
Di kantor polisi terlihat pria bertubuh tegak memasuki tempat itu dengan langkah yang sangat cepat tatapannya menunjukkan penuh dengan amarah semua mata tertuju pada pria itu dengan saling berbicara satu sama lain yang siapa yang berani mendekat atau hanya bertanya sekalipun pada pria di hadapannya itu. Mereka tahu benar siapa pria tampan itu seorang pengacara yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Sampai di ruangan kunjungan Alfy duduk dengan mengepal kedua tangannya dengan kaki yang bergoyang menandakan ketidak tenangannya. Perlahan pria melangkah mendekat dan mendaratkan bokongnya di kursi yang sudah tersedia di ruangan itu wajahnya kini menunduk ia sangat tidak tahu siapa yang berada di hadapannya karena dendamnya kini sadar telah melakukan kesalahan fatal.
Melihat pria di hadapannya sudah sangat memancing kemarahannya yang kini sudah tidak bisa ia kendalikan lagi dengan segera Alfy mendaratkan tangannya sekuat tenaganya tanpa henti ia memberikan pelajaran pada pria itu sampai akhirnya semua kekesalannya terlampiaskan dan seorang Radian Wijaya sama sekali tidak melawan ia tahu kini siapa yang ada di hadapannya ini saat di introgasi ia baru mengetahui lawannya itu sontak saja fikirannya kacau merasa terlalu ceroboh dalam bertindak.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Alfy dengan mencengkram kuat rahang pria itu dan kini sudah terlihat sangat tidak karuan wajahnya yang tampan terlihat beberapa kulit yang terkupas dan mengeluarkan bercak berwarna merah.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan," jawab Radian dengan sedikit ragu.
"Apa maksudmu?" tanya Alfy heran.
"Karenamu adikku bunuh diri Alfy Syein," ucap Radian yang mulai memberanikan diri lagi menatap ke arah pria di hadapannya karena mengingat almarhum sang adik yang rela menghilangkan nyawa merasa tidak terima mendapat perlakuan dari Alfy yang mengancamnya harus mengasingkan diri jika tidak ingin di balas pada Alfy.
"Bagaimana bisa kau menyalahkan aku sementara adikmu sendirilah yang menjebakku saat itu," ucap Alfy yang penuh dengan kemarahan.
"Aku tidak perduli yang aku tahu saat ini adikku telah meninggalkanku karena mu," ucap Radian yang membuang wajahnya dari cengkraman Alfy.
Tidak lama kemudian datang seorang petugas dengan membawa seorang pria berkepala botak menuju ruangan itu sesuai permintaan Alfy Syein.
"Permisi Tuan ini yang Tuan inginkan," ucap salah satu petugas kepolisian dengan berdiri tegak memegangi tangan pria botak yang sudah terborgol itu.
"Apa yang kau dan Tuan mu lakukan pada istriku?" tanya Alfy dengan mendaratkan kepalan tangannya pada perut pria itu.
"Maafkan aku Tuan aku tidak melakukan apapun," jawab Pria botak itu dengan melirik sebentar ke arah Tuan Radian WIjaya.
Mendengar itu Reindra melotot padanya merasa marah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Alfy.
"Hey bicara yang benar!" Teriak Radian pada pria itu.
"Maafkan saya Tuan Radian saya tidak melakukan yang Tuan perintah," jawan Pria botak itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu hah?" Dengan berteriak kesal Radian merasa tertipu dengan bawahannya sendiri.
"Saya hanya merobek baju wanita itu karena saya tidak ingin melakukannya selain pada istri saya," jelas pria botak itu dengan tertunduk takut.
"Bagus kali ini kau selamat," ucap Alfy yang merasa legah dengan penjelasan pria itu.
Sementara Radian merasa tidak puas ia mencoba merebut pistol di pinggang salah satu petugas dan mengarahkannya pada Alfy yang ia genggam kerah bajunya. Semua orang yang berada di ruangan itu merasa terkejut dan dengan segera mereka berpencar untuk mengatur ancang-ancang namun Radian berputar badan untuk mengamankan dirinya dari tangkapan. Ketika Radian akan menekan pistol itu dengan cepat Alfy memutar posisi sampai ia berada di belakang tubuh Radian kini pistol yang ada di tangannya sudah terarah ke kepala Radian dengan tekanan tangan Alfy yang sangat kuat dan seketika petugas mengepung Radian lalu mengembalikannya ke dalam sel. Yang terpenting di dalam fikiran Alfy adalah istrinya yah saat ini ia sudah merasa legah karena mendengar keterangan bawahan Radian jika tidak melakukan apapun pada istrinya.
"Terimakasih kau telah menyelamatkan istriku," ucap Alfy dengan tatapan seriusnya pada pria botak itu.
"Maafkan saya Tuan," jawab Pria botak itu menunduk karena biar bagaimana pun ia bersalah telah ikut andil mengurung istrinya.
"Kau bebas," ucap Alfy dengan menoleh pada polisi yang memiliki jabatan tinggi disitu yang ikut mengawasi mereka.
"Terimakasih Tuan," ucap Pria botak itu dengan bersujud.
