
Setelah beberapa hari menjalani perawatan kini Jee sudah kembali pulih wajahnya terlihat sangat segar mengingat kuliahnya yang sudah tertinggal beberapa hari kini ia mulai kuliah lagi meskipun Alfy belum begitu berani melepasnya untuk keluar rumah namun kali ini ia sama sekali kalah dengan kegigihan Jee. Dengan perlahan Jee memberikan keyakinan pada suaminya untuk berusaha baik-baik saja terlebih ia juga mendapatkan pengawasan yang lebih ketat lagi dari Delon.
"Tenanglah suamiku aku akan baik-baik saja kan ada Delon," ucap Jee yang berusaha meyakinkan suaminya yang terlihat sangat cemas.
"Sepertinya aku juga harus ikut mengawasimu di kampus istriku," ucap Alfy yang penuh dengan pertimbangan.
"Astaga suamiku apa yang kau katakan itu sama sekali tidak lucu," jawab Jee yang mulai panik.
"Tuan hari ini kita akan bertemu klien penting," ucap Jacobie dengan memberi peringatan pada Alfy.
"Benarkah?" tanya Alfy dengan sedikit mengingat.
"Iya Tuan," ucap Jac dengan menujukkan skedul yang sudah ia siapkan.
Mendengar hal itu Jee menghela nafas dengan kasarnya perasaan tegangnya sudah tertolongkan dengan peringatan Jac tidak mungkin Alfy akan membatalkan pertemuannya hanya karena mengawasi strinya di kampus meskipun hal itu bisa saja terjadi tapi jika Tuan Reindra mengetahui hal itu tentunya akan marah ketika mengetahui anaknya mementingkan keperluan pribadinya di bandingkan hal yang orang butuhkan darinya.
"Suamiku pergilan aku baik-baik saja bersama Delon ia menjagaku dengan sangat baik," ucap Jee tersenyum berusaha meyakinkan suaminya.
"Apa katamu Delon menjagamu dengan sangat baik?" tanya Alfy dengan wajah tertekuk.
"Iya tentu saja suamiku," ucap Jee dengan yakin.
"Maksudmu dia menjagamu lebih baik dari aku begitu?" tanya Alfy yang mulai membuat orang di sekelilingnya perlu mengeluarkan ekstra kesabaran lagi tentunya.
"Bukan begitu suamiku dia menjagaku dengan baik setelah dirimu dan itu semua berkat kepercayaanmu padanya bukan," Dengan sabarnya wanita itu berusaha menjelaskan pada suaminya.
Setelah lama mereka melakukan berbagai macam penawaran di meja makan akhirnya kemenangan berada di pihak Jee namun dengan satu peringatan jika terjadi sesuatu pada Jee karena Delon tidak benar menjaganya kemungkinan kuliah Jee akan di berhentikan oleh Alfy sampai ia melahirkan. Mendengar hal itu Jee sangat terkejut mulai saat ini ia tidak boleh lemah di hadapan suaminya begitu juga dengan Delon dan Jac yang merasa kasihan pada Nona mudanya karena harus menghadapi sifat suaminya yang kekanak-kanakan itu.
Setelah mereka selesai kini Jee dan Alfy menuju mobil mereka bergegas pergi mengantarkan Jee ke kampus setelah itu Alfy akan ke kantor dengan mobil yang di bawa Jac di belakang mengiringi Tuan dan Nona mudanya.
"Nanti pulang kuliah jam berapa?" tanya Alfy memecah keheningan di mobil itu yang di kemudikan oleh Pak Deni.
"Jam satu suamiku," jawab Jee lembut.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menjemputmu nanti," ucap Alfy dengan mengusap kepala istrinya yang bersandar di bahunya.
Yah begitulah mereka selalu menempel di manapun mereka berada terlebih lagi setelah beberapa kali Jee sakit sepertinya saat ini rasa mual terhadap suaminya sudah hilang dan beralih selalu ingin dekat dengan suaminya terkadang saat Alfy tidur pun ia menyuruhnya untuk bangun agar bisa berbicara padanya karena jika suaminya tidur rasa mualnya kembali lagi menguasai dirinya. Melihat hal itu Alfy merasa senang yang luar biasa karena anaknyalah Jee selalu ingin bersamanya tanpa bisa berpaling.
