
Akhirnya kini Delon dan yang lainnya menuju kediaman Tuan Farhan terlebih dulu untuk meminta restu dari orangtua suster Syanin. Selama di perjalanan suster Syanin tampak gugup bertemu sang Ayah Farhan.
“Apa aku tidak bermimpi saat ini?” gumam Jac sambil mencuri-curi pandangan ke sampingnya.
Suster Syanin sama sekali tidak menghiraukannya lagi perasaan gugup tengah menguasai dirinya selama perjalanan. Selang beberapa menit akhirnya mereka tiba di kediaman Tuan Farhan kedatangannya tampak di sambut sinis oleh seorang wanita yang mereka tidak ketahui.
Nyonya Melly yang memperhatikan kedatangan mereka tampak bingung dengan siapa anak buangan itu datang. Mengapa begitu ramai dan tampak bukan orang sembarangan dari segi penampilannya.
“Mohon Maaf, apa saya bisa bertemu dengan Ayah Farhan?” tanya suster Syanin dengan lembut.
“Masuk saja.” sahut Nyonya Melly dengan sinisnya menatap suster Syanin.
Kini mereka semua masuk dan duduk di ruang tengah, sedangkan Nyonya Melly memerintahkan pelayan untuk memanggilkan suaminya. Nyonya Melly baru saja beberapa hari yang lalu pulang setelah mendapat telefon dari Tuan Farhan untuk memerintahnya pulang. Meskipun wanita itu sama sekali tidak ada baiknya namun Nyonya Melly masih menjadi istri sahnya dan tentu itu adalah tanggung jawab suami menjaga istrinya.
“Syanin, kau datang rupanya.” ucap Tuan Farhan yang baru saja menuruni anak tangga dengan wajah ramahnya.
Seketika suster Syanin menyambutnya dengan memeluk pria itu dengan hangatnya. Semua bisa melihat kasih sayang keduanya begitu tulus. Kini ayah dan anak itu mendekat ke arah yang lainnya di ruang tengah.
Tuan Farhan merasa terkejut melihat kedatangan dua orang asing yang bersama anak kecil, “Siapa mereka?” tanyanya.
Suster Syanin menjelaskan jika Delon dan Zeyra adalah orang yang bersamanya selama ini dan anak kecil ini adalah anak yang ia rawat. Jac tentu tidak perlu di jelaskan lagi, Tuan Farhan tidak mungkin melupakan pria yang dulu pernah hampir memukulnya karena panik.
Setelah cukup lama mereka bercerita akhirnya Delon membuka pembicaraan, melihat Jac yang tampak gugup Delon akhirnya yang maju. Ia menceritakan tentang rencana pernikahan mereka yang meminta persetujuan dari Tuan Farhan.
“Syanin, kau benar ingin menikah?” tanya Tuan Farhan nampak kaget.
Delon memang tidak menceritakan tentang alasan yang sebenarnya ia menikahkan Jac dan suster Syanin. Jika semua orang berfikiran normal tentu kejadian di kamar itu tidak akan kuat sebagai alasan menikah. Hanya Jac dan suster Syanin saja yang berfikiran itu bisa menjadi alasan demi menutupi gengsi keduanya tentunya.
__ADS_1
“Iya Ayah Farhan, apa Syanin boleh menikah?” tanya wanita itu dengan ragu.
Sedetik, dua tedik, dan di detik ketiga wajah yang tadinya tegang memandangi Jac dan Syanin bergantian akhirnya tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya memberi isyarat jika ia setuju. Semua yang melihat ekspresi Tuan Farhan pun ikut senang dan selesai tugas Delon melamarkan suster Syanin untuk Jac.
“Astaga sekarang Kakak iparku jadi seperti anakku juga, aku yang harus melamarkannya istri.” gerutu Delon yang merasa kesal.
Mereka semua berpamitan untuk pulang menuju rumah Tuan Reindra Syein untuk meminta ijin. Di perjalanan Delon merasa selesai tugasnya dan kali ini harus Jac yang berbicara.
“Kali ini aku ingin kau yang berbicara.” ucap Delon memecah keheningan.
“Aku?” tanya Jac dengan cepat.
“Iya, memangnya aku beruntung tadi bukan aku yang melamar Syanin.” lanjut Delon dengan santainya.
