
Kini Zeyra sudah tiba di hadapan keluarga Syein mereka menatap Zeyra dengan penuh makna.
"Kemarilah." panggil Nyonya Syein menyuruh Zeyra duduk bersama mereka.
Dengan pelan Zeyra duduk bersama mereka wajahnya hanya menunduk tanpa berani berbicara, Nyonya Syein yang melihat kegugupan wanita itu tersenyum.
"Kau tidak perlu seperti itu, kami tidak akan marah kok." ucap Nyonya Syein lembut.
Zeyra yang mendengar mendadak mengangkat wajahnya lalu menatap lurus ke arah mereka. Akhirnya kini suasana mulai tercairkan tidak ada satu kata pun yang mengarah kehamilan Zeyra.
Mereka ingin Zeyra tinggal di rumah itu dengan perasaan nyaman tanpa mengusik privasinya. Akhirnya Zeyra sudah tidak merasa canggung lagi dan cukup lama mereka berbicara sampai akhirnya Nyonya Syein menuyuruh Zeyra istirahat.
Sedangkan Jee dan Alfy yang baru saja bangun melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore mereka bergegas untuk mandi dan bersiap turun ke lantai bawah.
Setelah mereka turun dan bergabung dengan yang lain tampak suasana rumah yang begitu ramai hanya dengan isi rumah saja.
"Wah rumah kita sudah ramai sekali yah Mah." ucap Tuan Reindra.
"Iya Pah, rasanya senang kalo tiap hari bisa kumpul seperti ini." sambung Nyonya Syein.
Sementara yang lain pun tertawa mendengarnya sambil mengambil sesekali cemilan yang ada di meja, sedangkan Jee dan Alfy tetap dengan posisi favorit mereka.
Duduk berdua menempel bak perangko dan saling memeluk mesra tampak seperti pengantin baru setiap harinya.
Beberapa hari telah berlalu dengan baik sampai akhirnya Jee dan Alfy memutuskan untuk kembali memulai aktifitasnya lagi. Jee yang berkuliah dan Alfy yang bekerja mereka sesuai dengan kesepakan baru Alfy selalu mengantar Jee ke kampus dan menjemputnya pulang.
Jee yang kini sudah tidak bisa mendapatkan kebebasan lagi hanya bisa pasrah dengan peraturan suaminya yang sepihak itu.
Semester satu akan segera berakhir Jee yang sedang sibuk memperiapkan diri menghadapi ujian dengan giat belajar.
Jee dan Alfy yang baru saja pulang dari luar kini memutuskan untuk duduk sebentar di ruang tengah bersama orangtua mereka.
"Jee, kau tidak ingin belajar dengan Fiky?" tanya Nyonya Flora sambil menatap ke arah Fiky yang masih setia dengan kursi rodanya.
Alfy yang mendengarnya pun terkejut ia terdiam menatap wajah istrinya sambil berharap Jee akan menolaknya.
"Iya Mi, sepertinya itu ide bagus." ucap Jee.
"Tidak, kau belajar denganku saja." Alfy dengan datarnya menolak.
Fiky yang mendengar hanya tertawa kecil namun tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.
"Tapi kan kau belakangan ini sangat sibuk." ucap Jee lagi.
Alfy yang mengingat-ingat jadwalnya benar memang belakangan ini di kantornya sangat banyak kerjaan yang harus ia tangani dan tidak bisa di wakilkan.
Kini Alfy hanya bisa terdiam tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Nyonya Syein yang melihat sikap putranya akhirnya memberi jalan keluar.
"Sudahlah jangan khawatir Mamah dan Mami akan mengawasi Jee ketika belajar dengan Fiky kau tidak perlu khawatir." ucap Nyonya Syein.
Alfy yang sebenarnya tidak rela mau bagaimana lagi kali ini sepertinya ia kalah dengan Fiky.
__ADS_1
"Hahah ku fikir seorang Alfy tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, ternyata kau masih manusia sempurna yah ada yang tidak bisa kau lakukan juga." gumam Fiky sambil menatap remeh ke arah Alfy.
Akhirnya Alfy menyetujui dengan anggukan tanpa suara dan terlihat seperti tidak iklas jika di artikan.
Dua hari telah berlalu kini tiba waktunya hari pertama Jee belajar dengan Fiky waktunya adalah pagi tepat setelah Jee sarapan.
Alfy yang akan pergi ke kantor dengan malas-malasan akhirnya terpaksa berangkat karena Jee mendorongnya lagi dan lagi hingga tubuhnya duduk dengan sempurna di dalam mobil.
Di perjalanan Alfy tampak duduk bersandar lemas kepalanya terus membayangkan istrinya duduk berhadapan dengan Fiky.
Bagaimana jika nanti mereka berhadap-hadapan lalu pria itu memandangi wajah istriku dan matanya mulai memperhatikan semua bagian-bagian tubuh istriku. Lalu mereka berdua saling bertatapan dan bisa saja Jee akan mencintai pria itu.
Alfy terus memikirkan hal yang tidak-tidak selama perjalanan sesekali ia menggerakkan tubuhnya merubah posisi duduknya.
Terllihat sangat gelisah fikirannya selalu ingin pulang ke rumah beberapa kali ia melirik jam mewah yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
Wajahnya sangat kesal begitu lambat rasanya jam untuk membawanya pulang ke rumah.
Ada-ada saja Tuan Alfy ini baru saja ia berangkat ke kantor sudah menginginkan jam untuk pulang padahal sampai di kantor saja belum.
