mami ke kamar yah." jawab Nyonya Flora dengan cepat bergegas menaiki tangga menuju kamar anaknya.


Sementara Alfy yang tidak berani untuk bertanya pada Jee hanya terdiam memandangi istrinya saja dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Nyonya Flora yang kini sudah tiba di depan kamar Jee dengan segera mengetuk pelan pintu kamar itu lalu membukanya dengan sangat hati-hati.


Suasana kamar itu sangat canggung tidak ada suara apa pun di sana hanya keheningan yang terdengar.


"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Flora.


"Mi, kita pulang ke rumah kita yah." ucap Jee yang terdengar sangat berat.


"Pulang?" Suara Nyonya Flora yang terkejut mendengar ucapan putrinya.


Begitu juga dengan Alfy yang kaget mendengar permintaan Jee dengan cepat Alfy pun segera bangun lalu mendekat ke arah istrinya.


"Apa maksudmu pulang?" tanya Alfy yang bingung.


"Aku ingin pulang tolong ijinkan aku." jelas Jee tanpa bicara panjang lebar.


"Baiklah jika kau ingin pulang kita akan pulang yah mungkin kau rindu dengan suasana rumah di sana kan?" tanya Alfy yang merasa senang bisa bicara lagi dengn istrinya.


Jee yang mendengar persetujuan Alfy menggelengkan kepala merasa pikiran mereka saat ini berbeda.


"Kau mau jauh dariku?" tanya Alfy.


"Aku ingin sendiri dulu." ucap Jee yang berusaha menahan tangis di wajahnya.


Dadanya begitu sangat sakit saat mengatakan hal itu, bagi Jee sangat sulit jika ia harus memulai hidupnya tanpa sosok Alfy.


Namun keputusannya saat ini adalah keputusan yang terbaik untuk mereka berdua karena Jee yang sedang sakit tidak akan sanggup melihat kesedihan di wajah tampan suaminya.


"Jee, ku mohon jangan seperti ini. Kau ingin apa ? aku tidak akan mengganggumu tapi ku mohon jangan pergi dari sini." ucap Alfy yang sudah meneteskan air matanya.


Nyonya Flora juga ikut menangis melihat Alfy yang begitu rapuh namun ia juga tidak bisa berkata apa-apa pada putrinya.


Jee hanya terus terdiam menatap ke langit-langit kamar tanpa berani menatap wajah Alfy yang sudah menangis di sampingnya.


"Mi, kita pulang besok." ucap Jee.


"Sayang ada apa?" tanya Nyonya Flora berusaha mencari tahu lagi.


"Aku hanya ingin pulang ke rumah Mi, aku ingin sendiri dulu." jelas Jee.

__ADS_1


Alfy yang melihat kegigihan Jee terus menangis cukup lama ia bertahan di kamar itu sampai akhirnya Alfy berlari turun ke lantai dasar.


Di bawah tampak keluarga yang sedang duduk bersama dengan wajah yang tanpa senyuman. Mereka menatap Alfy secara bersamaan dengan tatapan bingung dan khawatir.


"Ada apa Fy?" tanya Tuan Indrawan.


Alfy yang enggan menjawab langsung berlutut di hadapan Papi mertuanya dengan menangis tanpa hentinya ia memohon.


"Tolong Alfy Pi, kali ini Alfy mohon tolong Pi." ucap Alfy dengan terus memegang kedua kaki Tuan Indrawan.


Tuan Indrawan tampak terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini dengan cepat pria itu melepas genggaman Alfy pada kedua kakinya.


"Ada apa Fy jelasin?" tanya Tuan Indrawan dengan meraih pundak Alfy dan membawanya duduk di sofa.


Semua wajah di ruangan itu tampak bingung mereka masih belum menemukan jawaban dari Alfy yang membuatnya bingung.


"Jee ingin meninggalkan rumah ini, Pi." ucap Alfy dengan semakin menangis tanpa henti.


"Apa katamu?" Tuan Indrawan yang merasa tidak percaya dengan ucapan Alfy.


"Fy, coba jelasin sama Mamah apa yang terjadi?" tanya Nyonya Syein yang duduk mendekat ke arah putranya.


Alfy yang sudah tidak kuasa menahan tangisnya kini memeluk tubuh Nyonya Syein dengan erat lalu melampiaskan semua kesedihannya di pelukan sang Ibu.


Nyonya Syein yang melihat keadaan putranya juga ikut menangis tanpa bisa menahan dan membalas pelukan Alfy dengan penuh keprihatinan.


"Sabar Fy, Mamah akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." ucap Nyonya Syein.


"Alfy salah apa Mah? kenapa Jee ingin meninggalkan Alfy tanpa alasan?" tanya Alfy yang membuat Nyonya Syein juga ikut penasaran.


"Yasudah Pah, Mamah ke atas dulu mau bicara sama Jee." ucap Nyonya Syein yang bergegas pergi meninggalkan mereka semua.


Di kamar tampak Nyonya Flora yang sedang mengelus lembut wajah putrinya tanpa ada terdengar suara selain suara tangis.


"Jee sayang sama Alfy Mi, tapi Jee sakit melihat Alfy terus memikirkan Jee." ucap wanita cantik itu sambil terus meneteskan air matanya.


"Sayang, kau bisa merubah semuanya, hanya kau yang bisa membuat Alfy semangat lagi percayalah sama Mami." ucap Nyonya Flora berusaha membujuk Jee.


"Tidak Mi, Alfy pasti akan bahagia setelah melupakan Jee nanti." lanjut Jee lagi.


Jee terus mengingat saat ini penyakitnya akan semakin parah dan bisa saja ia meninggalkan Alfy sewaktu-waktu. Tentu Alfy tidak akan sanggup jika kehilangan Jee tanpa persiapan apa pun, karena itulah Jee mulai saat ini harus rela melepaskan orang yang paling ia sayangi.


Nyonya Flora yang tidak ingin membuat putrinya semakin kepikiran akhirnya hanya terdiam sambil ikut menangis sedih memikirkan jalan pernikahan anaknya ke depannya.

__ADS_1


Hai readers ceritanya sampai di sini duluyah sayang semoga kalian tetap menjadi pembaca setiaku yah. Terimakasih atas supportnya buat kalian yang sudah like, komen, dan favoritin karya author yah.


__ADS_2