
Di perjalanan menuju mall terbesar di Kota itu dengan tidak sabaran Tuan Reindra selalu bertanya pada istrinya apa saja yang perlu di belikan untuk calon cucunya. Mendengar hal itu semuanya hanya setia menjadi pendengar saja begitu juga dengan Tuan Indrawan yang tidak hentinya bertanya pada istrinya tentang jadwal bermain dengan cucunya nanti.
"Mi kita sepertinya harus membuat jadwal kapan cucu kita di rumah dan kapan di rumah Reindra," ucap Tuan Indrawan penuh semangat.
"Iya tenang saja yang pasti kita harus mendapatkan waktu yang adil yah," ucap Tuan Reindra yang tidak mau kalah.
"Tentu saja seminggu di rumahmu dan seminggu di rumah ku yah," ucap Tuan Indrawan mengajukan pilihan.
"Apa itu indra seminggu rasanya terlalu lama bagaimana jika dua hari dua hari kan tidak terlalu lama," Menawar permintaan Tuan Indrawan.
"Boleh juga itu lebih baik sih," ucap Tuan Indrawan yang sedang mempertimbangkan.
"Astaga kalian ini cucu belum lahir sudah ribut duluan," Dengan kesal Nyonya Syein menghentikan perdebatan kedua pria itu.
Sementara yang lain hanya tertawa mendengar celotehan mereka bagaimana bisa cucu masih belum lahir mereka sudah rebutan duluan bisa jadi nanti kedua orangtuanya tidak memiliki waktu untuk bersama anaknya.
"Oh iya berarti kita harus siapkan perlengkapan untuk cucu kita Mi yang banyak," ucap Tuan Indrawan yang merasa tersaingi oleh sahabatnya itu.
"Iya Pi," jawab Nyonya Flora dengan pasrahnya.
Setelah beberapa lama di perjalanan kini mereka telah sampai di mall dan menuju ke toko perlengkapan bayi semua berjalan memencar saling mencari-cari yang menurut mereka sangat bagus.
"Maaf Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan di toko itu.
"Em begini saya mau mencarikan perlengkapan bayi untuk cucu saya apa bisa anda membantunya?" tanya Tuan Reindra.
"Cucu Tuan laki-laki atau perempuan?" tanya wanita itu lagi.
"Yah mana saya tahu kan belum lahir," jawab Tuan Reindra dengan pasrah.
"Jika seperti itu sebaiknya Tuan membeli perlengkapan pokoknya dulu," Dengan ramah pelayan itu memberi saran.
"Baiklah," ucap singkat Tuan Reindra sambil mengelilingi tempat itu dan ketika melihat tempat tidur ia memanggil pelayan lagi.
"Apa hanya ini saja tempat tidur di toko ini?" tanya Tuan Reindra yang tampak bingung memilih.
"Iya Tuan hanya ini," ucap pelayan itu sambil menatap bingung karena menurutnya begitu banyak macam tempat tidur yang ada di toko itu dan apa katanya hanya ini memang maunya seberapa banyak lagi.
__ADS_1
"Di mana saya bisa menemukan tempat tidur bayi yang lebih besar?" tanya Tuan Reindra yang dengan semangatnya.
"Maaf Tuan tempat tidur anak bayi semua memang ukurannya seperti ini dan itu sudah termasuk paling besar," jelas pelayan itu yang berusaha menjelaskan dengan sabar.
Mendengar suara yang terdengar sedikit mengganggu dengan segera Nyonya Syein datang menghampiri suaminya.
"Ada apa Pah?" tanya Nyonya Syein yang tampak penasaran.
"Papah mau tempat tidur bayi yang lebih besar Mah tapi apa katanya tidak ada dan ini semua yang ukuran termasuk besar," ucap Tuan Reindra tampak kesal.
"Memangnya Papah mau ukuran kasur yang sebesar apa lagi kan cucu kita memang kecil karena masih bayi," ucap Nyonya Syein yang tampak bingung.
"Yah setidaknya Papah bisa ikut tidur bersamanya dong Mah," Dengan tanpa dosanya Tuan Reindra berucap santai pada istrinya.
Mendengar hal itu pelayan tadi hanya berusaha menutup mulutnya yang menahan untuk mengeluarkan tawanya sementara Nyonya Syein hanya menghela nafas dengan kasarnya.
"Kenapa harus begitu sulit mencari kasur bayi jika yang Papah inginkan adalah ukuran Papah," ucap kesal Nyonya Syein yang tampak kewalahan mengatasi sifat suaminya yang sangat aneh.
"Tapi Mah-" (Ucapan Tuan Reindra terpotong karena Nyonya Syein sudah pergi meninggalkannya dengan pelayan toko itu).
"Jadi bagaimana Tuan?" tanya pelayan itu yang masih berusaha sabar pada pelanggannya yang satu ini.
Sementara berbeda dengan Tuan Indrawan yang berusaha mencari alat bantu renang seperti pelampung dan lainnya.
"Apa tidak ada yang ukurannya lebih kecil dari ini?" tanya Tuan Indrawan pada salah satu pelayan di situ.
"Tidak ada Tuan ini adalah ukuran yang paling kecil," ucap pelayan itu sambil tersenyum.