Dengan segera Alfy beranjak pergi meninggalkan tempat itu lalu menuju rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya yang masih belum saja sadarkan diri sampai saat ini. Setibanya di rumah sakit ia melihat beberapa pria berdiri di depan ruangannya dengan cepat ia melangkah masuk, di ruangan itu terlihat Jee yang masih tak sadarkan diri sementara Delon dan Jac berdiri di belakang pintu.
"Tuan Nona saat ini hanya butuh waktu saja akan segera sadar karena terlalu lama stress dan tidak mendapat asupan gizi," jelas Dokter yang baru saja masuk.
"Keadaan kandungannya baik-baik saja kan Dok?" tanya Alfy yang tampak khawatir.
"Tentu Tuan semua baik-baik saja," jawab Dokter sambil tersenyum saat ia memeriksa mata Jee dengan membuka kelopak matanya.
Sepersekian menit tangan mungil yang ada di genggaman pria tampan itu mendadak bergerak perlahan dengan gerakan yang di awali dari telunjuknya dan yah saat ini beralih pada mata indah itu yang terlihat sembab karena lamanya ia menangis saat berada di tempat penyekapan itu.
"Kau bangun istriku?" tanya Alfy yang dengan antusiasnya.
"Nona jangan terlalu banyak bicara dulu," Perintah Dokter memberi peringatan pada Jee.
__ADS_1
"Dokter apa yang harus saya lakukan?" tanya Alfy yang timbul seketika sifat konyolnya.
Memangnya apa lagi yang bisa kau lakukan Alfy Syein cukuplah diam dan tidak membuat keributan di hadapan istri anda itu sudah jauh lebih baik dan ingat jangan bertingkah yang tidak-tidak jika terjadi bisa saja kali ini bukan istrimu yang pusing namun bayimu juga akan pusing di dalam sana dan bisa jadi anakmu akan berteriak sambil menarik telinga anda Tuan.
Dengan menatap penuh diam Dokter itu tersenyum kembali pada Alfy.
"Tidak ada yang harus anda lakukan Tuan," ucap Dokter itu.
"Baik Dokter terimakasih," jawab Alfy cepat.
"Kau sudah makan?" tanya Jee dengan lemas pada suaminya yang terlihat kusut itu.
"Jangan perdulikan aku tunggu kau sembuh kita akan makan bersama," ucap Alfy yang berharap pada istrinya untuk cepat pulih yah sementara ia memang baru sadar jika belum ada makan sejak menghilangnya Jee dari sampingnya.
"Makanlah bagaimana kau akan menjagaku jika nanti kau sakit," Dengan wajah memohon Jee menatap suaminya.
"Jac bawakan makanan untukku," ucap Alfy menoleh ke arah Jac yang berada di pintu.
"Baik Tuan," ucap Jac melangkah pergi namun seketika terhenti ketika mendengar Jee memanggilnya.
"Jac, bawalah makanan untuk kalian semua juga," ucap Jee yang sudah paham jika Tuannya tidak makan tentu saja mereka semua juga tidak makan.
"Baik Nona," jawab Jac dengan beranjak pergi melangkah dengan cepat. Lagi-lagi saat ia keluar menjadi pusat perhatian di rumah sakit itu wajah tampannya terlihat dingin dengan tatapan haratnya dan tubuh tegaknya yang membuat sempurna seorang mafia berwajah tampan mungkin saat pembagian wajah ia berada di barisan paling depan sampai bisa mendapat kesempurnaan seperti itu tetapi tetap saja ketampanan mereka semua masih berada di bawah barisan Alfy Syein yang tidak tertandingi.
Melihat sang istri yang sangat perhatian pada bawahannya Alfy mulai merasa cemburu yang berlebihannya timbul seketika lagi.
"Istriku bisakah satu kali saja kau membuang perhatianmu pada orang lain selain suamimu ini," ucap Alfy yang tampak menahan amarahnya.
"Suamiku kasihan mereka jika tidak makan sementara saat kau tidak makan mereka tentunya juga tidak akan makan dan apa ini sekarang saat kau makan mereka tetap tidak makan jika terjadi apa-apa dengan kita siapa yang akan menolong kita," Dengan pelan Jee memberikan penjelasan pada suaminya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jee akhirnya Alfy bisa menerima dan menghilangkan rasa cemburunya namun itu mungkin hanya berlaku saat itu saja tidak untuk waktu kedepannya maksdunya belum tahu. Terlebih lagi saat mendengar peringatan dokter untuk tidak membuat sang istri berfikir terlalu berat akhirnya Alfy berusaha menjadi sosok pria yang harus bersabar di hadapan istrinya.
Untuk cerita ini sampai di sini dulu yah semoga kalian suka dengan alur yang author buat, jangan lupa untuk like dan koment setiap episode yang sudah kalian baca yah dan jika menyukai novel ini kalian bisa tekan tombol love untuk mendapatkan notifikasi saat episode yang baru telah update. Terimakasi dan mohon maaf jika masih membuat cerita yang kurang menarik menurut kalian karena author masih perlu banyak belajar dan masukan dari kalian yang sudah membaca. Assalamualaiku Wr. Wb