Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Merindukan Suami


__ADS_3

Pada hari itu ketiga sahabat wanita Jee tampak sedang bertemu saling memeluk satu sama lain saat baru sampai di halaman kediaman Syein Biglous.


“Ayo kita masuk.” ucap Dara.


Sisil dan Mira pun ikut melangkah masuk ke rumah mewah itu.


“Om, Tante apa kabar?” tanya Sisil dengan tersenyum.


Namun wajah tersenyum itu seketika berubah datar saat melihat ekspresi Tuan dan Nyonya Syein yang tampak sedih di ruang tengah.


Perlahan ketiga wanita itu memberi salam pada Tuan dan Nyonya Syein lalu duduk di sofa.


“Tante apa ada masalah?” tanga Mira yang penasaran.


Belum sempat menjawab mereka di kejutkan dengan suara pecahan dari lantai atas.


“Astaga Alfy, Pah.” ucap Nyonya Syein yang terkaget.


Mereka semua pun berlari menaiki anak tangga lalu membuka pintu kamar Alfy.


Di sana terlihat Alfy yang sedang memegang pecahan botol wine dan terlihat juga barang-barang di kamar itu berhamburan pecah.


“Alfy.” ucap Nyonya Syein yang begitu sedih.


Perlahan langkah Nyonya Syein mendekat ke arah putranya lalu memeluk tubuh Alfy.


“Kau harus kuat, jangan seperti ini sayang.” Nyonya Syein berkata sambil terus memeluk erat tubuh putranya.


Sedangkan Tuan Syein hanya berdiri menggelengkan kepalanya lalu memijat-mikat keras keningnya.


Mira yang melihat Tuan Syein tampak khawatir dengan segera membawanya kembali ke ruang tengah.


Tuan Syein yang di bantu oleh Mira kini sudah duduk di sofa.


Dengan cepat Mira mengambilkan segelas air karena Tuan Syein tampak syok.


“Terimakasih Mira.” ucap Tuan Syein terdengar berat.


“Sama-sama Om.” jawab Mira.


Akhirnya tanpa Mira bertanya kini Tuan Syein bercerita dengan sendirinya.


Selama kepergian Jee dari rumah mereka, Alfy terus menerus mengurung diri terkadang mabuk sampai memecahkan barang-barang yang ada di dekatnya.


Terkadang juga tengah malam mereka di kejutkan dengan suara tangis bercampur teriak dari kamar Alfy.


Mira yang mendengar cerita dari Tuan Syein tanpa terasa ikut meneteskan air matanya juga.


“Mira tidak menyangka Om jika separah ini keadaannya.” ucap Mira terdengar begitu sedih.


Begitu juga dengan Tuan Reindra Syein yang tidak bisa menyangka hal ini akan terjadi.


“Mira sebenarnya kesini mau jenguk Jee, tapi kami semua tidak tahu jika Jee sudah pindah ke rumahnya.” jelas Mira.


“Iya Om tahu itu. Jika kalian mau tolong bantu Alfy dan Jee bersatu lagi yah.” ucap Tuan Syein terdengar memohon.


Mira yang mendengar tersenyum mengangguk dengan senang hati tentu mereka akan melakukannya.

__ADS_1


Akhirnya kini Dara dan Sisil sudah berada di hadapan Tuan Syein dan Mira.


“Om ,Mira ajak mereka dulu ke rumah Jee yah.” ucap Mira dengan sopannya.


“Iya, kalian hati-hatiyah.” ucap Tuan Reindra.


“Iya Om.” jawab ketiga wanita itu dengan serempak.


Di perjalanan Dara, Mira, dan Sisil masih belum percaya dengan keadaan sahabat mereka yang benar-benar sulit.


“Aku tidak habis fikir dengan yang di alami Jee dan Alfy saat ini.” ucap Sisil memecah keheningan.


“Ku fikir aku saja yang seperti bermimpi buruk.” lanjut Dara.


“Entahlah mengapa saat-saat Jee membutuhkan semangat justru ia meninggalkan Alfy.” tambah Mira lagi.


Sepanjang perjalanan wanita bertiga itu terus berfikir keras.


Bagaimana pun caranya mereka harus mampu membantu sahabatnya saat ini yang sedang kesusahan.


Sedangkan Nyonya Flora dan Tuan Indrawan yang kini melihat Jee sedang menangis di pinggir Danau merasa tidak tega.


“Pi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Nyonya Flora yang menangis.


Tuan Indrawan yang melihat istrinya menangis dengan cepat ia memeluk tubuh Nyonya Flora.


