
Akhirnya Tuan Reindra mengambilkan obat tidur untuk meminumkan Alfy, "Apa ini tidak akan ada apa-apa?" tanya Tuan Indrawan yang cemas dengan menantunya.
Tentu saja ia akan cemas, jika benar terjadi sesuatu pada Alfy pastinya orang pertama yang akan di salahkan adalah dirinya. Setelah Alfy meneguk obat yang di berikan Tuan Reindra kedua matanya terlihat mulai sendu beberapa detik kemudian Alfy sudah tertidu pulas.
"Syukurlah ia tertidur juga." Tuan Reindra yang mengusap dadanya pelan kembali terkejut melihat kepemilikan putranya yang menonjol di area selangk*ngannya.
"Astaga mengapa obatnya belum tertidur juga sih?" ucap Tuan Indrawan yang menepuk jidatnya. Tuan Reindra yang lelah kini ikut terbaring di sebelah Alfy semenatara Tuan Indrawan gelisah jika Alfy masih bangun dalam keadaan yang sama.
Di kamar Nyonya Flora Jee yang sudah terlelap dengan wajah sembabnya beberapa kali di usap air mata yang tersisa di wajah cantik itu. Nyonya Flora menatap haru pada nasib putrinya, ini semua karena ulah suaminya yang tidak waras menggunakan obat penguat.
"Ayo kita keluar, biarkan Jee istirahat dulu." ajak Nyonya Syein yang meraih tangan Nyonya Flora meninggalkan Jee seorang diri di kamar.
Kini kedua wanita itu duduk di ruang tengah sambil beberapa kali matanya menatap ke arah lantai atas di mana kamar Alfy berada. Mereka menunggu suara atau apa pun itu terdengar dari dalam kamar, namun nampaknya tak ada tanda-tanda apa pun di sana.
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?" tanya Nyonya Flora yang menatap ke arah kamanr Alfy.
Nyonya Syein yang penasaran kini melangkah ke atas tangannya pelan membuka pintu kamar, mereka terkejut saat melihat ketiga pria yang sudah tertidur pulas. Hari itu berlalu begitu cepatnya, Alfy yang sudah terbangun menatap heran dengan kedua pria di sampingnya.
Matanya mencari sosok wanita cantik yang biasanya selalu berada di sampingnya saat pertama kali ia membuka matanya dari tidur panjangnya.
Namun sayangnya kali ini ia tidak menemukan sosok bidadari itu, perlahan langkahnya turun dari kasur melewati Tuan Indrawan dari bawah. Tangan Alfy menjambak pelan kepalanya, terasa pusing dan berat ketika ia bangun.
"Fy, kau sudah bangung?" tanya Tuan Reindra yang baru tersadar saat usah mengusap matanya beberapa kali.
"Pah, apa yang terjadi? mengapa kepalaku sangat pusing sekali?" tanyanya penasaran.
Tuan Reindra yang melihat tingkah putranya seperti sudah normal tersenyum legah, "Apa kau lupa yang terjadi sebelum tidur tadi?" tanyanya dengan penasaran.
"Huammm, kau sudah bangun rupanya?" sahut Tuan Indrawan yang mendengar mereka membangunkan tidurnya.
__ADS_1
"Iya Pi." jawab Alfy dengan berat.
Alfy yang terdiam seketika mengingat apa yang baru saja ia lakukan pada Jee, matanya seketika membulat tak percaya tangannya meremas kepalanya kasar. "Astaga, apa yang ku lakukan?"
Tuan Indrawan yang merasa bersalah segera menepuk pundak menantunya. Ia meminta maaf atas kelancangannya meminumkan obat itu. Alfy yang mendengar cerita dari Papi mertuanya melongo tak percaya jika itu semua adalah ulah Tuan Indrawan.
"Pi, bagaimana keadaan Jee saat ini?" Alfy begitu mengkhawatirkan istrinya.
"Dia berada di kamar Mami," sahut Nyonya Flora yang mengejutkan ketiga pria itu bersamaan.
Alfy yang mendengar jawaban Nyonya Flora segera berlari menuju kamar tempat Jee beristirahat, ia sangat mengkhawatirkan jika Jee sampai kenapa-kenapa tentu karena ulahnya. Semua ikut berlari mengejar Alfy khawatir jika Alfy melakukan aksinya lagi.
Sesampainya di kamar ternyata Alfy menatap wajah Jee yang terlihat sangat menyedihkan, perlahan langkahnya mendekat dan duduk di sebelah istrinya. Tangannya mengelus pelan rambut panjang istrinya kemudian mengecup keningnya.