"Jac, sekarang kau pasang seluruh cctv di sudut rumah dan pastikan tidak ada yang mengetahuinya." ucap Alfy di telefon.
Belum sempat Jacobie menjawab perintahnya sambungan telefone sudah lebih dulu terputus kini pria itu hanya menggelengkan kepala saja.
"Lagi-lagi karena Nyonya muda," gumam Jacobie yang tentu sudah mengerti penyebabnya.
Ruangan tengah masih tampak kosong kini Jac sudah dengan cepatnya memasang beberapa cctv dan langsung menyambungkan dengan ponselnya.
Setelah memastikan dengan baik, Jac segera beranjak keluar rumah dan melajukan mobilnya bersama Delon ke kantor.
Sesampainya di kantor Alfy yang sudah tidak sabaran menunggu kadatangan Jacobie tanpa berfikir ia berdiri di depan pintu utama gedung itu.
Semua mata karyawan tertuju padanya menatap dengan kagu, ini adalah moment yang sangat jarang mereka lihat seorang Tuan Alfy Syein berdiri lama di lantai dasar.
Biasanya mereka hanya bisa melihat beberapa menit saja saat Alfy memasuki pintu utama karena memang liftnya pun berbeda dengan yang lainnya.
Dan hanya karena cctv ia bisa menampakkan dirinya dengan mudah di depan semua karyawannya.
"Wah pak Alfy ganteng banget sih." ucapan salah seorang karyawan.
Alfy yang tidak sengaja mendengarnya hanya tersenyum kecil ia terlihat bangga di puji seperti itu padahal biasanya mereka pasti akan di pecat jika berani berbicara tentangnya.
Tidak perduli baik ataupun buruk yang jelas namanya terdengar ia akan sangat marah jika dari mulut seorang wanita.
Lihatlah wanita di sini saja tergila-gila padaku bagaimana istriku bisa menolakku, tentu ia sangat mengagumiku di bandingkan pria itu. Wajahnya sangat jauh jika di setarakan denganku yang sangat tampan dan sempurna ini.
Alfy yang mulai memunculkan sifat sombongnya.
Tanpa ia sadari kini Jacobie sudah berdiri tegak di hadapannya dan menyerahkan ponsel milikinya.
"Ini Tuan semuanya sudah saya sambung di ponsel saya." ucap Jacobie.
__ADS_1
"Bagus Jac." puji Alfy sambil melangkah memasuki lift di iringi dengan Delon dan Jacobie.
Di dalam lift suasana tampak sunyi tidak ada yang berkata-kata hanya tatapan ke arah depan yang melihatkan pintu lift tertutup itu.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Alfy.
"Jam delapan ada meeting bersama pimpinan perusahan X, Tuan dan setelah itu akan ada meeting bersama dengan beberapa pemilik saham batu bara." jelas Delon dengan menatap layar di tabnya.
Alfy yang menengar hanya terdiam tanpa menjawabnya kini pintu lift sudah terbuka lebar mereka melangkah menuju ruang kerja.
Alfy yang sejak tadi sudah sibuk memandangi layar cctv satu persatu dan akhirnya tidak lama kemudian muncul Jee di hadapan Fiky yang sudah duduk di ruang tengah.
Mata Alfy tampak menatap dengan teliti ia terus memandang kedua orang itu, Alfy mencari sosok Mama ataupun Mami Flora tidak ada yang bersama mereka.
Dengan wajah kesal Alfy meraih ponsel di saku jas miliknya mencari nomor Nyonya Syein.
"Halo Fy." ucap Nyonya Syein.
"Mamah dimana?" tanya Alfy.
"Ini di ruang tengah." jawab Nyonya Syein berbohong.
Karena sebenarnya Nyonya Syein malas jika harus mengikuti Jee yang sedang belajar sangat membosankan terlebih lagi pagi ini ada sinetron kesukaan Nyonya Syein.
Tentu ia akan ke kamar menonton jika ruang tengah di pakai oleh menantunya belajar.
"Mamah bohong." ucap Alfy membidik tepat sasaran.
"Kok bohong sih Fy? iya-iya Mamah di kamar kamu tidak usah khawatir Jee pasti fokus belajar kok." jelas Nyonya Syein.
"Mah, Alfy bilang temani Jee belajar atau Alfy akan pulang dan tidak bekerja." Alfy mengancam Nyonya Syein.
Tuan Reindra yang berada di samping istrinya hanya tertawa menggelengkan kepala sambil mengusap bahu istrinya.
"Iya-iya Mamah keluar deh," Nyonya Syein akhirnya mengalah.
Wajahnya tampak kesal karena batal menonton film kesukaannya baru saja ia menurunkan kaki ke lantai tiba-tiba Tuan Reindra menarik tangan istirnya.
"Ada apa Pah?" tanya Nyonya Syein terkejut.
"Papah kangen Mah." ucap Tuan Reinda sambil memeluk istrinya.
Belakangan ini mereka memang jarang menghabiskan waktu berduaan di kamar karena terlalu sibuk di luar mengurus anak-anaknya.
"Ih Papah kayak abg saja." Nyonya Syein yang merasa malu dengan tingkah suaminya.
Dengan cepat ia mencium bibir suaminya lalu bergegas pergi keluar kamar menemani Jee.
Wah ternyata bukan anaknya saja yah yang suka manja-manja sama istrinya mungkin memang keturunan dari Papahnya hehe.
Selamat membaca yah readersku sayang selamat menikmati semoga kalian suka dengan jalan cerianya.
__ADS_1