
"Kau pasti menyukai anak saya, Remon." ucap Tuan Farhan yang tertawa meneguk segelas kopi di rumahnya.
Di ruang tamu keduanya tampak tertawa membahas anak mereka masing-masing, hari yang semakin gelap memperlihatkan seorang gadis mungil yang baru saja datang dengan seragam putihnya. Suster Syanin yang baru saja pulang dari rumah sakit terlihat begitu lelah.
Langkahnya begitu terayun seperti biasanya, seketika matanya tertuju pada mobil asing yang berada di parkiran rumah Ayah Farhan. "Tidak mungkin kan ini mobil wanita itu?" begitu ucapanya dari sorot matanya.
Tidak mungkin Tuan Farhan membelikan mobil lagi Nyonya Melly karena semenjak terbongkarnya masalah Ibunya di sebabkan Nyonya Melly, Tuan Farhan sama sekali tidak lagi memanjakannya dengan memberi uang atau apa pun itu di luar kebutuhan pokok.
Kini ia melangkah masuk ke dalam rumah, matanya menangkap Tuan Farhan yang bersama pria seumuran dengan Tuan Farhan. Suster Syanin menyambut hangat dengan mengulurkan tangannya pada pria itu sembari tersenyum lembut.
"Wah putrimu sangat cantik, Farhan."
"Yah jelas dong, Ayahnya saja ganteng." puji Tuan Farhan pada dirinya sendiri.
Suster Syanin hanya mengangguk dan tersenyum sopan kemudian berpamitan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Belum sempat langkahnya menjauh kini Tuan Farhan sudah lebih dulu memanggilnya kembali.
"Syanin, ada yang ingin Ayah bicarakan."
Suster Syanin yang mendengar seketika menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. "Iya Ayah, ada apa?"
Tuan Farhan mempersilahkannya untuk duduk di sampingnya. Setelah suasana terlihat tegang kini Tuan Farhan menjelaskan padanya. "Apa menikah, Ayah?"
Suster Syanin begitu terkejut mendengar permintaan Tuan Farhan yang ingin menikahkannya dengan putra dari sahabatnya itu. "Apa ini artinya aku memang tidak berjodoh dengannya Tuhan?" begitu ucapan dari dalam hati suster Syanin yang terasa sangat sesak di dadanya.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, ingin menolak tapi ia tidak ingin mengecewakan Tuan Farhan dan membuat Ayahnya malu dengan sahabatnya, tetapi jika ia menerimanya bagaiman dengan perasaannya yang sama sekali tidak ingin mencintai siapa pun selain Jacobie seorang.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Sya?" Tuan Farhan kembali membuyarkan lamunannya.
"Ayah Farhan, Syanin boleh minta waktu untuk memikirkannya dulu, kan?"
Tuan Farhan yang melihat kristal bening di pelupuk matanya merasa tidak tega, akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan meminta suster Syanin untuk beristirahat. Tuan Remon yang melihat kehangatan keduanya begitu kagum.
__ADS_1
"Farhan, kau mendidik putrimu begitu baik. Dia sangat lembut padamu."
Tuan Farhan yang mendengar pujian sahabatnya tertawa terkekeh merasa sangat lucu, bagaimana bisa orang lain yang berupaya keras tetapi justru ia yang mendapatkan pujian itu.
"Kau salah, Remon. Bukan aku yang membesarkannya tapi orang lain." Mendengar ucapan Tuan Farhan membuat Tuan Remon tak percaya.
"Apa maksudmu?"
Tuan Farhan akkhirnya bercerita tentang kejadian beberapa waktu lalu dan baru-baru saja ia menemukan putrinya ketika sudah tumbuh dewasa dan sukses seperti sekarang ini.
Akhirnya setelah lama berbicara keduanya sepakat untuk mengatur jadwal pertemuan anak mereka. Tuan Remon yang merasa saat ini telah selesai urusannya segera pergi ke kantor meninggalkan Tuan Farhan dengan wajah bimbangnya.
***
"Astaga ada apa ini?" Adelio yang terkejut saat berada di depan hotel melihat kerumunan orang banyak Dengan cepat kedua tangannya membelah untuk membuka jalan, matanya terkejut saat melihat seorang pria tengah terbaring tak berdaya di lantai.
"Sepertinya dia adalah orang Indonesia," begitu ucap Adelio dengan tatapan matanya.
Sesampainya di rumah sakit dengan sigap Adelio memanggil tenaga medis untuk membantunya membawa pria itu. Seluruh pengunjung rumah sakit tampak antusias menyambut kedatangan pria itu mereka bergerak dengan cepat menuju ruang UGD.
Beberapa kali Adelio memijat kepalanya sambil melangkah bolak balik di depan ruangan itu, ia merasa gelisah dengan keadaan pria yang ia bawa barusan.