Orangtua yang menyaksikan pemandangan itu terlihat legah karena dugaan mereka salah, Alfy kelihatannya sudah sadar dari pengaruh obat itu.
"Bawa istrimu ke kamar, Fy." pintah Tuan Indrawan yang langsung di dengan oleh Alfy.
Delon dan Zeyra yang sejak tadi penasaran akhirnya melangkah keluar kamar, mereka melihat wajah-wajah lelah keempat orang tua itu yang duduk bersandar di sofa.
"Ini semua karena Papi." tuduh Nyonya Flora yang sejak tadi menahan emosinya.
"Iya Mi, Papi salah. tapi sudahkan semua sudah selesai." jawab Tuan Indrawan.
"Eh Delon, Zeyra. Ayo kemari duduklah." Suara Nyonya Syein yang menyadarkan perdebatan kedua pasangan itu segera terdiam membisu.
"Terimakasih Nyonya." jawab Zeyra dengan sopannya.
Mata mereka tampak menatap ke belakang Zeyra dan Delon berusaha menangkan sosok bocah kecil yang biasa selalu menghibur suasana tegang di rumah itu. "Zidan kemana?" tanya Tuan Reindra tampak mencar-cari sosok yang ia tidak temukan keberadaannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Zidan masih tertidur. Tadi kami panik ketika mendengar ribut-ribut di rumah ini makanya kami masuk." jelas Zeyra dengan lembutnya.
Semua menghela nafas kasarnya mereka lelah dengan insiden di rumah itu namun untuk menceritakan rasanya sangat memalukan. Mengingat Alfy dan Jee yang di lihat mereka secara terang-terangnan tanpa busana seolah itu adalah aib besar keluarga Syein.
***
Di Kantor Sailis Group Wenda terlihat menunggu kedatangan Tuan Adelio yang sejak pagi belum terlihat juga di ruang kerjanya. Wenda merasa cemas biasanya pria itu pagi-pagi sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Wenda. Tapi ada apa dengan hari ini? apakah ia benar-benar marah dan kecewa sampai tidak mau menjemputnya lagi.
"Kemarin-kemarin aku sangat kesal jika tiap mau berangkat kerja melihat mobilnya di depan rumah, tapi hari ini rasanya sangat berbeda. Aku sangat berharap mobilnya berada di depan rumah menjemputku, atau sekedar lewat saja aku sudah legah." ucapnya dalam hati.
Di meja kerjanya Wenda hanya tertunduk tanpa mau menatap layar komputer di hadapannya, fikirannya benar-benar kosong saat ini. Tangannya mencoba meraih ponsel di saku jasnya, ia melihat satu-satunya kontak di ponsel baru itu. Matanya terbelalak tak percaya ketika melihat tulisan Tuan tampan.
"Apa ini nomor ponselnya?" gumam Wenda tak menyangka. Lalu siapa yang menulis nama sepercaya diri itu tentu bukan dirinya.
Bibir Wenda sekeika tersenyum kecil membaca berulang kali nama kontak itu. Sampai akhirnya lamunan Wenda terhenti ketika Pak Lorens datang menghampirinya.
"Ini berkas yang Tuan Adelio titipkan pada saya." Wenda terkejut melihat berkas yang tiba-tiba terletak di atas mejanya.
"Eh iya Pak, maaf ini dari Tuan Adelio?" tanyanya tak percaya.
"Iya." jawab Pak Lorens singkat.
Wenda yang mendengar semakin penasaran dengan kepergian atasannya mengapa ia tidak memberi Wenda kabar atau apa pun itu. "Pak, Tuan Adelio kemana?" rasa penasaran Wenda yang tidak mampu lagi ia sembunyikan.
"Beliau sedang berlibur ke luar negeri, kalaiu tidak salah sih ke Singapur." jelas Pak Lorens meyakinkan Wenda.
Mendengar Tuan Adelio pergi liburan Wenda merasa yakin jika keberadaannya di kantor itu sudah tidak di inginkan lagi. Wajah Wenda semakin terlihat lemas, kecewa, sedih bercampur menjadi satu. Matanya terlihat mengeluarkan kristal bening di ujung sudut matanya.
"Apa semenjijikkan itu diriku sampai ia menghindar seperti ini?" gumam Wenda yang tak lagi menghiraukan Pak Lorens yang berpamitan pergi dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mengundurkan diri dari kantor ini, iya Tuan Adelio tidak salah. Aku yang salah dengan lancang masuk dalam kehidupannya tanpa sadar sehina apa diriku ini." ucapnya lagi dengan menundukkan kepalanya.