Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kedua keluarga Berkumpul


__ADS_3

Setelah Dokter Adeline memeriksa keadaan Nona Jee kini Alfy yang berada di samping istrinya tampak khawatir wajahnya begitu padam tidak menampakkan aura hidup sama sekali di wajah tampannya. Bagi pria itu saat ini keselamatan istrinya adalah hal yang sangat utama tidak ada yang bisa menyaingi apapun.


"Bagaimana Dok?" tanya Alfy.


"Nona Jee terlalu kehabisan tenaga Tuan mungkin karena fikirannya yang begitu ketakutan tadi." jelas Dokter Adeline menghela nafas kasarnya.


Beberapa lama wajah wanita yang terbaring lemas tadi mulai bergerak membuka matanya perlahan rasanya sangat berat untuk membuka matanya.


"Apa yang terjadi suamiku?" tanya Jee yang menatap wajah suaminya sedih penuh kekhawatiran.


"Lain kali jangan bertingkah ceroboh lagi yah kau hampir saja melenyapkan anak kita." Dengan nada bicara pelannya Alfy berkata.


"Bagaimana aku bisa tenang di rumah melihatmu terluka?" tanya Jee yang merasa ketakutannya tidak berarti baik pada Alfy.


Mendengar hal itu Alfy hanya terdiam percuma saja jika ia harus berdebat pada istrinya tentu akan kalah.


"Tuan, semuanya sudah selesai." ucap Jacobie yang baru saja datang.


Melihat kehadiran pria itu Dokter Adeline tampak tersenyum dengan sangat manis berusaha mendapat perhatian dari pria itu. Namun lagi-lagi Jac mengacuhkannya seperti patung manekin yang ia lihat di dekatnya tanpa membalas senyuman sedikitpun.


"Baiklah kau boleh pergi." ucap Alfy dengan tenang setelah menerima laporan Jac.


"Terimakasih Tuan." jawab Jac yang segera bergegas keluar kamar.


Dokter Adeline yang melihat respon pria itu merasa sangat kesal namun kali ini ia tidak bisa mengejarnya tanggung jawabnya kali ini adalah menjaga dan memastikan keadaan Nona Jee sehat.


Beberapa lama kemudian terdenga suara yang sedikit mengganggu pendengaran Alfy dan Jee dari luar kamar mereka. Tidak begitu lama terlihat Tuan Indrawan dan Nyonya Flora yang berlari kecil memasuki kamar Jee dengan wajah khawatirnya.


"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Nyonya Flora yang menunjukkan wajah sedihnya.


"Tentu saja Mi aku baik-baik saja." jawab Jee sambil memperlihatkan senyumannya.


"Benarkah ? apa kau tidak merasakan ada yang sakit di perutmu?" tanya Tuan Indrawan berusaha mencari tahu.


"Tidak ada Pi, Jee baik-baik saja kok." jawab wanita itu.


Sementara di sisi lain wajah Nona Friska tampak merasa tidak puas dengan permainan yang ia lihat tampak kurang menikmati karena terlalu cepat masalahnya selesai. Wajahnya kini tampak berfikir keras untuk mencari jalan lain agar pengacara itu jatuh dan bisa membuatnya mendapatkan keuntungan tanpa harus berlawanan pada Alfy lagi.

__ADS_1


"Cari tahu seluruh jadwalnya!" perintah Nona Friska pada seorang pria yang berdiri di sampingnya dengan tegak.


"Baik Nona." jawab pria itu sambil melangkah meninggalkan wanita itu yang kini sendirian.


Beberapa lama kemudian kini terlihat matahari yang sudah mulai memncarkan warna orange menandakan hari sudah akan berganti dengan penampakan bulan yang menyambut malam dengan suasana yang masih begitu mencekam.


Di dalam ruangan itu Nona Friska tampak berteriak-teriak histeris entah apa yang ia rasakan kali ini, wanita itu begitu sangat privasi tidak ada satu pun orang yang memang benar-benar dekat padanya. Hidupnya selalu sendiri hanya para pengawal bayaran yang setia di sampingnya hingga saat ini.


"Kau akan menyesal masuk ke dalam hidupku." gumam Nona Friska sambil menatap tajam ke arah jendela di ruangan itu yang tampak silau pancaran sinar mentari sore.


Sedangkan di kediaman Syein Biglous Jacobie yang tengah asyik bercerita dengan suster Syanin yang entah sejak kapan pria itu mudah di ajak bercerita layaknya bicara sesama manusia.


"Apakah anda baik-baik saja Tuan?" tanya suster Syanin yang tampak khawatir.


"Tentu saja aku baik jika tidak bagaimana aku bisa melindungi Tuan muda." jawab Jacobie yang seketika memunculkan kesombongannya.


"Syukurlah jika seperti itu." Dengan menghela nafas segar wanita itu tersenyum.


"Aw..." suara Jacobie yang memegang lengannya.


Melihat pria di hadapannya seperti kesakitan suster Syanin tampak terlihat panik.


"Di sini." Sambil menunjuk dadanya Jac tertawa.


Melihat tingkah Jac mengejeknya suster Syanin mendadak malu dan menundukkan kepalanya karena merasa wajahnya memerah. Mereka berdua yang tengah asyik tertawa tidak menyadari tatapan dari Nyonya Syein dan Tuan Reindra Syein.


"Sepertinya mereka terlihat lucu Pah." ucap Nyonya Syein tersenyum.