Sedangkan Delon yang berdiri di depan toko hanya sesekali melirik ke arah dua tempat yang berbeda namun satu toko. Dari kejauhan ia bisa melihat antusias masing-masing dari kedua pria itu tampak menggelikkan sangat lucu jika mereka bukan Tuannya mungkin Delon saat ini sudah tertawa dengan memegangi perutnya yang sakit karena tawanya yang begitu kuat.
"Bagaimana bisa perlengkapan di sini yang katanya sangat lengkap hanya memiliki beberapa ukuran seperti ini saja," Protes Tuan Indrawan pada pelayan itu.
"Ada apa Tuan?" tanya salah seorang manajer di toko itu ketika mendengar suara ribut-ribut.
"Ini apa tidak ada ukuran pelampung yang lebih kecil?" tanya Tuan Indrawan dengan kesalnya.
"Pi ada apa sih ini ribut-ribut?" Seketika Nyonya Flora datang menghampiri mereka yang tengah sibuk berbincang dengan ributnya.
__ADS_1
"Ini Mi mengapa pelampungnya besar-besar semua bisa lepas cucu kita kalau pakai ini," ucap Tuan Indrawan dengan wajah kesal.
"Astaga bagaimana bisa anak bayi yang belum lahir Papi suruh pakai ini dan kita belum tahu ukuran tubuhnya," ucap Nyonya Flora yang tampak stress mendengar suaminya yang tidak masuk akal berfikirnya.
Mendengar perdebatan itu manajer dan pelayan di hadapan mereka saling melempar tatapan bingung jadi dari tadi pria tua di hadapannya mencarikan alat renang untuk bayi yang belum lahir bagaimana bisa wajah yang terlihat sangat berwibawa bisa bersifat di luar dugaan para pekerja seperti mereka. Ternyata ada juga manusia seperti mereka dari kalangan atas memiliki pemikiran yang tidak seberapa. Atau mungkin Tuan itu saat di lahirkan ia tidak memiliki kenangan dan akhirnya hanya ingat ketika ia sudah berumur beberapa bulan saja sampai tidak mengerti jika bayi yang baru lahir masih tidak bisa bergerak bebas di tangan kita.
Di sisi lain di rumah sakit Alfy dan Jee yang tampak makin mesra semakin hari masih dengan suasana berpelukan seketika posisi mereka berubah ketika Jee bangung dan bersandar di sandaran kasur rumah sakit itu melihat istrinya dengan keadaan seperti itu Alfy denga sigap membaringkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil beberapa kali mendaratkan ciuman di peruh istrinya yang sudah mulai buncit sedikit.
"Mengapa lama sekali yah anak kita keluar?" tanya Alfy tanpa sadar membuat Jee tertawa.
"Semua memang seperti ini suamiku," jawab Jee dengan santainya.
"Apa tidak bisa untuk lebih cepat?" tanya Alfy dengan wajah polosnya.
"Kau bicara apa ?" tanya Jee balik karena merasa bingung.
"Yah kita keluarkan sekarang saja," jawab Alfy yang tidak tahu apa-apa.
"Bagaimana bisa keluar secepat ini perutku saja baru mulai kelihatan," ucap Jee bingung.
Mendengar ucapan Jee pria itu terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya lalu menatap istrinya dengan penuh tanya di wajah tampannya.
"Kau fikir hamil hanya sebentar yah?" tanya Jee tersenyum.
"Tidak aku tahu kok hamil lama," ucap Alfy dengan wajah panik berusaha tetap tenang.
"Yasudah aku mandi dulu yah," ucap Jee dengan melangkah menuju kamar mandi.
Sedangkan Alfy yang masih bertanya-tanya tentang kehamilan mencoba menghubungi Jac yang berada di kantor saat itu.
"Ada yang perlu saya lakukan Tuan?" tanya Jac dengan cepatnya.
"Cari tahu semua tentang kehamilan dan bawakan padaku dan ingat jangan ada yang tahu," ucap Alfy yang menatap datar ke arah ruangan rawatnya.
"Baik Tuan," jawab Jac dan langsung terdengar sambungan telefon sudah terputus dari Tuan mudanya.
"Apa yang harus aku cari tahu tentang kehamilan ada apa kira-kira dengan Nona muda yah," gumam Jac sambil menggaruk kepalanya dengan kasar.
__ADS_1
Setelah ia mencoba browsing di internet seputar kehamilan ia baru teringat jika Alfy memang tentu tidak mengetahui tentang pertumbuhan manusia karena memang ia tidak mendapatkan pelajaran biologi yang tahu hanyalah pelajaran tentang perkembangan bisnis yang dahulu di tanamkan oleh Tuan Reindra saat sekolah di rumah karena ia berharap anaknya bisa menjadi pembisnis besar namun nyatanya ia salah Alfy malah memilih jalannya sendiri untuk membela orang-orang yang menjadi korban di luar sana.
Wah apa yang terjadi pada Tuan Afly Syein yah setelah ini pasti akan lebih menarik tentunya nantikan terus kelanjutan ceritanya. Terimakasih telah setia membaca dan jangan lupa untuk like dan koment setiap episode yang kalia baca yah. Assalamualaikum Wr. Wb.