Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Semakin Parah


__ADS_3

Alfy yang sudah memastikan cctv terpasang dengan sempurna melihat layar ponselnya untuk memastikan semua sudut sudah bisa memperlihatkan isi kamar itu.


"Udara di sini sangat sejuk yah, Mi" ucap Jee tersenyum.


"Iya sayang, makanya Mami minta temanin kamu kesini." jawab Nyonya Flora.


Tanpa Jee sadari hidungnya sudah mulai tampak darah menetes lagi dengan cepat Nyonya Flora mengarahkan wajah putrinya lalu menutupkan dengan bajunya.


"Sayang, tahan yah Mami bawa kamu ke rumah." ucap Nyonya Flora dengan melangkah cepat wajahnya sangat panik.


Tanpa sadar wanita paruh baya itu meneteskan air matanya sepanjang jalan menuju rumah utama.


"Tuhan, mengapa anakku yang kau beri sakit ini ku mohon pindahkanlah saja padaku." gumam Nyonya Flora.


Jee yang hanya terus menatap ke atas memperhatikan raut wajah sedih Nyonya Flora.


"Mi, maafkan Jee yah sudah buat Mami khawatir Jee tidak akan membuat kalian khawatir lebih dari ini kok." gumam Jee sambil terus menatap dalam wajah Nyonya Flora.


Iya aku harus kuat mereka semua tidak boleh khawatir denganku aku tidak ingin masa tua mereka hanya habis memikirkan penyakitku saja.


"Ada apa Mi?" tanya Tuan Indrawan yang melihat istrinya mendorong kursi roda dengan buru-buru.


"Pi, panggilin Dokter Adeline ke kamar cepat Pi." ucap Nyonya Flora.


Alfy yang mendengarnya segera turun berlari menuruni anak tangga. Ia melihat wajah istrinya yang sudah sejak tadi mendangak, dengan segera di gendongnya Jee ke kamar.


Ku mohon bertahanlah demi aku tidak bisakah kau lihat bagaimana aku sangat membutuhkanmu jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku lagi. Hanya kau alasan satu-satunya aku hidup Jee, ku mohon mengertilah rasa cintaku yang begitu besar padamu.


Alfy terus berbicara dalam hati sambil menatap wajah istrinya yang melihat ke arahnya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Alfy.


Jee tidak ada mengeluarkan satu kata pun selama di gendong oleh Alfy hanya matanya yang terus menatap suaminya dengan dalam.


Matanya begitu menikmati pemandangan indah di hadapannya itu. Ia sangat bahagia bisa melihat wajah tampan suaminya meski mungkin nantinya tidak akan bisa melihatnya lagi.


Setelah mereka sampai di kamar, dengan cepat Alfy meletakkan tubuh istrinya di kasur lalu mengusap rambut Jee yang menutupi keningnya.


Alfy mendaratkan satu kecupan di kening istrinya lalu tersenyum lirih. Jee yang melihat tingkah suaminya semakin merasa tidak tega. Di dalam fikirannya terus terbayangkan saat nanti harus meninggalkan Alfy sendirian.


Dokter Adeline yang baru saja tiba dengan cepat ia memeriksa keadaan Jee memasang alat bantu pernafasan karena keadaan Jee saat ini sangat lemah.


Belum sempat Dokter mengambilkan obat Jee dengan cepat bangun dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke samping kasur.


Alfy yang melihatnya dengan cepat membantu mengambilkan kotak sampah kecil di kamar mandi lalu memijat-mijat leher belakang istrinya.

__ADS_1


Setelah beberapa kali Jee terus muntah akhirnya kini berhenti juga tubuhnya semakin tidak berdaya Alfy yang melihat dengan segera memeluk istrinya.


Tanpa bisa ia tahan lagi air matanya sudah menetes tanpa henti, Alfy tahu saat ini Jee pasti menyembunyikan rasa sakitnya.


"Aku baik-baik saja," ucap Jee pelan.


"Berhenti bilang baik-baik saja Jee." Alfy yang sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya.


Dokter Adeline yang mendengar bentakan Alfy dengan segera menatap pria itu mengedipkan mata memberi isyarat jika jangan menekan istrinya.


"Han, sungguh aku tidak papa, jangan menangis." ucap Jee dengan berusaha tersenyum.


Alfy yang melihat reaksi Dokter Adeline mau tidak mau berusaha sabar ia menghela nafasnya dengan kasar lalu menatap Jee dengan tersenyum lalu mengangguk.


Alfy yang sudah cukup lama memeluk tubuh Jee kini sudah meletakkan kepala istrinya di bantal lagi sambil terus mengusap rambut Jee agar tertidur.


Mata indahnya terus menatap wajah Jee tanpa memalingkan sedikit pun sedangkan Jee yang berusaha menutup matanya perlahan akhirnya tertidur lelap.