"Iya Mamah benar," Menjawab Nyonya Syein dan menggandeng tangan istrinya mendekat pada kedua orang yang tengah mulai mendekatkan diri itu.


Melihat kehadiran tiba-tiba Tuan dan Nyonya Syein kini wajah suster Syanin dan Jacobie tampak gugup merasa malu jika ketahuan berbicara dengan dekatnya seperti tadi.


"Sudahlan kalian tidak perlu canggung di rumah ini." ucap Nyonya Syein memecah ketegangan di antara mereka.


"Maafkan kami Nyonya." Sambil menunduk merasa bersalah suster Syanin mengucapkan.


"Lihatlah Mah mereka bertingkah seolah kita melarang semua pekerja di sini mengurus soal hati mereka," Dengan wajah tertawa Tuan Reindra menggoda kedua pekerja itu.

__ADS_1


"Kalian lanjut saja tidak apa-apa anggap saja ini rumah kalian buat senyaman mungkin," ucap Nyonya Syein sambil melangkah menuju kamar Alfy dan Jee yang saat ini ada kedua orang tua Jee.


Di dalam kamar kini tampak ramai Jee melihat pemandangan ini merasa sangat bahagia sesekali memeluk suaminya yang dari tadi setia berada di sampingnya dengan merangkul istrinya.


"Aku senang sekali melihat kita ramai seperti ini." ucap Jee yang spontan berkata sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu besok aku akan menyuruh Jac untuk mengurus semuanya." Dengan wajah datarnya Alfy berucap tanpa berfikir panjang.


"Apa maksudmu suamiku?" tanya Jee bingung.


Begitu juga dengan keempat orangtua yang ada di dalam ruangan kamar Alfy tampak menatap bingung pada Alfy mencoba mencari jawaban dari pria itu.


"Iya aku sudah memikirkan ada baiknya Papi sama Mami pindah ke sini agar keluarga kita jadi ramai setiap hari dan kelak anakku tidak perlu ke sana kemari." jelas Alfy dengan tanpa beban di wajahnya.


"Kau serius suamiku?" tanya Jee tampak tidak percaya.


"Apa wajahku seperti seorang pembohong?" Dengan tatapan tajam pada istrinya mencoba menjawab dengan tatapan mata itu.


Semua yang ada di ruangan itu begitu tidak percaya dengan perkataan Alfy yang terdengar sangat mudah tanpa mendengar ucapan dari mertuanya.


"Mami dan Papi tidak boleh menolak." tegas Alfy yang membuat mertuanya tercengang.


Ada apa dengan menantunya ini mengapa berani sekali mengambil keputusan tanpa mendengar penjelasan dari kedua orangtua itu.


"Alfy benar kali ini kalian ada baiknya tinggal di sini kita akan menikmati hari-hari dengan bersama," lanjut Tuan Reindra tersenyum.


"Kau memang sama saja dengan anakmu yah." Menggelengkan kepalanya Tuan Indrawan tidak bisa menolak.


"Jika kau menolak aku tidak akan mengijinkan cucuku meninggalkan rumah ini." ancam Tuan Reindra penuh kemenangan.


Melihat tingkah anak dan ayah yang begitu kompak Nyonya Flora dan tuan Indrawan  hanya tertawa mengalah. Sekarang terlihatkan betapa berkuasanya Alfy tidak hanya pada masyarakat kalangan bawah pada mertuanya saja ia begitu tegas tanpa mau di bantah. Tampaknya pria tampan itu kini jiwa tegasnya sudah mulai semakin matang pada dirinya.


Tanpa sadar semua yang ada di dalam kamar itu tidak memperhatika Dokter Adeline yang entah sejak kapan sudah menghilang perlahan. Wanita itu sejak tadi mencoba mencari celah untuk keluar demi memastikan pujaan hatinya aman tanpa tergoda oleh suster Syanin.


Dokter Adeline yang kali ini sepertinya sudah tidak fokus untuk merawat pasien telah melupakan kewajibannya sebagai Dokter yang profesional. Di kepala wanita itu hanya ada wajah Jacobie yang selalu membuatnya patah hati dengan ketidak pekaannya.


Setelah melangkah perlahan berata melototnya mata Dokter Adeline melihat wajah Jac yang tampak tertawa lepas bersama suster Syanin di depannya. Merasa jantungnya terhenti seketika detakannya merasa sakit saat wajah Jac tersenyum begitu lepas. Pemandangan wajah pria itu tidak pernah selepas itu ketika bersama Dokter Adeline membuat Dokter itu merasa semakin terbakar api cemburu.

__ADS_1


Matanya menatap tajam seakan ingin melabrak kedua orang itu namun apa daya saat ini ia tidak memiliki hak apa-apa atas pria di hadapannya itu. Akan sangat memalukan tentunya jika dengan wajah tebalnya ia melabrak suster Syanin. Tampaknya kini sudah mulai jelas mengapa dada Dokter Adeline merasa panas tiap kali menatap suster Syanin jawabannya itu semua karena ada api cemburu yang tumbuh pada Dokter cantik itu.


Halo readers maafyah hari ini author kurang aktif updatenya soalnya lagi revisi episode sebelumnya buat ngajuin kontrak. Bantu doa author yah semoga bisa lolos tahap kontrak selanjutnya biar semakin semangat menghibur para readers semua. Jangan lupa dukung terus author dengan like, komet, vote dan ratingnya. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb


__ADS_2