“Aw, sakit Zey.” rintih Delon yang kesakitan saat pinggangnya di cubit oleh Zeyra.
“Kau, anak sudah besar bisa-bisanya mengatakan hal itu.” ucap Zeyra yang kesal.
“Astaga, ayolah kali ini aja bantu Kakak iparmu. Kau mau yah jadi adik ipar yang durhaka?” Jac berkata dengan setengah mengancam Delon.
Akhirnya setelah perdebatan panjang selama perjalanan Delon memakai nama suster Syanin sebagai pancingannya.
“Sya, apa kau yakin akan menikah dengan pria yang penakut seperti ini?” tanya Delon yang menggoda suster Syanin.
Belum sempat suster Syanin menjawab, Jac sudah lebih dulu menyahut. “Iya-iya baiklah aku akan bicara pada Tuan Reindra nanti.” ucapnya.
“Hah giliran gue sebut aja nama tuh wanita langsung mati kutu kan.” gumam Delon sambil tertawa penuh kemenangan lagi-lagi ia sukses mengerjai Kakak iparnya.
__ADS_1
Setelah perjalanan tidak begitu lama akhirnya mereka tiba di kediaman Syein yang tampak sepi tanpa Jee dan Alfy yang selalu membangunkan suasana rumah itu. Mereka melangkah masuk sambil beberapa kali menatap ke berbagai sudut. Sama sekali tidak mereka temukan pemilik rumah keculai para pelayan yang berlalu lalang di rumah itu nampak membersihkan rumah dengan teliti.
“Bi, Tuan Reindra kemana?” tanya Delon.
“Semuanya pada ke lapangan golf belakang, Tuan.” jawab salah satu pelayan itu.
Sepertinya mereka datang di waktu yang tidak tepat kali ini, akhirnya Delon mengajak semuanya untuk pulang begitu juga dengan Jac yang ikut mereka karena mobilnya berada di rumah Zeyra. Setelah mereka pulang Delon dan Jac memutuskan untuk pergi ke kantor bekerja, sementara Zeyra dan suster Syanin di rumah bersama Zidan.
“Mengapa saat kalian akan menikah ada saja sih halangannya?” tanya Delon yang berbicara dengan santai.
“Itu semua karenamu, kau yang memaksa kami, kan?” Jac menjawab dengan ketusnya.
“Apa? Jadi dia menikah denganku karena paksaan saja?” suster Syanin yang merasa syok dengan apa yang ia dengar barusan. Sepertinya suster Syanin salah sangka dengan ucapan Jac barusan. Seketika dadanya begitu sesak rasanya ia ingin sekali menangis namun untuk saat itu dengan sekuat tenaganya ia harus menahannya.
“Maaf, saya rasa pernikahan ini memang tidak baik, kalau boleh di batalkan saja.” lanjut suster Syanin yang tanpa berfikir panjang.
Jac yang kesal saat mendengarnya menatap tajam suster Syanin dengan penuh kekecewaan, “Baik jika itu maumu aku sangat setuju kita memang tidak bisa menikah. Benar katamu pernikahan ini akan ada saja halangannya.” ucap Jac tanpa bisa menahan emosi lagi.
Delon dan Zeyra yang kaget seketika menghentikan mobilnya mendadak dan menatap ke arah belakang. “Apa-apaan kalian ini? Kita kan sudah meminta restu dengan orang tua Syanin?” ucap Delon yang merasa tidak percaya dengan keputusan keduanya.
Jac yang merasa suster Syanin tidak menginginkan pernikahan itu akhirnya dengan cepat turun dari mobil dan memanggil taksi. Sementara Delon dan Zeyra masih terdiam mencerna apa yang terjadi barusan. Semua terjadi begitu saja di luar dugaan mereka. Lagi-lagi karena gengsi mereka kembali terpisah.
“Sya, kau baik-baik saja.” ucap Zeyra yang merasa tidak enak hati melihat wanita di belakang berusaha menahan kesedihannya sambil memeluk Zidan.
“Iya, aku baik-baik saja.” jawabnya singkat.
***
__ADS_1
Di mall tampak Dara yang baru saja selesai makan bersama Fiky. “Ayo Kak kita pulang.” Ajak Dara yang menggandeng tangan pria itu dengan mesranya.
“Loh, itukan Sisil.” ucap Fiky yang menunjuk ke arah restoran yang berada di mall itu juga.