Walaupun wanita itu terlihat begitu pucat matanya yang sudah melingkar hitam di bawahnya dan bibirnya sudah seperti orang yang tidak memiliki darah namun kecantikannya tetap bisa terlihat.


Nyonya Flora yang mendekat ke samping putrinya menangis sambil mengusap pipi Jee yang sudah tertidur lelap.


"Mami sayang kamu Jee, bertahanlah demi kami semua." ucap lirih Nyonya Flora.


"Sabar Nyonya, saya akan berusaha sebisa mungkin." ucap Dokter Adeline dengan memegang pundak wanita paruh baya di hadapannya.


Merasa mendapat kekuatan dari Dokter Adeline Nyonya Flora akhirnya memeluk tubuhnya sambil menangis terisak.


Dengan perlahan kedua wanita itu akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, sedangkan Alfy yang sudah sejak tadi menahan suara tangisnya pecah begitu saja.


Hiks...hiks...


Suara tangis memenuhi kamar itu dengan sedikit menahan suaranya agar tidak terdengar istrinya.


Alfy tampak duduk di atas kasur sambil menaikkan kedua lututnya lalu memeluk tumpuan lutut sambil membenamkan kepalanya.


Tangisnya sudah tidak bisa ia tahan terus tanpa hentinya Alfy menangis membayangkan jika Jee benar-benar meninggalkannya nanti.


Cukup lama Alfy menangis sampai akhirnya ia lelah dan berbaring di samping Jee dengan menyamping matanya yang sudah sembab terus menatap Jee.


Begitu sangat berarti untuk setiap waktu melihat wajah istrinya, tatapannya yang lemah tiba-tiba berubah menjadi semangat bagi Alfy.


"Aku yakin kau pasti kuat sayangku." suara Alfy yang berada tepat di hadapan wajah cantik Jee dengan mencium kedua mata tertutup secara bergantian itu.

__ADS_1


Kini Alfy sudah tertidur dengan memeluk tubuh Jee yang tertutup selimut.


Di ruang keluarga semua tampak terdiam saling melempar pandangan satu sama lain setelah mendengar ucapan Dokter Adeline.


Ia mengatakan sebaiknya Jee untuk saat ini tidak melakukan kegiatan apapun dan harus fokus untuk kesehatannya.


Beruntungnya saat ini Jee sedang libur semester dan mereka akan bisa mudah mencegah Jee untuk tidak keluar rumah.


"Maaf Nyonya Syein, kita bukan membutuhkan waktu sesingkat itu untuk melawan penyakit itu," ucap Dokter Adeline.


"Lalu berapa lama Dok?" tanya Tuan Reindra yang antusias.


"Waktu tidak bisa saya perkirakan Tuan, penyakit ini sangat serius dan kita harus bisa konsisten dengan waktu." ucap Dokter Adeline yang begitu serius.


Kini wajah mereka semua terlihat khawatir dan kini hanya bisa menyerahkan pada Dokter Adeline saja.


"Dok, sekarang kami cuma bisa bergantung dengan anda tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami," ucap Tuan Indrawan.


"Tentu Tuan, saya akan melakukan dengan kemampuan saya." jawab Dokter Adeline.


Sedangkan di rumah belakang tampak Delon yang berlari ketika mendengar Zeyra yang muntah-muntah di meja makan.


"Ada apa?" tanya Delon panik dengan menaruh tempat untuk muntahan Zeyra.


"Perutku mual sekali melihat air di gelas ini." jawab Zeyra sambil memalingkan wajahnya.


Delon yang tampak bingung mendengar perkataan Zeyra alisnya berkerut tampak tidak masuk akal.


Memangnya ada wanita hamil mual melihat air apa hubungannya biasanya kan mereka akan mual ketika mencium sesuatu. Ada-ada saja sih hamilnya Zeyra sangat langkah kedengarannya.


"Kau mual hanya melihat air ini?" tanya Delon.


"Iya aku melihat pantulan wajahku di air itu sangat membuat perutku sakit." jelas Zeyra.


"Hahaha.... apa itu tandanya bayimu tidak suka melihat ibunya yah?" goda Delon dengan tertawa lepas.


Zeyra yang menyadari makna ucapan Delon dengan cepat melemparkan tatapan tajamnya.


"Apa maksudmu?" tanya Zeyra marah.


"Tidak...tidak aku hanya bercanda." jawab Delon yang berusaha menutup mulutnya untuk tidak tertawa.


"Apa iya yang Delon katakan? bagaimana bisa sih anakku benci melihat wajahku ah tidak itu tidak mungkin." gumam Zeyra.

__ADS_1


Halo readers ku sayang episode ini sampai di cerita Zeyra dan Delon duluyah. Selamat membaca semuanya


__ADS_2