***
Wenda yang tengah berada di kantor Ayahnya begitu terlihat sangat penuh semangat memimpin meeting hari itu, Tuan Rusli memang sudah membimbingnya sebelum kepergiannya ke luar negeri. Setelah memastikan Wenda mulai bisa menguasai masalah di perusahaannya kini Tuan Rusli menyerahkan kepercayaannya pada putrinya selama ia berada di luar negeri.
"Tok...tok...tok." Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Semua para kepala divisi perusahaan itu bubar ketika Wenda mempersilahkan mereka untuk keluar karena memang jadwal meeting telah usai.
Nyonya Dayah yang melihat Wenda tengah berdiri di kursi pimpinan tersenyum bangga, Wenda sudah sangat jauh berubah dari sejak pertama kali ia bertemu Wenda di rumah Nyonya Andini.
__ADS_1
"Ibu," Wenda yang melangkah mendekat dan segera menyambut Ibunya dengan pelukan hangat. Nyonya Dayah yang membalas pelukan Wenda begitu tenang.
"Ibu membawakanmu makan siang." Wenda yang menatap rantang makanan di genggaman Ibunya hanya tersenyum kemudian mengajaknya untuk masuk ke ruangannya.
Di dalam ruangan itu mereka makan bersama sesekali Wenda tertawa ketika Ibunya bercerita tentang kelucuan Tuan Rusli saat baru-baru bertemu dengannya. Wajahnya begitu sangat kurus dan sangat jelek berbeda dari saat ini.
Wenda tentu tidak heran dengan kejujuran Ibu tirinya, karena ia sendiri tahu bagaimana kehidupan Ayahnya saat bersama dengan Ibu kandungnya dulu. Sangat tidak baik bahkan jauh dari kata baik mereka selalu ribut dan tidak pernah saling memperdulikan satu sama lain.
"Oh iya Wen, bagaimana dengan Tuan siapa itu namanya? ibu lupa."
Wenda yang mendengar pertanyaan Ibu Dayah kini meletakkan sendok perlahan dan menghentikan kegiatan makannya. Wajahnya menekuk seketika rasanya sangat berat dan entah ia sendiri tidak tahu tiap kali membahas pria itu hatinya begitu sakit.
"Wenda," Tangan Nyonya Dayah yang memegang perlahan pundak gadis itu. Seolah memberikan ketenangan tersendiri untuk Wenda. Wenda yang tanpa sadar langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Ibu tirinya.
Nyonya Dayah bisa mendengar isak tangis dari anak gadisnya itu, ia menghela nafas pelan kemudian mengelus rambut Wenda. "Kau sedih membahas tentang dia?" tanyanya dengan lembut.
Wenda yang tak kuasa menjawab pertanyaan Nyonya Dayah hanya memilih untuk terus menahan isak tangisnya. Nyonya Dayah bisa merasakan getaran tubuh Wenda saat menempel dalam pelukannya.
"Katakan, apa yang membuatmu harus keluar dan memilih menjauh darinya?" tanya Nyonya Dayah dengan penuh rasa keingintahuan.
"Wenda tidak bisa berada di dalam hidup pria yang terhormat sepertinya, Bu. Wenda tidak pantas, Wenda hanya akan membuatnya malu sepanjang hidupnya."
Nyonya Dayah yang mendengar keluhan Wenda tersenyum dan melepaskan pelukan itu. "Kau tidak suka dengan jarak kalian saat ini?"
Lagi-lagi Wenda hanya mengangguk pelan, ia tentu tidak sepercaya diri itu untuk menjawab dengan jelas. "Kau memiliki rasa dengannya, Sayang." jelas Nyonya Dayah lembut.
Wenda merasa malu ketika mendengar ucapan Ibu tirinya, ia tidak akan pernah berfikir untuk bisa memiliki Tuan Adelio. Yang terpenting untuknya hanya dekat dengan Tuan Adelio adalah hal yang paling membuatnya tenang. Meskipun terkadang tingkah pria itu suka seenaknya sendiri, tetapi justru hal itu yang membuat Wenda seakan di perdulikan begitu besar.
"Wenda tidak ingin menjalin hubungan, Bu. Dengan pria mana pun Wenda tidak ingin." bantah Wenda berusaha menutupi perasaannya. Nyonya Dayah yang mendengar penjelasan Wenda lagi-lagi tersenyum lembut.
Tentu ia yakin ada masanya Wenda akan membuka hatinya perlahan, meskipun tidak sekarang tapi nanti akan ada waktu yang tepat. "Apa kau sakit jauh dengannya?" tanya Nyonya Dayah lagi.
"Tidak, Bu." Wenda yang berusaha berbohong membuat Nyonya Dayah tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak perlu berbohong pada Ibu. Bayangkan jika kau selalu dekat dengan pria itu kemudian ia menikah dengan seorang wanita. Apa kau akan tetap tenang melihatnya?"
Wenda yang terkejut mendengar pertanyaan Nyonya Dayah membungkam kedua bibirnya, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ingin sekali Wenda marah dan menangis, tetapi ia tidak mungkin memperlihatkan hal itu pada Ibunya saat ini.