Sesampai di kampus Jee turun dengan di dampingi oleh Delon sementara Alfy hanya berdiri sampai di depan kedatangan kampus untuk memastikan istrinya masuk dengan aman. Di sisi lain Alfy melihat seorang pria yang sedang menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi. Dengan cepat Alfy mengirim pesan singkat pada Delon.
"Jangan biarkan pria manapun mendekat pada istriku," Isi pesan itu ketika bergetar Delon segera membuka dan lagi-lagi ia tertawa kecil.
"Ada apa Delon?" tanya Jee yang penasaran.
"Tidak Nona mari kita masuk ke kelas," ucap Delon mempersilahkan Jee dengan gerakan tangan yang mengarah ke ruang kelas itu.
Setelah memastikan Jee masuk dengan aman ke dalam kelas Delon hanya menunggu di depan pintu kelas saja sambil menatap ke arah ruangan itu tanpa mengalihkan pandangan sekalipun ke arah lain. Sepersekian menit terlihat pria tampan yang sudah memasuki ruangan itu dengan tatapan dingin ke arah Delon, ia tahu jika pria itu tidak akan memberikannya waktu sedikitpun untuk bisa bicara pada Jee. Kini perkuliahan sudah di mulai dengan penuh antusias Jee mendengarkan penjelasan Dosen tampan itu. Sesekali Fiky mencuri pandangan pada wanita itu dan yah tentu saja hal itu di ketahui oleh Delon lagi-lagi ia mendengus kesal melihat tingkah Dosen itu.
"Apa tidak ada wanita lain selain Nona muda yang bisa anda lirik cih?" gumam Delon sambil melempar senyuman sinis.
Namun sayangnya Jee yang memang polos sama sekali tidak memahami hal itu ia hanya menganggap Fiky adalah pria yang baik padanya sebagai Kakak meskipun dulunya mereka pernah menyimpan rasa namun bagi Jee saat ini bukanlah hal yang sama semuanya sudah berubah. Terlebih lagi Jee yang mengingat dirinya sudah berbadan dua tidak mungkin ia bisa merusak hubungannya dengan Alfy begitu saja sementara mereka memang sudah saling mencintai. Dua jam kemudian perkuliahan pertama telah selesai kini Jee yang berdiri di samping mejanya sedang menunggu mahasiswa bergegas dari ruangan itu dan tak lama kemudian ruangan pun kosong melihat hal itu Fiky tersenyum penuh kemenangan kali ini ia merasa Jee sudah memberikan harapan padanya.
Belum sempat Fiky melangkah dekat Delon sudah lebih cepat berlari masuk ruangan dan memberi batas pada mereka. Melihat hal itu mendadak wajah Fiky yang tadinya tersenyum menjadi tertekuk baru saja hatinya senang sudah di patahkan oleh Delon.
"Maaf Tuan anda bisa berdiri di situ saja jika ada yang ingin anda bicarakan," ucap Delon dengan tatapan penuh arti.
"Iya Jee tidak apa-apa aku paham suaimu," ucap Fiky yang berusaha terlihat baik pada wanita itu.
"Nona mari kita ke kantin," Dengan memeprsilahkan Jee untuk keluar ruangan.
"Delon ada apa denganmu mengapa kau seperti mengurung aku?" tanya Jee yang melihat sikap Delon benar-benar tidak ingin satu orangpun dekat dengan Jee.
"Maaf Nona saya hanya memastikan perintah Tuan berjalan dengan baik," jawab Delon dengan menunduk.
Yah jika sudah kata seperti itu yang keluar demi apapun Jee tidak akan bisa melawannya dari pada perkuliahan sama sekali tidak ada baiklah ia akan bertahan dengan kurungan berjalan saat ini. Setibanya di kantin Jee sudah berkumpul dengan para sahabatnya yaitu Sisil, Dara, dan Mira. Sementara mereka tengah asyik makan dan bercanda Delon masih tetap setia berdiri di samping Jee.