“Kita lihat sejauh apa Jee sanggup melakukannya, Mi.” ucap Tuan Indrawan.


“Maksud Papi?” tanya Nyonya Flora yang terdengar bingung dan penasaran.


“Jee butuh waktu untuk mempertimbangkan semuanya, Mi.” jelas Tuan Indrawan yang tidak bisa menjawab rasa penasaran Nyonya Flora.


“Om, Tante.” ucap mereka serentak.


Tuan Indrawan dan Nyonya Flora dengan segera melepas pelukan mereka lalu berusaha tersenyum sambil Nyonya Flora menghapus air matanya.


“Eh kalian.” ucap Nyonya Flora.


“Tante, dimana Jee?” tanya Sisil.


Nyonya Flora yang menjawabnya dengan tatapan mengarah ke Danau.


Ketiga wanita itu dengan cepat menghampiri Jee yang sedang menangis di pinggi kolam.


Tanpa bersuara ketiga wanita itu bersamaan memeluk erat tubuh Jee.


Jee yang tadinya menangis seketika terdiam merasakan kehadiran para sahabatnya.


Dengan cepat Jee menyeka air matanya dan tersenyum.


“Ayo nangislah Jee bersama kami.” ajak Dara.


“Apaan sih kalian?” tanya Jee yang berpura-pura tersenyum.


“Kau tidak perlu menutupi semuanya dari kami Jee.” lanjut Mira.


Jee yang mendengar hal itu tanpa bisa menahan kini sudah menangis lagi memeluk ketiga sahabatnya.

__ADS_1


“Aku merindukannya.” ucap Jee yang tidak bisa tertahan lagi.


“Lalu apa kau masih ingin berpisah?” tanya Mira.


Namun tidak ada terdengar jawaban dari Jee yang ternyata sudah pingsan sejak berpelukan dan selsai mengatakan keinginannya.


Dara, Mira, dan Sisil yang merasa tubuh Jee melemas dengan cepat melihat wajah sahabatnya.


“Astaga Jee.” teriak Sisil.


Mereka segera membawa Jee dengan kursi rodanya menuju rumah.


Nyonya Flora dan Tuan Indrawan yang melihat begitu terkejut dan mendekat ke arah Jee.


“Jee.” panggil Nyonya Flora sambil menggoyang tubuh putrinya.


Namun tidak ada respon sadari tubuh Jee sampai akhirnya mereka berteriak memanggil Dokter Adeline.


Kini Jee sudah di periksa di dalam kamar oleh Dokter Adeline.


“Bagaimana Dok?” tanya mereka semua bersamaan.


“Nyonya muda sangat stress dan ini tentu sangat berbahaya untuk kesehatannya.” jelas Dokter Adeline.


“Apa kita harus mendatangkan Alfy?” tanya Sisil.


Semua terkejut mendengar ucapannya bagaimana bisa mereka mempertemukan Jee dengan Alfy sedangkan saat ini Jee menginginkan perpisahan.


“Bukankah tadi Jee mengatakan merindukan Alfy?” lanjut Sisil lagi.


Tuan Indrawan yang merasa mendapat jalan kini mengangguk pelan tanda mengerti apa yang harus ia lakukan.


“Ada apa, Pi?” tanya Nyonya Flora yang penasaran.


“Sepertinya Papi tahu apa yang harus kita lakukan kali ini, Mi.” ucap Tuan Indrawan.


Nyonya Flora yang tidak mengerti begitu merasa penasaran.


Namun kali ini Tuan Indrawan masih enggan membicarakannya.


Yang terpenting saat ini adalah Jee harus sadar terlebih dahulu.


Setelah itu baru Taun Indrawan bisa melanjutkan rencananya untuk kedepannya.


Cukup lama mereka menunggu di ruang kamar Jee.


Wajah mereka semua tampak khawatir menatap ke arah Jee tanpa berpaling sekali pun.


Kini mata indah Jee mulai membuka perlahan tatapannya yang perlahan buram saat ini sudah kembali jelas.


“Kalian.” ucap Jee yang heran melihat ketiga sahabatnya masih berada di sampingnya.


“Iya ini kami, Jee.” ucap Dara tersenyum.


Jee yang masih memikirkan Alfy terus meneteskan air matanya.


Hal itu tentu membuat Tuan Indrawan ingin melakukan sesuatu untuk kelangsungan rumah tangga putrinya.

__ADS_1


Hai readers sampai di sini duluyah selamat membaca semoga kalian tetap sabar menikmati cerita ini yah


__ADS_2