"Delon duduklah di sini makan bersama kami," ajak Jee dengan menunjuk kursi kosong itu.
__ADS_1
"Tidak Nona saya di sini saja," ucap Delon tegas.
"Baiklah jika kau tidak ingin duduk di sini sebaiknya aku panggil Kak Fiky saja mengisi kursi itu," Dengan mengancam Jee tersenyum sinis.
"Baik Nona saya akan duduk," ucap Delon menuruti dari pada akan ada masalah baru.
Saat mereka tengah asyik berbicara Mira yang menatap pintu kantin pun terkejut melihat kedatangan tiga pria tampan yang sangat tidak asing di matanya yaitu Meykel, Rian, dan Refan yah mereka sangat jarang bertemu karena ketiga pria itu sudah memiliki pekerjaan di perusahaan masing-masing warisan orangtuanya dengan jadwal yang sangat padat saat ini masih berusaha untuk menyempatkan waktu datang ke kampus para wanita mereka.
"Wah sepertinya ada yang bahagia tanpa kehadiran kita yah?" Dengan sedikit menggoda Refan berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya.
"Astaga bagaimana bisa kalian kesini bersamaan?" tanya balik Jee yang terkejut melihat para pria tampan itu berdiri dengan jas yang menghiasi tubuh mereka membuat terlihat sangat sempurna.
"Tentu saja bisa apa yang tidak jika untuk kalian," jawaban dengan sombong keluar dari mulut Rian.
"Apa kalian tidak ingin mempersilahkan kami duduk?" Lanjut Meykel lagi dengan melihat wajah para wanita itu yang masih memandangi mereka.
"Ayo duduk sini," ucap Sisil dengan cepat.
Kini semuanya tertawa bahagia sambil bercerita pengalaman mereka selama beberapa bulan terakhir ini tidak pernah berkumpul lagi semenjak Jee menikah mereka sudah di bebaskan untuk bekerja padahal sebelum Jee menikah tugas utama mereka adalah selalu menemani Jee kemanapun. Sementara asyik tertawa Jee dengan para sahabatnya Delon yang berada di samping Jee hanya terdiam untuk tetap fokus menjaga jarak Nona mudanya dari pria manapun termasuk ketiga sahabatnya itu.
"Jee apa kau tidak ingin memperkenalkan dia pada kami?" tanya Meykel menatap ke arah Delon.
"Tentu saja ini Delon rekan kerja Alfy," ucap Jee dengan memperkenalkan secara sopan.
Kini mereka bersalaman satu sama lain sementara wajah Delon tetap tidak menampilkan senyuman sedikitpun tetap dengan pendiriannya yah wajah dengan ekspresi datar itulah yang ia gemari. Tidak lama kemudian ponsel milik Delon berdering menandakan ada pesan masuk.
"Bagaimana Nona muda?" tanya Jac dengan mengirim pesan singkat pada Delon yang tentunya atas perintah Tuan Alfy.
"Saat ini ia berkumpul dengan para sahabat wanita dan pria yang datang saat pernikahan Tuan dan Nona malam itu," jelas Delon membalas pesan itu.
Kini Jac memberi tahu Alfy pesan dari Delon mendengar itu Alfy tidak bisa berkata apa-apa karena tentunya ia sudah tahu siapa sahabat istrinya itu. Dengan cepat Alfy menyuruh Jac untuk tetap mengawasi jarak istrinya dengan pria manapun termasuk sahabatnya namun jangan sampai menimbulkan hal menjadikan istrinya tidak nyaman. Melihat pesan dari Jac, Delon sudah sangat mengerti maksud Tuan mudanya tanpa di peringatkan pun saat ini Delon sudah menjalankan.
Untuk cerita Alfy dan Jee di episode ini sampai di sini duluyah readers jangan lupa dukung terus author dengan like dan koment kalian semoga kalian terhibur dengan cerita yang author tulis yah. Dan jangan lupa tekan tombol love untuk mendapatkan notifikasi ketika episode yang baru sudah update. Terimakasih atas dukungan kalian Assalamualaikum Wr. Wb.
__ADS_1